CINTA NARA

CINTA NARA
78 SORE PENUH CINTA


__ADS_3

"Sayang, aku pulang." Yoga menyapa istrinya yang tengah menimang Raga dalam dekapannya.


Berjalan cepat hendak menghampiri Nara dan bayinya, langkahnya langsung terhenti saat Nara mengulurkan tangannya ke depan dengan telapak tangan yang terbuka.


"Bersihkan dulu tubuhmu, baru boleh mendekati Raga!" Nara mengingatkan lagi dan Yoga hanya bisa menurut pada istrinya.


Dia memutar langkahnya ke meja kerja untuk meletakkan tas lalu melepas sepatunya, baru kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sudah satu minggu ini Yoga kembali bekerja, setelah satu minggu sebelumnya beristirahat di rumah guna memulihkan kesehatannya terlebih dahulu.


Sepulang kerja, lelaki itu selalu tak sabar untuk segera menemui istri dan bayi mungilnya hingga melupakan jika dirinya sudah seharian berada di luar rumah dengan segala kegiatan yang penuh kotoran dan keringat.


Saat Yoga keluar dari kamar mandi, dia melihat Raga terbangun dan sedang menyusu pada ibunya. Dengan cepat Yoga menghindari pandangannya ke arah sofa di mana Nara dan Raga berada.


Meskipun Nara selalu mengenakan kain penutup khusus untuk ibu menyusui, tapi Yoga tetap menjaga jarak setiap kali Nara sedang melaksanakan kewajibannya untuk Raga.


Yoga memilih untuk menyelesaikan pekerjaan di meja kerjanya, yang bersebelahan denga sofa. Namun sesekali mata mereka saling mencuri pandang, lalu sama-sama menunduk dan menyimpan senyuman.


Tingkah mereka layaknya anak remaja yang sedang jatuh cinta diam-diam. Saling memperhatikan tapi malu untuk mengungkapkan perasaan.


Tok ... tokk ... tokkk ...!!!


Yoga segera berdiri lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ada Bibi Asih di sana yang berdiri sambil membawa dua kotak makanan di tangannya.


"Ada apa, Bi?" tanya Yoga.


"Ini ada kiriman dari Ibu Arum untuk Mas Yoga dan Mbak Nara. Juga ada untuk seluruh pekerja di sini. Yang lainnya Bibi letakkan di ruang makan."


Yoga menoleh ke arah Nara dan menanyakan tentang kiriman tersebut.


"Apa tadi Tante Arum menghubungimu, Sayang?"


"Oh iya, aku baru akan memberitahumu, Ga. Terima saja dan yang lainnya biar dibagikan oleh Bibi Asih."


Nara menatap suaminya sambil terus menyusui bayi mungilnya. Yoga mengangguk dan menerima kotak makanan yang diberikan Bibi Asih.


"Terima kasih, Bi. Dan tolong yang lainnya diberikan kepada semua yang ada di rumah."


Bibi Asih mengangguk dan pamit untuk melaksanakan permintaan Yoga.


Yoga menutup pintu kamar lalu meletakkan kiriman Tante Arum di atas meja di depan Nara, tanpa melihat sedikit pun ke arah istrinya.


"Tante Arum mengadakan doa bersama untuk kamu dan Raga. Hari ini usia Raga genap tiga puluh lima hari, jadi karena kita keturunan Jawa, Tante membuat bancakan selapanan. Kamu tahu, kan?"


Mereka berdua sama-sama mempunyai orangtua yang berasal dari Jawa, jadi sedikit banyak sudah terbiasa dengan istilah dan acara adat Jawa yang sering orangtua mereka lakukan.


"Iya, tapi mengapa kita tidak diminta datang ke sana?" tanya Yoga lagi. Dia sudah kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


"Tante Arum hanya membuat bancakan lalu dikirimkan ke Panti Asuhan. Doa bersamanya dilakukan atas spontanitas dari pengelola yayasan di sana."


Raga sudah selesai minum. Nara merapikan pakaian lalu membuka kain penutupnya. Bayi mungil itu tidak tidur, mata bulatnya berbinar seolah tahu jika sedang dibicarakan oleh ayah dan ibunya.


"Aaa ... aaw ... aaa ... aaww ... aaa ...."


Raga mengoceh membuat Yoga langsung menghentikan pekerjaannya. Dia menghampiri dua kesayangannya lalu mengambil alih bayi mungil itu dari pangkuan Nara.


"Aaa ... anak ayah belum mau bobok ya? Uuum ... sayangnya Ayah. Uuum ... sayangnya Ibu."


Yoga menimang sembari menciumi kedua pipi gembul Raga dengan gemas, sementara si bayi hanya membuka lebar mulutnya dan sesekali mengeluarkan ocehannya.


Kemudian Yoga memposisikan Raga bersandar di bahunya dengan kepala tegak yang ditahan dengan tangannya sambil menepuk pelan punggung si bayi. Tak lama kemudian Raga sudah mengeluarkan suara sendawanya.


"Alhamdulillah, jagoan Ayah sudah kenyang ya, Nak. Uuum ... sayang ...!!" Yoga mencium kepala Raga yang sudah mulai ditumbuhi rambut yang masih sepersekian sentimeter. Hanya terlihat mulai menghitam di sekeliling kepalanya.


