
Bonus Kisah tidak terlalu panjang ya, tapi akan ada banyak dan ter- ter- ter- selalu!
"Mas, bangun dulu. Kita salat tahajud!" Nara membangunkan suaminya dengan bisikan lembut tepat di telinga Yoga. Lelaki itu menggeliat dan mulai membuka matanya perlahan.
Tersenyum melihat wajah wanita yang sangat dicintainya itu masih sangat dekat dengannya, Yoga segera menarik lembut kepala Nara lalu mencium krningnya sesaat. Barulah krmudian mereka bangun bersama untuk berjamaah sunah.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi, usai pasangan suami-istri itu menyelesaikan ibadahnya. Sebelum kembali ke atas tempat tidur, Nara menuju boks bayi Gana untuk memeriksa keadaan putra keduanya.
Dia tersenyum lega sebab sang bayi masih terlelap dengan posisi tubuh miring memeluk guling kesayangannya. Dirapikannya lagi kelambu yang sedikit tersibak saat tangannya masuk untuk membetulkan selimut Gana.
"Apa popoknya sudah penuh lagi?" tanya Yoga yang tiba-tiba sudah menyusul di belakang istrinya. Pandangannya menembus kelambu, memperhatikan si bungsu yang tetap pulas dengan senyuman kecil di sudut bibir mungilnya.
"Tidak, Mas. Tengah malam tadi popoknya sudah aku ganti sekalian waktu dia minum ASI," jawab Nara hendak kembali ke tempat tidur.
Namun, langkah itu tertahan karena tubuhnya sudah didekap oleh Yoga dari belakang. Terkejut, tapi dia tersenyum karena merasa senang dengan sikap suaminya.
"Sayang ...." Suara Yoga semakin berat dan terdengar lirih di telinga Nara. Wajah Nara pun mulai menghangat bersamaan dengan embusan napas sang suami yang menerpa permukaan kulit.
"Aku rindu ... tapi aku takut ...." Ada getar ketakutan dalam suara yang semakin lirih tersebut. Nara mengerti dan memahami maksud dari ucapan Yoga.
Sejak pulih dari kecelakaan parah yang menimpanya, Yoga berubah menjadi pribadi yang sangat sensitif. Dia selalu merasa berbeda dan tidak pantas untuk Nara dan keluarganya.
Di luar kamar, lelaki itu masih bisa menyembunyikan isi hatinya. Dia bisa menunjukkan sikap tenang dan berwibawa seperti biasa. Akan tetapi, bila sudah berada di dalam kamar, Yoga akan menjadi pribadi yang lemah dan selalu merasa berbeda. Hanya Nara yang bisa menenangkan dan mengembalikan kepercayaan dirinya, meskipun hanya di depan orang lain.
"Apa yang kamu takutkan, Mas? Tidak pernah ada yang berubah darimu, apalagi dengan perasaanku. Bagiku semuanya masih sama seperti selama ini dan akan selamanya demikian." Nara masih membiarkan suaminya memeluk dari belakang. Butuh waktu untuk membuat sang suami nyaman sehingga bisa dibujuk untuk tidak merasa kecil hati.
"Kamu sudah tahu apa yang aku takutkan, Sayang. Aku ... aku takut mengecewakanmu dan aku takut melihat kekecewaanmu." Yoga mempererat pelukan dan semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Nara tanpa ingin ada sekat lagi di antara mereka.
Deru napasnya kian memburu, menahan gejolak yang masih coba diluruhkan kenbali. Dia tetap takut untuk memulai karena khawatir Nara akan menolaknya.
__ADS_1
"Kamu juga sudah tahu bagaimana aku, Mas. Jawabanku akan tetap sama sekalipun kamu masih terus bertanya berulang kali. Jadi untuk apa lagi kamu membuang waktu hanya demi berlama-lama menyimpan ketakutanmu itu." Nara menjawab dengan hal yang sama entah sudah yang keberapa kalinya.
Dia merenggangkan pelukan Yoga agar bisa berbalik dan menjadi berdiri berhadapan dengan suaminya. Senyumnya mengembang sempurna seolah ingin memberikan jawaban pada Yoga atas kekhawatirannya yang tak beralasan.
