CINTA NARA

CINTA NARA
3.19. TERIMA KASIH, ALYA


__ADS_3

Pagi yang cerah menyapa dengan kehadiran sinar mentari yang menghangatkan semesta raya. Langit pun mulai terang tanda manusia harus kembali bergerak melakukan segala aktivitas untuk memenuhi hajat hidupnya.


Dengan meminjam kereta dorong milik Gana, Ardi membawa putri kecilnya berjemur sekaligus berjalan-jalan menghirup udara segar di sekitar rumah Yoga.


Ya-ya ... eaaa ... bu-bu ...."


Aura terus berceloteh riang memanggil Ayahnya dan sesekali terlontar kata bubu yang menandakan panggilan untuk Alya.


"Iya, Sayang. Ayah di sini. Kita berputar sekali lagi, lalu kita masuk. Aura mandi dan makan bersama Ayah."


Ardi sengaja membuka penutup kereta di bagian atas agar sang putri bisa leluasa melihat ke sekelilingnya dan dirinya pun bisa mengawasinya dari belakang.


Mendorong lagi keretanya menuju gerbang utama perumahan yang tak jauh dari rumah Yoga, Ardi terus menyahut dan menimpali celotehan riang Aura yang terlihat sangat aktif setelah semalaman beristirahat dengan sangat nyaman bersamanya.


Sampai di portal yang telah dibuka oleh petugas keamanan, Ardi menyapa mereka dan berbincang sejenak, sambil menjemur putri kecilnya di bawah sinar hangat matahari pagi yang menyehatkan.


"Bu-bu ... bu-bu ...."


Aura terus menyebutkan panggilan itu seraya tubuhnya bergerak lebih cepat seolah ingin menyambut kedatangan seseorang.


Ardi baru menyadari maksud Aura setelah melihat sebuah mobil berhenti tepat setelah berbelok masuk melewati gerbang di depan pos keamanan.


Terlihat Alya turun dari mobil yang merupakan taksi daring tersebut dan mengucapkan terima kasih dengan ramah kepada sang sopir yang kemudian menjalankan mobilnya dan berputar arah untuk kembali keluar melewati Ardi dan petugas dengan membunyikan klakson.


"Bu-bu ... aaaa ... bu-bu ...."


Aura tertawa kegirangan setelah melihat Alya berjalan menghampirinya dan semakin meronta ingin digendong olehnya.


Alya terlebih dahulu menyapa Ardi dan petugas keamanan di sampingnya dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, barulah kemudian dia berdiri di depan kereta dorong yang diduduki oleh bayi mungil yang dirindukannya.


Melepaskan tali pengaman yang melingkari bagian depan tubuh Aura, wanita berhijab itu lalu megulurkan kedua tangannya untuk mengangkat Aura dan membawanya ke dalam pelukan, disertai beberapa kali ciuman sayang yang dilabuhkannya di wajah ceria Aura yang masih terus tertawa dan mengeluarkan celotehan lucunya.


Ardi tersenyum menyaksinya pemandangan indah di hadapannya dengan hati yang diliputi getaran halus yang menelusupi relung sanubari.


"Aura mau makan sama Tante? Yuk, kita pulang dulu. Nanti Tante suapi Aura."


"Ma-mam ... aaaa ... ma-mam ...."


Alya hendak membawa kembali kereta kosong sambil menggendong Aura yang terus ceria bersamanya. Melihatnya, Ardi segera mencegahnya dan buru-buru pamit kepada petugas keamanan yang diajaknya berbincang tadi.

__ADS_1


"Biar aku yang mendorong keretanya. Kamu ajaklah Aura belajar berjalan sampai ke rumah Yoga. Dia sudah bisa beberapa langkah terhuyung semalam."


Alya mengangguk lalu menitipkan tas yang semula digantungnya di bahu kanan dan dia letakkan di dalam kereta.


Kemudian diturunkannya Aura lalu dia ajak untuk berjalan sendiri dengan satu tangan berpegangan pada jemarinya.


"Ayo, kita pulang ke rumah Mas Raga," ajak Alya sambil memulai langkahnya supaya diikuti oleh Aura.


Dengan riang Aura pun melangkahkan kaki kecilnya satu per satu dengan perlahan didampingi Alya yang terus memperhatikan agar tidak sampai oleng dan terjatuh.


"Nah ... sudah pintar, Sayang! Ayo, lagi. Sebentar lagi kita sampai."


Alya terus memberi semangat sambil pelan-pelan melepaskan jemarinya yang dipegang oleh tangan mungil bayi cantik itu.


Tanpa disadarinya, Aura telah berjalan sendiri tanpa berpegangan pada Alya. Bayi yang tampak pemberani itu terus melangkah dengan percaya diri sementara Alya terus mengawasinya dengan seksama.


Sesekali Aura berhenti dan melihat ke atas lalu tertawa kembali setelah merasa masih ada yang menemaninya. Alya mengajaknya berjalan lagi karena mereka sudah hampir sampai di halaman rumah Yoga yang cukup luas.


