CINTA NARA

CINTA NARA
2.104. LAPANG HATI


__ADS_3

Satu bulan berlalu, kondisi Nara sudah membaik dan bisa menerima dan menjalani semuanya dengan lapang hati.


Tak banyak yang berubah. Hanya saja kesibukannya semakin bertambah karena harus mengambil alih pekerjaan Yoga di kantor.


"Raga, hari ini di rumah dulu ya, Nak. Ibu ada pertemuan di luar kantor."


Bocah berusia dua setengah tahun yang sangat penurut itu hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum yang serupa dengan senyuman ayahnya, yang selalu membuat Nara tenang dan lebih kuat untuk saat ini.


"Ibu pergi sekarang. Jadilah anak yang baik dan pintar."


Raga mendekati sang ibu yang sudah berdiri setelah menyelesaikan sarapannya. Bocah tampan itu mengambil tangan kanan Nara dan menciumnya, lalu beralih ke perut ibunya yang semakin besar.


Diciumnya ujung perut Nara sambil berbicara dengan bahasanya yang belum sepenuhnya jelas.


"Adek, no nakal, oke! Maga ayang adek ...."


Sejak kandungan Nara menginjak usia tiga bulan, Raga sudah dibiasakan untuk memanggil dirinya Mas. Sehingga dalam bahasa yang dipahaminya, dia menyebut dirinya Maga yang berarti Mas Raga.


Nara tersenyum dan memberikan usapan dan ciuman sayang di kepala putra sulungnya. Setelah menitipkan Raga pada Mbak Indah dan Bibi Asih, wanita hamil itu berangkat ke kantor dengan diantar oleh Pak Budi.


"Pak, tolong antarkan saya ke rumah sakit dulu. Saya ada janji dengan Dokter Alya."


Pak Budi mengiyakan permintaan Nara dan mengambil arah perjalanan menuju ke rumah sakit.


Tak sampai setengah jam kemudian, mobil sudah berhenti di depan pintu utama. Nara turun dan meminta Pak Budi untuk menunggunya.


Wanita dengan usia kehamilan enam bulan itu langsung menuju lantai dua menggunakan lift lalu berjalan menyusuri ruang demi ruang hingga sampai di depan ruang pemeriksaan Alya.


Karena sudah menghubungi lebih dulu, Nara langsung mengetuk pintu meskipun waktu pemeriksaan belum dimulai.


Dari dalam Alya membukakan pintu dan mempersilakan Nara masuk.


"Maaf, saya mengganggu lebih awal, Dok." Tak ingin membuang waktu, Nara segera berbaring di atas bilik pemeriksaan disusul oleh Alya yang langsung menyiapkan pemeriksaan.


"Tidak masalah, Ra. Aku memang selalu datang sebelum waktu pemeriksaan. Lagipula, pagi-pagi tadi aku ada jadwal operasi dan baru saja selesai."


Mereka pun mulai terlibat percakapan antara dokter dan pasien, membahas tentang kondisi kehamilan Nara satu bulan terakhir.

__ADS_1


Alya melakukan tugasnya dengan cermat dan terperinci, melakukan tanya-jawab dengan Nara dan memberikan banyak saran juga pesan, hingga setengah jam lamanya.


"Syukurlah, semuanya berkembang dengan semestinya. Bayi kamu sangat kuat seperti ibunya. Kamu hebat, Ra."


Alya memuji Nara dengan tulus. Dia salut dengan ketegaran hati wanita yang sekarang sudah duduk di hadapannya.


"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Dok. Menjadi ibu yang baik dan bisa menjadi tempat ternyaman bagi anak-anak. Juga menjadi istri yang baik yang selalu bisa mendukung pekerjaan suaminya."


"Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban saya sekarang untuk ikut bertanggung jawab atas kelangsungan dan keberhasilan perusahaan Mas Yoga."


Nara mengulas senyuman lembut di bibirnya. Senyuman yang terlihat tegar di balik kerapuhan hati yang selalu disembunyikannya dari semua orang.


"Saya tidak boleh kalah dan terlihat lemah. Saya harus bisa menguatkan diri saya sendiri, karena saya juga harus bisa menjadi penguat bagi keluarga saya. Jika saya tidak kuat, bagaimana dengan mereka?"


