CINTA NARA

CINTA NARA
2.103. TIDAK BISA HIDUP SENDIRI


__ADS_3

Suara isak tangis menggema di dalam ruangan di mana Nara masih dirawat dan dipulihkan kondisi kesehatannya.


"Tidak mungkin! Semua ini pasti bohong. Kalian pasti sudah berbohong kepadaku. Kalian semua jahat ...!!"


Berulang kali kalimat itu terucap dari bibir pucat Nara yang terus bergetar, mengelak dan menolak semua kenyataan yang baru saja didengarnya tapi tak ingin dipercayainya.


"Kami mengatakan yang sebenarnya, Ra. Kamu harus sabar dan menjaga emosimu. Kamu harus kuat, karena hanya kamu yang bisa menjadi penguat untuk semuanya."


Alya berusaha menenangkan sahabatnya yang tengah dirundung duka mendalam. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengatakan kenyataan yang sesungguhnya pada Nara.


"Tenangkan dirimu, Ra. Kamu harus bisa menerima semua ini. Bukan hanya kamu saja yang bersedih, tapi kami semua juga bersedih."


Alya membiarkan wanita yang sudah berderai air mata itu rebah di dalam pelukan Ibu, yang sama menangisnya dengan yang lain. Semuanya bersedih dan meneteskan air mata, tidak terkecuali.


Sudah lima belas menit berlalu dan Nara masih larut dalam kesedihan mendalam yang masih tak ingin diyakininya.


Dia selalu mempercayai ucapan suaminya, lebih dari ucapan orang lain siapa pun itu. Setiap kata-kata yang disampaikan oleh Yoga, akan selalu diingatnya dan ditanamkannya dalam hati sampai lelaki itu benar-benar menepatinya.


Dan selama ini, tidak pernah sekali pun Yoga mengingkari kata-katanya sendiri. Dia selalu menepati setiap janji yang diucapkannya pada sang istri tercinta.


Jika Yoga mengatakan akan pergi untuk menyelesaikan urusannya, maka dia pun pasti akan segera kembali setelah semua urusannya selesai. Lelaki itu tidak pernah ingkar janji dan Nara selalu mempercayainya.


"Kamu pasti kembali, Mas. Kamu harus kembali seperti janjimu. Kamu tidak pernah mengecewakan aku. Kamu harus kembali .... Kamu pasti kembali ...."


Pandangan Nara memburam dan kabur. Semuanya berubab gelap begitu saja. Tak lama kemudian, dirasakannya tubuhnya ringan dan melayang, lalu tak merasakan apa-apa lagi.


"Nara! Bangun, Ra ...!! Nara ...!!!"


.


.


.


"Mas, bangunlah ...."


Suara Nara begitu lirih hampir tak terdengar. Tapi dia yakin, Yoga bisa mendengar bisikan di telinganya tersebut.


"Aku di sini, Mas. Aku menunggumu, selalu menunggumu untuk kembali ...."

__ADS_1


Air mata mulai menetes, jatuh membasahi kening Yoga yang baru saja dicium Nara dengan penuh keharuan.


Lekat-lekat dipandanginya wajah rupawan yang selalu menghiasi pikirannya setiap saat tanpa henti. Wajah yang selalu terlihat dingin namun penuh kelembutan kepadanya. Wajah yang beraut tegas namun selalu bisa menenangkan hatinya.


Kini, wajah itu hanya terlihat pucat dan tanpa sikap. Diam tanpa gerakan sedikit pun, bahkan napas sekalipun.


"Mas, kamu harus kembali. Berjuanglah! Demi aku, demi Raga, demi calon anak yang masih ada di dalam kandunganku. Bangunlah demi keluarga kita, Mas!"


Nara berdiri tegak, mengambil tangan kanan Yoga yang lunglai dan berkulit pucat kemudian meletakkan di atas perut buncitnya.


Terus dipeganginya tangan itu agar sang suami merasakan pergerakan dari dalam perutnya. Gerakan calon bayi mereka yang mulai lincah di dalam kandungan Nara.


"Ini, Mas. Pegang dan rasakan keberadaannya. Calon bayi kita sangat lincah saat kamu sentuh, padahal sebelumnya tadi dia hanya diam."


