
Dengan senyuman yang terus merekah menghiasi wajahnya, Rendy kembali melajukan mobilnya menuju klinik di mana Alya akan melanjutkan pekerjaannya setelah bertugas di rumah sakit.
Tak lama kemudian mobil Rendy telah sampai dan berhenti di samping teras klinik.
Rendy keluar dari mobil dan segera menyiapkan kursi roda Alya. Dibukanya pintu untuk wanita yang dicintainya itu, lalu mendekatkan kursi roda yang telah siap dan mepersilakan Alya keluar dengan hati-hati.
"Aku akan mengantarmu." Ucapan Rendy menghentikan tangan Alya yang hendak mengatur pergerakan kursi rodanya dengan beberapa tombol yang ada di sebelah kanan.
Tak bisa menolaknya lagi sebab Rendy telah mulai mendorong kursi rodanya masuk ke dalam klinik, Alya pun diam membiarkan Rendy mengantarnya.
"Di mana ruanganmu, Al?" tanya lelaki itu setelah memasuki pintu utama.
Beberapa perawat dan karyawan lain menyapa Alya dan dibalas Alya dengan sangat ramah. Tak ingin menjadi pusat perhatian lebih lama, Alya segera memandu Rendy untuk menuju ke arah di mana ruangannya berada.
Alay membawa Rendy ke ruang pribadi yang berada di belakang ruang pemeriksaannya. Tanpa diminta, Rendy membuka lebar pintu ruangan agar Alya merasa lebih tenang dan nyaman.
Alya mempersilakan Rendy duduk di sofa kecil yang ada di bagian depan dan pamit sebentar untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan melalui pintu penghubung.
Rendy memperhatikan suasana ruangan tersebut. Kecil namun tertata rapi hanya dengan tiga ruang yang tersedia. Yaitu kamar tidur, kamar mandi dan kamar depan yang ditempatinya saat ini.
Tak lama kemudian Alya kembali. Tampak wajahnya gugup seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun Rendy yang melihatnya beranggapan lain, mengira wanita itu merasa tidak nyaman dengan keberadaannya di sana.
Lelaki itu segera berdiri untuk pamit pulang agar Alya merasa lebih tenang.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Al. Aku tidak ingin mengganggu jeda waktu istirahatmu."
"Tapi, Ren ...." Alya merasa ada yang salah dari sikap dokter tulang itu.
"Jangan lupa makan siang dan minum obatmu."
Dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya, Rendy berbalik ke arah pintu tanpa menunggu jawaban wanita yang telah membuatnya jatuh hati tersebut.
"Temani aku makan siang di sini."
Satu kalimat yang keluar dari bibir Alya nyatanya mampu menghentikan langkah kaki Rendy seketika. Dengan raut wajah tak percaya dia menoleh dan menatap Alya.
"Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah bersedia mengantarkan aku sampai kemari." Alya menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang telah bersemburat merah.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar kali ini?" Masih merasa tak percaya, Rendy memastikan lagi pada wanita di hadapannya.
Alya menggelengkan kepalanya. "Aku sudah memesan makan siang untuk kita dari kantin, jadi jangan menolaknya."
Wajah bahagia Rendy tak bisa lagi disembunyikannya. Lelaki itu terus menatap Alya dengan pandangan tak percaya.
"Terima kasih, Al." Lelaki itu kembali duduk di tempatnya semula.
Beberapa saat kemudian, dua orang karyawan kantin datang mengantarkan makan siang pesanan Alya yang cukup lengkap. Setelah menyajikannya di atas meja, keduanya segera keluar lagi.
"Maaf jika menunya tidak sesuai dengan keinginanmu. Aku hanya mengingat apa yang biasa kamu pesan saat dulu kita makan siang bersama teman-teman di kantin rumah sakit."
Dengan sayur dan lauk sederhana khas masakan rumahan, Alya mempersilakan Rendy menikmati hidangan yang tersedia.
"Aku yang merasa tersanjung sekarang, Al. Ternyata kamu masih ingat dengan kebiasaanku dulu. Terima kasih."
