
"Kehadiranmu, Mas. Kembalinya dirimu adalah hadiah paling istimewa yang selama ini aku harapkan dan selalu aku mohonkan dalam setiap sujudku. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Mendapatkan dirimu kembali seutuhnya."
Yoga mencium kening Nara sekilas lalu menatap lembut wajah yang penuh kasih tersebut.
"Seutuhnya aku adalah milikmu untuk selamanya, Sayang. Hanya milikmu!"
Nara mengangguk seiring tangisan yang mulai mereda. Dengan jemari kedua tangan, diusapnya air mata yang masih membasahi wajah suaminya.
Yoga pun membalas, membersihkan sisa tangisan di seluruh wajah istrinya, kemudian yang terakhir dia mencium kedua kelopak mata Nara bergantian.
"Jangan menangis lagi karena aku sudah kembali dan akan selalu ada bersamamu."
Yoga membawa tubuh Nara ke dalam pelukannya. Dibiarkannya sang istri menenangkan diri di tempat ternyaman yang sudah lama dirindukannya.
Nara memejamkan mata dengan wajah yang dibenamkannya di dada Yoga. Perasaan hatinya berangsur membaik dan mulai terkendali. Hanya ada bahagia yang dirasakannya kini.
"Mas ...."
"Humm? Ya, Sayang?" Yoga menciumi puncak kepala istrinya dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Kapan kamu diperbolehkan pulang oleh dokter?" tanya Nara yang masih bermanja di pelukan suaminya.
"Secepatnya aku ingin pulang dan bermain bersama pangeran kecil kita. Tapi aku harus menyelesaikan terapiku lebih dulu, sampai tubuhku tidak kaku lagi dan kedua kakiku bisa bergerak dengan normal kembali."
Nara semakin mempererat pelukannya di dalam dekapan suaminya.
"Aku tidak ingin kita berpisah lagi. Aku ingin terus bersamamu, Mas."
Ungkapan Nara yang jujur dan apa-adanya membuat Yoga semakin membuncah bahagia karenanya.
"Aku pun sama, Sayang. Aku ingin segera pulang dan tidak ingin lagi jauh darimu."
Nara yang mendengarkan jawaban suaminya semakin membenamkan wajahnya di dalam pelukan Yoga.
Membayangkan jika nanti malam mereka masih harus terpisah lagi, membuat Nara kian bermanja dan tidak ingin melepaskan pelukannya sama sekali.
"Aku akan lebih giat berlatih agar sesegera mungkin diijinkan pulang bersamamu. Aku tidak ingin lagi berlama-lama di sini tanpa dirimu, Sayang."
Yoga bisa merasakan gerakan kepala Nara di atas dadanya. Wanita itu mengiyakan ucapannya.
"Kamu harus cepat sembuh, Mas. Aku ingin kita bisa segera berkumpul bersama di rumah. Rumah keluarga kecil kita."
__ADS_1
Merenggangkan pelukan tanpa melepaskannya, Nara mengambil ponselnya dari dalam tas.
Dengan segera dia menghubungi nomor ponsel Mbak Indah dan melakukan panggilan video untuk berbicara dengan Raga. Nara ingin memberi kejutan dan mempertemukan bocah tampan itu dengan ayahnya.
Tapi yang terjadi setelah itu, justru Nara yang dibuat terkejut. Panggilannya tidak tersambung akan tetapi bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka lebar dan tampaklah seluruh keluarga mereka di sana.
"Kejutan kedua untukmu, Sayang," bisik Yoga tepat di telinga Nara yang masih terpaku dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Ada Raga yang berdiri sendiri dengan manis, bersama Bapak dan Ibu, juga Indra dan Rizka yang perutnya lebih besar dari perut kakak iparnya. Tak ketinggalan juga di sana ada Mbak Indah, Bibi Asih dan Pak Budi.
"Ibu ... amat ... ulang tahun ...!!" Raga berlari ke arah pembaringan dan kedua tangannya terulur ke atas meminta untuk bergabung bersama kedua orangtuanya di atas.
"Ayah ... Maga duduk ... ama Ayah ...!"
Karena kondisi yang masih belum pulih sepenuhnya, Yoga tidak bisa mengangkat tubuh putra kesayangannya. Indra maju dan membantu mengangkat dan mendudukkan keponakannya di antara Nara dan Yoga.
