CINTA NARA

CINTA NARA
2.27. MENEPIS PERASAAN


__ADS_3

"Selamat siang, Dokter Ardi. Apa kabar?"


Ardi tertegun menatap salah satu dokter yang menyapanya dengan ramah dan penuh senyuman.


"Alya ...." Dalam hati disebutnya sebuah nama.


Seorang dokter wanita sebayanya yang menyapa tadi tak lain adalah Alya.


Ardi terkejut dan tidak menyangka akan bertemu lagi dengan wanita itu di sini. Setahunya dan seingatnya, tidak ada nama Alya yang tertera dalam daftar peserta maupun pemateri dalam seminar yang dihadirinya saat ini.


"Selamat siang, Al ..., maaf, Dokter Alya. Kabar saya baik-baik saja."


Tidak seperti pada yang lainnya, Ardi tidak mengulurkan tangannya karena wanita berhijab itu lebih dulu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, sebagai pengganti jabatan tangan di antara mereka.


Suasana canggung di antara mereka tercipta. Namun dengan segera Alya mengalihkannya dengan membuka obrolan ringan bersama para dokter lainnya yang masih berkumpul di depan ruang seminar.


Ardi pun melakukan hal yang sama, berbincang dengan beberapa dokter yang lainnya, sebelum akhirnya mereka semua masuk ke ruang seminar dan mulai mengikuti acara yang sudah diagendakan.


Di dalam, tanpa mereka duga, Ardi dan Alya mendapatkan tempat duduk bersebelahan. Masih diliputi rasa canggung, mereka duduk bersama di antara ratusan dokter yang lainnya yang memenuhi ruangan.


Sesekali saling menatap tanpa sengaja, keduanya mulai saling melempar senyuman meskipun gugup melanda diri.


Suasana masih riuh karena acara baru akan dimulai beberapa saat lagi.


"Aku tidak melihat ada namamu dalam daftar acara, Al." Akhirnya Ardi membuka pembicaraan basa-basi dengan mantan kekasihnya itu.


"Ya, Di. Aku menggantikan kepala rumah sakitku yang mendadak sakit sehingga tidak bisa menghadiri seminar ini."


Alya menjawab dengan tenang meskipun hatinya berdebar tak menentu karena akan duduk berdekatan dalam waktu yang lama dengan lelaki yang masih dicintainya tersebut.


"Jadi kamu juga akan memberikan materi?" Dan Alya yang ditanya pun segera mengangguk dan tersenyum.


Lambat-laun sikap mereka mulai mencair dan terlihat lebih akrab satu sama lain. Baik Ardi maupun Alya saling bercerita seputar materi yang akan mereka sampaikan dalam acara yang telah mempertemukan mereka kembali.


"Entah mengapa, meskipun ini tak terduga sama sekali, tapi aku merasa sangat senang bisa bertemu lagi denganmu, Al."


Sampai pada saat di mana acara dibuka dan pemateri mulai menyampaikan kuliah umum untuk para dokter muda yang menjadi peserta seminar, Alya menjadi pemateri pertama yang naik ke atas panggung untuk melaksanakan tugasnya.


Dari tempatnya, Ardi memperhatikan dokter anggun itu dengan rona kekaguman di wajahnya, yang tak bisa lagi disembunyikan.


Dengan leluasa dia terus memaku pandangan ke arah panggung di mana Alya menyampaikan materi dengan sangat profesional dan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Dari dulu kamu tidak pernah berubah. Selalu penuh percaya diri dengan kecerdasanmu. Pantas saja kamu menjadi dokter yang handal dan berprestasi."


Sesekali tatapan mata mereka bertemu, memunculkan getaran kecil di hati Ardi yang membuatnya tanpa sadar tersenyum pada wanita anggun yang menjadi pusat perhatiannya saat ini.


Di atas panggung, Alya mencoba meredam kegugupan saat melihat Ardi melemparkan senyuman kepadanya. Tanpa bisa mencegahnya, dia membalas begitu saja senyuman itu meskipun sekilas dan lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Hatinya pun merasakan debaran indah yang sudah sangat lama tak pernah lagi hadir mewarnai kehidupannya yang suram, tanpa seorang pun yang mengetahuinya.


