
Ardi tidak ingin membuang waktu lagi. Sesampainya di bandara di kotanya, lelaki itu mengantarkan Alya ke tempat yang ingin dia kunjungi, seperti yang dikatakannya pada saaat makan malam berdua waktu itu.
Mengemudikan sendiri mobil yang diantarkan oleh sopir ke bandara, Ardi melajukannya menuju sebuah tempat di tepi kota.
"Di, bagaimana dengan Aura?" tanya Alya sambil menimang bayi yang kini sudah berusia satu setengah tahun. Aura yang sudah terbangun tampak riang berceloteh di pangkuan wanita itu.
"Jangan khawatir. Setiap bulan aku selalu mengajaknya ke sana. Dia sudah tidak asing lagi dengan suasana yang ada." Jawaban Ardi membuat Alya tersenyum lega dan merasa lebih tenang.
Alya kembali bermain dengan Aura yang tengah asyik dengan boneka kelinci merah muda hadiah darinya. Wanita itu tersenyum melihat Aura begitu menyukai barang pemberiannya tersebut.
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Alya ingin mengunjungi seseorang di sana. Seseorang yang dia sayangi dan sangat berarti dalam kehidupannya saat ini.
"Ayo, Al."
Ardi sudah keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Alya yang menggendong Aura. Dengan hati-hati wanita itu turun kemudian berdiri di samping lelaki pemilik hatinya.
Mengikuti langkah demi langkah tepat di belakang Ardi, Alya menggendong Aura yang tetap ceria meskipun sang mentari mulai beranjak naik dan memancarkan kilaunya yang mulai menyengat.
Oleh Alya, kepala bayi menggemaskan itu telah ditutupi dengan topi bertepian lebar sehingga cukup untuk melindunginya dari sorotan langsung sinar matahari.
Ardi menghentikan langkah diikuti Alya. Keduanya berdiri di depan sebuah pusara yang sudah dilapisi dengan marmer berwarna hitam, lengkap dengan batu nisan sewarna yang diukiri sebuah nama berikut waktu kelahiran dan kepergiannya.
"Assalamualaikum, Bunga."
Alya lebih dulu menyapa dengan senyuman getir yang ditampakkannya, di tengah kesedihan yang mulai hadir menyeruak di hati. Bayangan kepergian wanita jelita sore itu berkelebat membayanginya.
"Assalamualaikum, Bungaku." Ardi mengikuti ucapan Alya dengan panggilan kesayangannya yang tidak berubah.
Alya membetulkan posisi Aura dalam dekapannya, seraya menatap wajah Ardi yang juga sama sepertinya. Berubah sendu dengan senyuman yang dipaksakan.
Di pemakaman Bunga inilah Alya ingin diantarkan oleh Ardi. Wanita itu ingin sekali mengunjungi makam istri dari lelaki yang berdiri di sebelahnya saat ini. Juga ibu dari bayi cantik yang berada dalam dekapannya sekarang.
Setelah mengajari Aura untuk menyapa sang bunda dengan suara yang diwakili olehnya, Alya menyerahkan bayi riang itu kepada Ardi. Kemudian dia duduk berlutut dengan tangan kanan berada di atas batu nisan Bunga.
Ada banyak hal yang ingin disampaikannya pada Bunga, selain dari untaian doa tulus yang akan dipanjatkannya di akhir kunjungan mereka nanti. Alya ingin memantapkan hatinya atas keputusan yang telah dia ambil, yangmana juga merupakan permintaan terakhir Bunga sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
"Selamat pagi, Bunga. Apa kabarmu? Maaf aku baru bisa mengunjungi sekarang, padahal sudah lama aku ingin datang kemari. "
Alya tersenyum dengan mata indahnya yang berkaca-kaca. Tangannya mengusapi ukiran nama Bunga di atas batu nisan, seolah sedang berbicara dengannya secara langsung.
__ADS_1
Ardi yang menggendong putri kecilnya, masih berdiri di sampingnya dan mendengarkan semua ucapan Alya. Sesekali diciuminya pipi Aura untuk mengalihkan perasaannya yang mulai terasa sesak dan terharu. Lelaki itu pun teringat pada istrinya, wanita yang sudah memberinya seorang buah hati yang sekarang ada bersamanya.
Aku membawanya ke sini atas permintaaannya sendiri. Semoga kamu senang dengan kedatangan kami bertiga. Aku juga berharap kamu semakin tenang dan bahagia di sana, setelah mengetahui hubungan yang sedang kami jalani saat ini.
Ardi tersenyum menatap nisan Bunga yang masih disentuh dan diusapi oleh Alya. Tidak akan pernah dia pungkiri bahwa dia mencintai istrinya. Walaupun pada akhirnya, takdir memisahkan cinta dan kebersamaan mereka yang baru menikah selama satu setengah tahun.
Lelaki itu terus membiarkan Alya larut dalam kesendiriannya di samping pusara Bunga. Sementara dia menyibukkan diri dengan menanggapi celotehan putri kecilnya yang masih sangat ceria karena baru saja bangun tidur.
