
"Bagaimana kalau aku tidak bisa sembuh? Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan hubungan kita?"
Ketakutan kembali menyergap perasaan Alya dan melemahkan keyakinannya. Bayangan peristiwa kelam itu terekam semakin jelas di dalam ingatannya. Berulang kali dia ingin menepis dan melupakan, berkali-kali pula dirinya merasa lemah dan ingin menyerah.
Meskipun sama-sama pernah mengalami kekerasan dan pemaksaan, kondisi Alya jauh lebih buruk daripada Nara. Jika Nara dinodai oleh Yoga dalam keadaan tidak sadarkan diri dan sama sekali tidak melihat serta merasakan pada saat kejadia, berbeda halnya dengan Alya.
Wanita itu direnggut kehormatannya secara paksa oleh Riko dalam kondisi penuh kesadaran. Sekuat tenaga dia menolak dan meronta untuk menghindar, tetap saja dirinya tak berdaya. Pada akhirnya Alya harus menerima perlakuan buruk suaminya dengan deraian air mata lara tanpa bisa melawannya.
"Aku takut tidak bisa membahagiakan kamu, Di. Aku takut hanya akan menjadi bebanmu selamanya." Alya menunduk, berusaha untuk menyembunyikan tangisannya, mengingat ada Aura bersama mereka.
Ardi mengajak Alya duduk di sofa, begitu juga Aura yang dia bawa dan dia dudukkan pada sisi yang berbeda bersama boneka kelinci kesayangannya. Kemudian dia duduk di samping calon istrinya.
"Dengarkan aku, Alya. Aku menikahimu karena aku mencintaimu dan ingin menjagamu. Apa pun yang terjadi nanti, kita akan menghadapinya bersama. Baik buruknya kamu, kurang lebihnya kamu termasuk masa lalu kamu adalah bagian tak terpisahkan dari dirimu. Sama halnya dengan diriku yang membawa masa laluku bersama banyak kesalahan dan kekurangan dalam hidupku."
Alya tidak berani menatap lelaki penuh perhatian di sampingnya. Pandangannya tertuju ke samping, memperhatikan Aura yang masih riang bermain bersama boneka pemberiannya. Dia menghapus air mata dengan saputangan Ardi yang masih ada padanya.
"Tapi aku sakit, Di. Bukan sakit di tubuhku, melainkan jiwaku. Kamu tahu, bahkan aku pun masih sulit mengendalikan diriku sendiri. Akan sulit pula bagimu untuk menghadapiku nanti ...."
Ardi menggeleng pelan. Dia memahami perasaan Alya, juga ketakutan yang terus membayanginya. Semua itu adalah dampak peristiwa masa lalu yang mengguncang jiwanya sedemikian rupa.
"Alya, sebelum aku meminta dirimu untuk menjadi istriku, aku sudah mengetahui semua hal tentangmu tanpa kecuali. Pernikahanmu dan hubunganmu dengan mantan suami yang buruk adalah penyebab utama trauma yang terus-menerus membayangi hidupmu."
Ardi memberanikan diri untuk menggenggam jemari tangan Alya yang dihiasi cincin permata tanda cinta darinya. Dia masih bisa merasakan getaran di tangan lembut itu, yang berubah dingin dan menjadi tegang.
"Percayalah padaku, pernikahan kita dan hubungan yang akan kita jalani nanti akan menghapus semua luka dan derita masa lalumu. Aku akan mengembalikan dirimu menjadi Alya milikku yang dulu. Alya yang selalu tersenyum ceria dan bahagia sepanjang waktu. Kamu harus percaya pada kekuatan cinta kita, Alya!"
.
.
.
Usai melihat rumah baru mereka, Ardi mengantar Alya bertugas di klinik. Atas permintaannya, selama dia ada Pak Arif akan mendapatkan waktu liburnya atau bisa membantu seperlunya di rumah kontrakan Alya untuk sementara waktu.
"Kamu mau menunggu di sini atau beristirahat dulu di rumah Pak Yoga?" tanya Alya sesampainya mereka bertiga di klinik. Dia mempersilakan Ardi masuk ke ruang pribadinya di belakang ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Aura yang tertidur dalam pelukannya, Alya baringkan di atas tempat tidur kecil tempatnya beristirahat sejenak sebelum mulai bertugas. Diciumnya dengan sayang kening bayi cantik itu, sebelum dia tinggalkan bersama boneka kelinci pemberiannya.
