
Episode-episode terakhir ....
.
.
.
Siang itu ....
Yoga ditemani Indra dan Beno tengah melakukan pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya. Mereka diundang makan siang bersama di salah satu restoran ternama.
Selain membahas tentang pengajuan kerja sama yang akan dilanjutkan kembali, mereka juga membicarakan rencana peresmian beberapa proyek yang sudah siap untuk dipasarkan.
Menjelang sore, mereka berencana kembali ke gedung Mahen Land. Bertiga mereka berjalan menuju mobil yang berada di ujung area parkir yang luas dan menyatu dengan bahu jalan raya di depan restoran.
Di pertengahan area, Yoga menerima telepon dari wartawan salah satu media yang ingin membuat jadwal wawancara. Ayah dua putra tersebut melambatkan langkahnya diikuti Beno sembari mengatur waktu pertemuan.
Sementara itu, Indra tetap melanjutkan langkahnya mendahului Yoga dan Beno, agar bisa menyiapkan mesin terlebih dahulu. Sesampainya di samping mobil yang terparkir menghadap bahu jalan, adik Nara satu-satunya itu mengeluarkan kunci dari saku celana dan memasangnya pada lubang di bagian pintu kemudi.
Tanpa dia tahu, dari sisi kanan melaju sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah masuk ke area parkir restoran. Yoga yang masih berjalan pelan sambil menerima telepon, melihat dengan jelas keberadaan mobil tersebut.
Merasa ada yang tidak beres dengan mobil itu dan khawatir akan menabrak mobil Indra yang berada paling ujung, Yoga menjatuhkan ponselnya dan segera berlari menyusul adik iparnya yang masih sibuk membuka pintu.
"Awas ...! Cepat menyingkirlah, Ndra!"
Yoga berhasil sampai lebih dulu dan menggapai tubuh Indra. Dengan cepat dia menarik dan mendorongnya sekuat tenaga ke arah lain yang dirasa lebih aman.
Sayangnya, saat akan ikut berlari menjauh, gerakannya kalah cepat dengan laju mobil yang sudah kehilangan kendali tersebut. Tubuh Yoga langsung tertabrak hingga terjepit di antar dua mobil.
"Pak Yoga ...!?!" Beno yang ikut mengejar seketika menghentikan langkahnya saat melihat mobil telah menabrak atasannya dan membentur badan mobil milik Indra.
Percikan api muncul begitu saja dari bagian mesin yang terbentur sangat keras, hingga akhirnya ... terjadilah ledakan yang tak bisa dihindari!
.
.
__ADS_1
.
Indra dan Beno tampak mondar-mandir di depan ruang operasi. Sudah hampir lima jam lampu di atas pintu menyala terang, menandakan operasi masih terus berlangsung.
Di deretan bangku tunggu, terlihat kedua orangtua Nara duduk dengan perasaan tidak tenang. Mereka dihubungi oleh Indra setelah Yoga dibawa ke rumah sakit dan segera ditangani oleh tim dokter terbaik.
Indra sendiri awalnya masih tampak sangat syok dan terpukul. Dia merasa sangat bersalah karena ddminmenyelamatkan dirinya, justru Yogalah yang mengalami kecelakaan separah itu.
Tubuh lelaki tampan yang gagah dan penuh pesona itu mengalami luka bakar yang cukup merata di sekujur tubuhnya. Ditambah lagi beberapa tulang kaki yang patah akibat benturan sangat keras saat tabrakan terjadi.
Beruntung ledakan yang terjadi tidak terlalu besar dan bisa dipadamkan dengan segera. Namun karena posisinya yang terjepit, kondisi Yoga telanjur turut terbakar.
"Bagaimana aku akan menjelaskannya pada Mbak Nara? Aku yang salah. Aku yang seharusnya ada di sana, bukan Mas Yoga ...!" Berkali-kali lelaki itu menyalahkan diri sendiri dan dilanda kebingungan karena harus menghadapi Nara, kakaknya.
Beno berjalan menghampiri Indra yang baru saja duduk dengan kedua tangan menutupi wajah kalutnya. Sang asisten itu sama paniknya, tapi bisa menyembunyikannya dan tetap bersikap tenang.
"Menurut saya, sebaiknya Ibu Nara jangan diberi tahu dulu. Setidaknya sampai Pak Yoga sadar dan bisa memutuskannya sendiri," ucap lelaki yang masih betah melajang tersebut.
