CINTA NARA

CINTA NARA
3.39. BERPISAH UNTUK BERSATU


__ADS_3

Ardi tersenyum memperhatikan pemandangan indah di hadapannya. Alya dengan telaten menyuapi Aura yang lahap menikmati makanan yang disiapkan oleh wanita anggun tersebut.


Untuk mengejar waktu, Ardi memang berencana untuk menyuapi Aura setelab tiba di badara sembari mrnunggu waktu keberangkatsn. Tak disangka, sekarang justru Alya yang menyuapi putri kecilnya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Al. Dia sangat lahap jika makan bersamamu." Ardi membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari kedua kesayangannya. Disesapnya kopi panas yang dipesan dari kafe tempat mereka duduk bersama saat ini, sambil menunggu waktunya masuk ke ruang tunggu.


"Semoga dia tidak rewel selama di pesawat nanti. Seperti saat berangkat kemari dulu, dia cukup riang meski terbangun sepanjang perjalanan."


Ardi terus menikmati pemandangan menenangkan hati yang tak lama lagi akan berganti menjadi perpisahan. Alya masih terus menyuapi putrinya dengan senyuman tulus di wajah ayunya yang semakin menampakkan sisi keibuannya setiap kali sedang bersama Aura.


"Aku akan mencoba menidurkannya setelah ini. Bukankah biasanya setelah mandi dan makan pagi dia lebih sering tertidur lagi? Semoga dia tenang dan tidak merepotkanmu."


Pandangan keduanya kembali bertemu, hanya berjarak meja yang membatasi duduk mereka. Pandangan lembut itu mengingatkan Ardi pada beberapa saat yang lalu, ketika mereka berdiri berhadapan dan saling mengunci pandangan dengan tatapan yang dalam dan penuh rasa.


Masih terngiang dalam indra pendengarannya, apa yang diucapkan oleh Alya untuk dirinya.


"Aku tidak tahu kapan bisa kembali kemari, Al. Akan sangat sulit untuk meninggalkan Aura sendiri di sana, sementara tidak mungkin juga untuk membawanya pergi hanya untuk perjalanan singkat yang justru akan membuatnya kelelahan."


Ardi membayangkan jarak yang akan membentang di antara mereka setelah ini. Kondisi Alya dan masa lalunya, membuat lelaki itu tidak tega untuk membiarkan wanita itu sendiri seperti dulu.


"Jangan khawatirkan aku. Bukankah kamu sendiri yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja? Maka dari itu aku pun percaya bahwa aku akan baik-baik saja setelah ini."


Semoga lelaki itu tidak lagi mengganggumu, setelah hukuman yang dia peroleh atas perbuatannya kepadamu. Tapi bagaimana dengan dokter tulang itu? Akankah setelah kepergianku ini dia masih mencoba mendekatimu lagi, Al?


Ardi mengusap kasar wajahnya saat bayangan Riko dan Rendy mengganggu pikirannya secara bersamaan, di saat dirinya akan pergi meninggalkan Alya.


Ardi melihat Aura mulai bermanja di bahu Alya usai menghabiskan makanannya dan bermain sebentar bersama wanita berhijab itu. Sepertinya putri kecilnya mulai lelah dan mengantuk, sesuai dengan perkiraan Alya.


Dengan sabar dan hati-hati, Alya merubah posisi Aura di pangkuannya. Dia mencoba untuk menyamankan Aura agar lebih cepat terlelap tanpa merengek lebih dulu.


Ardi hanya bisa memperhatikan keduanya dari seberang meja, dengan tatapan penuh kekaguman pada wanita cinta pertamanya tersebut.


"Al, bagaimana dengan Dokter Rendy? Apakah dia akan mendekatimu lagi setelah aku pergi?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulut Ardi setelah ditahannya sedari tadi.


Sekilas Alya mengangkat wajahnya dan menatap lelaki rupawan di hadapannya. Dia menggeleng pelan kemudian menunduk lagi dan memperhatikan Aura yang sudah pulas di pangkuannya.


"Dia sudah tahu jika aku tidak bisa menerimanya. Tapi aku tidak bisa menolaknya saat dia menawarkan bantuan untuk sekedar mengantarkan aku seperti selama ini. Maafkan aku ...."

__ADS_1


Ardi mengangguk, berusaha memahami posisi Alya. Dia tidak mungkin melarang dokter berhijab anggun itu untuk berteman dengan siapa pun. Apalagi Rendy adalah seseorang yang selama ini selalu ada di dekatnya dan sudah banyak membantu Alya dalam keadaan apa pun.


Harus diakuinya, Rendy sudah menjaga dan melindungi Alya dengan baik, walaupun dia tahu Alya tidak akan pernah bisa membalas perasaannya.