"Bolehkah aku menunggumu di sini saja? Aku dan Aura akan pulang ke rumah Yoga setelah mengantarmu ke rumah sakit nanti sore." Ardi duduk di sofa kecil di samping tempat tidur. Sudah beberapa kali dia mengantarkan Alya dan setia menunggu di ruangan tersebut.
Alya yang masih berdiri mengangguk dan tersenyum. Di dalam hati, dia merasa bahagia bisa bersama dua orang kesayangannya. Terlebih lagi mereka baru saja bertemu kembali setelah tiga bulan lamanya berpisah.
Dua orang karyawan kantin datang mengantarkan makan siang dan minuman untuk mereka bertiga. Dalam perjalanan tadi, Alya sudah memesannya lebih dulu agar saat sampai bisa langsung dinikmati.
"Kita makan sekarang saja, Al. Sebentar lagi kamu harus mulai bertugas. Biar nanti aku yang akan menyuapi Aura setelah dia bangun."
Dokter berhijab anggun itu pun segera duduk di samping Ardi dan menyiapkan menu pilihan untuk lelaki tercintanya. Kemudian dia memberikan pada Ardi yang sedari awal terus memperhatikan segala tingkah lakunya.
"Terima kasih." Ada yang berbeda dirasakan Ardi di hatinya. Sebuah perhatian kecil yang membuatnya merasa diperhatikan dan diutamakan.
Alya segera mengambil makanan untuknya sendiri. Bersama Ardi dia mulai menyantap makan siang yang kali ini terasa begitu nikmat dan penuh syukur. Bukan hanya karena menu yang dipesan adalah makanan kesukaan mereka, melainkan juga karena keberadaan calon suaminya.
Keduanya saling diam dalam hening dan hanya terus menikmati menu yang ada bersama-sama. Tiba-tiba Alya mengambil lauknya yang masih utuh dan memindahkannya ke piring Ardi. Diam-diam dia melihat lauk lelaki itu sudah habis sementara nasi dan sayurnya masih tersisa.
"Al ... ini laukmu. Aku sudah cukup." Ardi hendak menolak tapi dia teringat akan sesuatu. Kenangan masa lalu yang masih terus terekam di benaknya dan ternyata tidak dilupakan oleh Alya.
Dulu, setiap kali mereka makan bersama Ardi sering mengganggu Alya dengan mengambil lauk kekasihnya karena dia sudah menghabiskan miliknya terlebih dahulu. Biasanya Alya akan cemberut meski akhirnya membiarkan.
"Kamu masih mengingatnya, Al?" Ardi memaku tatapannya ke arah samping, memperhatikan Alya yang sudah meletakkan piring di atas meja.
Wanita itu mengangguk ragu tanpa berani membalas tatapan mata Ardi yang teduh dan begitu dalam. Mendadak hatinya berdebar, bertalu semakin kencang dan membuatnya terus menghela napas berulang kali.
"Aku juga baru saja mengingatnya. Wajah cemberutmu dan tawamu setelahnya." Ikatan rasa di antara mereka memang sangat kuat dan tetap tak berubah hingga saat ini. Selalu mengingat dan merasakan hal yang sama, meski terpisah dan tidak lagi bersama-sama.
"Aku harus bertugas sekarang." Alya meneguk minumannya lalu berdiri dan mengambil ponselnya. Dia melangkah menuju pintu penghubung untuk mengalihkan pembicaraan tentang masa lalu yang membuat wajahnya merona malu.
"Alya ... tunggu sebentar!" panggil Ardi hingga berhasil membuat wanita anggun tersebut berhenti dan menunggunya.
Ardi menjeda makan siangnya lalu segera menyusul Alya dan berdiri tepat di hadapannya. Jantungnya berdetak cepat dengan hati yang dipenuhi keharuan.
"Ada apa?" tanya Alya dengan tetap menunduk penuh debaran.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, Alya. Aku tak bisa menahan rasa ini lebih lama lagi. Aku selalu memikirkan dirimu dan ingin secepatnya menemuimu. Aku harus mengatakan semuanya sekarang juga."
"Aku ...."
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
.
.
.
__ADS_1