CINTA NARA

CINTA NARA
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Nara meninggalkan Angga yang masih berlutut di depan meja makan ruang makan. Hanya tinggal seorang diri saja ia di sana. Tak lama kemudian datang dua orang asisten rumah tangga yang membereskan makan malam yang berantakan gara - gara pengakuan Angga.


Angga menahan tangis saat berhadapan dengan semua orang. Namun kini air mata itu tumpah saat ia merasa tidak ada jalan untuk membebaskan ayahnya. Tak ada satu pun yang bisa membantu ayahnya. Hanya ia seorang diri. Dan ... kini ia menjadi ciut, karena permohonannya tidak di gubris sama sekali oleh Pak Donnie.


Dua orang perempuan asisten rumah tangga itu sibuk membereskan makanan dan piring kotor di meja makan. Sesekali mereka berdua mencuri pandang ke arah Angga dengan pandangan iba.


Angga begitu putus asa. Ia tak punya pilihan lain selain mencoba. Ia akan mencoba mengulang kembali permintaannya pada Pak Donnie esok harinya.


Tak ada hal yang tak mungkin. Akan ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Jangan pernah pernah berputus asa. Kamu tak sendiri. Allah akan selalu mengiringi langkah kaki hambanya yang bertawakal.


Aksi yang dilakukan oleh Angga membuat ayah Nara menjadi tersentuh hatinya. Ia menunggu Angga di kamar. Namun sosok yang di tunggu tak kunjung datang.


Satu jam telah berlalu. Namun Angga tak kunjung tiba di kamar. Akhirnya Ayah Nara mendatangi ruang makan kembali. Ia melihat Angga masih saja duduk berlutut seperti semula.


"Ayo nak, bangun. Kita masuk kamar sekarang, " ucap Ayah Nara berjongkok sambil merangkul Angga dengan tangan kanannya menyentuh pundak. Lalu ia mencoba membantu Angga untuk berdiri. Angga sedikit sempoyongan saat ia berdiri, hal ini dikarenakan kedua kakinya kram akibat terlalu lama berlutut.


Ayah Nara kemudian membawa Angga masuk ke dalam kamar yang ia tempati. Untung saja ruang makan keluarga berada di lantai dua, di lantai yang sama dengan kamar yang ia tempati bersama Angga.


"''''""""


Sementara itu, saat Nara melangkahkan kakinya meninggalkan Angga seorang diri di ruang makan. Sebenarnya hati kecilnya iba melihat Angga seperti itu. Namun ia tetap melangkah walau ada sedikit ragu menyelinap dalam benaknya.


Nara tetap melangkah masuk ke dalam kamar mendapatkan ibunya sedang sholat isya. Dengan berkecamuk pikiran mengenai sosok Angga. Nara pun mengikuti jejak ibunya. Mengambil wudhu di kamar mandi di kamar kakaknya itu. Lalu mengambil mukenah yang ada di dalam tasnya. Lalu dengan khusuk menunaikan sholat isya di belakang ibunya yang sedang sholat.

__ADS_1


Ibu yang telah lebih duluan sholat kemudian melanjutkan mengaji di atas sajadahnya. Ia tampak khusuk melantunkan surat yaasin dengan suara serak karena kebanyakan menangis.


Tidak ketinggalan dengan ibu. Nara kemudian bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia mulai mencari alquran milik Dina. Saat Nara duduk membuka halaman pertama kitap suci itu, tersembul sebuah amplop berwarna pink.


Nara lalu membuka pelan amplop kecil berwarna pink itu. Secarik kertas berwarna putih itu ternyata sebuah surat yang di tujukan padanya. Dari mbak Dina untuk adik yang baru diketahuinya.


❣️Untuk adikku Nara❣️


*Nara ... , saat aku menulis surat ini. Aku merasa umurku tidak akan lama lagi. Semenjak satu bulan usai operasi transplantasi yang kita lalui. Entah mengapa Aku sering merasa sangat lemas. Terlebih saat aku melakukan berbagai aktifitas. Puncaknya saat aku menjaga mama. Mama yang telah ku anggap sebagai ibu kandungku.