"Kamu makan dulu, Sayang. Biar Raga bersamaku dulu."


Nara mengangguk lalu mengambil satu kotak makanan dan membukanya. Terlihatlah menu bancakan khas Jawa yang penuh sayuran hijau yang sangat sehat untuk ibu menyusui seperti Nara.


Yoga membaringkan Raga di atas tempat tidur lalu dia mengikuti berbaring miring di samping bayi lucu nan menggemaskan itu.


Mereka terlihat seperti sedang bercengkerama dengan bahasa masing-masing yang sama-sama tidak dimengerti, tetapi tetap memunculkan tawa di antara keduanya.


Dari sofa Nara menikmati makan sorenya sambil memperhatikan suami dan anaknya. Dia tersenyum melihat interaksi mereka yang terlihat sangat dekat dan dipenuhi kasih sayang.


"Owh ... owh ... owh ...."


Nara menghampiri mereka lalu mengambil Raga dan digendongnya untuk di-nina bobo-kan.


"Uuuh ... sayangnya Ibu sudah lelah bermain bersama Ayah ya, Nak? Yuk, sekarang Raga bobok dulu. Uuumph ....!!!" Nara mencium gemas pipi gembul bayi kesayangannya.


Yoga sigap mengambilkan selendang gendong dan membantu Nara memakainya. Kemudian wanita itu menyamankan posisi sang bayi lalu mulai menidurkan Raga sambil bergoyang pelan untuk membuai buah hatinya.


Tanpa mengeluarkan suara, Nara memberi tanda pada Yoga agar lelaki itu segera memakan kiriman dari Tante Arum tadi.


Yoga meninggalkan ciuman sayang untuk Raga dan Nara sebelum menjauh dan duduk di sofa menyantap bancakan sederhana namun terasa sangat lezat dan nikmat.


Setengah jam kemudian, Raga sudah benar-benar terlelap. Nara melepaskan gendongannya lalu membaringkan si bayi mungil di atas tempat tidurnya. Diselimutinya tubuh sang putra dan dicium keningnya dengan senyum mengembang di bibirnya.


Usai Nara menutup kelambu di atas tempat tidur Raga, Yoga menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang. Meskipun sudah terbiasa dengan pelukan itu, namun Nara masih selalu saja berdebar dengan setiap perlakuan mesra suaminya.


"Aku sayang kamu, Ra ...!"


Kedua tangan Yoga sudah melingkar erat di pinggang Nara disertai bisikan lembut di telinganya. Nara tersenyum dengan pandangan yang masih menatap bayinya dari balik kelambu.


"Aku mencintaimu, Sayang!" Yoga melanjutkan ucapannya lalu mencium pipi Nara yang seketika berubah merona.

__ADS_1


Yoga bermanja dengan kepala bersandar di bahu istrinya. Sesekali diciuminya bahu Nara membuat wanita itu merasa geli dan sedikit mengerakkan bahunya.


Nara menyentuh dan menyatukan tangannya dengan tangan Yoga yang masih erat memeluknya. Rasa bahagia menelusup masuk memenuhi ruang hatinya.


"Semoga Allah senantiasa memberkahi keluarga kecil kita dengan kebahagiaan tanpa putus dan terus menjaga kasih sayang di antara kita bertiga." Yoga memejamkan mata seraya mengucapkan doa terbaik untuk keluarga kecilnya.


"Aamiin ...!!" ucap Nara sembari menoleh ke samping dan tersenyum menatap suaminya.


Yoga yang melihatnya segera menegakkan kepala lalu memutar tubuh Nara menjadi berhadapan dengannya. Seketika aura penuh cinta menghangatkan suasana di sekitar mereka.


Sepasang mata bening Nara bersitatap dengan sepasang mata tajam Yoga yang selalu berubah teduh setiap kali memandang ke arahnya.


Untuk beberapa saat pandangan mereka terkunci satu sama lain tanpa suara apa pun yang terucap dari kedua bibir mereka.


Tangan Nara sudah berpindah melingkari pinggang Yoga, sementara kedua tangan Yoga mendekap istrinya dengan erat hingga semakin merapatkan tubuh mereka tanpa sekat.


Degup jantung mereka beradu kencang dengan nafas yang mulai tertahan karena buncahan bahagia yang menyeruak menyesakkan dada.


Dan pada menit-menit berikutnya, entah siapa yang memulainya lebih dulu, wajah mereka mulai saling mendekat dan memupus jarak di antara keduanya.


Saling memejamkan mata dengan hati terselimuti gejolak cinta, perlahan Nara dam Yoga menyatukan bibir mereka, saling menempel dan berbagi kehangatan.


Nara tak lagi bisa membendung desiran halus yang memenuhi rongga dadanya yang menghangat. Hatinya terus melagukan getaran cinta yang menuntunnya untuk mengikuti gerakan bibir Yoga yang mulai dirasakan pada bibir merah muda miliknya.


Yoga merasakan balasan dari bibir Nara yang mulai mengimbangi gerakan pelan bibirnya. Semuanya mengalir begitu saja, saat mereka mulai menikmati ciuman mereka.


Kedua bibir yang sudah terasa basah itu terus saling berbalas ciuman hangat dengan lembut secara bergantian dan tanpa henti.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2