CINTA NARA

CINTA NARA
2.13. KEHILANGAN BUAH HATI


__ADS_3

Yoga tidak tenang. Sudah setengah jam lelaki itu terus berjalan mondar-mandir di depan ruang penanganan pasien yang masih tertutup rapat. Ada Pak Budi bersamanya yang berdiri tak jauh dari Yoga.


Langit di luar sudah menggelap karena malam telah datang menyapa semesta. Alam dan Embun menghampiri Yoga yang masih menunggu dengan gelisah.


"Bagaimana keadaan Mbak Nara?" tanya Alam yang sebelumnya tidak ikut bersama Yoga membawa Nara ke rumah sakit.


Dia dan anak buahnya menunggu polisi yang dihubunginya datang dan mengambil alih proses penangkapan Marcell dan anak buahnya.


Saat Yoga masuk ke kamar dan menyelamatkan istrinya, Alam menghubungi pihak kepolisian dan melaporkan tentang penculikan serta penyekapan Nara.


Pengusaha muda putra daerah setempat itu ikut serta melakukan pemeriksaan di kantor polisi untuk mewakili Yoga selaku pelapor kejadian.


"Dokter masih belum keluar, Mas." Yoga menjawab singkat dengan pandangan yang tidak lepas dari arah pintu ruangan.


Alam meminta istrinya untuk duduk sementara dirinya tetap berdiri di samping Yoga dengan ponsel di tangannya untuk memantau perkembangan di kantor polisi melalui anak buahnya yang masih berada di sana.


Sepuluh menit kemudian pintu ruangan terbuka dan keluarlah seorang perawat dengan membawa sebuah map di tangannya.


"Dengan suami Ibu Dinara Larasati?"


"Saya, suster." Yoga maju mendekati perawat tersebut.


"Maaf, Pak. Dokter ingin berbicara berdua dengan Anda di ruangannya. Mari saya antarkan."


Alam menepuk pundak kawan baru sekaligus rekan bisnisnya tersebut. Saat Yoga berpaling padanya, dia mengangguk dan mempersilakan Yoga mengikuti perawat yang sudah menunggunya.


"Kami yang akan berjaga di sini."


Yoga menatap ke arah Pak Budi sekilas sebelum melangkah mengikuti sang perawat menuju salah satu ruangan yang masih berada dalam satu koridor yang sama.


Di dalam ruangan, Yoga sudah duduk berhaďapan dengan seorang dokter wanita paruh baya yang sebelumnya telah membantu menangani Nara sejak awal kedatangannya tadi.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Yoga tak sabar.


Dokter itu menatap Yoga sejenak didampingi perawat yang masih membawa map di sebelahnya.


"Ibu Dinara mengalami syok pasca kejadian yang dialaminya. Kondisinya terguncang hebat dan sangat lemah secara fisik maupun mental."


Hati Yoga terasa sakit dan turut terluka mendengar penjelasan Dokter. Kesedihan bercampur kekhawatiran menguasai pikirannya.


"Apakah dia sudah sadar?" tanyanya lemah dengan sorot mata redup dan tanpa daya.

__ADS_1


"Belum. Dan masih ada satu berita lagi yang harus saya sampaikan kepada Anda."


Melihat raut wajah sang dokter masih serius dan tegang, Yoga merasakan ada sesuatu yang membuatnya kembali dirundung ketakutan.


"Ada apa lagi dengan istri saya, Dok?"


"Apakah Bapak sudah mengetahui tentang kehamilan Ibu?"


Yoga terkejut dan membulatkan matanya begitu mendengar pertanyaan sang dokter. Hamil?


"Maksud Dokter, istri saya hamil ...??"


Sang dokter mengangguk seraya menghela nafas panjang untuk memulai penjelasannya.


"Sebelumnya saya minta maaf karena harus menyampaikan dua kabar ini dalam waktu yang bersamaan."


Perasaan Yoga kian gelisah dan semakin risau.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan urin dan tes darah yang kami lakukan, istri Bapak tengah mengandung dengan usia kehamilan enam minggu."


Yoag belum berani bereaksi apa pun karena Dokter masih akan melanjutkan ucapannya.


Deggg!!! Jantung Yoga serasa berhenti berdetak untuk sesaat. Dua kabar yang berlawanan rasa, harus didengarnya dalam waktu yang bersamaan.