"Mas, jika wajahku semakin menua dan penuh keriput, beruban dan kusut ... apakah kamu masih mau memeluk dan menciumku sama seperti selama ini?" tanya Nara dengan pandangan lekat-lekat menatap Yoga. Tanpa jeda lelaki itu segera menggeleng dengan tegas.
"Pertanyaanku ini masih sebuah pengandaian, belum menjadi kenyataan. Bisa saja kelak saat semua itu terjadi, kamu berubah pikiran dan tidak mau menyentuhku lagi. Justru seharusnya, saat ini aku yang merasa takut dan khawatir, Mas. Bukan kamu."
Bukan Nara jika tidak bisa meluluhkan hati Yoga. Semua ucapannya seolah berbalik menyerang lelaki itu. Memang benar semua yang ditanyakan Nara masih belum terjadi dan dia belum melihatnya. Namun, kondisinya saat ini sudah bisa dilihat dan menjadi pemandangan Nara sehari-hari.
Nyatanya, sang istri tidak pernah ingkar dengan ucapannya dari awal hingga kini. Bahkan lebih dari itu, Nara-lah yang selalu memberinya kekuatan dan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan tidak akan ada yang berubah sama sekali.
"Cinta kamu luar biasa, Sayang. Maafkan aku yang sempat meragukanmu karena ketakutanku. Aku takut kamu akan meninggalkan aku. Hanya itu ketakutan terbesarku."
Kedua tangan Nara berpindah dari pinggang, kini menangkup wajah lelaki yang paling dicintainya. Wajah yang tak lagi sama seperti dulu, tapi tak pernah berubah di mata hati wanita itu.
"Dengarkan aku, Mas. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkanmu! Aku sangat mencintaimu dan akan selalu bersamamu." Nara berjinjit untuk mencium kening suaminya.
"Terima kasih, Sayang." Suara itu terdengar semakin parau dengan tatapan yang senakin sayu dan penuh rindu. Masih ada ragu, tapi dia mencoba menepisnya dan memberanikan diri untuk memulai.
"Jika aku menginginkannya, apa kamu akan mengizinkannya? Jika aku memintanya, apa kamu akan menyerahkannya?" Kedua tangan Yoga sudah mulai bergerak pelan, memberikan sentuhan lembut pada beberapa bagian sensitif di tubuh sang istri yang sudah sangat dia rindukan.
Nara yang sejak awal sudah mengetahui gelagat sang suami, mencoba tetap bersikap tenang agar Yoga berani memulainya tanpa ragu. Sesungguhnya dia pun telah merindukan hal yang sama.
"Apa aku pernah menolakmu, Mas?"
Jawaban Nara membuat jantung Yoga berdegup sangat cepat dan keras. Desiran halus mulai meruntuhkan pertahanan di hatinya. Lelaki itu menyerah, tak lagi memikirkan keraguan dan ketakutan yang sempat membayangi.
"Aku mau kamu, Sayang ...."
__ADS_1
Di detik yang sama saat kalimat itu terucap sangat lirih tepat di telinga Nara, Yoga kembali memupus jarak di antara mereka. Tubuh mereka saling melekat sangat erat dan terus menyatukan kehangatan yang telah berubah memanas. Keduanya telah terpercik api asmara yang telah lama sengaja dipadamkan karena situasi penuh adaptasi.
Nara menurunkan kedua tangannya dari wajah Yoga, lalu berpindah dan mengalung manja di leher kokoh suaminya. Wajah mereka kian tak berjarak. Saling mengembuskan napas yang menerpa wajah yang semakin memerah, terbakar hasrat yang telah memuncak.
"Aku milikmu seutuhnya, Mas ...."
.
.
.
Masih ada banyak Bonus Kisah terindah di sini. Tetap favoritkan dan tunggu kisah tersimpan yang belum terungkapkan sebelumnya...👍🙏
.
.
.
Mohon doanya selalu, agar proses revisi naskah untuk penerbitan buku cetak CINTA NARA dimudahkan dan selesai tepat waktu, terima kasih...🙏💜
.
.
.
Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana 🙏💜
__ADS_1
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02