CINTA NARA

CINTA NARA
2.116. KALIMAT TERAKHIR


__ADS_3

Setelah saling menyapa dan melepas rindu, Bunga meminta ijin kepada suaminya untuk berbicara berdua saja dengan Alya.


Ardi mengangguk dan memberinya ijin seraya menitipkan sang istri dalam pengawasan Alya selama mereka berdua nanti.


Setelah itu dokter kandungan yang tengah dilanda kekalutan itu mengajak Rendy untuk keluar dari ruangan bersama dengannya.


"Dokter Alya, bolehkan saya menanyakan satu hal lebih dulu sebelum nanti saya akan membicarakan sesuatu yang lebih serius?"


Alya mengangguk dan segera mengambil posisi duduk di tepi pembaringan, menghadap ke arah Bunga yang duduk bersandar dan menyamankan dirinya yang terlihat menahan kesakitan.


"Dokter yang datang bersama Anda tadi ..., siapa namanya?" tanya Bunga dengan sangat hati-hati tanpa ingin menganggu atau mencampuri masalah pribadi Alya.


"Dokter Rendy," jawab Alya dengan singkat.


"Apakah Anda dan Dokter Rendy mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa atau rekan seprofesi?"


Pertanyaan Bunga membuat Alya sangat terkejut dan gugup. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya karena merasa serba salah.


"Bukankah setahu mereka aku masih menikah dan bersuami? Lalu mengapa Bunga menanyakan tentang kedekatanku dengan Rendy? Atau jangan-jangan ...?"


Bunga meraih tangan Alya dan menggenggamnya dengan lemah, membuat Alya segera membalasnya dengan lebih erat.


"Saya sudah mengetahui kebenarannya, Dok. Saya tahu jika sebenarnya pernikahan Anda sudah berakhir lama."


"Dari mana Bunga tahu tentang semuanya? Apakah dia marah padaku? Apakah dia mengira aku akan mendekati Ardi lagi? Padahal selama ini aku sudah berusaha untuk menjauh dan menjaga jarak dengan suaminya ...."


Bunga mencoba untuk tetap tersenyum dan menenangkan Alya yang terlihat semakin gusar.


"Jangan khawatir, Dok. Hanya saya yang mengetahuinya, tidak ada orang lain lagi, termasuk Mas Ardi."


Alya menggenggam tangan Bunga dengan kedua tangannya.


"Tolong, jangan beri tahu Ardi tentang semua ini. Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian. Biarkan tetap seperti ini saja karena aku merasa lebih tenang dan nyaman."


Bunga mengangguk dan mengiyakan permintaan Alya.


"Jadi, apakah Anda dan Dokter Rendy ...?"


Alya memotong pertanyaan Bunga dan menggeleng dengan tegas.


"Tidak. Selama ini kami hanya berteman baik saja, tidak lebih."

__ADS_1


Dalam hati Bunga merasa lega dengan jawaban Alya. Dia merasa bisa melanjutkan keinginannya akan sesuatu hal yang ingin disampaikannya sekarang.


"Syukurlah kalau Dokter Alya masih tetap sendiri, karena saya ingin meminta sesuatu pada Anda."


Alya sudah berpikiran yang tidak-tidak. Dia masih mengira Bunga akan memintanya menjauhi Ardi dan keluarga bahagia mereka.


"Tidak perlu dia katakan pun, sudah pasti aku akan selalu menjaga jarak dari Ardi. Mereka sudah bersama dan hidup bahagia, sudah barang tentu aku turut bahagia melihatnya."


Bunga terdiam dan memejamkan mata. Alya yang terus memperhatikannya mulai menyadari bahwa wanita itu tengah menahan rasa sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya.


Dia terus memegangi perutnya dan mengerang tanpa suara. Alya mulai panik dan dengan cepat berdiri untuk menekan tombol darurat di atas pembaringan.


Namun tangan lemah Bunga lebih cepat bergerak dan meraih tangannya lalu menahannya agar tidak melakukan apa pun.


"Saya tidak apa-apa, Dok. Ini sudah biasa saya rasakan ... dan memang seperti inilah prosesnya. Tolong tetaplah di sini bersama saya dan dengarkan saja apa yang ingin saya sampaikan pada Anda ...."