"Jujur saja aku takut kamu akan melupakan aku saat tengah bersamanya ...," jujur Ardi dengan wajah sendunya.


Alya terdiam meski tidak membenarkan ketakutan Ardi. Dia tidak ingin membahas dan membalas hal yang tidak penting untuk saat ini. Saat-ssat terakhir sebelum mereka berpisah, setelah hampir satu minggu bersama dan mencoba untuk saling membuka hati.


Demikian pula Ardi, dokter duda itu tidak mempermasalahkan jika Alya tidak menanggapi ungkapan ketakutannya. Dia hanya sekedar memberitahukan apa yang dirasakannya saat ini. Tentang hati, dia percaya pada Alya dan pada perasaan wanita itu sepenuhnya.


Aku percaya padamu, Al. Sedikit pun aku tidak akan meragukanmu. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi.


Tak lama setelah Aura terlelap, saatnya Ardi bersama putrinya harus segera masuk ke ruang tunggu karena waktu ķeberangkatan pesawat akan segera tiba.


Dengan berat hati mereka berdua berjalan bersisian keluar dari kafe menuju pintu ruang tunggu keberangkatan. Aura masih berada di dalam dekapan Alya yang masih enggan untuk menyerahkannya pada sang ayah.


"Alya ...." Suara Ardi mulai terdengar berat diiringi degupan jantung yang semakin keras dan menyesakkan dada. Mereka berhenti beberapa meter dari pintu masuk yang akan dilalui Ardi dan Aura.


Ardi mengulurkan tangan untuk mengambil Aura dari dekapan Alya dan memindahkannya bersandar di bahu kokohnya. Alya merapikan hijab yang tertarik tak beraturan saat membawa bayi cantik kesayangannya.


"Jaga dirimu dan jaga kesehatanmu," pesan Ardi mengawali apa yang lebih ingin diutarakannya. Alya mengangguk tanpa senyuman.


"Kamu juga. Dan tolong jaga Aura dengan baik, pastikan dia selalu sehat."


Hening tercipta setelah Ardi mengiyakan permintaan Alya. Ada rasa tak ingin namun tetap harus pergi untuk sementara waktu. Ada rasa tak rela tapi tetap harus melepaskan dan berpisah entah untuk berapa lama.


Alya menunduk dan terus memainkan kedua jemari tangannya yang saling bertautan. Tak kuasa menatap Ardi yang terus menatapnya tanpa putus.


Ya Allah, kuatkan aku. Aku tak ingin terlihat lemah di hadapannya. Aku tidak boleh semakin membebani perasaannya.


"Kita hanya berpisah sementara untuk bersatu selamanya, jika saat itu telah tiba nantinya. Kamu percaya padaku?"


Ardi menunggu jawaban dari Alya, wanita yang kini telah diharapkannya untuk menjadi pendamping hidup, melengkapi dirinya dan Aura yang membutuhkan sosok sepertinya.


Alya mengangguk lagi namun masih menghindari tatapan teduh Ardi yang sarat kesedihan.


"Alya, tolong lihat aku ...," pinta Ardi sebelum waktu mereka semakin terkikis habis. Alya memilih untuk menuruti sebelum dia menyesalinya nanti.

__ADS_1


"Aku menyayangimu. Kami berdua menyayangimu."


Tanpa sadar bibir Alya melengkungkan sebuah senyuman. Senyuman bahagia karena mendengar sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya.


Tangan kanan Ardi terulur hendak menggapai kepala Alya namun tertahan di udara dan terkepal erat demi menyimpan keinginan untuk menyentuhnya. Kemudian dia menariknya kembali dan memegang gagang koper di sampingnya.


"Katakan sekali lagi, Al. Aku ingin mendengarnya sebelum pergi." Tatapan Ardi semakin lurus, menembus hingga relung sanubari.


"Apa ...?" tanya Alya dengan gugup meskipun dia tahu apa yang diinginkan oleh lelaki yang selalu dicintainya.


"Katakan kamu akan menungguku ...."


Wajah keduanya masih sedekat sebelumnya dan saling mengunci pandangan yang telah semakin redup dan mendung.


"Aku ...." Air mata lebih dulu menetes di pipinya, sebelum kalimat itu terucap dari bibir manis Alya.


Cepat-cepat disekanya sebelum butiran yang lain jatuh mengikuti. Dia menampakkan senyumannya dan menyembunyikan kesedihannya.


Menghirup udara sekitar sebanyak-banyaknya, Alya kemudian melepaskannya perlahan dengan perasaan yang lebih tenang.


"Aku akan menunggumu. Menunggu dirimu dan Aura."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2