CINTA NARA

CINTA NARA
3.4. PANGGILAN SAYANG


__ADS_3

"Kita pulang sekarang, Al?"


Alya mengangguk dan mengambil tasnya dari atas meja. Dia berjalan mendahului Rendy yang mengikuti di belakangnya keluar dari ruangan.


Turun ke lantai bawah menggunakan lift, mereka melanjutkan langkah menuju halaman parkir melalui pintu utama.


Saat keduanya telah keluar dan turun ke halaman, sebuah mobil yang dikenali oleh Alya melewati mereka dan berhenti di depan instalasi gawat darurat yang terletak di bagian samping.


"Itu mobil Pak Yoga, Ren." Alya menghentikan langkah dan memberitahu Rendy. Lelaki itu melihat ke arah yang ditunjukkan Alya.


Terlihat dari tempat mereka berdiri, Yoga turun dari pintu depan sebelah kiri yang artinya ada sopir yang mengantarkannya.


Namun yang membuat perasaan Alya tiba-tiba berubah tidak nyaman dan khawatir adalah saat Yoga membukakan pintu belakang, keluarlah seorang lelaki dengan menggendong erat bayi di dalam dekapannya.


"Ardi ..., Aura ...?!"


Rendy yang juga melihatnya cukup terkejut karena belum mengetahui jika Ardi berada di kota mereka.


Melupakan Rendy yang berada di sampingnya, Alya bergegas menyusul mereka yang baru saja dilihatnya dengan langkah secepat mungkin.


Rendy akhirnya mengikuti wanita itu karena ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Pak Yoga, Ardi. Ada apa ini?"


Alya sampai di dalam ruangan setelah Aura dibaringkan di atas brankar dan hendak didorong menuju ke salah satu bilik penanganan.


Ardi hanya melihat sekilas ke arah Alya dan segera mengikuti dokter dan perawat yang membawa putri kecilnya masuk ke dalam bilik.


"Aura mendadak demam tinggi dan mimisan hingga akhirnya pingsan." Yoga menjawab pertanyaan Alya sambil menepi dari tengah koridor.


Alya menutup mulutnya dan terlihat semakin panik. Tanpa peduli yang lainnya lagi, dia menyusul ke dalam bilik untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri kesayangan Ardi.


Setelah dilakukan serangkaian pemeriksan awal dan telah dibantu untuk kembali sadar, bayi cantik itu akhirnya terbangun dan menangis dengan kencang.


Ardi mengambilnya dan mengendong Aura dengan posisi tegak karena perawat masih membersihkan sisa darah mimisan yang telah berhenti mengalir beberapa saat sebelum mereka sampai di rumah sakit.


Bayi itu masih terus menangis kencang dan meronta dalam gendongan Ardi, saat perawat hendak memberinya sirup pereda demam.


"Biar saya yang memberikannya, Sus."


Alya mengambil alih pipet yang sudah terisi sirup pereda panas untuk bayi. Sebelum memberikannya, dokter berhijab anggun tersebut lebih dulu menyapa Aura yang langsung terdiam saat mendengar suara Alya dan memandangi Alya dengan mata beningnya yang masih basah.


"Aura sayang tidak boleh sakit ya, Nak. Ayo, minum obatnya sama Tante, supaya Aura lekas sembuh."

__ADS_1


Saat Aura diam dan tenang, Alya terus menimangnya sambil perlahan menyentuh dan mengusapi keningnya yang masih terasa panas. Ardi dengan sigap memposisikan Aura lebih telentang, sehingg Alya dengan mudah meneteskan obat ke dalam mulut mungil bayi tersebut.


"Anak pintar! Sebentar lagi Aura pasti sembuh, Nak."


Alya menyerahkan pipet kepada perawat lalu kembali menatap bayi cantik yang masih terlihat pucat dan murung, tetapi sudah tidak lagi menangis sejak Alya mulai menyapanya tadi.


"Maaf, Pak. Bisa kita bicara sebentar?"


Dokter yang memeriksa Aura mengajak Ardi duduk di salah satu meja dokter di ruang besar kegawatdaruratan itu.


"Sini, Di. Aku saja yang membawa Aura. Kamu ikutlah dulu dengan Dokter."


Pelan-pelan Alya mengambil Aura dari dekapan ayahnya dan terus menimangnya sehingga bayi itu mulai menunjukkan reaksi senangnya.


"Bu-bu ... bu-bu ...." Ardi terkesiap mendengarnya. Namun perasaan itu teralihkan karena dokter sudah menunggunya.


