CINTA NARA

CINTA NARA
3.28. SIAP SETIAP SAAT


__ADS_3

"Rik, kendalikan dirimu! Kamu sudah berjanji untuk tidak mengusiknya lagi."


Cindy mengimbangi langkah cepat Riko dengan sedikit kerepotan karena dia menggendong Rindy, putri mereka. Sementara yang dikejar mulai melambatkan langkahnya setelah sampai di luar lobi rumah sakit.


Dilihatnya Cindy yang masih terengah di sampingnya sambil terus membuai sang bayi agar tidak terusik tidurnya. Ada rasa iba melihat istrinya tampak cemas melihat sikapnya di atas tadi.


"Maafkan aku." Dia mengusap kasar wajahnya lalu menenangkan diri dengan menghela napas panjang untuk membuang emosinya.


Diambilnya tas bayi yang tersampir di bahu kanan Cindy lalu diajaknya sang istri untuk berjalan pelan menuju mobil mereka yang terparkir di bagian samping halaman depan.


"Aku mohon, jangan membuat masalah lagi, Rik. Dengan Alya atau yang lainnya. Tolong tepati janjimu untuk berubah."


Di dalam mobil, Cindy masih mengulangi permintaannya. Dia tidak ingin Riko bermasalah lagi karena sikapnya yang melewati batas seperti dulu.


"Kamu baru bebas kemarin, Rik. Ingat, kamu masih di bawah pengawasan. Jangan sampai karena emosi membuatmu meninggalkan aku dan Rindy lagi. Aku tidak mau itu."


Cindy tidak bisa menahan diri lagi. Perasaannya berkecamuk, antara marah, cemas dan takut kehilangan lagi. Akhirnya, air matanya tumpah bersama tangisan yang terdengar oleh Riko dan membuatnya merasa bersalah.


Baru dua hari berkumpul bersama keluarganya, dia sudah membuat istrinya menangis seperti ini. Segera tubuhnya mendekat ke samping lalu merengkuh Cindy ke dalam pelukannya, tanpa mengabaikan keberadaan bayi mereka yang masih pulas di dalam dekapan sang istri.


"Maafkan aku. Maaf ...." Diciumnya kepala Cindy dengan tulus dan berlanjut pada keningnya. Lembut dan lama.


Riko memang bukan lelaki romantis. Sikapnya apa-adanya dan selalu terbuka menyikapi apa pun. Kecuali tentang rasa sakit hatinya pada Alya yang sebenarnya hanya kesalahpahaman yang tidak terselesaikan dengan baik.


Kesalahpahaman yang telanjur menjadi luka yang telah mendarah-daging dalam dirinya, karena dia tidak pernah berbagi pada satu pun orang lain. Telanjur sulit melepaskan, apalagi melupakan.


"Kalau saja dari dulu kamu mau mendengarkan aku. Kalau saja kamu mau sedikit saja berbagi padaku atau orang lain siapa pun itu, pasti kamu tidak akan sampai seperti ini, Rik. Kamu selalu keras kepala jika menyangkut masalah Alya."


Cindy masih menangis dalam pelukan Riko. Lelaki yang baru dua hari ini bisa dipeluknya lagi dan hidup bersama dengannya seperti dulu.

__ADS_1


"Sekarang sudah ada Rindy bersama kita. Dia tanggung jawab kita, amanah yang harus kita jaga bersama-sama. Jangan sampai dia mewarisi karma dari perbuatanmu sekarang, yang bisa berdampak buruk pada kehidupannya di masa depan kelak. Aku tidak mau itu terjadi, Rik. Anak kita harus bahagia, benar-benar bahagia."


Riko memejamkan mata dan meresapi kata-kata Cindy dengan hati yang perih. Sulit baginya untuk melupakan kebenciannya pada Alya meskipun dia sadar, wanita itu tidak tahu apa-apa tentang alasan kebenciannya di masa lalu.


Alya hanya korban dari kemarahannya pada keadaan, pada sikap orangtuanya yang tidak mau dibantah atas hal apa pun dan pada keputusan orangtuanya yang tidak pernah memberinya kebebasan untuk menentukan pilihan.