"Alhamdulillah ...!! Aura sudah pandai, Nak. Sini ...."


Setelah memasuki halaman, Alya mendahului dan menunggu di depan Aura sambil membungkukkan tubuhnya dan merentangkan tangan.


Melihat Alya sudah berada di depannya, bayi yang wajahnya mulai kemerahan terkena pancaran sinar matahari itu mempercepat langkahnya agar segera sampai lalu menghambur ke arah Alya yang sudah menantinya.


Alya kembali berdiri tegak bersama Aura yang sudah memeluknya dengan erat dan merebahkan kepalanya di atas bahu wanita berhijab itu. Wanita itu terus menciumi kepala bayi lucu itu sebagai hadiah atas keberanian dan keberhasilannya berjalan sendiri tanpa bantuan siapa pun.


Ardi yang sejak awal mengikuti di belakang mereka, tersenyum penuh haru melihat kedekatan Aura dengan wanita masa lalunya itu.


Dia juga merasa bersyukur karena Alya begitu tulus menyayangi putrinya dan selalu ada di saat-saat tertentu di mana mereka membutuhkan kehadiran seseorang untuk menenangkan dan menguatkan.


"Tak pernah cukup rasa terima kasihku padamu, atas semua yang sudah kamu lakukan dan kamu berikan untuk keluargaku, dari dulu sampai sekarang. Terima kasih, Alya ...."


Degup jantungnya kembali bertalu-talu ketika tiba-tiba Alya menatapnya dengan seulas senyuman, bersama Aura yang sudah kembali menegakkan tubuh mungilnya dan melambaikan tangan memanggilnya.


Sambil terus mendorong kereta dan meletakkannya di teras rumah, Ardi menghampiri putrinya yang masih bermanja dalam dekapan Alya.


"Aura mandi dulu lalu kita makan, yuk!" ajak Ardi dengan kedua tangan yang sudah siap untuk mengambil putrinya dari Alya.


Namun seperti sebelum-sebelumnya, bayi cantik itu menolak dan kembali menyembunyikan wajahnya di balik bahu Alya, sehingga untuk yang kesekian kalinya kedua wajah Ardi dan Alya kembali bertemu dalam jarak yang sangat dekat diiringi tatapan lembut keduanya yang sama-sama penuh keteduhan.

__ADS_1


Sebelum detik demi detik bergulir lebih lama lagi, kali ini Ardi lebih dulu mengakhiri pandangannya karena sungguh tak kuasa menahan desiran halus yang terus mengalir lembut menyentuh dinding kalbu.


"Ya Allah, mengapa semakin lama hati ini tak lagi bisa kukendalikan perasaannya? Salahkah aku? Dan mengapa bisa secepat ini?"


Ardi mundur dan menjaga jarak dari wanita anggun yang juga telah mengalihkan tatapannya kembali pada Aura.


"Ayo, kita masuk. Aku akan menyiapkan air mandi untuk Aura."


Ardi membukakan pintu dan mempersilakan Alya masuk bersama bayi mungil yang masih bermanja di dalam pelukannya. Tak lupa dibawanya masuk kereta dorong yang tadi digunakan oleh Aura, lalu meletakkan tas milik Alya di atas salah satu kursi ruang tamu.


Sambil menunggu Ardi yang masuk ke dalam kamar, Alya membawa Aura ke dapur karena melihat Nara di sana dan masih berkutat dengan masakannya.


Usai mengucapkan salam lebih dulu, Alya mengambilkan air putih untuk Aura dan membantu meminumkannya menggunakan sedotan kecil. Bayi cantik berwajah bulat itu menghabiskan satu gelas kecil air putih yang diberikan kepadanya.


"Alya ...." Terdengar suara Ardi memanggilnya dari ambang dapur. Alya menoleh bersama Nara yang juga melihat Ardi sekilas lalu melanjutkan olahan masakannya.


"Aku akan memandikannya dulu," lanjut dokter duda tersebut.


Lelaki itu mencoba membujuk Aura untuk ikut dengannya karena air hangat untuknya sudah siap. Tapi bayi cantik itu tak ingin lepas dari Alya dan terus memeluknya semaķin erat.


"Bu-bu ... humwaaa ... humwaaa ...." Aura menangis kencang karena enggan dipisahkan dari Alya. Tangannya semakin erat melingkari leher Alya yang tertutup hijab.


Diam-diam Alya memperhatikan usaha Ardi untuk membujuk sang putri kesayangan yang pada akhirnya tak lagi dilanjutkkannya. Wajahnya terlihat serba salah dan penuh kebingungan.


Ardi menyerah, tak ingin melihat putri kecilnya menangis semakin menjadi. Dìa takut jika kondisi Aura akan kembali menurun jika terus-menerus menangis dan meronta.


"Kasihan kamu, Di. Di sana kamu pasti sering kewalahan sendiri menghadapi kemanjaan Aura juga kerewelannya seperti ini ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2