CINTA NARA

CINTA NARA
2.83. SANGAT BERUNTUNG


__ADS_3

"Bagaimana, Dok? Apakah sudah ada tanda-tanda kehamilan dalam pemeriksaannnya?"


Tanpa sepengetahuan suaminya, Nara diantar oleh Pak Budi mendatangi Alya di klinik dan meminta dilakukan pemeriksaan lebih dini atas keterlambatan haidnya beberapa hari ini.


"Kamu sangat tidak sabar rupanya," jawab Alya sambil memutar-mutar transduser di permukaan perut Nara. Perhatiannya masih tertuju pada apa yang ditemukannya dan terlihat di layar monitor di hadapannya.


"Dokter sudah tahu tentang keinginan terbesar saya ini. Oleh karena itu, saya segera pergi kemari untuk memastikannya."


Pagi tadi, diam-diam Nara membawa sebuah tespek ke dalam kamar mandi dan melakukan pemeriksaan dini tanpa sepengetahuan Yoga.


Namun karena hasil yang dilihatnya masih sangat samar dan membuatnya ragu, dia pun memutuskan untuk membuat jadwal konsultasi dengan Alya untuk memastikan semuanya.


"Sepertinya kali ini kamu tidak beruntung, Ra ...."


Jawaban Alya yang datar dan tanpa menoleh ke arahnya, membuat Nara menghela napas panjang dan menenangkan dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa, Dok. Mungkin memang belum waktunya. Lagipula, kami baru memulainya kembali."


Alya menoleh ke arah Nara yang masih berbaring dengan raut wajah datar yang dipaksakannya untuk menampakkan senyuman kecil.


"Dengarkan aku sekali lagi, Ra. Kamu memang tidak beruntung ..., tapi kamu sangat beruntung karena bisa langsung hamil setelah bulan lalu memulai program alami kehamilan ini."


Wajah Nara berubah cerah seketika. Ditatapnya wajah Alya yang tersenyum ke arahnya, tanpa sepatah kata lagi.


"Apa? Maksud Dokter, saya ...? Saya hamil??" Dilihatnya Alya mengangguk dam menunjukkan satu titik kecil yang tampak di layar monitor.


"Ya, Ra. Kamu hamil, lihatlah ini. Ini janinnya, masih sangat kecil dan tadi pun aku cukup kesulitan untuk menemukannya."


Tanpa sadar Nara meneteskan air mata. Hatinya terus berdebat bahagia setelah Alya! memastikan kehamilannya.


"Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah ...!!" Sejenak Nara memejamkan mata dan mengucap syukur dalam hati atas anugerah yang memang sudah sangat dinantikannya tersebut.


"Selamat ya, Ra. Aku turut senang dan bahagia!"


Alya melebarkan senyumannya dan menatap wajah semringah sahabat barunya yang sangat baik hati.


"Terima kasih, Dokter."


Nara mengangguk dan menyeka air matanya. Senyumannya semakin lebar kini, setelah Alya memberinya kabar baik yang sangat diharapkannya itu.

__ADS_1


"Usia kehamilanmu masih sangat muda, masih lima minggu. Karena itulah hormon kehamilan di dalam urinmu masih sangat rendah sehingga saat kamu memeriksanya dengan tespek, hasil garisnya masih terlihat samar."


Nara kembali menoleh ke arah samping dan menatap titik kecil yang ditunjukkan oleh Alya dengan perasaan haru.


"Apakah dia akan baik-baik saja, Dok? Apa yang harus saya lakukan agar janin kecil itu bisa bertahan dan terus berkembang?" tanya Nara dengan sangat antusias.


"Banyak-banyaklah beristirahat dulu. Kurangi aktivitasmu sampai pemeriksaan berikutnya. Kita akan memastikannya lagi bulan depan."


Nara mengangguk tanda mengerti. Dalam hati dia bertekad akan menjaga kehamilannya kali ini dengan sebaik-baiknya agar janin yang sudah tumbuh di rahimnya terus tumbuh dan berkembang dengan baik sebagaimana mestinya.


Alya kembali menggerakkan transduser yang dipegangnya dan melakukan pemeriksaan yang lainnya. Satu persatu ditelitinya kondisi kehamilan Nara dengan seksama agar tidak ada yang terlewatkan olehnya.