Alya menggeleng dengan cepat dan tegas. Dia sadar profesi dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter. Sedetik pun dia tidak akan pernah berani membiarkan kondisi pasiennya tanpa melakukan pertolongan apa-apa.


Terlebih lagi dia teringat dan terus terngiang pesan Ardi untuk menjaga istrinya.


Tanpa menunggu lagi Alya segera menekan tombol darurat berkali-kali lalu kembali berdiri di samping Bunga yang semakin pucat dan penuh keringat.


"Dok-Dokter ... tolong dengar-kan ... dengarkan saya ... sebentar sa-ja ...!!"


"To-Tolong ... jaga Mas Ardi ...."


"Itu adalah ... ada-lah ...permintaan terakhir saya ...!!"


Alya terus mendengarkan dengan panik dan tanpa konsentrasi yang penuh. Yang diutamakannya adalah kondisi Bunga yang semakin menurun, dilihatnya dari monitor pemantau yang ada di samping pembaringan.


Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat masuk diikuti Ardi dan Rendy.


"Sayang! Tenanglah, Sayang. Kamu pasti akan baik-baik saja. Ada aku di sini bersamamu."


Ardi terus mendampingi istrinya dan menciuminya dengan sayang tanpa henti. Tangan mereka terus bergenggaman erat hingga Ardi pun terlihat semakin putus asa melihat kesakitan yang istrinya rasakan.


Dari ujung tempat tidur, Alya menyaksikan semuanya dengan penuh isak tangis yang tak bisa dibendungnya lagi. Dibiarkannya air mata yang terus mengalir di wajahnya, hingga jatuh membasahi kain pasmina yang menutupi bagian depan tubuhnya.


Rendy yang berdiri di samping Alya merasa serba salah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa terus memandangi dan menenangkan wanita itu dengan sedikit kata-kata yang entah didengar atau tidak oleh Alya yang terus memaku tatapannya pada Bunga yang kondisinya sangat kritis.


"Jika kamu merasa tidak kuat, sebaiknya kita keluar dari sini saja, Al." Rendy berbicara lirih di samping Alya. Tetapi wanita itu menggeleng tanpa menoleh ke arahnya sama sekali.

__ADS_1


"Bunga memintaku untuk tetap di sini dan aku akan tetap di sini seperti keinginannya."


Akhirnya Rendy mengalah, tetap berdiri di samping Alya tanpa bisa melakukan apa pun.


Setelah dokter memberikan suntikan penenang dan pereda rasa sakit, Bunga terlihat mulai tenang dan tidak banyak bergerak. Efek dari obat yang diberikan dokter mulai bereaksi di dalam tubuhnya.


Di saat setengah kesadarannya mulai menghilang, mata redup nan sayu Bunga menatap ke arab Alya yang masih berdiri di tempat yang sama.


"Dokter ... Alya ...," lirih panggilan dr bibir pucatnya membawa langkah Alya mendekat ke sisi pembaringan yang baru saja ditinggalkan oleh dokter dan perawat.


"Aku di sini. Aku masih di sini."


Dengan cepat dibersihkan wajahnya dari air mata yang membasahi, lalu menggenggam erat tangan kiri Bunga yang terpasangi aliran infus.


"Mas ...."


Tatapan mata Bunga beralih ke arah suaminya yang berdiri di sisi kanan, berhadapan dengan Alya di seberangnya. Tangan Ardi yang sedari tadi digenggam oleh Bunga ditariknya bersamaan dengan tangan Alya yang juga erat digenggamnya.


Alya menyadari apa yang akan dilakukan oleh Bunga. Dia ingin menolak dan berusaha menarik tangannya, akan tetapi Bunga menggenggamnya sangat erat sama seperti yang dilakukannya pada tangan Ardi.


Bunga menyatukan kedua genggaman tangannya di atas dada, sehingga tangan Alya dan tangan Ardi pun ikut tertarik dan saling berdekatan. Tidak menyatu dan tidak saling bersentuhan, namun saling terikat dalam genggaman tangan Bunga.


"Aku tidak akan meminta apa pun lagi dari kalian, kecuali satu hal ini ...."


Mata sayu Bunga mulai menutup perlahan dengan kesadaran yang masih ditahannya untuk menyelesaikan kalimat yang terakhir.


"Selepas kepergianku nanti, satukan kembali cinta suci kalian dan berbahagialah selamanya ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2