CINTA NARA

CINTA NARA
2.85. PENUH KETAKUTAN


__ADS_3

Yoga pulang dengan tergesa-gesa setelah mendapatkan telepon dari Nara yang menangis tersedu-sedu hingga suaranya tidak terdengar dengan jelas.


Sampai di rumah dia mendapati pintu depan tertutup. Dia membukanya dengan cepat dan tidak melihat siapa pun di lantai bawah.


Segera lelaki itu naik dan langsung menuju kamar mereka. Dilihatnya Nara meringkuk di balik selimut yang menutup seluruh bagian tubuhnya tanpa kecuali.


"Sayang, apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa?"


Tidak ada pergerakan sedikit pun di atas tempat tidur itu, membuat Yoga semakin berdebar saat berjalan mendekatinya.


"Sayang? Jangan diam saja, jawab aku. Jangan membuatku takut, Sayang!"


Lelaki itu sudah sampai di tepi tempat tidur dan langsung menarik selimut yang menutupi tubuh istri tercintanya. Jantungnya berdegup kencang manakala tidak menemukan istrinya di sana.


Hanya ada tumpukan bantal dan guling yang sepertinya sengaja disusun untuk mengelabuhinya. Lalu di mana Nara?


"Nara sayang, keluarlah. Jangan bersembunyi lagi, aku tidak suka bermain-main!"


Yoga semakin panik. Tidak biasanya Nara seperti ini. Pikirannya sudah ke mana-mana dan dipenuhi prasangka buruk.


Bayangan kejadian yang telah lalu sudah menghantuinya sejak perjalanan pulang penuh ketakutan tadi. Dia tidak ingin Nara mengalaminya peristiwa seperti itu lagi.


Dicarinya sang istri di seluruh ruang dan penjuru kamar, tapi tetap tidak menemukan wanita kesayangannya.


Pikiran semakin kalut manakala Raga pun tak dilihatnya bersama yang lain. Tidak ada satu pun penghuni rumah yang ditemuinya sejak memasuki rumah dengan panik.


"Sayang, kamu di mana? Apakah Raga juga bersamamu? Cepat keluarlah, kalian!"


Tidak ada jawaban sama sekali yang membuat Yoga merasakan detak jantungnya semakin terpacu penuh ketakutan.


Tak menemukan Nara dan Raga di dalam kamar, Yoga mengusap kasar wajahnya yang sudah penuh ketegangan dan segera keluar untuk mencari mereka di bawah.


Teriakannya menggema memanggil istri dan putra kesayangannya disertai langkah kaki yang cepat menuruni anak tangga.


Tiba-tiba gerakan kakinya terhenti di ujung tangga dengan pandangan yang mulai meredup sendu.


Napasnya terengah-engah namun penuh kelegaan kini saat melihat dua orang yang dicarinya sudah ada di hadapannya sekarang.


Nara berdiri di samping Raga yang juga berdiri sendiri di depan meja dengan sebuah kue tart kecil dan tumpeng nasi kuning di atasnya.


Dua buah lilin berbentuk angka tertancap di bagian tengah kue, menunjukkan usia lelaki yang sangat dicintai oleh Nara dan selalu menjadi tempatnya bermanja selama ini. Tiga puluh dua.


"Selamat ulang tahun, Mas." Nara tersenyum lebar membuat semua ketakutan dan kekhawatiran Yoga hilang seketika.

__ADS_1


"Ayah hepi bide ..., tiup lilin ...!" Raga yang suaranya sudah semakin jelas turut bertepuk tangan sendiri dan memberikan ucapan untuk ayahnya.


Yoga berjalan pelan menuruni anak tangga terakhir dengan kedua mata yang telah pedih berair dengan pandangan yang mulai memburam.


Nara maju untuk menyambut suaminya lalu meraih tangan Yoga dan menciumnya dengan penuh cinta.


Seketika itu pula Yoga menarik tubuh Nara dan memeluknya dengan sangat erat. Matanya terpejam begitu saja disertai ucap syukur dalam hati karena ternyata sang istri baik-baik saja, begitu pula dengan Raga pangeran kecil mereka.


Tak peduli ada Pak Budi, Bibi Asih dan Mbak Indah di sana, Yoga terus memeluk Nara dan mulai menciumi puncak kepalanya berkali-kali, lalu mendekapnya lagi semakin erat.


Raga yang merasa diabaikan oleh keduanya, ikut maju ke dekat mereka dan menarik kain celana ayahnya dengan tangan mungilnya.


"Ayah ..., Gaga gendong ...! Tayang Ayah ...!"


Segera Yoga melepaskan pelukannya pada Nara dan berjongkok untuk mengambil Raga lalu menggendongnya sambil berdiri lagi di samping sang istri dan kembali memeluknya dengan satu tangan.


