
"Ga, kamu berhasil, kamu menunjukkan reaksi yang sangat positif kepada kami."
Ardi begitu bersemangat melihat respon bagus yang ditunjukkan oleh Yoga.
"Tetaplah berjuang dan jangan pernah menyerah, Ga. Kita semua akan berjuang bersama-sama. Ayo, Ga. Kamu pasti bisa, kita pasti bisa!"
Dokter Danu yang menanganinya pun mengatakan bahwa kondisi Yoga menunjukkan perkembangan yang sangat baik dan seluruh tubuhnya bisa merespon apa yang terjadi di sekitarnya.
"Jika emosinya terus-menerus stabil dan tidak mendapatkan banyak tekanan, dia pasti akan segera sadar kembali." Sang dokter senior optimis melihat perkembangan Yoga sejauh ini.
"Dan kita masih mempunyai sedikit lagi waktu tambahan untuk melakukan pilihan yang terakhir," lanjut Dokter Danu kemudian.
Ardi menghela nafas panjang kemudian. Kalimat terakhir dari dokter senìor tersebut membuatnya berpikir keras kembali.
Masih sangat sulit bagi mereka untuk melakukan pilihan terakhir untuk menyembuhkan Yoga. Sementara waktu mereka tidak banyak dan semakin sulit diprediksi.
Semua tergantung pada kondisi fisik dan psikis Yoga sendiri. Sejauh ini dia bisa menjaga dirinya dengan baik, mengatur emosinya agar tidak melonjak dan bisa menjalani pola hidup sesuai arahan dokter.
"Bagaimana dengan istrinya? Apakah dia sudah mengetahuinya?" tanya Dokter Danu lagi.
Ardi menggeleng lemah. Ingin rasanya dia memberitahu tentang sakit yang diderita Yoga selama ini, sekaligus meluruskan kesalahpahaman tentang sikap buruk Yoga pada Nara waktu itu.
Tapi entah mengapa dia merasa belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal tersebut dengan Nara, secara pribadi dari hati ke hati.
Di samping itu, dengan kondisi yang sekarang di mana Nara harus merawat bayi yang baru dilahirkannya, Ardi khawatir jika berita tersebut akan membebani pikirannya dan tentu saja akan mempengaruhi konsentrasinya dalam mengasuh sang bayi yang masih menyusu langsung pada ibunya.
"Hanya ada dua pilihan, Yoga yang memberitahu atau kita yang mengatakannya." Dokter Danu mulai memberi ultimatum.
"Dengan istrinya tahu, ada harapan supaya Yoga lebih bersemangat untuk sembuh karena mendapatkan dukungan langsung dari orang yang dicintainya."
.
.
.
Nara menunggu di luar ruangan dengan penuh ketegangan. Dia belum tahu apakah reaksi singkat Yoga tadi akan berdampak baik atau buruk untuk proses penyembuhannya.
Pintu ruang perawatan khusus yang ditempati Yoga terbuka. Ardi dan Dokter Danu yang khusus menangani Yoga keluar dan disambut dengan wajah penuh keingintahuan dari Nara yang berdiri tidak tenang di depan pintu.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Nara tak sabar.
Dokter Danu dan Ardi saling berpandangan, sebelum akhirnya sang dokter senior yang berbicara. Dengan seksama Nara pun mendengarkan penjelasan dari dokter.
__ADS_1
"Secara medis luka luarnya sudah sembuh, hanya tinggal pemulihan di bagian dalam saja. Dan ... untuk kondisi psikis pasca operasi, semua tergantung reaksi yang diberikan oleh pasien sendiri."
Dokter Danu mencoba menjelaskan kondisi Yoga secara umum karena seharusnya dia hanya berkepentingan atas penyakit yang diderita pasiennya.
"Semakin sering dia menunjukkan respon positif seperti yang Anda rasakan tadi, akan semakin baik untuk pemulihan kesadarannya secara berkelanjutan."
Hari ini Nara benar-benar merasa bahagia atas kemajuan yang Yoga tunjukkan, meskipun dia tidak melihatnya secara langsung saat sang suami sadar dan menyentuhnya dengan penuh cinta dan kerinduan.
"Ra, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu tentang Yoga ...."
Pada akhirnya Ardi memantapkan hatinya untuk memberitahu Nara tentang rahasia yang selama ini disembunyikan Yoga darinya.
