
"Dia ...??"
Beno masih terus menatap foto yang ditunjukkan oleh Yoga kepadanya. Dia ingat foto itu dan orang maupun kejadian dalam foto tersebut, karena dia sendiri yang dulu memotretnya.
"Aku sudah mengirimkan semuanya padamu melalui email baru saja. Nanti bukalah dan lakukan yang terbaik seperti dulu! Aku tidak mau dia datang dan mengganggu istriku lagi. Pastikan itu!"
"Ada apa, Mas?" Merasa dirinya disebut dalam pembahasan mereka, Nara menyela dan bertanya.
Meskipun sebenarnya Yoga tidak ingin Nara tahu dan membuatnya khawatir, tapi mereka sudah berjanji untuk saling jujur dan terbuka dalam segala hal.
"Nanti aku ceritakan semuanya di rumah, Sayang. Aku tidak akan menutupi apa pun lagi darimu."
Nara tidak bertanya lebih jauh lagi. Dia percaya lelaki itu pasti akan mengatakan semua kepadanya.
Setelah menghubungi bagian pantri untuk mengantarkan dua cangkir kopi ke ruangan suaminya, Nara kembali ke kamar untuk menemani Raga dengan membawa laptop untuk memeriksa pekerjaannya.
"Entah dia sudah mengetahui tentang pernikahan kami atau belum, aku hanya ingin dia tidak mengusik istriku lagi. Jika sampai itu terjadi, aku pastikan aku sendiri yang akan turun tangan menghadapinya!"
Yoga membayangkan satu peristiwa di masa lalu, yang hampir saja membuat Nara dan Alan celaka. Beruntung saat itu, Beno dan tim keamanannya sudah bertindak lebih dulu untuk mencegah dan menyelamatkan mereka.
"Baik, Pak. Akan kami laksanakan dengan segera."
Setelah itu, mereka melanjutkan untuk membahas tentang pekerjaan dan beberapa dokumen proyek baru yang harus segera ditandatangani oleh Yoga.
Siang harinya setelah makan siang bersama Beno dengan menu khas kota baru tersebut, Beno pamit untuk kembali ke perusahaan sesuai dengan jadwal penerbangan yang sudah dipesannya.
Tak lupa Nara menitipkan oleh-oleh khas kota mereka untuk dibagikan kepada para karyawan di sana. Akhirnya Beno kembali ke perusahaan dengan beberapa kardus besar oleh-oleh yang sudah dipesan dan disiapkan oleh istri sang atasan.
.
.
.
Malam harinya, setelah memindahkan Raga ke tempat tidurnya sendiri, Yoga mengajak Nara duduk bersama di sofa dan menceritakan semua tentang pembicaraannya dengan Beno pagi tadi.
"Apakah ini berhubungan dengan perusahaan, Mas?"
Yoga menggeleng cepat dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja di depan mereka. Dia membuka galeri dan menunjukkan satu per satu foto yang akan dijelaskannya pada sang istri.
__ADS_1
"Kamu masih ingat siapa dia?" Sebuah foto seorang lelaki berwajah manis dengan tatapan mata misterius, ditunjukkan oleh Yoga pada Nara.
Hanya dengan menatap sejenak foto itu, Nara sudah bisa mengenalinya meskipun sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
"Dia Marcell, teman kantorku dulu. Kamu mengenalnya, Mas?" Nara balik bertanya tanpa curiga.
Yoga belum ingin menjawabnya. Dia menggerakkan ibu jarinya lagi dan memperlihatkan satu foto yang berbeda.
"Kalau ini, apakah kamu juga ingat tentang foto ini?" Yoga menunjukkan foto yang sama dengan yang dia tunjukkan pada Beno sebelumnya.
Nara kembali memperhatikan layar ponsel suaminya. Dia sedikit terkejut karena di dalam foto itu, selain ada Marcell juga ada dirinya bersama Alan, saat mereka masih menjadi pasangan kekasih dulu.
Seketika hatinya dirundung ketakutan, khawatir Yoga akan marah karena foto lama tersebut.
"Mas, i-ini ... ini foto lama, Mas. A-Aku tidak tahu mengapa ada foto ini dan kamu sampai bisa menyimpannya. Tapi aku tidak berbohong, Mas. Sungguh ...!"
Wajah Nara mulai pias, takut suaminya salah paham kepadanya. Mata beningnya terus menatap Yoga, mencoba untuk meyakinkan lelaki itu bahwa dirinya tidak pernah berbohong, dulu maupun sekarang.
