CINTA NARA

CINTA NARA
2.111. BERSABAR SEDIKIT LAGI


__ADS_3

"Mas, sudah dulu untuk hari ini. Kamu masih harus banyak beristirahat. Jangan memaksakan dirimu."


Malam harinya, Nara menemani Yoga yang bersikeras ingin melakukan latihan lagi agar kakinya bisa sembuh lebih cepat dan bergerak dengan normal kembali. Lelaki itu ingin secepatnya pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya.


Nara memutuskan menginap di rumah sakit untuk menemani Yoga. Selagi masih ada keluarganya yang berkunjung dan bisa ikut menjaga Raga, Bapak dan Ibu menyarankan supaya dia menemani suaminya saja.


Yoga akhirnya mengikuti permintaan istri tercintanya. Perlahan dia berjalan ke arah pembaringan seorang diri. Dia merasa puas setelah bisa mencapai tujuannya.


"Kamu sudah bisa, Mas. Hanya tinggal membiasakannya saja agar semakin lancar."


Yoga menaikkan tubuhnya ke atas pembaringan. Nara dengan cekatan membantu menaikkan kedua kakinya bergantian. Setelah itu, dia membentangkan selimut di atasnya hingga menutupi bagian pinggang lelaki itu.


"Ayo, Sayang. Naiklah ke atas dan tidurlah di sini bersamaku."


Yoga mulai merajuk, meminta untuk ditemani tidur bersama Nara di atas pembaringan, yang sudah pasti ditolak oleh istrinya.


"Mas, kita masih berada di rumah sakit dan ini adalah pembaringan untuk pasien, bukan untuk tidur berdua."


Nara mencoba memberi pengertian pada suaminya yang terlihat murung dan masih merajuk manja.


"Aku akan menemanimu di sini, di sampingmu. Aku tidak akan pergi ke mana pun."


Nara menarik kursi yang biasa dipakainya untuk menemani sang suami setiap kali dia datang mengunjungi. Kemudian diciumnya tangan Yoga yang masih menggenggamnya dengan erat.


"Tidurlah, Mas. Malam sudah semakin larut."


Yoga masih bertahan duduk dan enggan untuk membaringkan tubuhnya. Dia masih ingin menghabiskan waktu dan menikmati malam ini bersama istrinya, selagi tidak ada orang lain yang menganggu mereka berdua.


"Bantu aku turun, Sayang. Aku ingin duduk bersamamu di sofa saja."


"Mas, kamu harus beristirahat dengan baik. Jangan membantah perintah dokter."


Yoga tidak menggubris peringatan istrinya. Dia mulai menurunkan kakinya hingga menjuntai dan menyentuh lantai, lalu berdiri dengan tegak di sisi pembaringan.


Mau tak mau Nara membantu suaminya yang keras kepala itu berjalan pelan ke arah sofa. Dia mengalah daripada harus berdebat dengan Yoga yang sudah menunjukkan sikap tegasnya.


Sebelum sampai di sofa Yoga menghentikan langkahnya diikuti Nara. Lelaki itu kemudian berdiri menghadap ke arah sang istri yang sudah menatapnya dengan pandangan penuh pertanyaan.


"Ada apa, Mas? Kakimu sakit?"


Yoga mengeleng dengan senyuman terukir di bibirnya. Tanpa memberikan jawaban, kedua tangannya bergerak pelan namun pasti memeluk pinggang ramping Nara yang mulai terlihat gugup dan tegang.

__ADS_1


"Mas ...?!"


Tubuh Nara tertarik pelan hingga merapat dengan tubuh suaminya, membuat tangannya pun refleks terangkat dan mengalung di leher Yoga.


Posisi intim yang sudah lama tidak mereka lakukan dan saat ini mereka ulangi lagi dalam suasana malam penuh simpanan kerinduan yang belum tertuntaskan.


"Aku masih sangat merindukanmu, Sayang."


Suara Yoga lirih dan terdengar berat, mewakili perasaannya yang sudah dipenuhi gelora, berharap bisa segera memupus kerinduan yang telah sekian lama terpendam di dalam hati.


"Aku ingin ...." Nara memotong ucapan suaminya dengan menempelkan jari telunjuknya di tengah bibir Yoga.


"Sebentar lagi kamu akan pulang, Mas. Di rumah nanti kamu bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan. Tapi untuk sekarang tahanlah dulu, kita masih berada di rumah sakit dan kamu masih dalam masa pemulihan."


