CINTA NARA

CINTA NARA
2.23. DEMI KEBEBASAN


__ADS_3

"Hutangmu masih belum lunas. Ingat itu! Jadi jangan berani macam-macam terhadapku atau aku akan menyiksamu lagi seperti dulu."


Seorang lelaki tengah menghitung jumlah uang yang baru saja diberikan oleh mantan istrinya.


Kalau saja tidak menguntungkan baginya maka dia tidak akan bersedia melepaskan wanita itu dari genggamannya. Walaupun tidak mencintainya, tapi dia masih bisa memanfaatkan wanita itu dengan memeras penghasilan yang dimilikinya.


"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah milik orang tuaku bahkan sudah menjadi milikmu dan dengan seenaknya kamu gadaikan begitu saja. Apakah itu masih belum cukup?" tanya wanita itu dengan berani meskipun dia tahu pada akhirnya dia juga yang akan pasrah dalam kekalahan.


Plaakkk ...!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita malang itu. Tamparan yang entah sudah yang keberapa kalinya dia dapatkan dari mantan suaminya yang penuh ancaman itu.


"Untuk semua yang dilakukan orang tuaku pada keluargamu mungkin sudah cukup. Tapi tidak akan pernah cukup untuk menggantikan penghinaanmu yang selalu menolakku dan memilih untuk berpisah dariku."


Lagi-lagi wanita itu hanya bisa menangis meratapi nasib kehidupannya. Hanya demi kebebasan yang dimintanya, dia harus rela menukarnya dengan hasil kerja kerasnya setiap bulan yang selalu dirampas oleh lelaki itu.


"Sampai kapan? Sampai kapan kamu akan memerasku seperti ini?" Wanita itu mulai tersedu-sedu. Meskipun sudah terbiasa, tetap saja perlakuan lelaki itu selalu menorehkan kesakitan baru di hatinya sementara luka yang lama pun masih menganga dan terasa perih.


"Sampai aku merasa puas dan tidak membutuhkanmu lagi. Tapi sepertinya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Hahaahaaa ...!!!"


Lelaki itu menyimpan uang yang baru saja dihitungnya lalu berjalan menuju pintu rumah mantan istrinya. Sebelum benar-benar berlalu, dia berhenti dan kembali menoleh ke belakang.


"Ingat! Tidak ada gunanya kamu melaporkanku kepada siapa pun, bahkan pihak berwajib sekalipun. Tidak akan ada yang percaya pada ocehanmu."


"Dan satu hal lagi, ini adalah urusan pribadi kita berdua. Kalau sampai ada orang lain yang mengetahuinya, maka aku akan melakukan hal buruk pada kedua orang tuamu di desa!"


Lelaki itu akhirnya pergi, melajukan mobil yang di dalamnya telah duduk seorang wanita berpenampilan terbuka dan maksimal yang tak lain adalah kekasih lamanya yang sekarang sudah menjadi istrinya.


Di dalam rumah kontrakan sederhananya, wanita berpenampilan sahaja itu tampak masih memegangi wajahnya yang pucat dan memerah di salah satu pipinya. Bekas tamparan lelaki tadi masih terasa sakit dan membuat kepalanya pusing.


Segera ditutupnya pintu depan kemudian dia menuju kamarnya dan membaringkan diri untuk beristirahat.


Setiap bulan selama tiga tahun ini, hal itu selalu terjadi. Mantan suaminya datang dan mengambil sejumlah uang miliknya sebagai imbalan atas kebebasan yang dimintanya untuk lepas dari belenggu pernikahan tanpa cinta yang penuh kekerasan dan pengkhianatan.


Andai saja bisa, sudah sejak lama dia akan menempuh jalur hukum untuk melaporkan penganiayaan dan pemerasan yang dilakukan oleh mantan suaminya tersebut.

__ADS_1


Tapi apalah daya, lelaki licik itu memperalat kedua orang tuanya di sana untuk menakut-nakuti dirinya, agar dia mau melakukan semua keinginan lelaki itu.


Demi keselamatan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia dan hidup sederhana di kampung halaman, wanita itu tetap bertahan dengan menuruti semua kemauan mantan suaminya.