Setelah melihat putrinya tenang bersama Alya, tanpa mengatakan apa pun, Ardi segera mengikuti langkah dokter dan berbicara berdua.


Yoga dan Rendy yang sudah berada di luar pintu ruangan, masih terlihat cemas karena belum mendapat kabar dari dalam. Rendy yang sebenarnya bisa tetap berada di dalam, memilih untuk menemani Yoga di ruang tunggu.


"Apakah bayi Bapak pernah mengalami mimisan seperti ini sebelumnya?" tanya Dokter laki-laki yang memeriksa Aura tadi.


"Beberapa bulan terakhir ini pernah, Dok. Tapi hanya mimisan sebentar saat rewel dan menangis lama. Kalau disertai demam dan sempat pingsan seperti tadi, ini baru pertama kalinya."


"Secara umum mimisan pada bayi biasanya disebabkan karena kelelahan atau perubahan suhu dan cuaca di sekitarnya."


Dokter memulai penjelasannya satu per satu, tanpa mengetahui bahwa Ardi juga seorang dokter yang setidaknya memahami tentang gejala awal semacam itu.


"Tetapi karena Anda mengatakan bahwa bayi Anda sudah beberapa kali mengalaminya dan kali ini disertai demam tinggi dan pingsan sesaat, saya perlu menyarankan supaya dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk bayi Anda."


Wajah Ardi kembali panik dan mencemaskan banyak hal di dalam pikirannya.


"Apakah ada hal serius yang berkaitan dengan kondisi kesehatan putri saya, Dok?" tanya dokter duda itu dengan wajah semakin cemas.


Dokter di hadapan Ardi tersebut menggelengkan kepala dan menuliskan sesuatu pada lembaran kertas khusus serupa surat pengantar atau sejenisnya.


"Saya belum bisa memastikannya. Karena itu saya membuatkan surat pengantar untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis anak. Dari sana, akan diberikan surat pengantar baru untuk melakukan pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap dan menyeluruh."


Alya yang sempat mendengar penjelasan dokter saat menimang Aura di seputar ruangan, menyela pembicaraan kedua dokter tersebut.


"Tolong buatkan jadwal pemeriksaan pagi yang paling awal untuk putrinya ini, Dok. Beliau teman saya dan juga seorang dokter sama seperti saya."


Alya mencoba membantu agar Aura bisa mendapatkan pelayanan pemeriksaan lebih cepat untuk esok hari.

__ADS_1


Setelah dokter mendengar penjelasan darinya, beliau mengangguk dengan cepat dan meminta seorang perawat untuk mengatur jadwal pemeriksaan pada salah satu dokter anak yang bertugas besok pagi.


Sambil menunggu perawat menyelesaikan tugasnya, Ardi memperhatikan Aura yang terlihat tenang bersama Alya yang terus menimang dan mengajaknya berbicara.


Beranjak dari kursinya dan menghampiri sang putri, Alya hendak menyerahkan Aura pada ayahnya. Akan tetapi di luar dugaan, Aura menolak dan berbalik meneghadap ke belakang sehingga hanya Ardi dan Alya yang kini saling berhadapan.


Dengan cepat Alya menunduk kemudian mengalihkan perhatiannya pada Aura, saat dirasakan hatinya mulai berdebar-debar lagi.


Ardi pun sama, segera mengusap wajahnya dan menatap ke arah lain saat terasa getaran lain di dalam hatinya.


"Ya Allah, ada apa denganku?"


"Ya-ya ... ya-ya ...."


Aura menunjuk ke arah ayahnya sehingga Ardi menoleh lagi dan tersenyum kepada putri kecilnya. Disentuhnya kening sang putri, membuatnya bernapas lega karena demamnya sudah mulai berkurang.


"Aura mau ikut Ayah?"


Alya mencoba membujuk bayi berambut setengah ikal itu agar mau kembali pada Ardi. Tapi lagi-lagi Aura menolak dan justru menatap Alya dengan mata indahnya.


"Bu-bu ... bu-bu ...." Dengan tangan-tangan mungilnya, bayi itu menyentuh pipi Alya dan memainkan tepian hijab di sekeliling wajahnya.


Kali ini Ardi yang tertegun dan menatap putrinya lebih lekat. Ada kesedihan yang mulai menyeruak kala dirinya mengingat Bunga.


Sudah beberapa kali dia mendengarnya, sejak kepergian sang istri hingga sekarang, setiap bertemu dengan Alya putrinya selalu memanggil wanita itu seperti panggilan sayangnya pada Bunga.


"Serindu itukah kamu pada Bunda, Nak? Sampai orang lain pun kini sering kamu panggil demikian...?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2