"Ma acih ... Om Inda ...."
Setelah berterima kasih kepada pamannya, Raga menoleh ke arah Yoga yang terus mengelusi kepala putra kesayangannya.
"Ayah ... cembuh ...? Ayah ... bobok ... ama Maga ...?" tanya Raga dengan polosnya, berharap bisa segera tidur bersama dalam pelukan ayahnya seperti dulu.
"Kok Raga tidak terkejut saat melihatmu tadi, Mas?" tanya Nara yang merasa aneh dengan sikap putranya yang biasa saja, pun dengan keluarganya yang lain.
Lagi-lagi Yoga berbisik dan mencium lembut telinga Nara di hadapan semua orang yang terus memperhatikan tingkah merindu keduanya.
Nara tersenyum lalu menganggukkan kepala dengan hati yang semakin berdebar bahagia.
"Aku bukan hanya menyukainya, Mas. Tapi aku bahagia karenanya. Sekali lagi terima kasih."
Tanpa ragu lagi Nara mencium pipi suaminya. Mereka pun kembali berpelukan hangat dengan Raga di dalam dekapan.
Semua yang melihatnya turut tersenyum bahagia. Mereka memaklumi kemesraan Yoga dan Nara yang baru saja melepas rindu, setelah hampir enam minggu lamanya berpisah karena kondisi yang dialami Yoga.
.
.
.
Acara sore itu berlanjut dengan makan bersama seluruh keluarga. Kemarin sku jspfiiò⁰Yoga meminta tolong Bibi Asih dan Pak Budi untuk memesan tumpeng nasi kunig sedehana untuk mereka nikmati bersama-sama.
__ADS_1
"Ayah ... Maga mau ... bobok cini ...."
Sepertinya bocah mengemaskan itu mulai mengantuk, setelah menghabiskan makanannya dengan disuapi oleh sang ayah.
Nara turun dari pembaringan dengan hati-hati lalu menidurkan sang putra di samping Yoga.
"Temanilah Raga, Mas. Tidurkan dia di dalam pelukanmu agar dia tidak rewel mencarimu saat terbangun di rumah nanti."
Yoga menuruti permintaan sang istri dan mulai mendekap Raga di dalam pelukannya. Nara menurunkan posisi pembaringan kembali seperti semula sehingga kedua lelaki hebat kesayangannya bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.
Setelah Yoga dan Raga mulai terlelap, Nara bergabung bersama yang lain dan melepas rindu dengan kedua orangtua dan adiknya.
Rizka yang berperut besar seperti dirinya menjadi teman berbincang yang menyenangkan untuk membicarakan tentang kehamilan mereka.
Indra pun tak luput dari nasehat sang kakak agar selalu menjadi suami siaga dan setia mendampingi istrinya tanpa kecuali.
"Belajarlah dari kakak iparmu. Meskipùn terlihat dingin dan keras dari luar, tapi dia selalu bersikap hangat dan lembut saat bersama keluarganya."
Nara tak malu lagi memuji Yoga di hadapan orang lain. Baginya, lelaki itu pantas untuk dipuji dan disyukuri kehadirannya karena Yoga cukup sempurna di mata dan hatinya.
Nara mengalihkan pandangannya ke arah pembaringan, menatap lembut penuh kasih kepada suami tercintanya. Seulas senyuman terbit di bibir manisnya, menyadari jika sang kekasih hati telah kembali bersamanya.
"Hari ini bukan hanya menjadi hari teristimewa bagiku, akan tetapi juga menjadi hari paling luar biasa sepanjang hidupku. Kamu kembali dengan segenap cinta dan kasih sayangmu untukku, Mas."
"Tidak ada yang berubah apalagi berkurang sedikit pun, bahkan semakin penuh perhatian dan kejutan tak terduga yang membuatku semakin menyadari bahwa dirimu selalu mencintaiku dengan caramu yang luar biasa yang tak pernah terpikirkan olehku akan bisa kamu lakukan untuk diriku."
"Kamu adalah lelaki luar biasa dengan cinta yang luar biasa, Mas. Dan aku selalu bersyukur dan merasa sangat beruntung karena menjadi pemilikmu seutuhnya dan selamanya."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.