"Yoga? Tentang apa, Dok? Apakah dia ... ah maksud saya, bukankah Dokter Danu sudah mengatakan bahwa keadaannya baik-baik saja?" Nara bertanya dengan bingung.
"Ada yang belum dia ceritakan padamu tentang sesuatu, dan ini berkaitan dengan kondisinya saat ini."
"Dok, jangan membuat saya takut!"
Nara menggeleng dan semakin tegang begitu melihat wajah serius Ardi yang telah yakin untuk membuka cerita tersembunyi tentang sahabat kecilnya.
"Sebaiknya kalian berbicara di ruangan lain saja, agar lebih tenang dan tidak ada yang menganggu."
Dokter Danu menawarkan ruangan yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuknya, selama beliau tinggal di sini dan menangani Yoga secara khusus.
Baru beberapa langkah berjalan menjauh dari ruangan Yoga, seorang perawat keluar dari dalam dan berlari mengejar mereka seraya memanggil sang dokter.
"Dokter ..., pasien sadar kembali!"
Seketika mereka bertiga berhenti dan berbalik badan secara bersamaan. Perawat yang berlari menghampiri pun turut berhenti dan meminta Dokter Danu untuk segera kembali dan memeriksa keadaan Yoga.
Tanpa membuang waktu lagi, Dokter Danu setengah berlari menuju ke ruangan Yoga dan masuk ke dalam diikuti sang perawat.
"Ra, tunggulah dulu di sini. Aku akan melihat kondisi Yoga."
Mata Nara mulai memerah dan berkaca-kaca. Perasaan takut kehilangan mulai menghantui pikirannya. Dia mengangguk dengan penuh kekhawatiran dan ketakutan. Kemudian Ardi berjalan tergesa menyusul sang dokter senior untuk mengetahui apa yang terjadi pada Yoga.
"Ya Allah, selamatkan Yoga. Tolong kembalikan dia untuk kami. Hamba dan anak kami membutuhkan kehadirannya di sini."
Nara duduk menunduk dan dengan khusyuk terus memanjatkan doa-doa terbaik untuk suaminya, dengan air mata yang mulai menetes membasahi kedua pipi.
.
.
__ADS_1
.
Dokter Danu dibantu oleh seorang dokter spesialis yang sama, sibuk memeriksa kondisi Yoga yang berubah tidak stabil. Terlihat grafik di dua layar monitor bergerak naik-turun, tidak seperti sebelumnya yang stabil dan berada pada ambang normal.
Dari ujung pembaringan, Ardi melihat Yoga membuka matanya dengan tatapan sayu dan lemah. Bola matanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan, terkadang berputar seolah mencari sesuatu atau sesorang.
Hingga pada akhirnya pandangan itu mengarah kepadanya. Yoga mencoba menggerakkan bibirnya namun hanya terlihat membuka sedikit, tanpa sepatah kata pun yang terucap.
Ardi membalas tatapan mata sahabatnya dengan sebuah senyuman untuk menguatkan Yoga.
"Kamu kuat, Ga. Kamu pasti bisa sembuh! Tenangkan dirimu dan jaga emosimu ...."
Yoga merespon dengan anggukan kepala yg hampir tak terlihat. Dia mencoba menepis perasaannya yang entah mengapa tak bisa sebaik saat pertama kali sadar dan melihat Nara bersamanya tadi.
Di sela konsentrasinya memeriksa kondisi medis Yoga, Dokter Danu yang melihat respon Yoga segera meminta perawat untuk mengambil air putih dan membantu meminumkannya pada Yoga.
"Jangan memaksakan diri untuk bicara dulu, Ga! Kamu baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja selama kamu tenang dan bisa mengendalikan dirimu sendiri." Dokter Danu mengingatkan.
Pelan-pelan Yoga menelan sedikit demi sedikit air putih yang disuapkan oleh perawat melalui sendok kecil. Dia merasakan kering dan kaku di dalam mulut dan lidahnya mulai berkurang.
"Na-Nara ...."
Kata pertama yang terucap dari bibirnya adalah nama istri tercintanya. Dia ingin bersama Nara meskipun beberapa waktu yang lalu sudah bisa melihatnya.
"Nara ...."
Seraya mengulangi ucapan lirihnya, Yoga menatap Ardi seolah meminta tolong untuk bisa bertemu dengan wanita yang begitu dirindukannya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
.
__ADS_1