CINTA NARA

CINTA NARA
3.68. TUNGGU AKU


__ADS_3

Selepas subuh esok harinya, Ardi dan Alya sudah berada di bandara. Alya akan pulang dengan penerbangan paling awal karena harus mengejar waktu praktek paginya di rumah sakit.


"Maaf karena aku sudah membuatmu terburu-buru pagi ini."


Sebenarnya Alya berniat pulang semalam, bahkan dia sudah memesan tiketnya bersamaan dengan saat keberangkatan dulu. Namun tiba-tiba Ardi meminta untuk menunda karena masih ingin bersamanya. Hingga akhirnya mereka pergi berdua dan membicarakan lagi banyak hal tentang rencana masa depan.


"Tidak apa-apa. Waktunya masih cukup dan aku tidak akan terlambat." Alya tersenyum untuk menepis rasa bersalah lelaki di hadapannya. Toh semalam, dirinya juga menikmati kebersamaan mereka yang sarat kenangan.


Waktu mereka tidak banyak. Alya harus segera masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Kesedihan mulai tampak di wajahnya yang segar di awal pagi.


"Aku harus masuk sekarang, Di. Terima kasih sudah mengantarku. Terima kasih juga atas kebersamaan kita selama aku di sini."


Sepasang mata indah itu sudah mulai berkaca-kaca. Butiran air bening sudah menggenangi pelupuk mata Alya yang semakin memerah sama seperti wajahnya. Perpisahan kali ini terasa sangat berat di hatinya yang telanjur terbuka dan menerima Ardi sepenuhnya.


"Rasanya masih terlalu cepat. Sejujurnya aku tak ingin kamu pergi. Aku mau kita tetap bersama seperti tiga hari kemarin. Aku akan merasa kesepian lagi setelah ini, Alya."


Bukan hanya Alya, dokter romantis itu pun terlihat sangat berat untuk melepas kepergian wanita kesayangannya. Pandangannya kian sayu, menatap calon istri tercinta dengan perasaan mendalam.


"Aku akan sangat merindukanmu."


Suara Ardi semakin berat seiring kakinya yang melangkah maju dan memupus jarak di antara mereka. Alya pun kian gugup manakala wajah keduanya hampir tak berjarak lagi.


"Dan aku tak sabar lagi ingin memilikimu seutuhnya, Alya."


Air mata yang semula masih menggantung di ujung pelupuk, akhirnya menetes juga membasahi pipi ranum Alya. Wanita itu tak bisa menahan perasaannya lagi. Kali ini semua terasa berbeda dan membuatnya begitu sedih.


"Aku akan memberikan jawabanku atas pertanyaanmu semalam, saat kita bertemu lagi nanti. Aku tidak mungkin membiarkan kita bertiga hidup terpisah. Kita pasti bisa hidup bersama layaknya keluarga bahagia yang lain, Al."


Alya mengangguk dan wajahnya semakin basah oleh tangisan tak bisa dibendungnya lagi. Tanpa berpikir panjang, Ardi segera mengulurkan tangan hingga ujung jemarinya menyentuh permukaan kulit halus yang telah berderai air mata.


"Maafkan aku." Lelaki itu tetap meminta maaf atas kelancangannya menghapus air mata sang kekasih hati.


Alya memejamkan mata dan meresapi sentuhan lembut yang dirasakannya bergerak pelan di seputar wajah. Hatinya terus bergetar dan penuh keharuan. Perpisahan mereka kali ini terlalu berat untuknya yang baru saja membuka hati dan bisa melawan ketakutan serta rasa traumanya.


Saat tak lagi dirasakan pergerakan tangan di wajahnya, wanita ayu itu membuka mata dan mendapati wajah Ardi masih sedekat sebelumnya. Jantungnya berdegup kencang, sejurus kemudian bertalu-talu kian tak menentu.


"Tunggu aku datang menemuimu dan melamar pada kedua orangtuamu." Ucapan Ardi tegas meskipun lirih dan hanya Alya yang bisa mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


Wanita yang masih terisak itu mengangguk lalu menunduk. Kesedihannya semakin memuncak manakala terdengar panggilan terakhir untuk segera masuk ke ruang tunggu.