"Denyut jantungnya belum terdengar karena usia kehamilan yang masih sangat awal saat ini. InsyaAllah bulan depan kita sudah bisa mendengarnya bersama-sama."


Alya meletakkan trasduser kembali pada tempatnya dan berkonsentrasi dengan hasil yang tertera pada layar monitor.


Tangannya sibuk di atas papas ketik dan menuliskan sesuatu yang membuat tampilan di dalam layar menjadi berubah-ubah sesuai dengan fokus pemeriksaannya.


"Secara keseluruhan semuanya baik dan normal. Aku akan meresepkan beberapa obat dan vitamin penguat kandungan agar petumbuhan janin kecilmu lebih optimal dan bulan depan kita bisa melihatnya semakin besar dan sehat."


Alya kembali ke mejanya dan menuliskan resep untuk Nara sambil menunggu wanita itu bangun dari pembaringan dan merapikan penampilannya, dibantu oleh seorang perawat yang mendampingi selama pemeriksaan.


Sambil Alya menuliskan laporan pada berkas kesehatan pasien milik Nara, mereka berdua menciptakan obrolan kecil nan ringan seputar kehamilan dan rencana Nara untuk memberikan kejutan pada Yoga.


Di tengah-tengah obrolan terdengar ketukan pintu dari luar ruangan. Setelah Alya menjawabnya, pintu terbuka pelan dan terlihat di sana wajah Rendy yang tersenyum lembut ke arah Alya.


Sekilas Nara ikut menoleh dan memperhatikan lelaki yang berdiri di ambang pintu dan menyapanya dengan anggukan kepala itu. Dia membalasnya dengan hal yang sama lalu kembali menatap Alya di hadapannya.


"Oh, maaf. Aku kira sudah selesai pemeriksaannya. Maafkan aku. Aku akan menunggumu di luar."


Alya hanya mengangguk dan tersenyum kecil lalu menundukkan kepala. Sementara itu Rendy pun segera berbalik dan menutup kembali pintu ruangan.


Nara memperhatikan perubahan di wajah Alya. Dokter itu merona namun mencoba menyembunyikannya.


"Ehemm ...!! Sepertinya saya telah melewatkan sesuatu selama satu bulan ini."


Nara masih terus memperhatikan perubahan di wajah Alya yang semakin terlihat olehnya saat wanita itu mengangkat kepala dan menatapnya dengan senyuman malu.


"Dia adalah Dokter Rendy, dokter tulang yang menanganiku selama ini ...." Nada kalimat Alya masih menggantung seolah ada yang belum selesai diucapkannya.

__ADS_1


"Dan dia ...??" Nara mencoba memancingnya dan menunggu jawaban dari Alya.


"Dia hanya menjemputku untuk berangkat ke rumah sakit setelah ini."


Nara bisa menangkap kegugupan Alya saat memberikan jawabannya. Wajah dokter berhijab anggun itu masih merona, sama seperti saat pertama kali melihat Rendy muncul di balik pintu tadi.


Selama ini yang dia tahu, Alya sangat mandiri dan membatasi pergaulannya dengan lawan jenis. Dia selalu pergi ke mana pun seorang diri, kecuali bersama sopir yang selama beberapa bulan ini terlihat mengantarkan dan menjemputnya bekerja.


"Apakah dia merangkap menjadi sopir Anda yang baru? Atau ...?" Nara menggoda dengan kembali menggantung kalimatnya dan memperhatikan sikap Alya yang semakin salah tingkah.


"Kami hanya berteman baik," jawab Alya singkat membuat Nara tersenyum lebar dan merasa bahagia.


"Semoga dia bukan hanya menjadi teman baik saja, tapi akan menjadi seseorang yang bisa menjadikan hidup Anda menjadi lebih baik dan lebih bahagia, Dok!"


Nara kembali melihat aura bahagia di wajah ayu Alya yang kini tak lagi menyembunyikan senyumannya.


"Kami sedang menjalani hubungan pertemanan yang lebih dekat dari sebelumnya, Ra. Doakan saja yang terbaik, karena aku belum bisa memastikan apa pun untuk saat ini."


"Aku belum yakin dengan perasaanku saat ini, karena sejujurnya jauh di lubuk sanubariku yang terdalam, masih selalu tersimpan namanya dan cinta terbaik hanya untuknya."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2