
Lantaran memburu waktu penerbangan, Yoga tidak sempat membawa Nara ke Dokter Alya untuk memeriksakan kondisinya, setelah apa yang dialami istrinya semalam.
Karenanya, begitu sampai di bandara kota lama Yoga meminta sopir yang menjemput mereka langsung menuju ke klinik milik Ardi.
"Mas, aku baik-baik saja. Mengapa kamu sangat khawatir seperti itu?"
Sementara Raga duduk bersama Mbak Indah di depan, ayah dan ibunya duduk di kursi belakang berdua dan masih berdebat kecil hanya karena keinginan Yoga untuk memeriksakan kandungan istrinya, padahal baru beberapa hari yang lalu mereka datang ke klinik yang dikelola oleh Dokter Alya.
"Hanya untuk memastikan semuanya, Sayang. Beberapa hari ini kamu terlalu banyak kesibukan untuk mempersiapkan acara kemarin sore. Aku khawatir kondisi calon bayi kita juga terpengaruh dan kelelahan di dalam sana."
Nara tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat betapa besarnya perhatian Yoga kepadanya. Lelaki itu selalu lebih panik darinya jika sedang gelisah memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya atau Raga.
Terlebih lagi sekarang dia tengah mengandung calon anak kedua mereka. Yoga jauh lebih berlebihan dalam menjaga dan melindunginya.
Nara tidak tahu, jika kepanikan suaminya semakin menjadi lantaran melihat keadaannya semalam yang terus mengigau di alam bawah sadarnya, membuat Yoga semakin tidak tenang memikirkannya.
Saat mobil sudah sampai di depan teras klinik, Yoga turun bersama Nara dan meminta sopir untuk langsung mengantarkan putra sulungnya dan Mbak Indah ke rumah sang mertua.
Karena belum membuat janji sebelumnya dan keadaan klinik sedang cukup ramai, Nara meminta Yoga untuk sabar menunggu sesuai antrian pemeriksaan mereka.
"Tidak perlu menghubungi Dokter Ardi, Mas. Lihatlah antrian pasiennya masih banyak. Kita tidak boleh mencari menang sendiri hanya karena kita mengenalnya."
Nara menahan tangan suaminya yang sudah memegang ponsel dan hendak menghubungi sahabat kecilnya yang tengah sibuk di dalam ruangan di depan mereka.
"Kamu bilang ingin menikmati setiap proses kehamilan keduaku ini, bukan? Jadi tetaplah bersabar dan duduklah dengan tenang bersamaku."
Nara mengambil ponsel di tangan suaminya dan mengembalikannya ke dalam saku kemeja Yoga, lalu menggenggam tangannya dengan erat seraya bersandar manja di bahu kokoh sang suami.
Yoga akhirnya mengalah. Dia menghela napas panjang untuk menenangkan diri lalu mencium kepala istrinya dengan sayang.
"Aku mencintaimu, Sayang. Maafkan aku jika seringkali berlebihan dalam memperlakukan dirimu sehingga kamu justru merasa tidak nyaman karenanya. Maafkan aku."
Sekali lagi Yoga melabuhkan ciuman hangat di kepala Nara yang tersenyum bahagia dan memeluk erat lengan suaminya dengan satu tangannya yang lain. Yoga mempererat genggaman tangan mereka dan mendekapnya di atas dada.
Setelah hampir satu jam lamanya menunggu, akhirnya nama Nara pun dipanggil oleh perawat yang mendampingi Ardi bertugas.
Yoga membantu istrinya berdiri dan menuntunnya berjalan memasuki ruangan Ardi. Ardi tampak terkejut dengan kehadiran keduanya dan baru menyadari jika berkas pasien yang baru saja dibukanya adalah milik istri sahabat kecilnya.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak tahu jika kalian akan datang kemari. Apa kalian menunggu lama?"
Ardi dan Yoga bersalaman dan berpelukan erat untuk melepas rindu karena sudah karena tidak bertemu.
"Cukup lama dan Nara melarangku untuk menghubungimu." Yoga menjawab dengan jujur membuat Ardi tertawa kecil membayangkan bagaimana bosannya Yoga saat menunggu tadi.