"Sekali ini saja, dengarkan aku dan lakukan permintaanku, Rik." Cindy masih mencoba meluluhkan hati suaminya yang sekeras batu.


"Bicaralah dengan seseorang, siapa pun itu. Berbagilah tentang segala apa yang ada di dalam hati dan pikiranmu selama ini, sehingga kamu tidak pernah bisa bersikap baik pada Alya. Aku tahu dan aku yakin, pasti ada satu alasan yang selalu kamu sembunyikan dari semua orang dan hanya kamu pendam sendiri di dalam hati."


"Kamu butuh seseorang untuk membantumu terlepas dari bayang-bayang kebencianmu pada Alya karena aku percaya, baik kamu maupun Alya sama-sama tidak bersalah dan tidak menginginkan semua itu terjadi."


Riko masih terdiam mendengarkan semua ucapan istrinya. Namun hatinya mulai tersentuh oleh kata-kata Cindy yang diucapkannya di tengah isakan yang melemahkan hati lelaki yang sangat mencintainya.


"Ooeekk .... Ooeekk .... Oooeeekkk ...."


Tiba-tiba Rindy terbangun dan menangis kencang, membuat Riko segera melepaskan pelukannya pada Cindy yang akan menyusui bayi yang belum genap berusia satu tahun itu.


Sang istri segera memakainya sehingga bagian depan tubuhnya tertutupi dan Rindy bisa menyusu dengan tenang dan nyaman. Riko mengusapi kepala putri kecilnya dengan penuh kasih sayang, lalu mulai menyalakan mesin mobil dan perlahan melajukannya keluar dari halaman rumah sakit.


.


.


.


"Di, apakah keluarga kalian ada yang golongan darahnya sama dengan Aura? Dia sama dengan Bunga, bukan?" tanya Alya dalam perjalanan pulang kembali ke rumah Yoga.


Untuk pemulihan kondisinya, setiap bulan Aura harus melakukan transfusi darah secara rutin guna memenuhi kebutuhan darah yang tidak bisa diproduksi dengan baik di tubuhnya.

__ADS_1


"Dari keluargaku sepertinya tidak ada. Tapi pasti dari orangtua dan keluarga Bunga ada yang sama, Al. Darah kalian cukup langka, tidak banyak orang yang memilikinya."


Ardi menjawab sambil menatap sendu wajah polos putri kecil kesayangannya yang kembali tertidur setelah menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya saat ini. Kenyataan yang harus diterimanya tentang penyakit yang diderita Aura, cukup membuat hatinya goyah lagi.


Setelah kehilangan Bunga empat bulan sebelumnya, sekarang baru diketahui bahwa Aura juga mengidap penyakit yang menurun dari ibunya, di mana Bunga dulu terlambat mengetahuinya sehingga bersamaan dengan penyakit lambung yang dimiliknya, menyebabkan kondisinya semakin parah dan tidak lagi bisa disembuhkan.


Beruntung kondisi Aura belum terlalu parah dan bisa diketahui lebih dini, sehingga jenis pengobatannya pun menurut dokter masih bisa dilakukan dengan melakukan transfusi darah secara rutin setiap bulan, atau secepatnya apabila diketahui kondisinya mulai menurun kembali.


"Hubungi aku kapan pun Aura membutuhkan tambahan darah untuk proses transfusi rutinnya. Aku siap setiap saat untuk datang dan memberikan darahku demi putri cantik ini."


Alya mencium pipi Aura lalu mengusapinya dengan perlahan dan penuh haru. Bayi kecil mungil itu harus mendapatkan pengawasan dan perawatan khusus untuk memantau kondisi fisiknya yang tidak sekuat bayi-bayi sehat lainnya.


Ardi tersenyum dan semakin kagum dengan ketulusan hati Alya, terutama untuk menolong dan mengajukan dirinya sebagai pendonor tetap untuk Aura.


"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam, atas kesediaanmu untuk membagikan darahmu demi kesembuhan Aura. Aku sadar kebaikan hatimu tidak akan bisa aku balas hanya dengan sekedar ucapan terima kasih saja."


"Tapi bagaimanapun juga, aku akan terus mengatakannya berulang kali kepadamu. Terima kasih, Alya."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2