
Satu bulan pernikahan, pasangan baru Indra dan Rizka sudah kembali beraktivitas seperti kegiatan mereka sebelum berumah tangga.
Indra kembali disibukkan dengan tugas kantor yang terus mengalir tiada henti, sementara Rizka mulai berkutat dengan tugas perkuliahan yang setiap hari harus diselesaikannya.
Kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bisa menikmati waktu berduaan dengan tenang dan tanpa gangguan ini dan itu.
"Sayang, apakah hari ini masih ada kelas tambahan?" tanya Indra di sela persiapan pagi mereka untuk berangkat bersama.
"Hari ini sudah tidak ada, Kak. Kemarin adalah hari terakhir kelas tambahan untuk pengumpulan tugas semester ini."
Indra memeluk tubuh istrinya dari belakang, posisi yang paling disukainya karena bisa merengkuh tubuh Rizka yang terbilang kecil mungil.
"Nanti sore aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Kamu mau, humm ...?" Diciumnya pipi merona istrinya dengan gemas.
Malu-malu Rizka mengangguk dan menoleh ke arah wajah suaminya yang masih menempel di samping wajahnya sendiri, sehingga gerakannya tersebut justru membuat bibirnya langsung menyentuh pipi lelaki itu.
Cuppp!!!
Satu ciuman dari Rizka terjadi begitu saja membuat Indra tersenyum senang karenanya. Dia menarik kepalanya ke samping dan menoleh untuk memperhatikan sikap istrinya yang terlihat menahan rasa malu.
"Lagi, boleh?" Lelaki itu merajuk, meminta hal yang sama dari istrinya. Kedua tangannya merengkuh tubuh Rizka kian erat. Lalu dirapatkannya kembali wajah mereka seperti semula.
Rizka menahan nafasnya susah-payah saat mendengar permintaan suaminya. Dia mengingat jam kuliah paginya dan tidak ingin terlambat mengikutinya.
Akhirnya demi segera berangkat dan tidak terlambat masuk kuliah, dia melakukan saja apa yang diminta oleh suaminya.
Tanpa dia sangka, ketika wajahnya mulai berputar ke samping, Indra pun sengaja melakukan hal yang sama sehingga yang terjadi kemudian adalah pertemuan kedua bibir mereka yang sama-sama saling menyentuh dan memunculkan desiran halus di dalam hatinya.
Tak ingin membuang waktu, dengan segera Indra melanjutkan ciumannya lebih dalam sehingga Rizka pun akhirnya mengikuti gerakannya begitu saja. Mereka pun larut dan saling menikmati ciuman hangat nan basah tersebut.
Beberapa menit kemudian keduanya melepaskan ciuman itu dan saling melempar senyuman.
"Terima kasih, Sayang." Indra mengelus kepala istrinya dan memberikan satu ciuman sayang di atasnya.
"Sama-sama, Kak." Rizka buru-buru merapikan tasnya untuk menghindari tatapan suaminya yang masih saja membuatnya gugup dan salah tingkah.
Setelah keduanya rapi dan siap, Indra mengandeng tangan istrinya keluar dari kamar dan pamit kepada Ibu dan Bapak untuk segera berangkat.
.
.
.
__ADS_1
Sore harinya, sepulangnya dari kantor Indra dan Rizka bersiap untuk pergi sebagaimana ajakan lelaki itu pagi tadi.
Setelah semuanya siap, Indra segera melajukan mobilnya ke suatu tempat yang sudah dipesannya setelah Rizka mengiyakan ajakannya.
Sepanjang perjalanan Rizka hanya diam dan terus menatap jalanan yang mereka lalui. Dia mulai menerka-nerka maksud suaminya mengajak pergi berdua, tapi tidak berani ditanyakannya langsung kepada lelaki yang masih fokus dengan kemudinya.
Satu jam perjalanan terlalui, akhirnya mereka sampai di sebuah lokasi wisata tepi pantai yang dipenuhi dengan beberapa villa kecil yang berjajar di sepanjang tepi pantai.
Indra memarkir mobilnya di halaman salah satu villa dan disambut oleh seorang pengelola untuk menyerahkan kunci villa.
Setelah berbincang sejenak, sang pengelola itu pun pamit meninggalkan Indra dan Rizka yang segera masuk ke dalam villa.
"Kapan kamu memesannya, Kak?" tanya Rizka sambil membuka jendela besar di kamar utama yang menghadap langsung ke arah pantai.