Berada di pusara istri Ardi, Alya bercerita banyak hal seolah ada Bunga di hadapannya. Dengan raut wajah yang sendu disertai senyuman yang tegar ditampakkan, wanita anggun mengatakan semuanya. Dia berkisah dengan jujur, tanpa ada yang dia tutupi.
Dari masa lalunya bersama Ardi, pernikahan dan perpisahannya. Kemudian tentang pertemuannya kembali dengan Ardi saat Bunga sedang mengandung Aura, hingga pertemuan mereka yang kedua saat menghadiri seminar di luar kota.
Alya mulai terbawa emosi saat mengingat proses persalinan Bunga yang dilakukan secara darurat olehnya, hingga Aura lahir dan Bunga pun akhirnya selamat.
"Mungkin kamu tidak tahu, jika setelah kelahiran Aura, aku dan Ardi sempat bertemu lagi di acara pernikahan Indra, adiknya Nara."
Alya mengingat memori itu. Saat dirinya beristirahat di kediaman Yoga untuk memulihkan kondisi setelah menyumbangkan banyak darahnya untuk Bunga. Dia sengaja menghindari pertemuan dengan Ardi, tapi akhirnya bertemu lagi saat resepsi pernikahan Indra dan Rizka.
"Aku minta maaf karena setelah itu, Ardi memaksa untuk mengantarkan aku ke bandara. Sungguh aku tak kuasa menolak permintaannya tersebut. Meskipun dia mengatakan hanya ingin membalas budi atas bantuanku, tetapi aku tetap memendam rasa bersalah kepadamu. Maafkan aku ...."
Samar-samar Ardi mendengarkan ucapan Alya, di tengah celotehan Aura disertai tawa gembiranya. Lelaki itu ikut mengingat perpisahan mereka di bandara kala itu.
Semakin dia mengetahui banyak hal tersembunyi dari Alya, semakin bulat dan kuat keinginannya untuk membahagiakan wanita cinta pertamanya tersebut.
Bukan semata karena permintaan terakhir Bunga, bukan pula karena rasa bersalah dan penyesalan yang dirasakannya setelah mengetahui kebenaran tentang Alya. Sesungguhnya, semua berawal dari rasa di hatinya.
Tentang cinta lama di hatinya yang tidak pernah padam sesaat pun. Tentang ikatan rasa yang telanjur kuat dan erat di antara mereka. Tentang cinta yang selalu bertahta di sanubari kendati telah terpisah dan tak termiliki.
Alya melanjutkan ceritanya sampai pada hari di mana Bunga menyampaikan pesan terakhirnya. Pesan yang juga menjadi permintaan terakhir Bunga, baik untuk dirinya maupun untuk Ardi.
"Sejujurnya dulu aku tak kuasa untuk memenuhi permintaanmu. Aku tidak mau menyakiti hatimu sekalipun itu adalah permintaanmu dan pesan terakhirmu sendiri."
"Tapi pertemuan demi pertemuan yang terjadi di antara kami, seolah menjadi pertanda bahwa aku dan Ardi memang harus memperbaiki hubungan lama kami menjadi hubungan baru yang lebih erat dan dekat."
Alya menarik napas dalam-dalam seraya menejamkan mata. Kemudian dia menghembuskannya perlahan guna melawan keraguan yang sempat terbersit lagi di hatinya. Dia memantapkan diri dan meyakinkan perasaannya, untuk mengutarakan hal terakhir yang ingin disampaikannya.
"Di sini bersama Ardi dan Aura, aku meminta izinmu untuk menjalani hidup bersama mereka. Izinkan aku menemani mereka dan membahagiakan mereka, sebagimana yang dulu kamu lakukan untuk keluarga kecilmu."
Ardi tak bisa menahan perasaannya lagi. Masih dengan mendekap Aura dengan tangan kirinya, dia melangkah maju dan berdiri tepat di samping Alya.
__ADS_1
Lelaki itu meminta Alya untuk bangkit dari duduknya. Setelah wanita anggun itu berdiri di sisinya, dengan gerakan cepat dia menggenggam tangan kiri Alya dengan tangan kanannya.
Alya terkesiap dan serta-merta menoleh ke arah Ardi. Dia menatap lelaki itu dengan gugup dan serba salah. Sama sekali tak menyangka, Ardi akan melakukannya bahkan tepat di hadapan pusara Bunga.
Seluruh wajah dan tubuh Alya menghangat, disertai debaran di dadanya yang terus berdentum semakin keras. Tangannya gemetar tiada henti dan dia berusaha menariknya agar terlepas dari genggaman lelaki di sebelahnya. Sayangnya, Ardi justru semakin mempererat genggamannya.
"Bunga, aku meminta izinmu untuk menjadikan wanita di sampingku ini sebagai teman hidupku. Aku ingin membahagiakannya dengan caraku, seperti yang pernah kamu katakan padaku waktu itu."
Alya berusaha melawan ketakutannya dengan membalas geggaman tangan Ardi. Dia tidak ingin pasrah dan menyerah. Dia ingin hidup bahagia bersama lelaki yang sangat dicintainya sepenuh hati.
"Di sini aku ingin menyampaikan padamu, sekaligus meminta izinmu, aku akan menikahi Alya dan menjadikannya bagian dari kebahagiaanku dan kebahagiaan Aura putri kita."
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
.
__ADS_1