CINTA NARA

CINTA NARA
2.77. AKU TIDAK BISA


__ADS_3

"Bolehkah aku mengantarmu pulang?"


Alya langsung menundukkan kepala saat menyadari pandangan mereka telah beradu beberapa detik. Dia masih diam tanpa jawaban, sambil memegang erat botol air mineral pemberian Rendy.


"Al?" Rendy sepertinya masih menunggu jawaban Alya, meskipun di dalam hati dia tidak berharap banyak seperti biasanya.


"Maaf, Ren. Sudah ada sopir Dokter Hanan yang ditugaskan untuk mengantarkan aku."


Alya hanya menatap sekilas ke arah Rendy yang ternyata masih terus menatapnya. Tak ada raut kecewa di wajah lelaki itu saat mendengarkan jawaban yang tak diharapkannya. Dia sudah terbiasa menerima jawaban serupa dari dokter berhijab anggun tersebut.


Rendy mengambil kantong obat dari atas meja lalu dia berdiri dan menghampiri Alya. Perlahan diletakkannya kantong tersebut di atas pangkuan wanita yang masih terdiam sambil memegang botol minuman yang masih terisi sepertiga bagiannya.


"Ini obatmu. Jangan lupa dihabiskan bersama obat yang sebelumnya."


Alya mengangguk dan menundukkan pandangannya kembali ke bawah. Dia menyimpan kantong obat dan botol air mineral di pangkuannya ke dalam tas. Wanita itu bersiap untuk pamit pulang.


"Terima kasih, Ren. Aku pulang sekarang." Alya pamit dengan lirih.


"Aku akan mengantarmu ke bawah," jawab Rendy.


"Tidak per- ...."


"Jangan menolakku. Aku hanya ingin menemanimu sampai ke mobil."


Alya hanya bisa pasrah. Akhirnya dia mengangguk dan mengijinkan teman baiknya itu untuk memegang kendali kursi rodanya.


Rendy tersenyum lalu berdiri di belakang Alya, dan mulai mendorong kursi roda dokter berprestasi itu keluar dari ruangannya.


Sepanjang perjalanan turun menggunakan lift, keduanya terdiam tanpa percakapan apa pun. Setidaknya Alya tidak terlalu merasa canggung karena posisinya membelakangi Rendy sehingga lelaki itu tidak bisa melihat kegugupan di wajahnya.


Beberapa civitas rumah sakit yang berpapasan dengan mereka menyapa dan dibalas dengan ramah oleh Alya dan Rendy.


Sopir yang bertugas untuk Alya sudah menyiapkan mobilnya di depan lobi utama. Saat melihat kedatangan Alya bersama Rendy, lelaki paruh baya itu sigap membukakan pintu.


Alya berdiri dan segera masuk lalu duduk di kursi belakang. Setelah menyamankan posisi, dia mengalihkan pandangannya ke arah luar, di mana Rendy berdiri di samping pintu yang masih terbuka.


"Sekali lagi terima kasih, Ren. Aku pulang dulu."

__ADS_1


Rendy mengangguk dan memberikan senyuman terbaiknya untuk Alya.


"Jangan lupa untuk banyak beristirahat, Al. Semoga kondisi kakimu lekas pulih."


Alya membalasnya dengan senyuman yang sama sebelum lelaki itu menutup pintu dari luar.


Pak sopir yang sudah selesai melipat dan memasukkan kuris roda ke dalam bagasi, segera pamit kepada dokter tulang yang dikenalnya itu kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit.


"Mengapa sangat sulit untuk memenangkan hatimu, Al."


Rendy menghela napas panjang guna meredakan gemuruh yang terasa menyesakkan dadanya. Dengan langkah gontai lelaki itu berjalan masuk untuk kembali ke ruangannya.


Di dalam mobil Alya masih termangu mengingat pembicaraannya bersama Rendy usia pemeriksaan kakinya tadi.


"Maafkan aku, Ren. Mungkin selamanya aku akan terus mengecewakanmu."


Alya mengeluarkan botol air mineral pemberian teman baiknya dan meminumnya kembali sampai tak bersisa. Ditutupnya botol plastik itu sekali pakai itu dan masih tetap dipegangnya.


Ingatannya melayang waktu yang lampau, beberapa tahun yang lalu saat pertama kali dirinya bertemu dengan Rendy sebagai rekan seprofesi yang bertugas di rumah sakit yang sama.


