
Seperti yang sudah direncanakan, Ardi dan Aura kembali datang menemui Alya. Setelah tiga bulan lamanya tidak bertemu secara langsung, hari ini Alya menjemput mereka di bandara dengan diantar oleh Pak Arif.
"Bubu ... amm maa ... Bubu ...."
Alya tersemyum lebar melihat Aura mulai meronta dalam gendongan sang ayah, ketika bayi yang semakin lincah itu melihat keberadaannya.
Alya menyambut kedatangan mereka dan segera merentangkan tangan untuk mengajak Aura ikut bersamanya. Tentu saja bayi cantik itu terkekeh gembira dan berpindah ke pelukan wanita yang akan menjadi ibu sambungnya.
"Ibu merindukanmu, Sayang." Alya menciumi wajah Aura dengan gemas hingga bayi ceria itu semakin senang dan terus tertawa riang.
Ardi yang mendengar ucapan Alya tertegun seketika, masih tak percaya dan sama sekali tak menyangka. Berulang kali dia meminta Alya melakukannya, akan tetapi wanita anggun itu masih enggan menuruti permintaannya. Sekarang, tiba-tiba dia dikejutkan dengan satu kata yang diucapkan Alya saat mereka bertemu lagi.
"Al ... kamu ...?" Wajah Ardi masih terkesiap dan tak berkedip memandang wajah wanita yang sangat dirindukannya. Alya hanya tersenyum saat mereka beradu pandang, lalu mengalihkan perhatiannya pada Aura. Bayi itu sudah bermanja dengan merebahkan kepala di bahunya.
Hatinya terasa sejuk dan penuh haru mendapati sikap Alya yang sudah lebih terbuka dan terus menampakkan senyum bahagia.
"Aku sangat merindukanmu, Alya. Terima kasih sudah menyambut kami dengan kejutan indah yang baru saja aku dengar." Ardi berucap jujur dengan posisi mendekati Alya.
Kerinduan selama tiga bulan tak bertemu begitu memuncak, hingga ingin rasanya memeluk wanita itu dan mendekap erat-erat. Namun akal sehat lelaki itu masih bisa berpikir jernih dan mengesampingkan keinginan tersebut.
Sekuat tenaga dia mengepalkan tangan di bawah guna meredam hasratnya. Pandangannya kian teduh menatap semakin lekat wajah ayu di depan mata. Kehangatan menjalari sanubari saat rindu mulai terpuaskan oleh pertemuan yang telah terjadi.
"Kita keluar sekarang? Pak Arif sudah menunggu." Alya menepis kecanggungan di antara mereka. Lebih tepatnya hanya dia yang canggung dan salah tingkah karena Ardi terus-menerus memperhatikan dirinya.
Mendekap Aura yang masih bermanja padanya, wanita itu berbalik badan dan melangkah lebih dulu. Ardi menghela napas panjang lalu mengikuti dengan senyum yang mengembang di wajah rupawannya.
Melihat mereka bertiga keluar, Pak Arif yang menunggu di luar bergegas kembali ke halaman parkir. Beliau membawa mobil menuju ke area penjemputan. Dengan sigap lelaki paruh baya tersebut membantu Ardi memasykkan kopwr dan tas liannya ke dalam bagasi, sementara Alya dan Aura segera masuk dan duduk di belakang.
Ardi menyusul duduk di samping calon istrinya dengan perasaan bahagia. Dilihatnya Aura berdiri dan berceloteh di atas pangkuan Alya yang terus memegang tubuh bayi ceria itu agar tidak terjatuh.
"Pak, kita langsung ke sana saja," pinta Ardi dengan sopan yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Pak Arif.
"Ke mana?" tanya Alya yang tidak mengerti maksud pembicaraan keduanya. Dia berpaling menatap Ardi yang sudah lebih dulu menatapnya tanpa henti.
__ADS_1
Lelaki romantis itu hanya tersenyum dan masih menyimpan suara. Tatapannya semakin lekat menembus kedalaman sepasang mata indah yang masih memandangnya dengan sendu.
