CINTA NARA

CINTA NARA
96 KEHIDUPAN BARU


__ADS_3

Enam bulan berlalu demikian cepat. Nara turun dari mobil yang dikemudikan Pak Budi, lalu berdiam diri sejenak, menatap ke sekelilingnya yang dipenuhi rumput hijau dan bunga kamboja.


Ingatannya melayang pada hari yang telah lalu, hari di mana dia memulai kehidupan barunya dengan status yang baru. Semua hal baru yang harus dia biasakan dan dia jalani dengan perasaan yang baru.


Membawa keranjang bunga di tangan kiri dan buku kecil di tangan kanannya, Nara mulai melangkah dan berjalan pelan menyusuri jalan setapak di area pemakaman umum yang sangat terjaga kebersihan dan kerapiannya.


Kerudung putih dan kacamata hitam melengkapi penampilannya yang selalu sederhana namun tetap terlihat menawan, dengan senyum yang selalu terulas tipis di bibir manisnya.


Tak lama kemudian, dia menghentikan langkahnya di depan sebuah pusara yang telah dipasangi nisan keramik hitam dengan ukiran nama di bagian atasnya.


Dia meletakkan keranjang bunga dan buku doa yang dibawanya di atas tikar kecil yang sudah disiapkan oleh pengelola makam, dan digelar di samping makam yang didatangi oleh Nara.


Tanpa kata Nara melebarkan senyumannya seraya menyentuh puncak batu nisan dan membaca deretan huruf dan angka yang terukir indah, membentuk rangkaian nama dan tanggal sesuai dengan hari kepergiannya.


Setelah puas menyapa dalam hati pada nama di dalam ukiran nisan tersebut, Nara melepaskan alas kakinya lalu duduk bersimpuh di atas tikar anyaman daun pandan itu.


Dia melepas kacamatanya lalu mengambil kembali buku doa di sebelahnya. Setelah itu dia membuka dan mulai membacanya dengan lirih dan khusyuk dari dalam hati.


Lima belas menit kemudian, Nara telah menyelesaikan doanya. Dia menutup buku kecil di tangannya lalu melanjutkan lagi doanya dengan bacaan-bacaan panjang dengan mata tertutup rapat.


Di belakang mobil yang ditunggui Pak Budi, sebuah mobil lain datang dan berhenti di sana. Seorang lelaki berkacamata hitam turun dari pintu kemudi dan menutupnya kembali.


Sejenak menyapa sang sopir keluarga Mahendra yang berdiri siaga di samping mobil, lelaki itu kemudian berjalan cepat ke arah makam yang didatangi Nara.


Sambil terus berjalan dia melipat rapi kedua lengan kemejanya sampai di bawah siku. Rambut lebatnya sedikit teracak tersapu sepoi angin sore hari yang terasa sejuk menyentuh kulit wajah dan tangannya.


"Sayang ...."


Lelaki itu memanggil pelan dan membuat Nara mengangkat kepalanya dan menatap ke arah seseorang yang baru saja datang tersebut. Seketika senyumnya mengembang semakin lebar disertai binar bahagia dalam pancaran sinar mata beningnya.


"Sayang, maaf aku terlambat menyusulmu. Ada rapat mendadak yang harus aku selesaikan terlebih dahulu."


Lelaki itu melepaskan sepatunya lalu menghampiri wanita yang sangat disayangi dan dicintainya tersebut.


Nara mengulurkan tangannya dan mengambil tangan lelaki itu untuk diciumnya dengan bahagia. Lelaki itu duduk bersila di samping Nara dan membalas dengan mencium lembut kening wanita kesayangannya tersebut.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tahu kamu pasti datang, karena kamu selalu menepati janjimu."


Nara terus menampakkan senyumannya dan menyerahkan buku doa yang tadi dia bawa kepada lelaki di sebelahnya. Setelah melepaskan kacamata dan menggantungnya pada kaitan kancing pertama kemejanya, lelaki itu segera membuka buku dan membaca doa dengan tenang.

__ADS_1


Nara terus memperhatikan lelaki itu dengan hati berdebar bahagia. Rasa syukur terus terucap dalam hati, atas anugerah terindah dan terbaik yang selalu Allah limpahkan pada keluarga kecilnya.


Usai menyelesaikan doa di buku dan dilanjutkan dengan untaian doa-doa lainnya, lelaki itu berdiri lebih dulu lalu membantu Nara berdiri bersamanya.


Nara mengambil keranjang bunga yang tadi dibawanya, lalu berdua bersama-sama menaburkan seluruh isinya di atas makam di hadapan mereka.


