CINTA NARA

CINTA NARA
2.121. SENYUMAN TERINDAH


__ADS_3

Karena lelah, Ardi pun turut tertidur bersama istri dan putri kecilnya. Mereka bertiga tertidur begitu pulas. Aura yang sebelumnya sudah tertidur pun serasa semakin nyaman terlelap diapit oleh dekapan cinta kedua orangtuanya. Kehangatan keluarga yang sempurna.


Di luar ruangan, seluruh keluarga dan sahabat masih setia menunggu dengan perasaan gelisah. Tak ada satu pun yang ingin pergi dari sana, sebab seorang dokter telah memberitahu bahwa kemungkinan waktu yang dimiliki Bunga akan segera mencapai detik terakhirnya.


"Mas, perasaanku semakin tidak enak. Sangat tidak nyaman."


Nara bersandar di bahu Yoga dengan kedua tangan mendekap erat lengan lelaki itu. Keduanya bersama beberapa orang yang lainnya duduk di bangku yang tersedia, sementara beberapa yang lainnya memilih untuk menunggu dengan posisi berdiri dan mondar-mandir tidak tenang.


"Apa kamu sangat lelah, Sayang? Aku akan meminta ijin untuk meminjam ruangan kosong yang bisa kamu dan Alya gunakan untuk beristirahat."


Yoga mencium dan mengusapi kepala istrinya dengan sayang dan membiarkan tangan satunya terus dipeluk oleh Nara. Wanita itu menggeleng dan menolak tawaran sang suami untuk beristirahat.


"Tidak perlu, Mas. Cukup di sini saja bersamamu. Lagipula kita semua belum tahu bagaimana situasi di dalam saat ini. Aku takut ...."


"Kita berdoa saja. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang," ucap Yoga sembari mengelus perut istrinya dengan sayang.


Di ujung bangku tak jauh dari tempat mereka, Rendy terus menemani di samping Alya yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak keluar dari ruang perawatan Bunga.


Hanya anggukan dan gelengan kepala yang ditunjukkannya untuk menjawab beberapa pertanyaan dan ucapan lelaki teman baiknya tersebut.


"Kamu butuh sesuatu? Minuman atau makanan? Kita tidak tahu sampai kapan akan menunggu."


Lagi-lagi Alya menggeleng dan tetap menundukkan kepala. Tangannya tidak tenang, terus bermain-main dengan ujung kain pasminanya.


Rendy terdiam lagi, memandangi wajah yang terus tertekuk dan murung di sampingnya. Dia tahu, Alya bukan sedang memikirkan Ardi, akan tetapi yang dikhawatirkannya adalah Bunga.


Rendy bisa merasakan ketulusan yang dimiliki Alya untuk Bunga, istri dari lelaki yang selalu di hatinya. Sama sekali tidak dilihatnya kecemburuan atau rasa sakit hati di wajah wanita yang dicintainya itu. Yang ada hanya kesedihan dan kecemasan.


"Cintamu benar-benar luar biasa, Al. Bahkan dengan istrinya pun kamu sangat sayang dan tulus seperti ini. Tak salah jika hatiku juga terpikat padamu, walaupun tak mendapatkan balasan."

__ADS_1


Hampir satu jam berlalu, semua masih menunggu dan berdoa tiada henti. Masih belum terdengar suara apa pun dari dalam ruangan, tanda kondisi keluarga kecil di sana masih baik-baik saja.


Sementara itu, di dalam ruangan Ardi terbangun dan mulai membuka mata. Masih dengan pandangan berkabut, sejenak diamatinya sekitar hingga dia baru menyadari bahwa dirinya telah tertidur di atas pembaringan bersama Bunga dan Aura.


Setelah menajamkan pandangannya, lelaki itu bangkit dan turun dari atas pembaringan. Namun baru saja kedua kakinya menapaki lantai, terdengar lenguhan kecil dari bibir mungil Aura. Rupanya bayi cantik itu turut terbangun dan sudah membuka sepasang mata indahnya.


"Ssttt ... ssttt .... Ayah ada di sini, Aura sayang. Jangan menangis ya, Bunda masih tidur. Aura digendong Ayah dulu, yuk."