Yoga yang melihat ketakutan di wajah istrinya segera meletakkan ponselnya dan merengkuh tubuh Nara ke dalam pelukannya.
"Jangan takut, Sayang. Aku tahu kamu tidak berbohong. Dan aku juga tahu kalau itu adalah foto lama. Aku tahu siapa kamu dan aku selalu percaya kepadamu!"
"Tapi foto itu, Mas? Dari mana kamu mendapatkannya? Lalu, apa hubungannya dengan Marcell?"
Setelah merasa tenang kembali, Nara mengambil ponsel Yoga dan kembali memperhatikan foto yang hampir saja membuatnya menangis karena takut akan ada kesalahpahaman dengan suami tercintanya.
Dia mencoba mengingat-ingat kapan foto itu diambil dan mengapa ada Marcell yang terlihat seperti berada di belakang dirinya yang tengah bersama Alan di tepi jalan.
"Foto itu diambil oleh Beno yang saat itu sedang melindungi kamu dan Alan dari rencana jahat yang akan dilakukan oleh Marcell terhadap kalian."
.
Nara semakin tidak mengerti karena seingatnya saat itu dia dan Alan masih menjalin hubungan dan Yoga pun tidak pernah ikut campur dalam masalah pribadi Alan yang masih bekerja padanya.
"Marcell ...? Apa yang dilakukannya? Dan mengapa Beno sampai mengawasi aku dan ... dia?" Ragu-ragu akhirnya Nara batal menyebutkan nama Alan karena dia sendiri pun sebenarnya tidak ingin lagi mengingat masa lalu di antara mereka.
Masih dalam posisi memeluk Nara, Yoga mulai bercerita tentang Marcell dan hubungannya dengan Nara selain sebagai teman kerja.
"Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku mulai mencari tahu tentang dirimu. Tentang keluargamu, pekerjaanmu, dan lebih utamanya tentang kepribadianmu dan keseharianmu."
__ADS_1
Yoga menghela nafas panjang menahan rasa haru yang menyeruak, mengingat perasaannya pada Nara yang dulu masih bertepuk sebelah tangan.
"Aku telanjur jatuh cinta padamu sedemikian dalamnya sehingga yang aku pikirkan tentang dirimu hanyalah rasa ingin menjagamu dan selalu melindungimu meskipun aku bukan siapa-siapa bagimu."
Nara yang berada dalam pelukan Yoga terkejut mendengar pernyataan lelaki itu. Hatinya bergetar hebat mengetahui kenyataan tentang rasa terpendam yang dulu disimpan rapat-rapat oleh suaminya.
"Waktu itu, aku sama sekali tidak berpikir untuk merebutmu dari Alan. Aku menjaga hubungan persahabatanku dengan Alan, dan aku juga menyimpan rasa cintaku padamu hanya di dalam hatiku saja."
"Yang aku inginkan hanya satu, melihatmu selalu tersenyum dan bahagia, meskipun bukan aku yang menjadi alasan dari senyuman dan kebahagiaanmu."
Yoga menatap sendu istrinya yang bersandar di dadanya dan dirasakannya kian erat memeluk tubuhnya. Dia kembali mencium dan membelai kepala Nara lalu semakin mempererat pelukannya.
Nara merasakan matanya mulai pedih dan berair. Sesak rasanya mendengar pengakuan dari lelaki yang sekarang akhirnya telah menjadi sandaran hatinya dan teman hidup untuk selamanya.
"Ketenanganku mulai terusik saat aku menerima laporan dari Beno bahwa setiap hari, ada lelaki lain yang diam-diam selalu memperhatikanmu dan mengikutimu setiap kali kamu sedang berdua bersama Alan."
Keharuan Nara berubah menjadi kebingungan, mendengar cerita Yoga yang terakhir. Lelaki lain yang mengikutinya?
"Jika dia hanya diam dan tidak mengganggumu seperti halnya diriku, maka aku tidak akan mempedulikannya. Aku sadar bahwa kamu adalah wanita yang penuh pesona dan daya tarik, sehingga sangat wajar apabila banyak lelaki menyukaimu bahkan menaruh hati padamu."
"Tetapi aku tidak bisa tinggal diam jika ternyata lelaki itu berniat jahat kepadamu dan ingin mencelakai Alan demi mendapatkan dirimu."
Kali ini Nara benar-benar terkejut dan menarik tubuhnya dari pelukan Yoga. Dia memandang wajah suaminya yang sudah memerah menahan amarah lantaran mengingat tentang perilaku buruk seseorang yang sedang diceritakannya tersebut.
"Apa maksudmu, Mas?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.