CINTA NARA

CINTA NARA
3.37. AKU TAHU SEMUANYA


__ADS_3

"Boleh aku masuk?"


Ardi masih berdiri di ambang pintu, menunggu izin dari si pemilik ruangan yang sepertinya masih menyelesaikan beberapa berkas di atas meja.


"Masuklah dan silakan duduk, Di. Maaf jika sudah membuatmu menunggu. Aku harus menyelesaikan laporanku dulu"


Alya masih mengangkat wajahnya dan menatap Ardi yang sudah duduk di hadapannya dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya. Tatapan lelaki itu tak sedikit pun berpaling dari wajah sang dokter yang kemudian menunduk malu dan kembali menyibukkan diri dengan berkas yang harus dia tanda tangani.


Kesempatan itu digunakan Ardi untuk terus memperhatikan Alya dari jarak dekat, hanya dibatasi oleh meja di hadapan mereka. Dokter duda itu memuaskan diri untuk menatap wajah anggun yang masih berkonsentrasi dengan lembar-lembar laporan yang dia periksa kemudian dibubuhi tanda tangannya.


Bagaimana bisa wanita sebaik dirimu bisa mengalami kejadian yang bahkan aku sendiri tak ingin membayangkannya, Al? Kerja kerasmu dari pagi sampai malam sepanjang hari, kamu pun tak pernah bisa menikmatinya selama bertahun-tahun. Sungguh aku tak habis mengerti, mengapa kamu bisa sekuat itu menjalani kehidupan tak berperikemanusiaan seperti itu ....


Ardi merasakan dadanya sangat sesak bercampur amarah yang memuncak. Ingin rasanya dia menemui lelaki itu dan membuat perhitungan dengannya. Jantungnya berdegup semakin kencang dan memburu, membuat wajahnya memerah menahan emosi yang hampir tak terkendali.


Alya menangkap perubahan di wajah Ardi, berikut sikapnya yang tegang dan terlihat menyembunyikan sesuatu. Dia mengangkat wajah dan kembali menatap lelaki itu untuk memastikan.


"Ardi, kamu kenapa?" Raut khawatir terlihat di wajah Alya saat mendapati Ardi yang terdiam menatapnya dengan mata memerah berkaca-kaca.


"Di ...?" Alya mengulangi pertanyaannya karena yang ditanya masih tetap diam dan hanya memaku pandangan ke arahnya dengan tatapan yang dalam namun sarat luka.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, Al," jawab Ardi balik bertanya pada wanita yang tengah menjadi pusat perhatiannya saat ini.


"Aku? Ada apa denganku? Aku baik-baik saja," sanggah Alya dan mencoba bersikap setenang mungkin.


Dia sudah menyelesaikan tugasnya, lalu menutup map dan menepikannya di samping meja. Dengan pelan dia melepaskan jas putih kebanggaannya dan disampirkannya pada punggung kursi. Ardi masih terus menatapnya dengan penuh haru.


"Kamu ... mengapa kamu sekuat ini? Mengapa kamu setegar ini? Mengapa kamu memilih untuk menelan kepahitan ini sendirian dan mencoba menyembuhkan lukamu sendiri tanpa ingin orang lain tahu dan membantumu?"


Pertanyaaan bertubi-tubi dilontarkan Ardi sebagai luapan atas perasaan sedih, sakit dan terluka yang turut dirasakannya setiap mengingat kesabaran Alya menjalani takdirnya seorang diri.


Alya mulai mengerti arah dari pertanyaan Ardi. Tak kuasa untuk menjawabnya, dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa hangat dan memerah.


Tapi baru saja dia menghindari tatapan Ardi yang penuh pilu itu, terdengar olehnya isakan tertahan yang membuatnya kembali mengangkat wajah. Dia memberanikan diri untuk menatapnya dan mendapati lelaki itu sudah mengusapi wajahnya dengan kedua telapak tangan, guna menghapus jejak tangisan di sana.


Namun lagi-lagi wajah itu kembali basah oleh beberapa butir air mata yang menetes dari sepasang netra teduhnya yang saat ini terlihat semakin merah dan sembab.

__ADS_1


"Ardi ... kamu ...??" Wajah Alya tampak semakin khawatir, masih belum mengerti mengapa Ardi bisa sampai menangis seperti itu.


Ardi menggeleng pelan kemudian mulai mengatur napasnya dan menenangkan diri. Setelah dirasa hatinya kuat dan siap, dia mengulas sebuah senyuman untuk mulai berbagi dengan wanita yang terlihat tidak tenang dan terus memperhatikannya.


"Bolehkah aku berbagi sebuah cerita denganmu malam ini?" Ardi terlebih dahulu meminta ijin pada wanita anggun tersebut karena dia memerlukan waktu untuk menyampaikan sesuatu.


Alya mengangguk begitu saja dan menurut saat Ardi mengajak pergi dari ruangannya dan mencari tempat lain untuk berbicara dengan lebih leluasa.