Ardi tersenyum menatap putri kecilnya, lalu kedua tangannya terulur meraih tubuh mungil nan lucu itu, yang menampakkan tawa tanpa suaranya, seolah begitu bahagia saat sang ayah membawanya ke dalam pelukan.


Tangan-tangan mungil itu bermain di permukaan wajah Ardi, meraba dan mencubit kecil bagian yang bisa dipegangnya.


Untuk sesaat mereka berdua bermain dan saling tertawa ringan, sampai pada detik-detik terakhir, senyuman di wajah Ardi sirna dan berganti kepanikan.


Didekapnya sang putri lebih erat bersamaan dengan degup jantungnya yang bertalu kencang tak terkendali. Pandangannya terkunci pada tubuh sang istri yang masih berbaring dengan seulas senyuman di bibirnya, seperti saat pertama kali mereka tidur bertiga tadi.


Ada yang berbeda dilihatnya dari tubuh Bunga sehingga dia bergegas mendekati dari sisi yang berlawanan dari tempatnya berdiri bersama Aura.


Tubuh itu tetap diam tak bergerak dengan wajah yang dihiasi senyuman terindahnya. Senyuman yang sama pada saat dia mulai terlelap bersama suami dan putri kecilnya.


"Bunda ...!" Ardi memanggil atas nama Aura, berharap sang istri segera membuka mata dan melihat ke arah mereka berdua.


Namun lagi-lagi Bunga masih bergeming, membuat dadanya semakin berdebar tak menentu dengan perasaan yang kian mendung.


Disentuhnya tangan kiri yang berada di atas perut dengan jarum infus yang masih menancap mengalirkan cairan nutrisi. Dingin. Tak seperti biasanya yang masih hangat dan tak sepucat ini.


Hatinya berdesir seketika. Ada yang terasa terbang dari relung sanubari, hilang tak tergenggam, melayang jauh tak tergapai lagi.


Dengan mata memerah dan berkaca-kaca, pandangannya beralih dari tangan yang dipegangnya naik ke bagian dada. Beberapa saat terus ditatapnya dengan lekat hingga akhirnya pandangan itu mulai kabur tersapu luruhan air mata yang membasahi kedua pipi. Tidak ada gerakan sama sekali yang menandakan napas wanita itu telah terhenti.

__ADS_1


Tangan Ardi kembali merayap naik, menyusup ke sela samping leher sang istri dan memastikan sesuatu di sana, yang tak bisa ditemukannya lagi. Denyutan itu pun telah berhenti, entah sejak kapan.


"Begitu mudahnya cara kepergianmu, Sayang. Tenang dan damai di saat kita bertiga tengah bersama dalam hening."


Lelaki pilu itu mengambil tangan kanan istrinya yang masih berada di samping tubuh, masih sama seperti saat mendekap Aura dalam tidur bertiga mereka tadi. Disatukannya kedua tangan Bunga bertumpuk di atas dada, meskipun jarum infus belum terlepas dari tangan kirinya.


Dengan wajah basah berderai air mata, ditatapnya wajah putri kecil dalam gendongannya. Wajah polos yang belum mengerti apa-apa itu membalas tatapan ayahnya, kemudian mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Ardi seolah ingin menghapus tangisan sang ayah.


Ardi membersihkan wajahnya dari sisa air mata. Menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan tenang, dia lalu mencium kening sang putri kesayangan seraya menguatkan hati untuk berkata-kata.


"Kita ikhlaskan kepergian Bunda ya, Nak. Kita lepaskan Bunda pulang kembali ke tempat terbaiknya di sisi Allah."


Dan pada akhirnya, untuk kali yang terakhir, dia membawa Aura untuk mencium pipi sang bunda, diikuti dirinya yang mencium kening istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


Dibelainya kepala sang istri pelan dengan sepenuh kasih, seraya mengulas satu senyuman perpisahan meskipun berat dirasa di dalam sanubari.


"Selamat jalan, Bungaku. Selamat tinggal, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu dan menyimpan rasa ini selamanya di dalam hatiku."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2