"Kami semua membutuhkanmu, Mas. Bukan hanya aku saja, tapi si kecil ini juga membutuhkan kehadiranmu, sama seperti Raga yang selalu menunggu kehadiranmu di rumah kita."


Sekuat apa pun Nara mencoba bertahan, akhirnya dia tak kuasa juga menahan air matanya. Wanita itu menyerah dalam ketidakberdayaan. Dia menangis tersedu-sedu tanpa henti.


"Mas, aku tidak bisa. Aku tidak bisa hidup sendiri tanpa kamu. Aku tidak bisa membesarkan mereka tanpa ada dirimu. Aku tidak bisa, Mas ...."


Dengan tetap memegang erat tangan Yoga di perutnya, Nara menumpahkan tangisan sepuas hati. Air matanya deras mengalir membasahi wajah sendunya dengan tatapan sayu yang penuh pilu.


Isakan yang semula lirih mulai terdengar semakin keras dan menyayat hati. Tersedu-sedan tangisannya hingga kata-kata pun tak sanggup lagi diucapkannya.


Pandangannya kabur sebab tangisan masih terus membasahi sepasang mata beningnya yang kini telah berubah memerah dan bersinar suram. Sesuram bayangan masa depannya jika tak ada lagi Yoga yang menemani.


Tiba-tiba Nara teringat akan mimpinya kemarin siang. Mimpi yang baginya seolah nyata dan ternyata memang benar-benar terjadi saat itu. Yoga rebah dengan tubuh bersimbah darah.


"Ternyata mimpiku menjadi kenyataan, Mas. Kamu benar-benar mengalami apa yang ada di dalam mimpiku. Kamu terluka dan bersimbah darah. Lambaian tanganmu di mimpiku pun menjadi pertanda bahwa kamu akan pergi."


Tiba-tiba Nara menghentikan tangisannya. Dibersihkan wajahnya dari sisa air mata yang membasahi sedari tadi.


"Tidak! Tapi aku tidak mengijinkanmu pergi, Mas. Aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkan aku dan anak-anak kita. Kamu harus tetap di sini bersama kami!"


Nara bersuara lebih lantang kali ini. Dia terus menatap wajah pucat Yoga dan menggenggam tangannya semakin erat.


"Kamu harus kembali, Mas. Kamu pasti kembali. Kamu akan kembali untukku, seperti yang selalu kamu katakan kepadaku."


Dan lagi-lagi, setelah mengungkapkan semuanya, setelah lelah terus berbicara dan meminta, Nara jatuh terkulai tak berdaya, di atas tubuh bergeming suaminya.

__ADS_1


Wanita hamil yang selalu diselimuti cobaan dalam hidupnya itu, kembali tak sadarkan diri dan segera dibawa oleh Alya dan perawat yang mendampinginya ke ruang perawatan.


.


.


.


Sementara Nara ditangani oleh Alya dan beberapa perawat, di ruangan yang lain polisi masih terus berjaga dan mempersiapkan segala sesuatu untuk proses pemulangan jenazah.


Beno dan Pak Budi tak kalah sibuknya, mengurus prosedur adminstrasi yang diperlukan guna kelancaran penanganan. Mereka berbagi tugas dengan Alam yang membantu persiapan di bandara bersama pihak kepolisian.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Beno pada Pram yang baru saja datang dari kantor dan membawa beberapa dokumen yang diminta oleh Beno.


"Semuanya sudah aku jadikan satu di dalam berkas yang sama, Mas. Sudah lengkap sesuai dengan permintaan pihak rumah sakit." Pram menjawab dengan yakin seperti biasanya.


"Siapa yang akan ikut serta di dalam rombongan jenazah?" tanya Pram kemudian.


"Hanya pihak kepolisian saja. Dari pihak keluarga di sana sudah ada yang mengatur penjemputan di bandara."


"Tugas kita di sini untuk menunggu dan memastikan kondisi Ibu Nara membaik serta mengambil alih kendali perusahaan Pak Yoga untuk sementara waktu."


Pram mengangguk dan menyimak semua arahan Beno yang lebih berpengalaman mengurusi perusahaan milik Yoga.


"Mulai sekarang, kita harus selalu siap-siaga dan bekerja lebih keras untuk memastikan kelancaran perusahaan selama beberapa waktu ke depan sampai semua keadaan kembali seperti semula."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2