
Untuk pertama kalinya Cindy mengungkapkan perasaannya, isi hati yang selama ini selalu disimpannya rapat-rapat.
"Apakah aku tidak lebih penting darinya? Apakah aku tidak lebih berharga darinya? Benarkah seperti itu??"
Riko menarik tubuhnya, memberi sedikit jarak di antara pelukan mereka. Ditatapnya wajah yang telah berurai air mata itu dalam-dalam.
"Tidak, Cin. Kamu salah. Dari dulu kamu pun tahu, kamulah yang paling penting untukku, kamulah yang paling berharga dalam hidupku! Aku mencintaimu."
Riko mencium kening sang istri lalu merapatkan kembali pelukannya. Hatinya serasa teriris saat melihat kesedihan di wajah Cindy yang disebabkan oleh dirinya.
"Aku capek, Rik. Aku lelah. Aku sudah berusaha untuk bersabar dan menahan segalanya, tapi kamu tetap tak bisa melepaskannya." Cindy melanjutkan curahan hatinya masih dengan isakan yang mengiringi setiap ucapannya.
"Kamu masih terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa membalas dan menyakitinya. Kamu tahu, Rik? Hatiku sakit karenanya. Aku cemburu!"
Cindy semakin meraung dalam tangisannya. Dia tidak peduli lagi apakah Riko akan marah padanya atau lebih dari ituj. Dirinya sudah terlalu lelah membiarkan semuanya terjadi semau lelaki itu.
"Cin, kamu salah paham! Kamu tahu aku sangat membencinya. Jadi untuk apa kamu cemburu padanya?"
"Untuk semua waktumu yang terbuang hanya karena ingin melukai dan menyakitinya. Untuk semua pikiranmu yang terpatri hanya demi balas dendammu kepadanya."
Cindy menyahut cepat dan menjawab pertanyaan Riko dengan panjang lebar. Diungkapkannya semua hal yang mengganjal di hatinya.
"Aku dan calon anakmu ini butuh kamu, Rik. Tapi kamu? Kamu bahkan mengabaikan kami hanya demi melampiaskan kemarahanmu padanya di hadapan kami."
Riko terkejut dan menatap Cindy dengan pandangan penuh penyesalan. Dia memang salah karena terbawa emosi dan mengamuk tak jelas di hadapan istrinya yang tengah mengandung calon anaknya.
Dialihkan pandangannya turun ke bawah, menatap perut sang istri yang mulai membesar dan sangat terlihat dengan pakaian ketat yang membungkus tubuh sintalnya.
Tubuh lelaki itu melorot hingga terduduk di lantai. Pandangannya tak beralih ke mana-mana, selain pada perut Cindy yang terpampang di hadapannya sekarang.
Perlahan dia berlutut dan memeluk istrinya dengan wajah menempel di atas perut besar itu. Belum ada gerakan yang bisa dia rasakan dari dalamnya, kecuali gerakan nafas Cindy yang masih tak beraturan akibat tangisannya.
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa yang sudah membuatmu terkejut dan takut karena kata-kata keras dan kasar Papa."
Riko menciumi seluruh permukaan perut istrinya lalu mengusapinya dengan lembut disertai permohonan maaf atas sikapnya semula.
"Maafkan aku, Cin. Maafkan aku karena telah mengabaikan dirimu dan perasaanmu hingga aku meledakkan amarahku di hadapanmu."
__ADS_1
Cindy yang sudah mulai tenang berusaha mengatur nafasnya dan meredakan isakannya. Diusapinya kepala Riko yang masih rebah di atas perutnya.
Rasa cinta dan sayangnya pada lelaki itu telanjur mendarah daging di dalam tubuhnya, tidak hanya tumbuh dan berkembang di hatinya saja.
Wanita itu mencoba untuk mengalah, lagi dan lagi. Dia tahu tidak mudah baginya untuk membuat Riko melupakan kebenciannya pada Alya.
Bahkan setelah sikap dan ungkapan penyesalannya saat ini pun, dia tahu Riko akan tetap pada tujuannya untuk menghancurkan Alya dan kehidupan wanita itu.
.
.
.
Setelah berhasil menenangkan sang istri dan membuatnya tertidur pulas dalam pelukannya, perlahan Riko melepaskan dekapannya dan menjauhkan tubuhnya dari samping Cindy yang terus terlelap.
