
"Yoga melakukannya karena dia ingin ...."
Nara mengangkat kepalanya, karena Ardi menggantung ucapannya. Dilihatnya dokter itu terdiam seolah ragu untuk melanjutkannya.
"Ada apa, Dok?" tanya Nara.
"Sejujurnya saya sudah mencoba melupakan peristiwa itu dan memaafkan perbuatannya. Toh, saya tidak mengingat apa pun tentang kejadian tersebut, karena saat saya sadar, semuanya sudah terjadi tanpa saya merasakannya ...."
Telanjur membicarakannya, Nara akhirnya mengatakan semuanya kepada Ardi. Dia berpikir, Ardi pasti sudah mengetahuinya dan itu bukan hal yang tabu untuk dibicarakan bagi seorang dokter kandungan sepertinya.
"Katakan saja apa yang ingin Dokter sampaikan, jika itu memang berhubungan dengan sakitnya Yoga." Nara melanjutkan ucapannya dan siap untuk mendengarkan cerita sang dokter.
Ardi mengangguk dan merasa lebih lega dan tenang dengan pengakuan Nara. Dalam hati dia kagum dengan kekuatan hati wanita tersebut, karena tidak semua orang bisa bersikap sepertinya, yang masih berpikiran positif terhadap kejadian buruk yang pernah dialaminya.
Nara mencoba berdamai dengan masa lalunya, mengikhlaskan semua yang sudah terjadi dan lebih memilih untuk fokus pada perasaan dan kehidupannya saat ini dan ke depannya.
"Sebaiknya aku bercerita dari awalnya juga, agar kamu lebih memahami apa yang Yoga rasakan, apa yang dia pikirkan dan apa yang dia inginkan selama ini."
Ardi menghela nafas panjang sebelum mulai berkisah tentang sahabat kecilnya.
"Mungkin kamu sudah tahu tentang ini, bahwa Yoga mencintaimu sejak pertama kali dia melihatmu bersama Alan dalam sebuah acara di perusahaan miliknya."
Nara terkejut. Yoga memang selalu mengakui bahwa dia mencintainya, tapi tidak pernah mengatakan jika cintanya bermula sejak pertama kali mereka bertemu, dua tahun yang lalu.
"Jadi ... dia sungguh-sungguh tentang perasaannya? Dan itu ... sudah sejak pertemuan pertama kami?"
Ardi mengiyakannya, membuat Nara benar-benar tidak percaya jika lelaki sedingin Yoga bisa mencintai seseorang dalam diam dengan begitu dalam. Dan wanita yang harusnya merasa beruntung dan bahagia itu adalah dirinya.
"Dia sangat mencintaimu dan perasaannya sangat tulus kepadamu. Kalau saja tidak ada vonis dari dokter saat itu, aku yakin dia akan tetap mencintaimu dalam diam dan tidak akan pernah tega melakukan perbuatan buruk senekat itu terhadapmu."
Nara kembali terkejut dengan ucapan Ardi. Dia seperti pernah mendengar hal yang sama juga dikatakan oleh Yoga, saat mereka mulai dekat dan dia mulai membuka hatinya untuk sang suami.
__ADS_1
"Jika kamu bertanya mengapa aku tega melakukannya, maafkan aku karena aku belum bisa menjawabnya sekarang. Tapi aku berjanji, pada saatnya nanti kamu pasti akan mengetahui apa alasanku melakukannya."
Perkataan Yoga waktu itu, masih diingat Nara dengan jelas. Saat itu, Yoga berkali-kali meminta maaf dan selalu mengatakan jika suatu saat Nara akan mengetahui semuanya, termasuk alasan mengapa lelaki itu tega melakukan perbuatan buruk terhadap wanita yang sangat dicintainya.
"Ceritakan semuanya pada saya sekarang, Dok. Saya tidak ingin menyesal nantinya, jika sampai tidak mengetahui apa yang selalu disembunyikan Yoga dari saya selama ini."
Ardi kembali melanjutkan ceritanya. Tentang perubahan sikap Yoga semenjak orangtuanya tiada.
"Kepergian kedua orangtuanya yang terlalu cepat dan mendadak, membuat Yoga begitu terpukul dan merasa sangat kehilangan. Hanya mereka yang dia punya dan tiba-tiba takdir Allah telah mengambil mereka darinya."
Untuk hal yang satu ini, Nara sudah mengetahuinya dari Yoga sendiri, juga dari cerita Bibi Asih dan Pak Budi.