Dulu, sebelum Rendy mengungkapkan isi hatinya pada Alya yang berakhir dengan dua kali penolakan, kebersamaan mereka lebih sering tercipta setiap hari, walaupun hanya sebatas di lingkungan mereka bertugas..
Bersama sesama rekan seprofesi lainnya, mereka sering makan siang bersama di kantin dalam suasana yang jauh lebih hangat dari saat sekarang.
"Hari ini benar-benar penuh kejutan untukku, Al. Setelah bisa mengantarmu sampai kemari, sekarang aku bisa menikmati makan siang bersamamu lagi seperti dulu. Aku sangat bahagia karenanya, Al."
Suasana hening tercipta selama makan siang berlangsung. Ada rasa canggung dan gugup di antara mereka yang masih larut dalam perasaan masing-masing.
"Entah apakah yang aku putuskan ini benar atau salah, tapi aku merasa perlu melakukannya agar tidak terus-menerus menyakiti hatimu dengan semua ucapan dan sikap penolakanku kepadamu, Ren."
Alya mengambil obat dari dalam tas dan meminumnya segera setelah makan siangnya selesai. Rendy yang memperhatikan hanya bisa tersenyum lega dan masih terus diliputi kebahagiaan luar biasa.
Mengakhiri makan siangnya dengan meneguk habis segelas air putih yang tersedia, Rendy mengucapkan syukur dalam hati.
Tiba-tiba entah apa sebabnya, dua pasang mata mereka telah saling beradu pandang dan memunculkan sesuatu yang entah apa namanya di dalam hati keduanya.
Sesuatu yang membuat hati Alya berdebar tak menentu, dan mulai dilanda kegugupan yang lebih besar dari sebelumnya. Buru-buru diturunkan pandangannya begitu menyadari kelalaiannya.
"Aku tidak ingin kehilangan momen kebersamaan seperti ini lagi, Al." Di luar kendali dirinya sendiri, Rendy mengungkapkan isi hatinya saat ini tanpa bisa dicegahnya lagi.
Sorot matanya meredup, menandakan keseriusan ucapannya saat ini.
__ADS_1
"Al, bolehkah aku meminta satu kali saja kesempatan darimu?"
Alya terus menunduk dan menjaga pandangannya, juga menyembunyikan wajahnya yang semakin tampak tegang.
"Tak masalah bagiku jika pada akhirnya nanti semua akan tetap sama seperti selama ini." Rendy kepalang tanggung, tak lagi ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Alya memejamkan matanya begitu mendengar permintaan Rendy yang sangat tiba-tiba itu. Mendadak dan mengejutkan, membuat Alya belum bisa mengambil sikap apa pun saat ini.
"Aku hanya ingin lebih dekat denganmu, Al. Setidaknya beri aku kesempatan untuk bisa menjaga dan melindungi dirimu lebih dari sebelumnya."
Rendy mengeluarkan semua isi hatinya kepada wanita yang semakin dicintainya tersebut.
Tapi kali ini, bukan untuk mengulangi permintaannya yang dulu sudah dua kali ditolak oleh Alya, melainkan hanya meminta ijin untuk menjadi seseorang yang selalu ada untuk wanita itu.
Dia ingin lebih dekat dengan Alya sebagai seorang sahabat, sebagai tempat berbagi cerita, sebagai tempat menumpahkan segala rasa di hatinya.
"Yang aku inginkan sekarang hanya membuatmu bahagia, Al. Sungguh aku tidak mengharapkan apa pun lagi dari kebersamaan kita kali ini, jika engkau memberiku kesempatan untuk melakukannya."
"Seandainya jika suatu saat nanti kamu bisa membuka hatimu untukku, aku akan mensyukuri itu sebagai sebuah kepercayaan yang akan aku jaga sebaik-baiknya dengan terus memberimu kebahagiaan."
"Demikian pula sebaliknya, jika pada suatu hari nanti kamu telah mememukan sosok terbaik yang akan kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu, maka dengan ikhlas dan bahagia aku akan melepaskanmu bersama lelaki beruntung itu."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1