CINTA NARA

CINTA NARA
64 MERINDUKAN DIRINYA


__ADS_3

Tidak sulit mendapatkan pendonor darah untuk Nara dan Yoga. Nara mendapatkan donor langsung dari Bapak dan Bunga. Sementara Yoga mendapatkan sumbangan darah dari Alan dan Pak Budi.


Sambil menunggu mereka yang tengah menjalani proses pengambilan darah, Beno pergi ke kantin rumah sakit untuk memesan sarapan dan minuman hangat untuk semuanya.


Sasha menemani Ibu dan Bibi Asih, bersama dua orang pengawal yang selalu menjaga Yoga dan Nara dalam jarak aman.


Saat kecelakaan terjadi pun, mereka mengikuti di belakang Yoga. Namun kejadian yang berlangsung sangat cepat itu membuat mereka belum sempat bertindak apa pun untuk mencegahnya.


Seorang dokter paruh baya datang didampingi seorang perawat, tepat di saat Ardi keluar dari ruang operasi Nara.


"Dokter Danu!" serunya seraya mengejar dokter laki-laki berkaca mata tersebut.


Sang dokter berhenti tepat di depan ruang operasi Yoga, menoleh ke samping dan mendapati Ardi sudah berdiri di dekatnya.


"Dokter Ardi, bagaimana kondisi terakhirnya?" tanya dokter yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Ardi.


Beliau adalah dokter yang hampir satu tahun ini menangani Yoga dengan penyakit yang dideritanya. Dan Dokter Danu adalah sahabat baik dari orangtua Yoga sekaligus salah satu dokter pribadi keluarga Mahendra.


"Sebaiknya kita langsung masuk ke dalam saja, Dok. Anda bisa langsung bertemu dengan dokter di sini yang sudah membantu menanganinya."


Ardi membuka pintu dan mempersilakan sang dokter senior masuk diikuti olehnya.


Di dalam ruang operasi, beberapa dokter spesialis masih bekerja sama untuk menangani luka yang diderita Yoga akibat kecelakaan yang dialaminya.


Seorang dokter yang sebelumnya sudah berbicara dengan Ardi, langsung menjauh dari meja operasi dan menghampiri mereka berdua.


Bertiga mereka membicarakan kondisi Yoga yang sudah tidak mempunyai pilihan lain selain harus segera menjalani opsi terakhir dari dokter, demi menyelamatkan nyawanya.


.


.


.


"Yoga ...." Suara lirih nan lemah Nara memanggil nama suaminya.


Terdengar helaan nafas lega di samping pembaringan Nara. Ada Ardi ditemani Bunga di sana. Merekalah yang menunggui Nara di ruang pemulihan.


"Alhamdulillah ...!" ucap syukur Bunga dengan bahagia.


"Ra, kamu bisa mendengarkan aku?" tanya Ardi pelan-pelan di dekat telinga Nara.


Nara mengangguk pelan dengan mata yang masih terpejam. Dia mendengar suara Ardi dan Bunga. Tetapi dia mencari suara lain yang tidak didengarnya sedari tadi.


"Yoga ... di mana? Dia ... dia ...." Ardi memotong ucapan Nara sebelum wanita itu merasa panik dan akan membuat kondisinya memburuk lagi.

__ADS_1


"Yoga baik-baik saja. Kamu harus pulih secepatnya agar bisa segera bertemu dengannya."


Nara kembali menganggukkan kepala. Perlahan dia mencoba membuka kedua matanya, mengerjap pelan dan melihat ke sekelilingnya.


Mulai merasakan nyeri di bagian perutnya, dia urung menggerakkan tubuhnya dan kembali diam untuk meredakan rasa sakit pada organ genitalnya.


Nara merasakan ada yang berbeda dengn tubuhnya, dan tak lama kemudian dia baru menyadari perutnya yang tidak lagi membulat sempurna.


"Anakku ...?" Dia menatap Ardi dan Bunga bergantian, meminta penjelasan tentang kandungannya.


"Anak kalian sudah lahir dengan sehat dan selamat. Dia tampan dan menggemaskan," jawab Yoga membuat Nara lega dan bersyukur dalam hati.


"Selamat ya, Mbak. Mbak Nara dan Pak Yoga sekarang sudah menjadi orangtua." Bunga mengucapkan selamat dengan senyum manis di bibirnya.


"Terima kasih." Nara pun ikut menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk seulas senyuman tipis.