Permintaanku tidak banyak untukmu, jagalah mama. Memang dosa mama tak termaafkan terhadap ibu kita. Namun aku mohon jagalah ia untukku. Seseorang yang telah kuanggap ibu. Seseorang yang memegang erat tangan kecilku. Hinggah aku bisa seperti sekarang. Aku tahu ia sangat menyayangiku seperti anaknya. Setelah kepergianku, ia pasti amat kehilangan.


Ada sebuah permintaanku lagi padamu. Jagalah seseorang yang pernah singgah di hatiku. Seseorang itu aku akan kembalikan padamu.


Aku mohon juga padamu. Sayangilah papa, jangan salahkan papa atas kemelut yang terjadi antara mama, papa dan ibu. Semua yang terjadi atas kehendak yang maha kuasa.


Aku bahagia bisa memiliki seorang adik. Adik yang wajahnya sama persis sepertiku. Nara ... terimakasih telah menemani hari - hariku. Hari - hari yang biasa kulalui sebagai anak tunggal yang sepi. Kini hidupku jauh lebih berwarna. Seseorang yang memanggilku sebagai mbak.


Aku tahu ... pertemuan kita yang tak di sengaja adalah takdir Tuhan untuk mempertemukan kita yang telah berpisah duapuluh tahun lamanya. Cara Tuhan memang unik, tak pernah bisa kita duga.


Sebenarnya banyak yang ingin aku tuangkan dalam surat ini. Namun tanganku amat lelah ... untuk merangkai tulisan ini lagi.


Sekali lagi aku katakan disini. Aku bahagia bisa memiliki kalian di sisiku. Terima kasih tak terhinggah untuk ibu , mama, papa, Nara dan Angga. Terimakasih telah hadir dihidupku.

__ADS_1


❣️Dina❣️*


Nara bergetar hatinya saat membaca sepucuk surat yang ditujukan khusus padanya. Ia menahan tanggis, namun bulir - bulir air mata meluncur deras di wajahnya. Membasahi sebagian isi surat yang di bacanya.


Ibu yang sedari tadi khusuk membaca surat yaasin mulai terganggu dengan suara isak tangis Nara yang tersedu - sedu. Padahal ia belum selesai membaca surat yaasin yang ada ditangannya. Ia lalu menoleh ke belakang, asal suara tangis yang ia dengar.


Ibu kaget melihat apa yang ia lihat. Nara bukannya membaca surat yaasin seperti yang ia lakukan. Namun gadis itu terlihat menangis sesenggukan sambik memegang buku yaasin.


Ibu lalu beranjak dari tempatnya duduknya dan mengampiri Nara yang jaraknya hanya satu meter dari tempatnya duduk.


"Ada apa Nara ? , " ucap ibu sambil mengusap air mata yang mengenangi wajah anak satu - satunya ini.


"Hu ... hu ... hu , " suara yang terdengar keluar dari mulut Nara. Nara tak sanggup berkata - kata lagi. Hanya suara tangis yang menandakan ia amat sedih.


Lalu ibu melihat secarik kertas yang ada di tangan Nara. Sepucuk surat terlihat sedikit basah karena tetes air mata Nara. Ibu kemudian mengambil secarik kertas itu dan mulai membacanya.


Ibu tampak hanyut terbawa emosi saat membaca surat yang di peruntukan buat Nara. Ia mulai menangis juga seperti yang Nara lakukan.


Ibu kemudian memeluk Nara erat. Lalu mengusap tetes air mata yang masih tertinggal di sana.


"Sudahlah Nara ... kita ikhlaskan kepergian Dina. Sekarang kita baca surat yaasin bersama - sama lagi, " ajak ibu sambil melepaskan pelukannya.


Nara mengangguk tanda ia setuju apa yang ibu ucapkan.

__ADS_1


Nara dan ibu kemudian tampak khusuk membaca surat yaasin bersama - sama. Sesekali mereka meneteskan air mata. Hanya doa tulus yang kini mereka panjatkan buat Dina, orang yang mereka sayangi. Semoga Dina tenang di alam sana ... ,aamiin.


__ADS_2