
"Bubuu ... atiit ...? Bubuu ... cuuss ...?"
Akhirnya Raga dijemput pulang oleh Yoga, setelah kondisi Nara membaik dan hanya butuh banyak istirahat di rumah untuk pemulihannya.
"Iya, Nak. Kemarin Ibu sakit, tapi sekarang sudah sembuh. Jadi Raga harus mengucapkan apa sama Allah?"
Nara terus memangku buah hatinya di atas tempat tidur sembari menjawab banyak pertanyaan dari bocah ceriwis yang semakin banyak keingintahuannya.
"Amdu ... laahh ...!" Diangkatnya kedua tangannya ke atas lalu ditutupkan ke wajahnya seperti yang selalu diajarkan oleh kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah! Uuumm ..., pintarnya anak Ibu!"
Nara menghadiahi hujan ciuman di seluruh wajah Raga hingga bocah yang sangat aktif itu berteriak kegelian.
Yoga masuk membawa botol susu putranya yang baru saja diisinya dengan penuh. Ayah siaga tersebut sudah mahir dan terbiasa menyiapkan segala kebutuhan Raga, termasuk membuatkan susu untuk sang buah hati.
Bersama dengan istrinya, mereka berdua saling membantu dan saling melengkapi untuk menjaga dan merawat Raga dalam kesehariannya.
"Siapa yang mau minum susu?" Dia pamerkan botol susu yang dibawanya agar sang putra melihat dan meminta kepadanya.
Sepasang mata bening Raga berbinar kegirangan begitu melihat sang ayah membawakan minuman kesukaannya.
"Yayaahh ... Gagaa ... intaa ... cucuu ..."
Masih di atas pangkuan ibunya, bocah menggemaskan itu membuka kedua telapak tangannya dan menyatukannya secara bertumpuk sebagai lambang untuk meminta sesuatu.
Yoga menyusul kedua kesayangannya di atas tempat tidur lalu memberikan botol susu yang dipegangnya kepada Raga yang tampak sudah tidak sabar menunggunya.
"Maa ... aciih ... Yayaahh ...." Setelah menerima botol susunya, Raga mengucapkan terima kepada sang ayah disertai ciuman sayang di kedua pipi Yoga bergantian.
Nara dan Yoga tersenyum bahagia melihat pangeran kecil mereka yang semakin hari semakin pintar dan mudah mengingat banyak hal baik yang diajarkan serta dicontohkan oleh Ayah dan Ibunya, kemudian dia mulai bisa melakukannya sendiri tanpa diminta atau disuruh lebih dulu.
Raga yang sudah lelah bermain dan melepas rindu pada Ibunya, turun dari pangkuan Nara dan menjatuhkan tubuh berisinya telentang di atas kasur yang empuk di antara kedua orangtuanya yang duduk berhadapan.
"Raga mau bobok?" tanya Nara yang langsung dijawab putranya dengan anggukan kepala. Bocah itu terlihat mulai terkantuk-kantuk.
"Habiskan dulu susunya, setelah itu Raga berdoa dan bobok bersama Ayah dan Ibu di sini." Yoga mengusapi kepala putranya dengan penuh kasih.
__ADS_1
Tak lama kemudian Raga sudah menghabiskan susunya. Setelah mengucapkan doa bersama kedua orangtuanya, bocah tampan itu pun memejamkan mata diiringi ciuman sayang Nara dan Yoga di keningnya.
Nara menyelimuti tubuh mungil nan lucu itu dengan tatapan sayu. Mendadak perasaannya berubah sendu dan penuh keharuan.
"Maafkan Ibu yang belum bisa memberikan adik untuk Raga. Tapi Ibu percaya, suatu saat nanti Allah pasti akan mengabulkan keinginan kita, Nak."
Yoga memperhatikan istrinya yang mulai berkaca-kaca tanpa mengalihkan pandangannya dari Raga yang sudah tertidur pulas.
Hatinya turut merasakan kesedihan yang berkecamuk di dalam hati istri kesayangannya. Diraihnya kepala Nara dan diciumnya dengan lembut dan lama.
"Jangan berlarut-larut dalam rasa kehilanganmu, Sayang. Ada aku dan Raga yang akan selalu bersamamu dan membuatmu bahagia. Kita bertiga akan selalu bersama untuk melewati semuanya," ucap Yoga setelah melepaskan ciumannya.
Lelaki itu berpindah duduk menjadi di samping istrinya dan meletakkan sebuah guling sebagai pagar penjaga di samping tubuh Raga yang sudah semakin lelap.