Tiba-tiba pikirannya tertuju lagi pada Yoga. Berkelebat bayangan peristiwa pagi tadi, membuatnya air matanya luruh seketika.


(Dia telah menyelamatkan aku. Aku dan anak kami.)


.


.


.


Bapak dan Ibu masuk diikuti yang lainnya. Satu per satu mereka memberikan ucapan selamat walaupun belum bisa melihat sang bayi yang masih dalam perawatan khusus paska kelahirannya yang mendadak dan harus disegerakan.


"Selamat, Ra." Ucapan selamat yag terakhir didapatnya adalah dari Alan yang menghampirinya bersama Sasha di sampingnya.


Nara yang tertegun akan kehadiran mereka, hanya diam dan menganggukkan kepala pelan. Ada yang berbeda dia rasakan di hatinya.


Tidak ada lagi getaran indah di hatinya seperti dulu. Tidak ada lagi rasa sesak di hatinya saat melihat kebersamaan mereka, bahkan di hadapan matanya langsung. Perasaannya menjadi biasa saja saat melihat keberadaan Alan dan Sasha di ruangannya.


Pun saat melihat tangan mereka yang terus bergenggaman tanpa lepas, hatinya tidak merasakan apa- apa lagi, sama seperti saat dirinya melihat Ardi dan Bunga. Justru yang sekarang terus dipikirkannya adalah keadaan Yoga, suaminya.


(Benarkah dia baik-baik saja? Ataukah sebaliknya? Mengapa aku merasa ada yang mereka sembunyikan dariku?)


Tak lama kemudian, seorang perawat datang dengan mendorong sebuah kereta bayi yang ditutupi kelambu di atasnya dan meletakkan kereta itu tepat di samping tempat tidur Nara. Setelah berbicara dengan Ardi, perawat muda itu pergi dan menghilang di balik pintu.


Bapak mendekat dan mengambil bayi mungil yang tengah terlelap dengan balutan bedong di seluruh tubuh kecilnya. Beliau mendekapnya di dada dengan wajah haru yang sama tampaknya di wajah Ibu dan yang lainnya.


"Boleh Bapak mengadzani cucu pertama Bapak?" tanya Bapak diikuti anggukan kepala Nara setelahnya.


Suasana menjadi hening dalam sekejap kemudian. Mereka mendengarkan lantunan adzan dan iqomat yang disuarakan Bapak di samping kedua telinga sang bayi mungil.

__ADS_1


.


.


.


Nara terus memikirkan keadaan Yoga. Sampai malam mulai menjelang, belum ada kabar baru tentang Yoga. Pikiran buruk mulai menguasai dirinya.


Mengingat apa yang terjadi pagi tadi, Nara semakin gelisah adanya. Muncul kembali bayangan Yoga yang jatuh tertabrak mobil di depan matanya.


(Ada apa denganmu, Ga? Jangan membuatku khawatir dan takut seperti ini.)


Hingga hari berganti dan pagi datang menyapa, Nara masih diliputi kegelisahan tentang keadaan suaminya.


"Bu, apakah Ibu tahu di mana Yoga dirawat? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Nara mencecari Ibu dengan pertanyaan beruntun.


Ibu menatap Bapak sebelum menjawab pertanyaan sang putri.


"Dia juga dirawat di sini. Bahkan kalian menjalani proses operasi bersama-sama di ruangan yang bersebelahan.


"Operasi? Apakah lukanya sangat parah?" tanya Nara lagi.


"Kata Dokter Ardi, semuanya baik-baik saja. Sama sepertimu, dia juga sedang menjalani proses pemulihan, agar bisa segara dipindahkan ke ruang perawatan pasien.


Jawaban Ibu masih belum melegakan hati Nara. Pikirannya terus tertuju pada Yoga. Diam-diam dia merindukan kehadiran lelaki itu bersamanya.


Kenangan demi kenangan bersama lelaki itu muncul memenuhi pikirannya. Sikap dan perhatiannya, senyumannya, dia merindukannya.


Pelukan mesranya, dekapan hangatnya dan ciuman lembutnya, Nara sungguh merindukan semua itu saat ini. Dia ingin lelaki itu ada di sini bersamanya, di sampingnya dan menenangkan hatinya.


(Aku rindu padamu, Ga. Aku tak bisa jauh darimu. Aku ingin selalu bersama denganmu.)


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2