"Tahan, Al. Kendalikan dirimu. Jangan terbawa perasaan masa lalu. Kalian hanya teman sekarang, tidak akan pernah lebih dari itu untuk selamanya!"


Setengah jam berlalu seolah lambat, hingga Ardi merasa puas memperhatikan wanita yang pernah dicintainya itu berada di atas panggung.


"Kekagumanku tak pernah berubah dari dulu, Al. Dan sekarang kamu semakin bersinar dengan profesi yang telah menjadi cita-citamu sejak kecil itu. Aku turut bangga melihatnya."


Usai materi pertama yang disampaikan oleh Alya, acara dijeda dengan istirahat sore sejenak.


Usai mengambil kopi dan kue untuk pengganjal perut, Ardi melihat Alya duduk sendiri di sebuah meja di sudut ruang istirahat.


Wanita itu tengah serius menatap layar kerja di hadapannya, entah apa yang menjadi pusat perhatiannya di dalam sana.


"Boleh aku duduk di sini?" tanya Ardi masih dalam posisi berdiri di samping Alya yang langsung terkejut saat melihat lelaki itu sudah berada dekat dengannya.


Bukannya tidak ingin berbicara banyak dengan Ardi, tetapi hati kecilnya terus mengingatkan agar dia menjaga jarak dengan lelaki yang telah dimiliki oleh wanita lain tersebut.


"Jaga sikapmu, Al. Ingat, dirimu juga seorang perempuan. Jangan sampai kamu menyakiti hati perempuan lain hanya demi perasaan masa lalu yang harusnya sudah kamu lupakan dan kamu kubur dalam-dalam sejak dulu!"


Ardi duduk di hadapan Alya, sengaja menjaga jarak agar tidak menimbulkan fitnah bagi yang mungkin melihat kebersamaan mereka.


Lelaki itu terus terdiam sembari menyesapi kopi panas yang berada di tangannya, kemudian dilanjutkan dengan menggigit dan menikmati kue yang sudah diambilnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering dengan nada panggilan khusus dari Bunga.


Ya, Sayang?" Ardi menerima panggilan itu dan mulai menyapa istrinya.


Alya tersenyum mendengar sapaan mesra Ardi untuk istrinya. Dia terus berusaha fokus dengan layar kerja di hadapannya.


"Aku akan segera pulang setelah memberikan kuliah umum besok pagi. Banyaklah beristirahat tapi jangan lupa untuk terus berlatih demi kelancaran persalinanmu."


Diam-diam Alya mendengarkan ucapan demi ucapan yang disampaikan oleh Ardi kepada sang istri yang berada di seberang sambungan teleponnya.


"Baiklah. Jaga dirimu dan calon putri kita. Aku mencintai kalian."

__ADS_1


Wanita anggun di hadapan Ardi tersebut tersenyum getir mendengar ungkapan cinta Ardi untuk istrinya.


Ada perih yang terasa di ujung hatinya, tapi dia sadar sepenuhnya dengan posisinya sekarang, sehingga dia tetap menjaga jarak dengan lelaki itu.


Alya terus berusaha menepiskan perasaannya dan memilih untuk tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa ada keinginan untuk membuka obrolan dengan lelaki masa lalunya.


Di kamarnya, Bunga meletakkan ponsel yang baru saja digunakannya untuk menghubungi sang suami.


Sore ini dia merasakan tubuhnya mulai tidak nyaman dan beberapa kontraksi palsu sudah mulai datang menyerang.


Bunga membaringkan tubuhnya yang kian membesar di seluruh bagian. Dia mencoba menenangkan perasaannya dan mengatur nafas sebaik mungkin untuk mengatasi rasa sesak di dadanya.


Begitu kehamilannya memasuki usia sembilan bulan, kakinya semakin bengkak yang terasa berat untuk melangkah, akibat menahan tubuh besarnya terus-menerus.


Setelah mendengarkan suara suaminya, hatinya mulai tenang kembali dan bisa tersenyum seraya mengusapi


seluruh permukaan perutnya.


Wanita itu terus mengatur nafas sebaik mungkin guna meredam rasa sakit yang mendera saat calon anaknya terus membuat gerakan cepat dan menendang dinding rahimnya semakin keras.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2