Dia pun tidak berani melaporkan semua perlakuan buruk lelaki itu pada pihak yang berwajib, karena dia masih memikirkan perasaan kedua orang tua lelaki tersebut yang tak lain adalah mantan mertuanya.


Wanita malang itu selalu menjaga perasaan mereka, karena mereka sudah sangat berjasa pada keluarganya terlebih dirinya yang berhasil mewujudkan cita-citanya dengan bantuan mantan mertuanya yang merupakan sahabat baik kedua orang tuanya.


Dia menutupi semuanya dari seluruh keluarga dan orang lain demi menjaga nama baik keluarga mantan suaminya, juga demi kebahagiaan keluarganya sendiri yang hanya mengetahui bahwa dia telah hidup bahagia bersama suaminya di kota lain di mana mereka menetap sekarang.


.


.


.


Di sebuah rumah yang lain, sepasang suami-istri tengah diliputi kebahagiaan karena kehamilan sang istri yang telah semakin besar.


Dua bulan lagi sang istri akan segera melahirkan dan rumah mereka akan diramaikan oleh tangisan bayi yang sudah mereka nantikan dengan tidak sabar lagi.


"Sayang, ini makanlah dulu. Lalu segera diminum obatnya."


"Terima kasih, Mas. Kamu tidak makan sekalian, Mas?" tanya Bunga yang melihat suaminya duduk menemani di sampingnya.


Sesekali dia ikut menyuapi Bunga lalu kembali menatap layar kerjanya yang dipenuhi data pasien dan jadwal kelahiran masing-masing.


"Aku sudah makan di ruang makan tadi, Sayang," jawab Ardi tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar yang menyala terang di pangkuannya.


Bunga diam dan melanjutkan makan malamnya tanpa ingin mengganggu pekerjaan suaminya, yang meskipun sudah berada di rumah akan tetapi tetap menyelesaikan pekerjaannya tanpa kenal lelah.


"Sudah, Mas." Bunga meletakkan piring kosong di atas meja lalu meraih gelas air putih di sebelahnya.


Yoga dengan sigap membantu mengambilkan obat dan vitamin untuk istrinya yang segera ditelan oleh Bunga dengan bantuan segelas air putih.


"Terima kasih." Bunga tersenyum lalu mencium pipi suaminya, membuat Ardi membalas senyumannya.

__ADS_1


Ditutup dan dia letakkan laptop di samping tubuhnya, lalu dia merapatkan duduknya merapat ke tubuh sang istri.


"Kamu sudah mengantuk? Ayo, aku temani tidur." Ardi hendak mengangkat tubuh istrinya namun ditahan oleh Bunga.


"Nanti sebentar lagi, Mas. Aku kan baru saja makan."


Ardi tersenyum lalu mengangguk. Ditariknya kepala sang istri hingga rebah di atas dadanya. Dia mencium puncak kepalanya, lalu terus-menerus membelai rambutnya dengan sentuhan lembut dan berulang kali.


"Sesuai kesepakatan kita dulu, karena calon anak kita berjenis kelamin perempuan, maka kamu yang akan memberinya nama."


Bunga mengangguk di pelukan suaminya. Dia memang sudah menyiapkan nama terbaik untuk sang buah hati akan tetapi tetap disembunyikannya sampai nanti tiba waktunya kelahiran sang bayi.


"Aku sudah memutuskan namanya, tapi akan kuberitahu nanti seusai aku melahirkannya, Mas."


"Ya, Sayang. Mulai sekarang persiapkan dirimu. Kamu harus lebih sering bergerak dan berjalan agar bisa melahirkan secara normal sesuai keinginanmu."


Bunga mulai terkantuk-kantuk di dalam dekapan hangat suaminya. Matanya mulai menutup sempurna meskipun telinganya masih bisa mendengarkan semua ucapan sang suami.


"Aku sangat mencintaimu, Mas. Semoga keluarga kita selalu dipersatukan oleh restu Allah hingga kita menua bersama dikelilingi oleh anak-cucu kita."


Alam bawah sadar Bunga mulai menguasai pikirannya yang telah berkelana entah ke mana.


"Namun jika suatu saat nanti takdir harus memisahkan kita berdua, yakinlah bahwa aku akan selalu setia menemanimu, meskipun tak lagi terlihat dan tersentuh olehmu ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2