"Selamat ulang tahun, Ky. Harusnya usiamu genap dua puluh dua tahun hari ini. Tapi Allah lebih menyayangimu sehingga dia mengambilmu lebih dulu dari kami semua di sini." Lelaki itu berucap haru sambil membaca dalam hati ukiran nama di atas nisan tersebut.


"Terima kasih telah menjadi perantara Allah untuk memberikan kehidupan baru bagi suamiku. Berkat dirimu, dia masih bersama denganku dan si kecil, terus melanjutkan hidup dan melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami."


Nara menambahi ucapan lelaki itu lalu tersenyum menatap wajah rupawan di sampingnya. Lelaki itu membalas tatapan mata Nara dan mengunci pandangan mereka dengan getaran indah yang terasa di hati keduanya.


"Kita pergi sekarang, Sayang?" ajak lelaki itu seraya merengkuh bahu Nara dan didekapnya dengan erat untuk sesaat.


Nara mengangguk lalu mengambil keranjang kosong dan buku doanya. Mereka berjalan bergandengan tangan meninggalkan makam sang penolong yang telah menyelamatkan nyawa suaminya dari kematian yang hampir saja membawanya pergi untuk selamanya.


Sampai di ujung pemakaman, Nara membuang keranjang kosong yang masih dibawanya ke tempat sampah besar yang tersedia di sana.


"Pak Budi, Nara pulang bersama saya. Kami akan mampir ke restoran Tante Arum lebih dulu."


Pak Budi mengangguk dan tersenyum ramah.


"Terima kasih, Pak Budi." Nara menjawab ucapan Pak Budi.


Wanita itu tersenyum lalu mereka bertiga masuk ke dalam mobil masing-masing. Pak Budi melajukan mobilnya lebih dulu meninggalkan sepasang suami-istri yang selalu tampil serasi dan mesra tersebut.


Nara dan Yoga saling menatap penuh cinta sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Seperti biasa Yoga membukakan pintu untuk istrinya lalu menutupnya, baru kemudian dia menyusul masuk melalui pintu kemudi.


Sebelum menyalakan mesin mobil, Yoga mendekati Nara yang tengah memasang sabuk pengamannya. Diciumnya puncak kepala sang istri dengan hati bahagia.


"Aku mencintaimu, Sayang."


Nara melebarkan senyumannya dan membalas ucapan suaminya.


"Aku juga mencintaimu, Mas."


Tanpa permisi Yoga mencium bibir Nara dengan lembut, menciptakan kehangatan rasa di hati keduanya. Tanpa ragu Nara membalasnya dan untuk sesaat mereka saling berbalas ciuman secara singkat namun selalu penuh cinta.


.

__ADS_1


.


.


"Selamat sore, Tante," sapa Nara mendahului suaminya yang menyusul menyapa Tante Arum kemudian.


"Hai, kalian! Ayo, masuk ke dalam sini." Tante berdiri dan meninggalkan meja pesanan setelah meminta salah satu karyawannya untuk menyiapkan hidangan bagi Yoga dan Nara.


Mereka menyusul Tante Arum yang sudah berjalan lebih dulu sampai ke meja bagian belakang. Bergantian, Yoga dan Nara mencium tangan wanita paruh baya itu lalu saling memberikan pelukan hangat.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, Tante Arum selalu terharu dan tanpa sadar meneteskan air mata setiap kali memeluk Yoga. Yoga pun sama, hatinya menjadi lebih perasa dan mudah terharu setiap kali bertemu dengan sahabat lama mamanya tersebut.


"Dari mana kalian? Nara ikut ke kantor, ya?" tanya Tante Arum setelah melepaskan pelukannya pada Yoga dan menghapus genangan air mata di pelupuknya.


"Dari makam Dicky, Tante. Maaf, kami tidak memberitahu Tante lebih dulu." Nara menjawab pertanyaan Tante Arum.


"Tidak apa-apa. Tante tahu kalian pasti sering pergi ke sana, kan?"


Nara dan Yoga duduk berhadapan, sementara Tante Arum duduk di sebelah Yoga, lalu meletakkan tangannya di atas dada Yoga. Beliau memejamkan mata dan mendengarkan detak jantung Yoga dengan seksama.


"Tante bahagia, meskipun Dicky sudah tidak bersama kita lagi, tapi kehadirannya masih selalu terasa, karena dia ada di sini." Tante Arum membuka mata lalu menunjuk dada Yoga dengan senyuman di wajahnya.


Dicky adalah putra sulungnya, yang meninggal dunia bersamaan pada saat Yoga mulai memasuki masa kritisnya menuju kematian.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2