CINTA NARA

CINTA NARA
2.50. BERTEMU LAGI


__ADS_3

"Bagaimana kabar Anda, Dokter?"


Nara bersalaman dan berpelukan dengan Alya, mengawali pertemuan mereka di klinik dokter berhijab anggun itu siang ini.


"Alhamdulillah, saya sehat dan baik-baik aja. Oya, selamat datang, Pak Yoga. Silakan duduk."


Alya menyapa Yoga dengan ramah, sementara lelaki itu hanya mengangguk dan membuka kaca mata hitam yang dipakainya.


Setelah bertukar kabar sesaat, Nara pun mulai diperiksa. Dibantu oleh seorang perawat, wanita itu berbaring dan menunggu Alya memeriksanya menggunakan alat ultrasonografi.


"Semuanya baik! Rahimmu sehat dan bersih. Saya rasa, ke depannya tidak perlu melakukan kontrol ulang lagi. Cukup menjaganya dengan terus menerapkan pola hidup sehat dan asupan makanan yang bergizi."


"Bagaimana dengan kista yang kemarin, Dok?" Nara masih cemas dengan keberadaan kista yang berukuran cukup besar di dekat rahimnya.


"Jangan khawatir, kistanya sudah mulai mengecil dan jaringannya luruh bersamaan dengan darah nifasmu. Beberapa waktu ke depan akan hilang dengan sendirinya."


Nara akhirnya bisa bernafas lega. Senyuman kembali tampak menghiasi wajahnya yang mulai berseri sembari menatap Yoga yang duduk menunggunya di depan meja Alya.


Setelah merapikan pakaiannya, Nara turun dari pembaringan dan menghampiri sang suami yang duduk dengan tatapan mata yang terus tertuju kepadanya.


Yoga berdiri menyambut sang istri, meraih tangannya dan membantunya untuk duduk. Setelah sama-sama duduk kembali, diciumnya kepala Nara dengan lembut.


Alya yang memperhatikan kemesraan pasangan tersebut hanya bisa tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dan menuliskan sebuah resep untuk Nara.


Diserahkannya resep itu pada perawat untuk diantarkan ke bagian apotik, agar pasien di hadapannya tidak perlu menunggu di luar.


"Saya sudah menerima salinan berkas laporan kesehatanmu dari klinik Dokter Ardi. Untuk selanjutnya nanti kamu bisa menanyakan apa pun tentang ini kepada saya."


"Membicarakanmu meskipun hanya sekejap waktu, lagi-lagi membuatku mau tak mau harus kembali mengingatmu. Semoga kamu selalu bahagia di sana bersama keluarga kecilmu."


.


.


.


Nara dan Yoga keluar dari ruangan Alya. Saat berjalan melewati deretan kursi tunggu yang dipenuhi antrian pasien Alya, ekor mata Yoga sempat melihat seseorang yang dikenalinya sedang duduk menunggu bersama istrinya di bagian paling depan.


"Apa yang dia lakukan di sini?"


Yoga mengambil ponsel di saku celana dan mengirimkan beberapa pesan. Dia berusaha untuk berpikir cepat sambil terus berjalan menggandeng tangan Nara sampai di halaman parkir.


Setelah membukakan pintu dan membantu istrinya masuk ke dalam mobil, dia meminta waktu sebentar untuk meghubungi seseorang. Nara pun mengiyakan dan menunggu di dalam mobil sambil memainkan ponselnya.


Yoga berjalan sampai ke bagian belakang mobil lalu menghubungi seseorang.


"Awasi semua pergerakannya dan pastikan dia tidak bisa melakukan hal buruk apa pun di dalam sana. Aku tunggu laporan kalian."

__ADS_1


Selesai menghubungi orang kepercayaannya, Yoga bergegas masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kantor bersama Nara.


"Ada masalah apa, Mas?"


Nara sempat melihat melalui kaca spion di dalam mobil, suaminya tampak berbicara serius dan penuh penegasan kepada seseorang yang dihubunginya.


Yoga menggeleng sambil melajukan mobilnya keluar dari halaman klinik.


"Hanya masalah kecil di lapangan, Sayang. Jangan dipikirkan. Aku sudah mengatasinya."


Tangan kiri Yoga meraih kepala Nara dan mengusapi bagian puncaknya dengan tatapan sayang dan penuh perhatian.


Nara yang diperlakukan demikian hanya bisa tersenyum dengan wajah merona bahagia.


Sesampainya di kantor, mereka langsung masuk ke ruangan Yoga dan melanjutkan beberapa pekerjaan yang telah tertunda.


