
Tiga bulan berikutnya, sesuai rencana yang telah disusun oleh mereka, Ardi menikahi Alya. Bertempat di rumah baru mereka yang tak jauh dari rumah keluarga Yoga, ijab kabul akan dilaksanakan.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Yoga saat kembali ke kamar, usai penata rias yang mereka panggil ke rumah keluar dan pamit pulang.
Setelah menutup pintu, lelaki berkemeja batik tersebut berjalan pelan mendekati Nara tanpa berkedip. Dia terus memaku tatapan ke arah wanita yang sangat dicintainya, yang sudah berganti pakaian dengan kain seragam pemberian keluarga Ardi.
"Mas, bagaimana penampilanku? Apakah masih ada yang kurang?" Nara tampak tegang dan salah tingkah saat Yoga semakin dekat dan masih diam terpana memperhatikan dirinya yang berdiri di depan meja rias.
Yoga berhenti tepat di hadapan Nara hampir tanpa jarak. Tatapannya kian dalam dan lekat, penuh kekaguman dan kebanggaan.
"Kamu sangat cantik dan luar biasa, Sayang." Yoga yang masih terkesima, melebarkan senyum bahagianya seraya membelai wajah mempesona sang istri. Nara tersipu seperti kebiasaannya setiap kali sang suami memuji dirinya.
"Bismillah, selalu istiqamah, ya!" Lelaki itu mengusap lembut kepala Nara.
Sebuah ucapan yang penuh makna diucapkan Yoga untuk Nara yang memulai penampilan barunya menjadi seperti Alya. Nara mengangguk dan tersenyum penuh keyakinan, merasa bahagia dan bersyukur atas izin dan dukungan dari sang imam.
Hari ini, Nara mulai mengenakan hijab setelah sekian lama keinginan tersebut selalu terpendam di hati dengan keraguan yang masih menyertai. Namun seiring berjalannya waktu, Allah kian membukakan hati dan memantapkan dirinya.
Perjalanan kehidupan yang dilalui akhirnya membawa dirinya untuk teguh dengan niat tulus tersebut. Dengan segenap keyakinan, wanita yang penuh kelembutan itu berani memulai langkah ke arah yang lebih baik dan diridhai oleh Sang Maha Pembolak-balik Hati.
Yoga mencium lembut kening sang istri, satu-satunya wanita yang dia cintai dan telah menjadi pendampingnya selama hampir lima tahun. Untaian doa-doa terbaik dipanjatkan dengan tulus untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka sekeluarga.
Nara memejamkan mata dan meresapi sentuhan kasih sayang yang dirasakannya, menyusup hingga ke relung sanubari. Perasaan haru mulai menyeruak menguasai diri, membuat sepasang mata beningnya mulai terasa basah.
Yoga melepaskan ciuman dan membuka matanya diikuti Nara yang melakukan hal yang sama. Tatapan sendu sang suami membuatnya mengulas senyuman bahagia dan menahan agar air mata tak sampai menetes dan membasahi wajah.
"Terima kasih sudah mencintai dan selalu mendukungku dengan caramu. Aku tahu sejak dulu kamu menginginkan aku yang seperti ini, tapi kamu tidak pernah mau memaksa. Kamu menuntunku dengan kesabaran dan kasih sayangmu sehingga aku menemukan hidayahku tanpa kamu harus memintanya."
Yoga tersenyum mendengar ucapan tulus sang istri. Dalam hati dia membenarkan ucapan sang istri. Dia tidak ingin Nara melakukannya karena terpaksa, apalagi sampai merasa tidak nyaman. Lelaki itu bersyukur Nara menjemput hidayah dengan cepat dan penuh berkah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, di kota ini kita mendapatkan limpahan kebahagiaan dari Allah. Meski tak sebesar kota asal kita, tapi di sini kita merasa jauh lebih tenang dan nyaman menjalani kehidupan sehari-hari. Terima kasih sudah bersedia mendampingiku saat aku memutuskan memulai semuanya dari bawah."