"Om Surya meninggalkan warisan Mahen Land untuk Yoga, yang sebelumnya tidak terlalu dia minati untuk terjun langsung di dalam pengelolaan perusahaan tersebut."
"Seiring berjalannya waktu, Yoga menutupi kesedihan dan kesepiannya dengan terus menyibukkan diri di perusahaan. Dia berusaha untuk mengambil alih kepemimpinan papanya sebaik mungkin agar tidak mengecewakan harapan sang papa."
"Dia tidak ingin, perusahaan yang telah susah-payah dirintis dan dikembangkan papanya dari bawah hingga mencapai kesuksesan seperti saat ini, menjadi hancur hanya karena ketidakmampuannya menjaga dan mengelolanya dengan baik."
Beberapa kali datang dan menemani Yoga ke kantor, Nara tahu bagaimana seluruh karyawan di sana sangat segan dan menghormati Yoga sebagai atasannya.
"Satu impian terbesar Yoga adalah ingin mewariskan semua yang dimilikinya saat ini kepada anaknya kelak, sama seperti papanya yang memberikan semua hasil kerja keras beliau sedari muda untuk Yoga lanjutkan dan kembangkan ke depannya."
"Dia mempunyai impian untuk menikah dan hidup bahagia bersama istri dan anak-anak yang dia sayangi dan dia cintai. Dan dengan dirimulah dia ingin mewujudkan impian terbesarnya itu."
Mengetahui bahwa dirinya menjadi bagian dari impian Yoga, Nara merasa tersanjung dan hatinya bahagia. Namun kebahagiaannya itu telah terlambat sebab sekarang Yoga sudah terbaring lemah di ujung nyawa.
"Sayangnya, dia mencintai wanita yang sudah menjadi milik lelaki lain, dan lelaki itu adalah sahabatnya sendiri. Akhirnya, dia menepikan impiannya tentangmu karena tak ingin mengganggu kebahagiaan sahabatnya."
"Tapi di saat dia telah merelakanmu dan menyimpan rasa cintanya padamu, vonis itu datang dan membuat dunianya berhenti berputar seketika."
Nara sudah mulai menangis lagi, saat Ardi kembali menyinggung tentang sakit yang diderita suaminya. Dia membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika Yoga meninggalkannya untuk selamanya.
__ADS_1
"Mengetahui hidupnya tak akan lama lagi, Yoga mulai berpikir tentang nasib perusahaan dan seluruh aset keluarga yang ditinggalkan orangtuanya."
"Dia ingat pesan almarhum papanya agar semua yang mereka miliki diwariskan turun-temurun kepada penerusnya kelak."
Nara mulai bisa menebak arah pembicaraan mereka. Tentang kesendirian Yoga, tentang tanggung jawabnya atas perusahaan dan kehidupan seluruh karyawan yang mencari nafkah di sana, juga tentang seorang anak yang akan menjadi penerusnya, sebagaimana impian terbesar lelaki itu.
Ardi menceritakan semuanya, sama seperti yang ada di dalam pikiran Nara. Wanita itu baru menyadari betapa besar beban yang masih harus dipikirkan Yoga di saat sakit itu mulai menderanya dan merenggut harapan hidupnya.
"Yoga tidak mungkin meninggalkan semua yang dimilikinya begitu saja. Dia ingin ada penerus yang akan menggantikan posisinya kelak, guna melanjutkan apa yang sudah sang papa dan dirinya rintis dan kembangkan selama ini."
"Waktunya tidak banyak dan satu-satu harapannya adalah dirimu. Wanita yang dicintainya dan wanita yang dia inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya."
"Karena itulah, dia melakukan apa yang sebenarnya sangat tidak ingin dia lakukan pada wanita pertama dan satu-satunya yang teramat dicintainya, demi bisa memenuhi impian terbesarnya, sebelum dia menutup mata untuk selamanya."
Nara sudah terisak dengan wajah basah penuh air mata. Sekarang dia tahu semuanya, semua hal yang selama ini selalu ditutupi Yoga dan hanya dipikirkannya seorang diri.
Bukan hanya tentang alasan Yoga merenggut kesuciannya atau sekedar keinginan lelaki itu untuk memiliki anak sebagai penerusnya, akan tetapi ada tanggung jawab besar yang harus terus dipikirkannya dan tidak bisa diabaikannya begitu saja selepas kepergiannya nanti.
"Dok, bisakah saya menemui Yoga sekarang?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
💜Author💜
.