Sejak perkenalan saat itu, mereka berteman meskipun tidak terlalu dekat karena Alya sengaja membatasi diri dari pergaulan dengan lawan jenis. Apalagi saat itu statusnya masih sah sebagai istri dari Riko, meskipun keadaan rumah tangga mereka tak pernah bisa dikatakan baik-baik saja.


Rendy mulai lebih berani menunjukkan perhatiannya kepada Alya tanpa pernah menyinggung masalah pribadi yang diketahuinya. Lelaki itu berusaha mencuri hati Alya dengan segenap perhatiannya, meskipun sampai sekarang dia tidak berhasil mendapatkannya.


Alya yang memutuskan untuk mengenakan hijab setelah perpisahannya dengan Riko, semakin membatasi diri dalam pergaulannya.


Jika ada yang bertanya tentang statusnya atau kehidupan pribadinya, dokter berhijab anggun itu selalu menghindar dan tidak pernah menjawabnya.


Hingga suatu hari, Rendy pernah mengutarakan perasaannya pada Alya dan mengungkapkan niat baiknya untuk mempersunting wanita yang telah menyembuhkannya dari trauma masa lalu.


"Sejak bertemu denganmu dulu, hatiku telah terpikat dan telanjur jatuh sedalam-dalamnya kepadamu, Al."


Rendy memberanikan diri untuk jujur kepada Alya dan mengutarakan keinginannya untuk menikahi wanita yang telah dicintainya tersebut.


"Pertemanan kita dan keseharian kita di rumah sakit ini, lambat-laun membuatku bisa melepaskan rasa sakit hati atas pengkhianatan mantan istriku. Perlahan aku mulai bisa menerima kenyataan yang ada dengan ikhlas dan tidak lagi menyalahkan takdir Illahi."


Di ruang pemeriksaan Alya malam itu, Rendy meminta waktu Alya sebentar sebelum dokter kandungan tersebut pulang usai menyelesaikan seluruh pekerjaannya.

__ADS_1


"Maaf, Ren ...." Alya menggelengkan kepala dan menunduk sebagai jawaban atas ungkapan hati Rendy pada dirinya.


"Aku tahu tentang masa lalu pernikahanmu dan aku juga tahu tentang perpisahan kalian."


Alya tetap menggeleng dan menggenggam kedua tangannya sendiri di bawah meja. Dia memang tidak mudah dekat dengan orang lain terlebih lagi lawan jenis.


Namun dengan Rendy, dia bisa bersikap lebih lunak dan memberikan sedikit ruang untuk mereka bisa menjalani pertemanan yang lebih dekat, tanpa pernah saling menyinggung tentang kehidupan pribadi masing-masing.


"Maafkan aku, Ren. Aku tidak bisa."


Dua kali Rendy mencoba, dua kali pula dia mendapatkan jawaban yang sama dari Alya. Penolakan dan permintaan maaf.


"Aku senang berteman denganmu, bahkan harus aku akui kamu adalah teman baik pertamaku selama aku bertugas di rumah sakit ini."


Malam itu, Alya berusaha untuk menjelaskan dengan lebih terbuka pada Rendy dan mempertegas semuanya, dengan maksud agar tidak ada lagi kesalahpahaman perasaan dalam hubungan baik pertemanan keduanya.


"Aku tidak mudah dekat dengan orang lain dan tidak mudah percaya dengan orang lain. Akan tetapi perhatianmu dan sikap baikmu selama ini membuatku bisa merasakan ketulusanmu sebagai seorang teman dan sesama rekan seprofesi, sehingga aku merasa nyaman untuk membuka diriku dan berteman baik denganmu."


"Ada banyak hal tentang diriku yang belum kamu ketahui dan memang tidak ingin aku bagi dengan siapa pun. Aku tidak bisa membuka hatiku pada siapa pun. Maafkan aku karena harus mengecewakanmu lagi, Ren."


Rendy hanya bisa pasrah dan menerima keputusan dan jawaban yang sama dari wanita yang dicintainya dengan tulus tersebut.


"Aku mohon lupakan saja perasaanmu itu dan tetaplah menjadi teman baikku seperti selama ini. Teman baik yang saling mengerti dan menghormati, serta saling menguatkan satu sama lain dengan apa-adanya saja."


"Aku tidak ingin merusak pertemanan baik kita selama ini dengan masalah pribadi di antara kita. Sekali lagi maafkan aku, Ren."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2