"Aku harus pergi sekarang." Tak kuasa lagi menatap wajah lelaki di hadapannya, Alya mundur lalu berbalik dan mulai melangkah.


"Alya ...."


Langkah itu terhenti saat tangannya ditahan dan digenggam erat oleh Ardi. Alya tak ingin berbalik arah atau tangisannya akan tumpah lagi. Dia hanya terdiam di tempatnya.


Melihat Alya yang bergeming, Ardi mengambil langkah cepat dan berputar untuk menghalangi dokter berhijab anggun tersebut. Dia berdiri tepat di depan Alya dengan masih menggenggam tangan kiri yang pada jari manisnya dilingkari cincin permata pemberiannya.


Tak ingin membuat Alya menunggu, tangan kanan Ardi terangkat ke atas dan menyentuh kepala yang tertutupi lapisan kain pasmina yang dikenakan calon istrinya.


"Aku mencintaimu, Alya."


Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Ardi memberanikan diri untuk mencium puncak kepala Alya dengan lembut dan penuh perasaan. Dia memejamkan mata dan memanjatkan sebuah doa.


Jagakan dia untukku, Ya Allah. Aku sangat mencintainya dan akan segera menikahinya. Izinkan aku memenuhi niat suciku ini secepatnya dan hidup bahagia bersama selamanya.


Tubuh Alya bergetar hebat merasakan sentuhan di bagian teratas tubuhnya. Matanya terpejam begitu saja, berusaha melawan bayangan peristiwa kelam yang kembali hadir mengusik dan mencoba melemahkannya.


.


.


.


"Al, kamu mengambil cuti tiba-tiba. Apa kamu sakit?"


Rendy yang melihat Alya turun dari mobil putih yang dikemudikan Pak Arif segera menjajari langkahnya memasuki lobi rumah sakit. Mereka terus berjalan menaiki tangga untuk menuju ruang praktek di lantai dua.


"Tidak, Ren. Aku baik-baik saja." Alya menjawab seraya merapikan hijabnya yang mulai tidak rapi karena sudah dikenakannya sejak subuh di kota lain tadi.


Diam-diam Rendy memperhatikannya. Selain penampilan yang sedikit berantakan, wajah Alya pun terlihat lelah dan sembab. Tak sengaja dia juga mencium wangi parfum lain di tubuh wanita yang tetap terlihat anggun tersebut. Wangi parfum pria yang aromanya masih sangat terasa.


Dari mana Alya? Apakah dia baru saja pergi dengan Dokter Ardi? Tapi bukankah lelaki itu sudah pulang beberapa hari yang lalu?


"Apa kamu baru pulang dari bepergian?" tanya Rendy disertai rasa penasaran.

__ADS_1


Alya mengangguk jujur tanpa ingin menutupi apalagi mengingkarinya. Semakin erat hubungannya dengan Ardi maka dia harus semakin menjaga jarak dengan Rendy dan mengurangi kedekatan dan kebersamaan di antara mereka.


Wanita itu harus bisa menjaga perasaan Ardi yang sudah menjadi calon suaminya, sekalipun lelaki itu belum meminta dirinya secara resmi di hadapan Papa dan Mama. Namun cincin permata di jari manis dan kalimat lamaran yang diucapkan Ardi, sudah cukup menjadi bukti adanya ikatan cinta di antara mereka.


"Aku berlibur bersama keluarga Pak Yoga di kota kelahiran mereka," jawab Alya tanpa menatap Rendy sama sekali dan terus melangkah menuju ruangannya yang sudah semakin dekat.


"Hanya bersama mereka?" Rendy terus mendesak, tak peduli apa yang akan dipikirkan oleh wanita yang masih tetap dicintainya.


Alya berhenti tepat di depan ruangannya, diikuti Rendy yang berdiri di hadapannya dan menunggu jawaban. Dia harus segera memberitahu lelaki yang pernah dua kali melamar dan telah ditolaknya tersebut.


"Ardi mengajakku untuk menemui keluarganya. Selain itu, secara pribadi aku juga sudah menerima lamarannya."


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2