Diciumnya kening sang putra kemudian berpindah pada kening sang istri yang sangat dicintainya.


"Kalian berrdua membuatku takut dan khawatir!"


Yoga semakim terharu saat dengan lembut jemari Nara menghapus butiran air mata yang tanpa sadar sudah luruh mengalir membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Mas. Akau hanya ingin memberimu kejutan sederhana ini."


Yoga mengangguk sebab haru masih menyelimuti seluruh perasaan di hatinya. Dia mendekap erat kedua oarng yang sangat disayanginya dan paling berarti dalam hidupnya.


Pak Budi diikuti oleh Bibi Asih dan Mbak Indah juga mengucapkan selamat pada tuan mudanya dengan perasaan yang sama bahagianya karena bisa melihat kemesraan dan cinta kasih keluarga kecil di hadapan mereka.


Potongan kue pertama disuapkan Yoga pada Raga lalu Nara, kemudian disuapkan Nara kepadanya. Setelah itu mereka semua menikmati nasi kuning buatan Bibi Asih bersama-sama dengan perasaan bahagia dan penuh ucap syukur.


.


.


.


Usai merayakan pertambahan usia Yoga dengan apa-adanya bersama seluruh penghuni rumah, Nara dan Yoga kembali ke kamar sementara Raga ikut bersama Mbak Indah untuk tidur siang.


Nara menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya karena Yoga memilih untuk segera mandi setelah merasakan tubuhnya sangat gerah akibat kepanikannya tadi.


"Ini pakaianmu, Mas. Kemarilah."


Yoga yang sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai celana pendek, menurut dan menghanmpiri sang istri yang sudah siap dengan satu kaos rumahan di tangannya. Dengan cekatan Nara memakaikannya pada tubuh mempesona snag suami lalu menyisir rambutnya hingga rapi dan terlihat segar.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang." Yoga menghadiahi sekilas ciuman di bibir manis istrinya yang terus menampakkan senyuman bahagia dan kembali memeluknya dengan dekapan yang sangat erat.


"Kamu membuatķu sangat ketakutan, Sayang," ucapnya lirih di dekat telinga sang istri.


"Maafkan aku, Mas. Aku hanya ingin memberimu kejutan ulang tahun. Jangan marah, ya?" Nara merenggangkan pelukan dan mengunci pandangan mereka.


Tatapan manja sepasang mata bening Nara membuat Yoga tersenyum dan menganggukkan kepala seraya membelai pipi ranum istrinya dengan lembut.


"Tapi ..., aku masih mempunyai satu kejutan lagi untukmu, Mas. Tutuplah dulu matamu, sebentar saja!" pinta Nara yang diikuti dengan pasrah oleh Yoga.


Nara mengambil sebuah foto hitam-putih berukuran kecil dari dalam tasnya lalu menunjukkannya tepat di hadapan wajah sang suami yang masih memejamkan mata.


"Sekarang buakalah matamu, Mas."


Yoga membuka matanya perlahan dan mendapati sebuah foto istimewa di hadapannya. Wajahnya berubah seketika, terkejut dengan mata membulat memperhatikan foto itu dengan seksama.


"Sayang, ini ...? Ini artinya ..., kamu ... kamu hamil, Sayang??" tanya lelaki itu terbata-bata.


Diambilnya foto itu dari tangan Nara dan dipegangnya sendiri. Dia memperhatikan foto hasil pemeriksaan kehamilan yang dilakukan istrinya secara diam-diam beberapa hari yang lalu.


"Iya, Mas. Ini adalah hadiah ulang tahun dariku untukmu. Aku hamil, Mas!"


Yoga menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Nara sehingga wajahnya kini berhadapan dengan perut sang istri yang masih rata seperti biasanya, namun telah menyimpan satu bentuk kebahagiaan luar biasa di dalamnya sana.


Dirabanya permukaan perut itu lalu menngusapinya dengan lembut dan penuh kasih. Saat kedua tangannya memeluk pinggang sang istri, lelaki itu memajuķan wajahnya dan melabuhkan ciuman hangat di atas perut Nara.


Dia mengucapkan syukur dalam hati, mengungkapkan kebahagiaannya atas hadiah terbaik yang dia miliki di hari istimewanya kali ini.


Nara yang melihatnya dari atas, mulai meneteskan air mata yang jatuh tepat di atas kening Yoga saat lelaki itu menengadahkan kepala untuk menatap wajah cantik istri kesayangannya.


"Terima kasih, Sayang. Kita akan bersama-sama menjaga hadiah istimewa ini sebaik-baiknya."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2