Penuh haru dan syukur Yoga mengungkapkan isi hatinya. Perjalanan hidup yang dilaluinya hingga saat ini, begitu luar biasa dan penuh liku. Masih bisa menghirup udara di dunia dan berkumpul bahagia bersama keluarga kecilnya, adalah hal terbaik yang paling dia syukuri.
"Entah apa jadinya aku tanpa dirimu, Sayang. Mungkin aku telah ...." Seketika Nara menutup mulut Yoga dengan jemari tangan.
"Mas!" Wanita berhati lembut itu menggeleng cepat, meminta sang suami tak melanjutkan lagi ucapannya.
"Maafkan aku. Sesungguhnya setiap saat aku masih saja merasa takut, Sayang. Aku selalu takut kehilangan dirimu dan anak-anak atau justru aku yang akan pergi meninggalkan kalian. Tapi percayalah, aku tak pernah berharap itu terjadi. Aku ingin selamanya bersamamu dan buah hati kita."
Yoga menarik tubuh Nara dan mendekap erat di dalam pelukannya. Dia ciumi puncak kepala yang telah tertutup hijab itu, seraya memejamkan mata dan menahan air mata yang telah memenuhi pelupuknya.
Nara membalas pelukan sang suami sama eratnya. Direbahkan kepalanya di atas dada Yoga yang dia rasakan penuh debaran keras dan terdengar jelas olehnya. Matanya terpejam rapat, mengusir ketakutan yang sama seperti yang diungkapkan oleh suaminya.
Untuk sesaat mereka larut dalam rasa haru dan berusaha saling menenangkan lewat hangatnya pelukan satu sama lain. Tak lama kemudian Yoga merenggangkan pelukan mereka hingga keduanya kembali saling menatap dan tersenyum.
"Maaf, aku merusak suasana bahagia kita." Mencium sekali lagi kening istrinya, Yoga kemudian melepaskan pelukan dan merapikan hijab yang dikenakan Nara. Suasana pagi nan cerah semakin indah di mata Yoga saat melihat Nara yang begitu anggun dan bersahaja.
"Kita berangkat sekarang? Anak-anak sudah menunggu di bawah." Lelaki penuh wibawa itu meraih tangan Nara dan mengenggam erat seraya menciumnya dengan lembut.
Nara mengangguk dan mempererat genggaman tangan mereka. Sebelum keduanya mulai melangkah, terlebih dahulu dia membenahi penampilan Yoga dan memastikan tidak ada lagi yang kurang di matanya.
"Kamu sangat tampan dan semakin menawan, Mas. Rasanya aku jatuh cinta lagi kepadamu." Tanpa malu Nara mengungkapkan perasaannya dan membelai wajah sang suami yang serta-merta merekahkan senyuman bahagia.
"Boleh aku mencium bibir yang baru saja mengucapkan pujian untukku itu?" pinta Yoga dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh sang istri. Wajah Nara memerah seiring anggukan kepalanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Yoga pun melabuhkan ciuman lembut pada permukaan bibir manis sang istri yang selalu dirindukan. Hanya sebuah ciuman sayang dan sekilas saja, sudah mampu menghangatkan kedua tubuh yang kembali merapat meski tak saling berpelukan lagi.
"Aku pun selalu jatuh cinta padamu setiap waktu, Sayang. Hanya kamu yang selalu menggetarkan hatiku hanya dengan sebuah senyuman di bibir yang selalu kurindukan ini."
__ADS_1
Yoga mengusap lembur bibir yang baru saja diciumnya. Nara menarik tangan itu dan menggenggam di dadanya. Sementara satu genggaman yang di bawah pun mereka eratkan sama-sama.
"Jangan pernah kehilangan kemesraan di antara kita. Penuhi hari-hari kita dengan cinta yang tumbuh semakin besar, kuat dan tetap terbaik ...," Yoga berhenti sejenak menunggu Nara.
"Selamanya!" Mereka mengucapkannya bersama-sama dengan pandangan mata yang semakin dalam dan penuh cinta.
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.