.


.


.


Ardi kembali ke dalam mobil yang kedua sisi kacanya telah dia buka. Dia memberikan satu gelas minuman hangat yang baru saja dibelinya dari salah satu pedagang kaki lima yang berjajar rapi di sepanjang tepian taman kota.


Sambil menunggu pesanan nasi goreng mereka diantarkan ke mobil, Ardi memulai ceritanya setelah menyesap minuman hangat di tangannya sendiri. Alya di sampingnya sudah siap mendengarkan apa yang ingin diceritakan oleh lelaki masa lalunya itu.


"Dulu, setelah perpisahan kita waktu itu, aku pernah mengalami peristiwa yang menyakitkan hampir sepanjang hari, selama bertahun-tahun."


Apa yang dimaksud oleh Ardi dengan peristiwa menyakitkan itu? Apakah selama ini dia sakit?


"Tanpa ada gejala apa pun, tiba-tiba aku merasakan seluruh tubuhku sakit seperti habis berkelahi dan dipukuli berkali-kali. Napasku sering terasa sesak tiba-tiba dan selalu merasa ketakutan tanpa ada alasan apa-apa."


Alya terkejut namun belum menyadari arah pembicaraan lelaki di sebelahnya. Dia masih mengira Ardi menderita suatu penyakit yang belum diketahuinya.


"Beberapa kali aku memeriksakan diri ke dokter dengan gejala yang demikian, namun hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada satu pun penyakit yang aku idap dan tidak ada gejala alergi yang aku miliki. Semuanya sehat dan baik-baik saja."


Ardi menoleh ke arah Alya yang juga tengah menatapnya penuh pertanyaan namun ditahannya dalam diam. Dia kembali berkisah agar Alya segera mengetahui tertuju ke mana arah ceritanya tersebut.


"Akhirnya aku putuskan untuk mengabaikan rasa sakitku itu, meskipun masih terus menderaku selama hampir tiga tahun tanpa henti."


Tiga tahun? Dan rasa sakit itu? Di sekujur tubuh? Tidak! Ini pasti hanya sebuah kebetulan di waktu yang bersamaan.


Alya mulai merasakan hatinya berdebar-debar. Bukan karena perasaannya pada Ardi yang mulai bersemi kembali. Melainkan karena dia mulai bisa menebak semuanya kendati belum yakin sepenuhnya.

__ADS_1


"Setelah tiga tahun itu, entah mengapa aku tidak lagi merasakan kesakitan seperti itu lagi. Tapi ... di waktu-waktu tertentu aku masih terus merasakan sakit di kepalaku dan rasa sakit dan panas di wajahku terutama pada bagian pipi. Seperti sedang ditampar atau dipukul oleh seseorang."


Alya semakin yakin dengan perkiraannya. Matanya mulai pedih dan berair namun masih tertahan di pelupuk.


"Anehnya, semua rasa sakit itu lagi-lagi hilang begitu saja. Hatiku pun seringkali merasa lega dan bahagia tanpa alasan, seolah terlepas dari beban berat yang sebelumnya terus menguasai dan membelengguku."


Alya mulai meneteskan air mata di kedua pipinya. Dia tak bisa menahannya lagi sebab dia sudah tahu perihal apa yang sedang dibicarakan oleh Ardi.


"Dan yang terakhir aku rasakan adalah ketika pada suatu siang, tiba-tiba aku terbangun dan duduk dengan gerakan cepat karena merasakan sakit yang luar biasa di kepala bagian belakang. Selain itu, mendadak tubuhku terasa sangat kaku dan teramat sakit. Kedua kakiku menjadi mati rasa dan tidak bisa bergerak sama sekali."


Hampir saja Alya menjatuhkan gelas minuman di tangannya karena begitu terkejutnya dia saat mendengar cerita Ardi yang terakhir. Dia menatap kedua kakinya dan teringat kembali pada kejadian buruk yang sudah satu tahun lebih berlalu .


"Kamu tahu mengapa aku bisa merasakan semua itu, Al?" Ardi menjeda sebentar ucapannya kemudian mengunci pandangannya pada wajah Alya yang telah berurai air mata.


"Semua itu karena perasaan kita selalu bertautan satu sama lain. Aku selalu merasakan apa yang kamu rasakan meskipun terbentang jarak dan waktu di antara kita."


Alya menangis tak terbendung lagi. Dia sama sekali tidak menyangka, perasaan Ardi masih sangat kuat dan erat terhadap dirinya, sekalipun mereka telah berpisah sangat lama.


"Jadi mulai sekarang, jangan lagi membohongiku dengan mengatakan kamu baik-baik saja dan tidak merasakan semua itu. Karena di sana, saat jauh darimu, tanpa aku sadari aku masih bisa merasakan apa yang kamu alami di sini. Aku sangat tahu rasanya seperti apa, sakitnya seperti apa. Aku tahu semuanya, Alya."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2