Alya mengangguk dan membenarkan perkataan Nara. Ada sepenggal cerita kehidupannya yang serupa dengan apa yang dialami Nara saat ini.


"Saya banyak belajar dari Dokter. Tentang kehilangan, kesedihan, keterpurukan hingga akhirnya timbul keberanian, kekuatan dan keyakinan untuk kembali bangkit dan berdiri tegak."


Alya menggeleng, tak ingin kisah hidupnya yang penuh luka itu justru menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.


"Jangan menjadikan kisahku sebagai motivasi, Ra. Aku bukan siapa-siapa dan tidak pantas dijadikan apa-apa."


"Kita sama-sama beruntung, Dok. Karena apa pun yang terjadi, kita masih tetap baik-baik saja. Kita masih diberkahi kekuatan untuk menjalani kehidupan ini dengan lebih baik."


"Meskipun kenyataannya tak sebaik yang kita harapkan sebelumnya, tapi apa pun itu, sudah pasti yang terbaik untuk diri kita dan kehidupan kita ke depannya."


.


.


.


Usai memeriksakan kehamilannya, Nara keluar dari ruangan Alya lalu berjalan menuju satu lantai di atasnya. Kali ini dia memilih untuk menaiki tangga dengan hati-hati sembari berolah raga ringan.


Sampai di lantai tiga, dia menuju sebuah ruangan khusus yang terletak di ujung koridor. Setelah sebelumnya memberitahukan kedatangannya di ruang jaga perawat, Nara masuk ke ruangan yang dia tuju itu dengan pelan dan hati-hati.


Setelah meletakkan tas di atas meja, Nara berjalan ke sisi samping untuk membuka lebar tirai yang masih tertutup rapat. Seketika sinar mentari masuk ke dalam ruangan dan menciptakan cahaya terang yang menyapa seisi ruangan dengan sengatan hangatnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Mas."


Nara sudah berdiri di samping pembaringan dan mencium tangan kanan pasien yang masih terlelap dalam tidurnya yang tak berkesudahan.


"Maaf aku datang pagi, karena siang nanti aku ada pertemuan dengan beberapa pihak untuk melanjutkan rencana kerjasama kita dengan mereka."


Sebelum duduk di kursi yang biasa ditempatinya setiap kali berkunjung setiap hari, Nara menurunkan wajahnya dan melabuhkan satu ciuman hangat di kening pasien tersebut.


"Aku mencintaimu, Mas. Cepatlah bangun dan kembali padaku."


Nara memulai ceritanya hari ini dengan menyampaikan hasil pemeriksaan kandungan yang baru saja dia lakukan. Dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan pasien yang tetap terlelap itu, Nara menceritakan semuanya tanpa kecuali.


"Kata Dokter Alya, calon bayi kita tumbuh sehat dan sangat kuat. Tentu saja dia kuat, sangat kuat sepertimu, Mas."


Nara memandangi wajah tampan yang selalu dirindukannya tersebut. Sekalipun terlihat pucat dan tanpa sikap, pesonanya tak pernah berkurang sedikit pun dan selalu memikat hati Nara untuk mengagumi dan memujinya.


"Hari ini adalah hati ke tiga puluh kamu terlelap dalam tidur panjangmu. Kapan kamu akan menyudahinya? Kapan kamu akan membuka matamu dan kembali memandangku dengan tatapan hangat penuh cinta? Aku sudah sangat merindukanmu, Mas. Sangat rindu ...."


Nara menyeka butiran bening di pelupuk mata yang mulai memburamkan pandangannya. Dia terus mengulas senyuman manis dibibirnya meskipun hatinya mulai larut dalam kesedihan seperti biasanya.


"Kamu selalu mengatakan jika kamu tidak suka melihatku menangis. Kamu selalu mengatakan bahwa tangisanku melemahkan dirimu dan membuatmu tak berdaya."


Wanita cantik yang tengah berselimut kesedihan berkepanjangan itu tersenyum dan terus membersihkan wajahnya dari air mata, yang hampir saja mengalir deras andai tak segera dicegahnya sekuat hati.


"Lihat aku sekarang. Aku tidak akan pernah menangis lagi sampai kamu membuka matamu untukku, Mas."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2