Nara menutup ucapannya dengan melabuhkan satu ciuman lembut di pipi Yoga.


"Bersabarlah sedikit lagi ...."


Nara menambahkan satu ciuman di pipi lain yang belum tersentuh oleh bibirnya, hingga akhirnya Yoga tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Aku merindukan semua yang ada pada dirimu, Sayang. Semuanya ...."


Akhirnya sepasang suami-istri itu duduk bersama dan berpelukan erat, dengan selimut yang menutupi sebagian tubuh mereka.


Oleh Nara, kedua kaki Yoga diluruskan di atas meja di depan sofa, sementara kedua kakinya sendiri dilipat hangat di atas sofa.


Posisi mereka begitu intim, saling memeluk dan merapatkan tubuh tanpa ada lagi sekat yang menghalangi kehangatan yang tercipta di antara dua insan yang saling menyimpan kerinduan yang sangat dalam tersebut.


"Sayang, apakah setiap malam kamu selalu merindukan aku?" tanya Yoga yang sudah sibuk menciumi kepala istrinya berulang kali tanpa henti.


"Tidak perlu kamu tanyakan itu lagi, Mas. Sudah pasti aku sangat merindukan dirimu ada bersamaku. Aku selalu mengajak Raga tidur bersamaku agar aku tidak merasa sendiri dan kesepian."


Nara pun mulai melepaskan kerinduannya dengan bermanja di atas tubuh suaminya. Kedua tangannya erat melingkari bagian pinggang Yoga, dengan kepala yang semakin nyaman rebah di atas dada bidang lelaki itu.


"Maafkan aku, Sayang. Maaf jika aku sudah membuatmu menunggu begitu lama dan harus melalui semuanya seorang diri. Tolong maafkan aku ...."


Ada rasa bersalah yang begitu besar menekan hati lelaki itu. Bagaimana bisa dia membiarkan wanita kesayangannya berjuang sendiri untuk melakukan banyak hal dan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggungawab utamanya.


Namun karena keadaan, Nara harus mengambil alih semua dan menggantikan posisinya untuk memimpin perusahaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukn oleh sang istri.


Dengan kondisinya yang sedang mengandung buah cinta mereka yang kedua, Nara harus membagi waktunya antara tanggung jawab pekerjaan dan tugas utamanya sebaga istri dan seorang ibu.

__ADS_1


Setiap hari dia selalu mengunjungi dan menemani Yoga di rumah sakit sementara di rumah dia masih harus mengasuh Raga seperti biasanya.


"Kamu wanita yang sangat luar biasa, Sayang. Aku sangat bangga kepadamu."


Nara tersenyum bahagia mendengar ucapan Yoga.


"Itu yang sangat ingin aku dengar darimu, Mas. Jujur saja selama ini aku takut jika apa yang aku lakukan ternyata salah dan merugikan dirimu, mengecewakanmu dan membuat namamu menjadi buruk karenanya."


Yoga menggeleng meskipun tak terlihat oleh Nara yang masih bermanja di dalam pelukannya. Dia merebahkan kepalanya di atas kepala sang istri, lalu memejamkan mata dengan penuh rasa haru.


"Apa pun yang kamu lakukan, kamu sudah melakukan yang terbaik, Sayang. Aku sangat berterima kasih padamu."


"Kamu yang terbaik, Sayang. Selalu menjadi yang terbaik bagiku."


Memberi jarak di antara wajah mereka yang sudah saling


berhadapan, Yoga mengunci tatapan mereka satu sama lain. Tak ada suara, hanya dua pasang mata yang saling bicara melalui pendar cahaya yang saling menyorot lembut penuh kasih.


Tak ada yang lain kecuali cinta di antara mereka. Cinta yang telah terpatri kuat di dalam sanubari, terwujud melalui gerak tubuh yang saling merindu, dan terasa di setiap kali pancaran sinar di kedalaman netra-netra bening nan lembut itu bertemu dan saling menyapa tanpa kata.


Cinta yang bagi keduanya merupakan cinta sempurna tiada tandingannya. Cinta yang telah melewati banyak liku-liku dalam perjalanannya.


Dari kemarahan hingga penolakan. Dari kenyamanan hingga takut kehilangan. Berawal dari kebencian hingga akhirnya menjadi cinta selamanya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_1


__ADS_2