Diciumnya kening dan bibir manis wanita itu, lalu merapikan selimut yang menghangatkan tubuh istri tercintanya, sebelum dia bergeser menepi dan berjalan meninggalkan tempat tidur.
Lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan mendinginkan pikirannya yang masih gundah dan diliputi amarah.
Dengan handuk kecil di tangan, dia mengeringkan wajahnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dingin dari dalam kulkas.
Bayangan Alya yang ditemuinya siang tadi masih terus melintasi pikirannya, membuat hatinya yang sempat mendingin kembali mendidih tersulut amarah.
"Mengapa kamu selalu membuatku merasa rendah dan hina? Mengapa setiap keberhasilanmu selalu membuatku merasa semakin kecil dan dikucilkan oleh keluargaku sendiri?"
Riko merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang ruang tamu. Dibaringkan badan besarnya dengan rasa penat yang mendera di seluruh bagian.
Pikirannya masih terus terpusat pada sosok wanita berhijab anggun yang tak lain adalah mantan istri yang tak pernah dianggap dan selalu direndahkannya.
Dia mengenalnya sejak balita karena orangtua mereka berteman baik dan sering kali saling mengunjungi dan berkumpul bersama ddngan membawa kelyara masing-masing.
Status sosial yang jauh berbeda dan latar belakang kehidupan yang tak sama, tak melunturkan hubungan persahabatan yang telah terjalin sangat erat di antara mereka.
"Kamu yang sudah merebut kebahagiaan masa kecilku. Kamu mengambil alih perhatian orangtuaku dan membuatku tersisih dari perhatian utama keluargaku sendiri."
Ingatan Riko kembali ke masa silam, saat dirinya dan Alya selalu dipertemukan dan dimasukkan ke sekolah yang sama oleh papanya.
__ADS_1
Semakin lama, pikiran polos bocah kecil sepertinya mulai merasakan kecemburuan dan ketidakadilan atas sikap papa dan mamanya yang tidak hanya memanjakannya, akan tetapi juga memberikan perhatian yang sama kepada Alya.
Riko kecil beranggapan bahwa Alya adalah gadis cilik yang licik yang telah berhasil merebut kasih sayang kedua orangtuanya, sehingga apa pun yang mereka miliki selalu mereka bagi dua dan sama rata untuk Riko dan Alya.
"Seharusnya aku yang memiliki semuanya. Seharusnya aku yang menguasai segalanya dan tidak perlu membaginya denganmu yang bukan siapa-siapa kami."
Beranjak remaja, Riko yang sudah bisa menyuarakan bantahan mulai berontak dan memprotes semua perlakuan baik orangtuanya terhadap Alya dan keluarganya.
Lelaki labil itu mulai terpengaruh lingkungan sekitar dan pergaulan bebas yang selalu meracuni pikirannya dengan prasangka buruk tentang Alya, yang semakin membuatnya beranggapan bahwa Alya adalah perebut kebahagiaannya.
Di mata dan hatinya, Alya adalah gadis perayu dan pengincar kekayaan keluarganya, yang sudah berhasil memikat papa dan mamanya dengan kepintaran dan prestasi yang dimilikinya.
Alya memang beruntung karena orangtuanya mempunyai sahabat sebaik orangtua Riko yang sudah mengangkatnya sebagai anak dan memperlakukannya sama tanpa beda dengan Riko dan kakak sulungnya.
Terlebih mamanya yang urung mempunyai anak perempuan, semakin memanjakan Alya karena dianggapnya bisa menggantikan posisi adik perempuan Riko yang meninggal saat dilahirkan dulu.
Puncak kebencian Riko bermula saat dengan sepihak kedua orangtuanya menjodohkan dirinya dengan Alya dan melamar Alya untuk menjadi istrinya.
Kebencian itu semakin bertambah dengan munculnya rasa dendam di dalam hati karena pernikahannya dengan Alya membuatnya harus berpisah dengan Cindy, satu-satunya wanita yang sangat dicintainya sejak mereka remaja dulu.
Riko tidak sadar jika bukan hanya dirinya saja yang sebenarnya kecewa dan sakit hati karena terpaksa harus menuruti keputusan kedua orangtua mereka.
Alya pun sama tersiksanya karena harus berpisah dan memupus kebahagiaan dan rasa cinta terdalamnya pada Ardi, kekasih yang sangat dicintainya sejak awal pertemuan pertama mereka di bangku perkuliahan.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.