"Tadi pagi setelah kamu menerima ajakanku pergi, Sayang."
Indra berdiri di samping istrinya dan merengkuh bahunya dengan erat.
"Kamu suka?" Dan Rizka pun mengangguk jujur.
"Aku jarang pergi berlibur, Kak. Aku lebih sering menghabiskan waktu di restoran bersama Mama."
Ini adalah pertama kalinya dia pergi berdua dan menginap bersama Indra yang sudah menjadi suaminya. Sejak menikah, mereka belum sempat pergi berbulan madu.
Diusapinya bahu sang istri dan diciumi kepalanya berkali-kali untuk menguatkan hati wanita muda yang kini sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
Langit senja semakin menggelap tanda sang surya telah masuk ke peraduannya dan akan segera digantikan oleh sinar terang sang rembulan yang mulai menerangi malam nan syahdu di tempat itu.
Indra mengajak istrinya bersuci lalu menunaikan kewajiban mereka secara berjamaah.
Setelah itu mereka menyiapkan makan malam bersama di dapur, dengan semua bahan yang telah disediakan lengkap di dalam kulkas.
Satu jam kemudian, mereka telah duduk bersama di ruang makan, menikmati makan malam hasil masakan berdua.
"Di mana ponselmu, Sayang?"
"Ada di dalam tas. Ada apa, Kak?"
Indra belum menjawabnya, hingga mereka menyelesaikan acara makan malam mereka. Kemudian lelaki itu membopong tubuh istrinya dengan mesra hingga sampai di dalam kamar.
Setelah membaringkan istrinya di atas tempat tidur Indra berjalan menuju meja rias kecil untuk mengambil ponsel istrinya di dalam tas yang diletakkan di sana.
Rizka hanya memperhatikan apa saja yang dilakukan suaminya dari tempatnya dengan hati yang mulai berdebar tak menentu.
__ADS_1
Indra mematikan daya ponsel milìk Rizka, kemudian melakukan hal yang sama pada ponselnya sendiri. Lalu diletakkannya kedua ponsel mati itu di atas meja.
Lelaki itu kembali dan berbaring di samping istrinya, memeluknya dengan tubuh berhadapan tanpa jarak. Jantung keduanya mulai berdegup kencang tak lagi terkendali.
"Aku tidak ingin ada yang mengganggu kita. Aku ingin kita melakukannya malam ini, Sayang."
Seketika wajah Rizka menghangat mendengar ucapan suaminya. Membayangkan apa yang akan terjadi di antara mereka malam ini, membuat tubuhnya menegang dan kembali gugup seperti biasanya.
Mereka memang belum pernah melakukannya. Sejak kejadian sore itu, saat mereka sudah hampir melakukannya namun terpaksa berhenti karena Rizka yang baru saja datang bulan, sejak saat itu pula Indra terus menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya.
Setelah Rizka kembali bersih pun, mereka harus terus menahan diri karena telah disibukkan dengan rutinitas harian masing-masing yang kadang berselisih waktu, sehingga tidak pernah mempunyai cukup waktu untuk berkasih berdua.
"Kamu mau kan, kita melakukannya malam ini? Humm ...?"
Indra menyentuh dagu Rizka dan mengangkatnya pelan denga dua jarinya, agar wajah cantik istrinya menatap lagi ke arahnya.
"Aku tak ingin menundanya lagi, karena kamu pun sudah pernah menyatakan kesiapan dan kesediaanmu. Jadi, mari kita lakukan malam ini di sini. Hanya kita berdua, aku dan kamu."
Akhirnya, Rizka kembali menganggukkan kepala, mengulangj kesiapan dan kesediaannya untuk saat ini, untuk malam ini.
"Aku mau, Kak."
Suara Rizka bergetar dengan bibir yang sedikit terbuka, mengundang hasrat Indra untuk segera menyentuhnya dan menguasainya tanpa jeda.
Rizka yang sudah pasrah dan menyerah, larut dalam gairah yang sama. Mereka mulai menikmati semuanya tanpa kecuali dan tanpa ingin mengakhiri.
Berdua mereka menyatukan raga yang telah saling menginginkan. Melepaskan seluruh penghalang demi terciptanya penyatuan yang terindah dan penuh cinta.
Berpacu bersama saling memberi dan menerima setiap gerakan cinta yang mereka lakukan dengan sepenuh perasaan, seiring seirama hingga menciptakan gelenyar nikmat yang menimbulkan hasrat untuk melakukannya, lagi dan lagi.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.