Kosong. Pikiran Yoga mendadak kosong, tak bisa berpikir apalagi menanggapi pernyataan Dokter yang saja meremukkan hatinya.


"Kami membutuhkan persetujuan dari Bapak untuk melakukan tindakan tersebut. Dan ini adalah berkas yang harus Anda tanda tangani."


Perawat yang sedari tadi mendampingi mereka membuka map yang dibawanya dan menyiapkan beberapa lembar berkas di dalamnya untuk ditanda tangani oleh Yoga.


Dengan perasaan yang bercampur-aduk dan pikiran yang kacau-balau, mau tak mau Yoga harus menyetujuinya demi keselamatan istrinya agar lekas pulih kembali.


Tangannya gemetar memegang pena dengan hati yang turut bergetar, karena harus mengambil keputusan tanpa melibatkan sang istri yang masih tergolek lemah tak sadarkan diri di dalam ruang penanganan.


Diletakkannya pena yang baru saja digunakan untuk membubuhkan tanda tangannya. Yoga menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, sejenak memejamkan mata untuk menenangkan pikiran dan perasaannya yang masih tak menentu.


"Terima kasih, Pak. Setelah ini Ibu akan segera kami pindahkan ke ruang persalinan untuk dilakukan tindakan kuretase." Yoga mengangguk dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Silakan Bapak menunggu di luar ruangan terlebih dahulu, dan setelah dokter menyelesaikan tugasnya, Bapak bisa langsung masuk untuk menemani Ibu di dalam."


Yoga membuka matanya dan setelah mengucapkan terima kasih kepada Dokter, lelaki itu segera berdiri untuk mengikuti perawat yang akan mengantarkannya ke ruang persalinan di mana Nara akan menjalani operasi kecil tersebut.

__ADS_1


"Tolong sembuhkan istri hamba, Ya Allah. Hamba ingin melihatnya segera pulih dan tersenyum kembali."


Di luar ruang persalinan, Yoga ditemani Pak Budi duduk menunggu. Alam dan Embun sudah lebih dulu pulang setelah seharian membantu Yoga dalam upaya penyelamatan Nara hingga membantu proses hukumnya di kantor polisi.


Yoga menghubungi Ardi untuk menceritakan tentang kondisi istrinya saat ini. Ardi yang tengah menjadi suami siaga dengan kehamilan Bunga yang sudah menginjak usia lima bulan, berjanji akan datang keesokan harinya untuk memeriksa keadaan Nara dan bertemu dengan dokter kandungan yang menangani pasien lamanya tersebut.


Dua jam berlalu sejak persiapan tindakan kuretase Nara, atas ijin dari dokter kandungan, Nara dipindahkan ke ruang perawatan khusus mengingat kondisi sebelumnya masih sangat lemah dan tidak sadarkan diri.


Yoga sudah diijinkan masuk untuk menemani istrinya yang masih berada di bawah pengaruh anestesi umum. Dia duduk di samping pembaringan istrinya yang masih memejamkan mata, tak sadarkan diri.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik, Sayang. Maafkan aku, karena kejadian buruk hari ini menyebabkan kita harus kehilangan calon buah hati kita yang kedua, bahkan sebelum kita sempat mengetahui keberadaannya di dalam kandunganmu."


Tangan lemah Nara terus digenggam Yoga dan diciuminya tanpa henti. Air matanya mulai menetes, lambat-laun luruh mengalir membasahi kedua pipinya.


Sekarang, dia baru mengetahui, bagaimana perasaan Nara selama dirinya sakit dulu. Sekarang, dialah yang merasakannya sendiri, betapa sedih dan tersiksanya hati tatkala harus menyaksikan orang yang dicintai terbaring lemah di atas pembaringan rumah sakit.


"Betapa kuatnya dirimu selama ini, Sayang. Kamu dengan setia selalu menemaniku dan menjagaku setiap kali aku terbaring tak berdaya sepertimu kini."


Yoga menyeka air matanya kendati setelahnya kembali mengalir semakin deras.


"Terima kasih atas pengorbananmu selama ini. Terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu yang luar biasa, hingga kamu tak pernah sekali pun meninggalkan diriku di saat-saat terlemahku dulu."


Yoga tersenyum seiring tangisannya. Haru bercampur pilu, itulah yang dirasakannya saat ini.


"Cepatlah bangun, Bidadariku. Aku sangat merindukanmu ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2