
"Masih bolehkah aku mengantarmu pulang?"
Alya meoleh ke samping dan mendapati Rendy sudah menjajari langkahnya dan menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Entah dari arah mana dan sejak kapan lelaki itu datang, Alya masih terdiam dan segera menundukkan pandangannya. Pandangan yang terasa biasa saja, tak seperti pandangannya pada Ardi yang selalu dipenuhi getaran cinta di hatinya.
"Boleh?" tanya Rendy kembali untuk memastikan jawaban dari wanita itu.
Alya yang masih memikirkan kejadian di dalam ruang perawatan Aura tadi, akhirnya mengangguk dan menerima tawaran dari teman baiknya.
"Terima kasih, Al." Rendy tersenyum dan semakin mantap melangkah di samping wanita yang dicintainya.
Mereka turun menggunakan lift, lalu berjalan lagi menuju mobil Rendy yang sudah terparkir di samping pintu utama.
Usai menyelesaikan pekerjaannya beberapa saat yang lalu, Rendy sengaja memindahkan mobilnya lebih dekat karena ingin menjemput dulu Alya yang diketahuinya masih berada di dalam ruang perawatan putri kecil Ardi.
Di dalam mobil yang sudah dikemudikannya dengan kecepatan sedang, Rendy memperhatikan Alya yang sejak tadi terus terdiam tanpa seucap kata pun.
"Al, aku minta maaf atas sikap dan kata-kataku kemarin malam yang mungkin sudah menyinggung perasaanmu dan membuatmu sungkan kepadaku." Rendy memulai percakapan dengan meminta maaf pada Alya.
Dia tidak ingin Alya menjauh dan menjaga jarak lagi, setelah apa yang diucapkannya semalam tentang ketidaknyamanan dirinya saat melihat kebersamaan Ardi bersama dengan wanita di sampingnya yang sejak tadi memandang jauh ke luar jendela.
"Jujur aku merasa takut kehilangan kamu, meskipun aku sadar bahwa kamu dan aku tidak pernah memiliki hubungan apa pun selain dari pertemanan baik ini, Al."
Rendy mulai mengungkapkan permintaan maaf dan penyesalannya yang telah membuat Alya menjauh dan menghindar karena kejujuran yang diucapkannya semalam.
Pertemuan mereka pagi tadi di depan lift, terkesan kaku dan kembali berjarak seperti dulu. Sebelumnya Alya bahkan menghindari pertemuan dengannya dan memilih untuk berangkat sendiri ke rumah sakit tanpa menunggu dirinya menjemput seperti biasa.
"Aku tidak akan mengganggu waktumu dengan Dokter Ardi, tapi tolong maafkan aku dan ijinkan aku untuk tetap bisa menemanimu seperti sebelumnya."
Rendy menghentikan mobil di persimpangan lantaran lampu lalu-lintas menyala merah.
"Aku mohon, Al. Jangan menghindariku lagi seperti pagi tadi."
Alya terlihat menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan guna menghalau sesak yang masih menguasai hatinya.
__ADS_1
Perasaannya bercabang, di satu sisi dia mendengarkan permintaan Rendy dan di sisi yang lain dia masih terus memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya bersama Ardi.
"Aku tidak ingin memberimu harapan yang tidak bisa aku wujudkan. Aku akan semakin merasa bersalah jika aku sampai melakukannya."
Masih berhenti sambil menunggu lampu hijau menyala, Rendy menatap Alya dan mencoba meyakinkan wanita anggun di sampingnya.
"Bisakah aku memohon padamu sekali lagi, Al? Aku sudah terbiasa bersamamu dan aku bahagia karenanya. Jika kamu berubah, aku takut kehilangan rasa bahagia itu ...."
Alya memperhatikan lampu hijau yang sudah menyala terang dalam gelapnya lalu-lintas dan Rendy pun segera kembali melihat ke arah depan dan melajukan mobilnya.
"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun padamu, Ren. Dan semua ucapanmu kemarin malam sudah menyadarkan aku bahwa selama ini aku telah membuat kesalahan dengan memberimu celah yang tidak mungkin bisa membesar apalagi terbuka."
Tak berapa lama kemudian, mobil Rendy sudah terparkir di halaman rumah kontrakan Alya yang memang berjarak tak jauh dari rumah sakit.
