
Pencarian ibu kandung Dina dilakukan hampir satu bulan lamanya. Sempat putus asa, karena mencari seseorang yang berkali - kali pindah rumah tidaklah gampang.
Papa Dina berhasil menyuruh orang untuk menyelidiki keberadaan ibu kandung Dina. Ternyata ia selama ini masih berada di kota Bengkulu.
Tapi tidaklah gampang menyuruh ibu kandung Dina untuk pergi ke Singapura seorang diri. Ia tidak percaya begitu saja. Ia minta bukti otentik berupa foto Dina dari kecil sampai dewasa. Minta bukti kalau Dina sedang di rawat.
Meskipun Papa Dina sudah menelpon langsung tetap saja tidak di gubris oleh ibu Ayana, ibu kandung Dina. Ia ingin papa Dina langsung datang memohon padanya. Titik.
Berat rasanya meninggalkan Dina di Singapura dalam keadaan sakit seperti ini. Tapi apa boleh buat. Papa Dina harus bertemu dengan mantan istrinya.
Sebelum menemui ibu kandung Dina. Papa Dina terlebih dahulu memberitahu anaknya. Sosok yang sekarang dianggap sebagai ibu baginya adalah bukan ibu kandungnya.
"Papa ... , ibu kandungku sekarang ada dimana? Apakah dia selama ini tidak berusaha mencariku. Mengapa papa menyembunyikan kenyataan ini padaku, " isak tangis Dina.
"Maafkan papa. Papa belum bisa memaafkan ibu kandungmu. Makanya sampai sekarang papa baru memberitahu semuanya padamu. Papa tak ingin kehilanganmu nak. Kau harus bertahan. Hanya satu - satunya harapan adalah ibu kandungmu. Semoga sumsum tulang belakangnya cocok buatmu. Kita berdoa saja, " ucapnya sambil memeluk Dina yang sedang duduk di tempat tidurnya.
Mama Dina sedari tadi hanya diam saja. Duduk di sofa bed sambil mendengarkan pembicaraan ayah dan anak. Tak ingin menyela, hanya mendengar dengan seksama.
Pernikahan mama Dina dengan papa Dina tidak dikarunia anak. Sedari dulu mereka sudah berusaha sampai dengan program bayi tabung. Namun dalam rahimnya tak kunjung tumbuh jabang bayi.
Awal pernikahannya, mama Dina tidak menyukai anak bawaan suaminya. Ia hanya berpura - pura menyayanginya. Dina kecil yang waktu itu berusia 2 tahun, harus terpisah dengan ibu kandungnya.
Dina kecil menangis mencari ibunya. Berbagai cara telah ia dan papa Dina lakukan. Lamban laun bocah kecil itu lupa dengan ibu kandungnya.
__ADS_1
Dina kecil begitu menggemaskan. Membuatnya begitu mencintai anak itu sampai dengan sekarang. Bersyukur memiliki Dina dalam hidupnya. Dan ... pada akhirnya. Sakit leukimia Dina yang membuka rahasia yang ia dan papa Dina tutup rapat.
Berbagai lintasan peristiwa masa lalu kini menyeruak di kepalanya. Membuka tabir yang selama ini tertutup. Ada masa lalu yang ingin ia buang. Tak ingin satu orang pun tahu. Hal yang pernah ia lakukan untuk mendapatkan cinta papa Dina. "Ah, sudahlah ... , biarkan semuanya. Toh , semua sudah berlalu, " batinnya sambil menepis pikiran buruk.
Keheningan kemudian menerpa kamar Dina di rawat. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mereka yang ada di dalamnya. Semua melayang pada alam pikiran masing - masing.
Dina sangat berhasrat ingin bertemu ibunya. Banyak yang ingin ia tanyakan. Mengapa selama ini ibu tidak berusaha untuk mencarinya. Bagaimana rupa ibu ? Apakah ia memiliki wajah sepertiku , " semua berkecamuk dalam benaknya.
Dina tak tahu ... , apakah ia harus sedih atau bahagia ketika bertemu ibu kandungnya. Selama ini mama yang ia tahu adalah mamanya yang sekarang. Mama selalu menyayangi Dina. Tak pernah sedikitpun mama membuatnya bersedih.
"Maafkan mama, Dina. Mama tak bisa menjadi ibu kandungmu. Walau mama sangat menyayangi Dina. Toh, Dina tidak dilahirkan dari rahim mama. Tapi percayalah, mama selalu mencintaimu nak, " ucap mama sambil menghampiri Dina dan memeluknya.