"Istrimu benar, kamu memang harus belajar bersabar dan tidak berlaku arogan terus-menerus." Ardi menggoda sahabatnya yang sudah tersenyum kecut mendengar ledekan dokter tampan itu.
Nara didampingi perawat sudah berjalan menuju bilik pemeriksaan, sementara Yoga menahan langkah Ardi yang sudah akan menyusulnya.
Dia berbicara lirih dan menceritakan keadaan Nara semalam, kemudian meminta Ardi untuk memeriksa istrinya dengan lebih detil.
"Aku sangat mengkhawatirkannya. Tolong bantu aku untuk memastikan keadaannya."
Ardi mengangguk dan menepuk pelan bahu sahabatnya.
"Jangan khawatir. Dia pasti baik-baik saja."
Perawat memberi tahu jika Nara sudah siap diperiksa. Yoga pun berjalan mengikuti Ardi masuk ke dalam bilik dan segera berdiri di samping sang istri yang sudah mengulurkan tangannya untuk digenggam.
"Bagaimana keadaan istriku, Di?" Yoga yang tak sabar menunggu, mulai bertanya dan mengganggu konsentrasi Ardi.
Ardi tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya mengangkat tangan kirinya untuk meminta Yoga diam hingga suasana di sana kembali sunyi.
Tak lama kemudian, layar monitor menampilkan grafik denyut jantung janin, hal yang paling ditunggu-tunggu oleh pasien setiap kali memeriksakan kehamilannya.
Ardi memperbesar volume suara agar lebih jelas dan lebih jernih dalam pendengaran mereka semua. Kini suara itu terdengar seirama dengan gerakan grafik di layar monitor yang bergerak naik dan turun.
Hatinya selalu bergetar indah serasa jatuh cinta, setiap kali mendengarkan detak jantung calon bayi yang dikandung oleh istri tercintanya.
"Dengarkan ini. Detak jantungnya sangat normal. Perkembangan janin kalian dan semua organ dalamnya juga sangat baik. Secara keseluruhan tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Yoga bernapas lega setelah Ardi memastikan bahwa calon bayi mereka dalam kondisi yang sangat baik dan tumbuh semakin kuat.
"Ada lagi yang ingin kalian tanyakan?"
Setelah menjelaskan secara panjang lebar tentang kondisi Nara dan kandungannya, Ardi memberi waktu bagi keduanya untuk menanyakan hal lain yang berkaitan dengan kehamilan calon anak kedua mereka.
__ADS_1
"Apakah jenis kelaminnya sudah bisa diketahui, Dok?" tanya Nara dengan tidak yakin.
Beberapa hari yang lalu di klinik Alya, posisi janin mereka menutupi jenis kelaminnya sehingga belum bisa dilihat dengan pasti.
"Aku sudah menduganya. Kalian pasti akan menanyakan itu karena memang di usia kehamilan delapan belas minggu seperti kamu saat ini, biasanya jenis kelamin bayi sudah bisa dilihat dengan jelas selama posisinya tepat."
Ardi kembali menggerakkan transduser di tangan kanannya sambil terus memperhatikan layar monitor, mencari-cari posisi yang tepat yang mengarah pada bagian alat reproduksi yang akhirnya ditemukan olehnya.
"Nah, ini dia! Akhirnya terlihat juga."
Yoga dan Nara turut memperhatikan titik yang ditunjuk oleh Ardi di layar monitor. Sama-sama tidak tahu dan tidak bisa memahaminya, mereka kembali menatap ke arah wajah Ardi yang sudah dipenuhi senyuman.
"Sudah terlihatkah, Dok? Laki-laki atau perempuan?" tanya Nara sekedar ingin mengetahui saja.
Dia memang tidak pernah berharap akan salah satunya karena baginya yang paling penting adalah kesehatan dan keselamatan bayi di dalam kandungannya.
"Apa jenis kelaminnya?" tanya Yoga mengulangi pertanyaan istrinya yang belum dijawab juga oleh dokter sekaligus sahabat kecilnya tersebut.
Untuk sesaat Ardi kembali menatap layar monitor lalu kembali memperhatikan wajah sepasang suami-istri yang penuh tanda tanya.
"Jenis kelaminnya adalah ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1