Orang kepercayaan Yoga itu mencoba menengahi dan memberi saran. Dia jauh lebih tahu sifat atasannya. Dalam keadaan seperti itu, Yoga pasti tidak ingin membuat Nara khawatir dan menangisinya.
Akhirnya semua sepakat, unguk sementara akan menyembunyikan keadaan Yoga dari Nara dan anak-anak. Beno menghubungi Sonia untuk mengatasi urusan di Mahen Land, lalu meminta bantuan Pram untuk mengatasi pekerjaan di Raga Properland.
Setelah enam jam menjalani tindakan operasi untuk menangani patah tulang dan luka bakar yang dialami, Yoga dipindahkan ke ruang pemulihan lebih dulu. Barulah pada hari berikutnya lelaki itu dibawa ke ruang perawatan.
"Tolong ... jangan beri tahu Nara." Begitu sayangnya pada sang istri hingga Yoga tak ingin Nara mengetahui keadaannya saat ini.
Menurut dokter, kondisi luka pasca operasi akan mulai pulih setelah satu minggu pertama. Maka dari itu, dokter belum mengizinkan Yoga untuk dipindahkan dan menjalani perawatan di kota tempat tinggalnya. Setidaknya dia harus menunggu sampai pemeriksaan satu minggu berikutnya.
Selama satu minggu lamanya, Yoga terus memantau keadaan keluarganya melalui Ardi dan Bibi Asih. Tak pernah sesaat pun dia melupakan Nara dan anak-anak. Dalam kondisi lemah dan tak bisa berbuat apa-apa, lelaki itu tetap menjaga dan melindungi mereka dengan bantuan sahabat dan orang-orang terdekat.
Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi janjiku padamu, Sayang. Aku tak bisa menjaga diriku sendiri. Tapi aku bersyukur karena bisa menyelamatkan adik kesayanganmu dari maut yang mengintai. Meskipun aku yang harus menjadi penggantinya ....
Yoga teringat dengan surat peninggalan ayahnya, yang dulu dititipkan kepada almarhum Dokter Danu dan disampaikan oleh Dokter Dani kepadanya. Entah kebetulan atau tidak, beberapa hari sebelum dia berangkat ke kota kelahirannnya, Yoga membuka dan membaca surat tersebut.
Dalam suratnya, sang ayah menuliskan bahwa beliau mewariskan sebuah rumah untuk Yoga. Rumah serupa villa keluarga yang dibeli bersama Dokter Danu tersebut terletak bersebelahan dengan batas sebidang tanah perkebunan. Sekilas ingatan, lelaki itu mengetahui bangunan yang dimaksud dalam surat ayahnya.
Di saat dirinya mengalami kecelakaan parah seperti saat ini, terbersit keinginan untuk bisa beristirahat dan melanjutkan proses pemulihannya di rumah tersebut. Dia tahu, akan butuh waktu yang lama baginya hingga kembali sehat. Itu pun rasanya tidak akan mungkin bisa sembuh sepenuhnya.
__ADS_1
Setelah berkonsultasi dengan tim dokter dan beberapa dokter di kota tempat tinggalnya, Yoga memutuskan untuk melanjutkan pengobatan di sana agar lebih dekat dengan keluarga.
Atas izin dokter pula, lelaki itu memilih untuk menjalani perawatan di rumah pemberian ayahnya. Dibantu oleh Alya yang mengenal baik dokter-dokter handal di kota mereka, Yoga akan mendapatkan penanganan dari beberapa dokter terpilih yang telah direkomendasikan oleh istri Ardi tersebut.
Segala persiapan mulai dilakukan, terutama untuk mempersiapkan ruangan yang layak untuk Yoga tempati. Dengan bantuan Alam dan rekannya yang berkecimpung di bidang mebel dan perlengkapan rumah, mereka mendesain satu ruangan khusus serupa ruang perawatan pasien di rumah sakit.
Semoga Nara kuat dan bisa menerima keadaanku yang sekarang. Aku sangat membutuhkan dirinya di sampingku. Sungguh aku tidak bisa melalui semua ini sendirian. Aku merindukannya dan ingin ditenangkan olehnya. Ya Allah, bantu hamba dan kabulkanlah keinginan hamba.
.
.
.
Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana ππ
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1