Dipeluknya tubuh sang istri dengan erat dan diciumi keningnya berkali-kali sebelum Nara merebahkan kepalanya di tempat ternyaman yang selalu dirindukannya.
Kedua tangan Nara telah melingkar sempurna di pinggang sang suami dengan wajah yang mulai menampakkan senyuman di dalam pelukan hangat tubuh Yoga.
"Semua yang terjadi sudah menjadi ketetapan Allah untuk hidup kita. Jangan menyesalinya dan jangan larut dalam kesedihan karenanya."
Yoga mengusapi punggung istrinya kemudian merapatkan kembali pelukannya agar Nara merasa tenang dan semakin nyaman bersamanya.
"Terima kasih atas pengertian dan kesabaranmu, Mas. Kamu lelaki terbaik yang dikirimkan Allah untuk melengkapi hidupku dan aku bersyukur telah memilihmu dan memilikimu. Aku telah melabuhkan cintaku di dermaga yang terbaik, yaitu di dalam hatimu yang tulus dan luar biasa."
Yoga menyunggingkan senyuman bahagia setelah mendengarkan ungkapan hati Nara untuk dirinya.
"Aku pun bersyukur atas anugerah Allah yang aku miliki saat ini. Dirimu dan Raga adalah kebahagiaan terbesarku, anugerah terbaik dan terindah yang Allah percayakan dalam hidupku. Dan selamanya, aku akan menjaga dan melindungi kalian berdua dengan sepenuh hatiku."
Di pagi hari yang gerimis, Ardi sudah bersiap untuk berangkat ke klinik. Usai sarapan, mobil telah disiapkan oleh sopir di halaman depan.
Setelah menimang Aura yang sudah terlelap dalam dekapannya, diciuminya bayi cantik itu berulang kali sebelum dia tidurkan di dalam boks bayi.
Bunga merapikan kemeja Ardi yang sedikit berantakan sehabis menggendong Aura. Saat tengah serius mengaitkan kancing yang terbuka, tiba-tiba saja lelaki itu menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Maaass ...!" Bunga menghindar ketika Ardi ingin mencium bibirnya.
"Hanya ingin mencium saja, Sayang." Ardi merajuk dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kamu selalu bicara seperti itu, tapi akhirnya sampai ke mana-mana juga."
"Apa yang bisa aku lakukan sayang, sementara dirimu masih belum suci?" Wajah Ardi begitu memelas seolah memang sedang merasakan sesuatu yang coba ditahannya.
Bunga melanjutkan kegiatannya mengaitkan kancing kemeja bagian atas yang masih terbuka lalu menatap suaminya yang masih merajuk.
"Segeralah berangkat, Mas. Nanti kamu terlambat."
Ardi tetap diam dan masih mengunci tubuh istrinya. Akhirnya wanita itu mengalah, menuruti kemauan sang suami yang manjanya melebihi buah hati mereka.
Ardi terkejut bukan main ketika tanpa disadari Bunga sudah menciumnya begitu dalam dan lama. Dan saat istrinya hendak mengakhiri, dengan cepat Ardi berbalik menguasai kegiatan pagi mereka.
Seperti dugaan Bunga, apa yang diawalinya tadi akhirnya berlanjut lebih lama dan lebih intim. Meskipun tidak bisa memuaskan suaminya dengan pelepasan yang semestinya, namun setidaknya dia masih bisa melayani suaminya dengan cara yang lain.
Aktivitas mereka selesai satu jam kemudian dengan senyum kemenangan Ardi dan wajah bahagia keduanya.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu, Bungaku!"
"Aku juga mencintaimu, Dokter Cintaku!"
Di luar, gerimis telah berubah menjadi hujan ringan yang mengalir membasahi bumi dengan hawa sejuk yang menyertai.
Setelah membersihkan diri untuk kedua kalinya, kali ini Ardi benar-benar berangkat dengan penuh semangat dan tubuh yang lebih bugar dari sebelumnya.
Sepanjang perjalanan, senyuman terus menghiasi wajah dokter yang tengah diselimuti kebahagiaan tersebut.
Tidak tahu apakah itu, tetapi Ardi merasa dia seolah baru saja keluar dari masalah besar yang mengungkungnya sekian lama.
Seperti sebuah beban berat yang sebelumnya selalu menghimpit dan pada akhirnya terlepas sudah, lelaki itu merasa begitu tenang, lega dan bahagia.
"Terima kasih atas segala anugerah-Mu hari ini, Ya Allah. Tiada henti aku bersyukur atas seluruh kebahagiaan yang selalu Engkau hadirkan dalam hidupku."
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