Di sela memeriksa laporan di layar kerjanya, diam-diam Yoga membuka email yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya.


Dia mendapatkan beberapa foto dan rekaman video yang dimintanya, meskipun tampak sedikit buram karena disiapkan dan diambil secara terburu-buru.


"Rupanya dia masih belum menyerah juga. Lihat saja nanti, sekali saja dia berani melakukannya lagi, maka aku pastikan hidupnya akan berakhir setimpal di balik jeruji penjara!!"


.


.


.


"Selamat siang. Silakan duu ... duk ...."


Jantung Alya berdebar kencang seketika begitu melihat pasangan yang dikenalnya itu berdiri nyata di hadapannya.


"Kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini? Di mana dokter yang biasanya bertugas siang hari di ruangan ini?"


"Ri-Riko ...." Wajah Alya menegang dan mulai dihinggapi rasa takut.


Melihat sang dokter terlihat pucat dan gugup saat melihat pasien yang baru saja masuk tersebut, perawat yang mendampingi Alya beriniasiatif untuk menjawab pertanyaan dari suami pasien tersebut.


"Dokter Irfan sudah mengundurkan diri dari klinik ini dan digantikan oleh Dokter Alya."


Untuk sesaat ketiganya bertatapan dengan pandangan penuh kebencian dari mata Riko. Hanya Alya yang kemudian bisa meredam emosinya dan bersikap profesional.


"Ehhem ...! Bisakah kita lanjutkan pemeriksaan ini, Ibuuu ... maaf, Ibu Cindy?"


Alya membaca nama sang pasien dan mulai bisa menguasai keadaan. Dia membuka berkas laporan kesehatan milik wanita itu dan membacanya dengan teliti.


"Silakan, Ibu. Mari berbaring di sini." Perawat mempersilakan Cindy, istri Riko untuk segera berbaring.

__ADS_1


Wanita berpenampilan terbuka dengan riasan maksimal itu menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri menatap Alya dengan pandangan sarat amarah dan kebencian.


Dengan berat hati karena telanjur masuk dan sudah menunggu lama sebelumnya, akhirnya Riko mengangguk tanpa mengalihkan tatapan kebenciannya dari Alya.


Alya dan Cindy mulai melakukan interaksi layaknya dokter dan pasien. Alya menunjukkan hasil pemeriksaan ultrasonografi yang terlihat di layar monitor dan menjelaskannya satu per satu.


"Untuk jenis kelamin dari calon bayi Ibu dan Bapak, ini ...." Alya menunjuk satu titik di layar monitor dan menandainya.


"Insyaallah, Ibu dan Bapak akan dikarunia seorang putri cantik. Selamat!"


Usia kehamilan Cindy telah menginjak lima bulan dan baru kali ini mereka bisa mengetahui jenis kelamin calon bayinya.


Alya telah menyelesaikan pemeriksaan dan kembali duduk di belakang meja. Dia menuliskan resep obat dan diserahkannya kepada Cindy.


"Jangan lupa untuk kembali melakukan pemeriksaan bulan depan. Jika ada keluhan atau gangguan yang dirasakan, Ibu bisa kembali lebih cepat untuk segera dilakukan pemeriksaan ulang."


Riko menyambar resep yang diserahkan Alya lalu menatapnya setajam sebelumnya.


"Urusan kita belum selesai sama sekali, Al! Ingat, aku masih akan membuat perhitungan atas keberanianmu melawanku!!"


Alya hanya diam mendengarkan sumpah serapah Riko yang sudah biasa didengarnya. Pandangannya tertunduk ke arah meja dan menyelesaikan laporan singkatnya pada berkas kesehatan milik Cindy yang masih dibukanya.


"Karena keberanianmu membuka masalah kita, sekarang aku telah kehilangan semuanya! Segala kekuasaanku telah diambil alih oleh kakakku dan aku kehilangan hakku atas usaha milik papaku!"


Suara Riko meninggi dan menggelegar memenuhi ruang pemeriksaan. Wajahnya semakin memerah diselimuti amarah yang kian memuncak.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu. Aku akan menghancurkanmu! Ingat dan camkan itu baik-baik!!"


Riko berdiri diikuti Cindy lalu berjalan menuju pintu yang sudah dibukakan oleh perawat. Sebelum melangkah keluar, sekali lagi Riko menoleh ke belakang dan mengancam mantan istrinya itu dengan tatapan tajam mematikan.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Alya ...!!!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2