Papa, mama dan Dina saling merangkul. Kedua orang tua itu duduk disebelah kiri dan kanan anaknya. Duduk di tempat tidur pasien.
Mama Dina dan papa Dina lalu mencium pipi kiri dan kanan Dina. Sakitnya Dina telah menguatkan cinta diantara mereka bertiga. Kecintaan orang tua pada anaknya.
"'''''''''"""
Nun jauh di sana, di kota Bengkulu. Seorang perempuan baya berusia 55 tahun. Seseorang yang merindukan anaknya bertahun - tahun. Dia adalah Ibu kandung Dina. Dalam hatinya yang terdalam. Ia amat merindukan ingin bertemu anaknya. Perceraian yang menyakitkan membuat dirinya harus berpisah dengan anaknya. Hak kuasa pun jatuh di tangan mantan suaminya.
Kini ... , seseorang yang mengaku sebagai mantan suaminya. Meminta kehadirannya ke Singapura, demi anaknya. Tak bisa ia mempercayainya begitu saja. Hatinya terluka, seseorang telah memfitnahnya begitu kejam.
Setelah bertahun - tahun ia berusaha menepis rindunya pada sang anak. Kini seseorang yang mengaku - ngaku suruhan papa Dina mencari ibu kandung anaknya.
__ADS_1
Dulu ... , dua puluh tahun lamanya. Ia menangis, meminta pengadilan menjatuhkan hak asuh pada anak kecil yang seharusnya berada dalam pengasuhan ibunya.
Terngiang - ngiang perkataan mantan suaminya waktu itu. Apa kata mantan suaminya saat itu. Membuatnya hatinya terpukul.
"Kau tak pantas menjaga anak kita. Apa yang bisa kau berikan pada anakmu. Memberi makan saja kau tak sanggup. Hanya kemelaratan yang kau bisa berikan , " hardik papa Dina setelah memenangkan hak asuh anaknya di pengadilan 28 tahun silam.
Ayana muda menangis histeris saat sang mantan suami tega berkata kasar padanya. Hatinya hancur, tak tahu harus kemana. Ia menikah tanpa persetujuan kedua orang tuanya. Dan ... sekarang ia dicampakan begitu saja.
"Ingat perkataanku !! Aku tak pernah berbuat sehina itu. Allah maha tahu, kebenaran pasti terungkap. Cepat atau lambat kau pasti mencariku suatu saat nanti, " ucap Ayana di sela isak tangisnya yang bergemuruh.
Kemudian Ayana muda meninggalkan pengadilan agama itu. Berjalan menyusuri jalanan dengan air mata yang mengalir deras. Air mata kekalahan. Rinai hujan pun menemaninya di kala itu
Semua berkecamuk dalam kenangan pahit yang ingin ia lupakan. Terhempas. Ingin kembali pada kedua orang tuanya di Yogyakarta adalah sesuatu yang tidak mungkin. Kedua orang tuanya tak ingin menerimanya kembali. Pengorbanan Ayana muda dengan menukar akidahnya untuk pernikahannya harus dibayar mahal.
Semenjak itu, hidup Ayana terlunta. Bertahan di Bengkulu dengan berpindah - pindah rumah. Untung saja supir pribadi yang dijebak bersamanya mau menikahinya pada waktu itu.
Sumpahnya saat itu terjadi. Mantan suaminya kini mencarinya. Membutuhkan dirinya. Entah apa yang dipikirannya. Sekelebat bayangan sosok sang mantan hadir kembali.
Ayana yang kini sudah menua. Sudah tak ada dendam lagi. Ia hanya pasrah akan takdir Tuhan. Bukankah ia selama ini telah kehilangan anaknya 20 tahun lebih. Sudah terbiasa tanpa anaknya.
Ada rasa sedikit gulana yang ia rasakan. Apakah benar anak kandungnya yang sakit. Apakah ini kebohongan lagi yang akan ia terima.
Biarlah sang waktu yang akan mempertemukannya dengan anak yang sangat di rindukannya. Diambilnya sebuah foto masa lalunya. Tampak bocah kecil berusia 2 tahun sedang tersenyum di hari ulang tahunnya. Akan kah ia bertemu dengan anak kecil dalam bingkai foto itu. Apakah ini hanya mimpi. Semoga akan ada waktu buatnya memeluk erat gadis kecil itu ....
__ADS_1