"Aku akan memenuhi ucapanku tiga bulan silam, saat mengantarmu ke bandara pagi itu." Ardi tidak menjawab dengan pasti, membuat Alya memilih diam dan tidak membahasnya lagi. Dia kembali sibuk menanggapi celotehan Aura yang semakin riang dan penuh tawa ceria.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, mobil putih yang mereka tumpangi berbelok memasuki gerbang perumahan yang ditinggali oleh keluarga Yoga.
Alya tetap bersikap tenang dan tidak berpikiran lain. Dia menyangka Ardi ingin beristirahat dulu di rumah Yoga sembari menyimpan barang bawaan.
Raut wajahnya mulai berubah bingung dan menatap Ardi seketika, saat mobil terus melaju melewati rumah Yoga. Tatapan penuh pertanyaan tertuju pada lelaki yang duduk penuh senyuman di sampingnya.
Mobil baru berhenti menjelang sampai di persimpangan, tepatnya berjarak tiga rumah dari milik keluarga Yoga. Pak Arif segera turun dan lebih dulu membuka pagar yang berbahan kayu dengan model minimalis modern sesuai bentuk arsitektur rumah yang berdiri megah di dalamnya.
Ardi menyusul keluar lalu membukakan pintu untuk Alya yang terus mendekap erat putri kecil kesayangannya. Meski masih bertanya-tanya dalam hati, Alya tetap mengikuti ajakan lelaki yang terlihat sangat bahagia itu.
Pak Arif berjalan mendahului melewati halaman depan yang luas dan berumput hijau. Secara keseluruhan bangunan berikut halamannya seupadengan rumah yang ditimgali oleh Yoga bersama keluarganya.
Sopir sekaligus orang yang dipercaya oleh Ardi untuk menjaga dan melayani Alya dan keluarganya tersebut menunggu di teras rumah yang rindang dengan pepohonan kecil dan tanaman bunga yang mengeliling tepian rumah.
"Terima kasih, Pak Arif. Maaf kalau selama ini saya terus merepotkan," ucap Ardi dengan tulus. Diam-diam dia memang terus berkomunikasi dan meminta bantuan beliau.
"Dengan senang hati, Mas Ardi. Saya senang bisa membantu."
Usai menjawab demikian, Pak Arif pamit untuk menaruh barang-barang Ardi di rumah Yoga, sembari menunggu mereka bertiga menyelesaikan kepentingan di rumah yang baru saja mereka datangi tersebut.
"Ini, Al. Bukalah pintunya!" pinta Ardi seraya menyerahkan kunci yang dipegangnya. Alya terlihat semakin bingung dan belum mau menerimanya. Namun Ardi terus menunggu hingga akhirnya wanita itu mengulurkan tangannya.
"Ini ... rumah siapa? Mengapa aku yang harus membukanya?" tanya Alya dengan ragu dan masih menampakkan keingintahuan, menunggu penjelasan lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Ini adalah rumah kita, Alya. Rumah yang akan kita tinggali bersama setelah kita menikah nanti."
Sontak Alya terkejut dan membelalakkan mata. Dia belum yakin dengan pendengarannya, tapi hatinya sudah bereaksi dan berdebar sangat kencang.
Aura yang masih berdiri dengan satu tangan berpegangan pada Alya, memukuli pintu di depannya seolah tak sabar ingin segera masuk.
__ADS_1
"Aku sudah membelinya beberapa waktu yang lalu. Yoga dan Pak Arif yang membantuku mengurus semuanya," terang Ardi dengan wajah yang dipenuhi senyuman semakin lebar, seraya menatap Alya dengan pandangan yang semakin hangat dan penuh cinta.
"Kita? ... Maksudmu ... kamu ...?" Alya tak kuasa melanjutkan pertanyaannya yang masih sarat keraguan. Dia takut salah menduga dan akan kecewa pada akhirnya.
Ardi yang mengerti keraguan calon istrinya serta-merta mengangguk cepat dan memperdalam tatapan sepasang netra teduhnya.
"Kita bertiga akan tinggal bersama di sini. Aku, kamu dan Aura, juga adik-adiknya nanti. Aku sudah menepati janjiku, memberimu jawaban dan kepastian saat kita bertemu lagi."
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1