Membuka kaca di kedua sisi lalu mematikan mesinnya, Rendy sepertinya masih ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang belum selesai.
"Apakah ini karena dia, sehingga kamu ingin melakukannya, menjauh dan menghindariku lagi seperti dulu?" tanya Rendy kepalang tanggung dengan praduga yang ada di dalam pikirannya.
Seketika Alya menggeleng dengan cepat. Dia tahu lelaki itu pasti akan salah paham dengan sikapnya.
"Tapi sikapmu padaku berubah setelah dia datang ke kota ini, Al." Rendy masih mencoba mencari pembenaran atas dugaannya.
"Aku ingin memperbaiki sikapku terhadapmu karena pengakuanmu kemarin malam, Ren. Bukan karena kedatangannya atau karena alasan yang lainnya." Alya menegaskan dan meluruskan dugaan Rendy yang mulai salah sasaran.
"Aku tidak mau terus-menerus memberimu kesempatan yang sebenarnya tidak pernah ada. Bukan hanya untukmu, tapi untuk yang lainnya juga," lanjut Alya dengan penjelasannya.
Sepasang mata indahnya mulai berair. Dia tidak ingin menyakiti hati siapa pun, tapi dia harus melakukannya, agar tidak semakin melukai perasaan lelaki sebaik Rendy.
"Kecuali dia, bukan? Kesempatan itu akan selalu ada untuk dia dan hanya akan kamu berikan untuknya. Benar seperti itu 'kan, Al?" sahut Rendy dengan nada suara meninggi.
Dokter tulang bersahaja itu lepas kendali karena takut terabaikan. Perasaannya kini mendominasi, ingin selalu diperhatikan dan menjadi prioritas, meskipun sebelumnya dia sudah tahu pasti bagaimana kondisi hubungannya dengan Alya.
Alya terdiam dengan wajah yang sudah basah oleh tangisan. Kepalanya menunduk dengan perasaan yang semakin bersalah kepada lelaki di sampingnya.
"Kamu sendiri sudah tahu, aku justru tidak ingin dia mengetahui yang sebenarnya tentang diriku, Ren. Aku tidak mau hal itu terjadi."
__ADS_1
Rendy tidak habis pikir dengan keputusan Alya yang pernah diceritakan kepadanya tersebut.
"Mengapa, Al? Mengapa kamu melakukannya? Menutup hati untukku dan orang lain, tetapi kamu sendiri tidak ingin membuka hati untuk lelaki yang selama ini kamu cintai dalam sepi hatimu."
Alya mulai membersihkan air mata di wajah sendunya. Tiba-tiba bayangan Aura, bayi mungil putri Ardi berkelebat di dalam pikirannya, membuatnya semakin yakin dengan keputusannya saat ini.
"Biarlah semuanya tetap seperti selama ini saja di antara kami, karena kisah kami pun hanyalah sebatas masa lalu." Alya tersenyum meskipun ada seiris perih terasa di hatinya.
Namun mengingat senyuman Aura dan membayangkan tawa cerianya sebelum sakit, wanita itu melupakan perih yang dirasakannya dan memilih untuk mengutamakan dua orang yang sangat disayangi dan dicintainya.
"Boleh aku tahu apa alasan terbesarmu melakukan semua ini, Al?"
Di balik kekagumannya akan pilihan sikap yang diambil oleh Alya, Rendy masih tak habis pikir mengapa wanita lembut itu selalu memilih untuk berkorban perasaan demi orang lain.
"Ada yang lebih utama yang harus dia pikirkan saat ini, daripada sekedar memikirkan masa lalu sepertiku." Alya terus tersenyum membayangkan bayi cantik kesayangannya.
"Aura, putri kecilnya. Bayi mungil itu yang harus selalu menjadi prioritas utamanya sekarang. Dan aku tidak mau membuat perhatiannya terbelah dari sang putri, apalagi hatinya." Dengan mantap Alya berkata tanpa ada sedikit pun keraguan yang singgah di dalam hatinya.
"Biarlah dia terus berbahagia bersama putri kesayangannya. Melihat mereka bahagia, itu pun sudah cukup menjadi kebahagiaan terbaikku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1