
"Aku akan segera melamarmu, Sha. Dan secepatnya kita akan menikah." Alan menciumi kepala Sasha yang rebah dalam pelukannya.
Mereka berdua duduk berpelukan di ruang tengah rumah Alan, tempat yang sama di mana dua minggu yang lalu Sasha meninggalkan Alan dan mulai menjaga jarak dengannya.
"Jangan melakukannya hanya karena merasa bersalah kepadaku. Aku membutuhkan ketulusanmu, bukan keterpaksaan darimu."
Sasha mencoba tetap teguh dengan pendiriannya. Dia masih ingin menguji perasaan Alan kepadanya, apakah masih terbagi dengan Nara atau sudah sepenuhnya hanya untuk dirinya.
"Sha, dengan cara apa lagi aku harus membuktikan keutuhan cintaku padamu? Ketulusan yang bagaimana lagi yang masih kamu ragukan dariku untuk dirimu? Katakan padaku, agar aku bisa membuktikannya lagi ...."
Sasha mulai tersentuh oleh ucapan Alan. Wanita itu tahu jika selama dia menjauh, waktu dan pikiran Alan selalu tertuju untuk dirinya. Hampir setiap saat lelaki itu terus-menerus menghubunginya dan mengiriminya pesan untuk memastikan keadaannya baik-baik saja..
Selain itu, Alan juga selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi serta apa pun kegiatan yang dilakukannya, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Beri aku waktu untuk yakin dan percaya sepenuhnya dengan perasaanmu padaku," pinta Sasha.
"Tapi tolong, jangan menghindariku lagi, Sha. Aku ingin selalu berada di dekatmu agar aku bisa lebih menjagamu dan melindungimu. Aku tidak mau kejadian siang tadi terulang lagi."
Sasha mengangguk dalam pelukan Alan dan satu ciuman hangat dari kekasihnya itu kembali dirasakannya di atas keningnya.
"Aku mencintaimu, Sha. Jangan ragukan itu."
.
.
.
Di malam yang sama, sepasang suami-istri sudah berada di kamarnya setelah sore tadi mengadakan syukuran kecil atas kelahiran putra mereka.
"Dia sudah tidur?" tanya Yoga yang berbaring miring di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi Nara.
Nara melepaskan mulut Raga dari dadanya dan segera merapikan kembali pakaiannya. Bayi mungil itu sudah kenyang menyusu hingga akhirnya tertidur pulas dalam dekapan hangat sang ibu.
"Sudah."
Setelah mendengar jawaban istrinya, Yoga membalikkan badan dan telentang sambil memperhatikan Nara yang sudah berdiri dan meletakkan Raga di tempat tidurnya sendiri yang diletakkan di samping tempat tidur orangtuanya.
Setiap kali Nara tengah menyusui bayi mereka, Yoga segera menjauh atau membelakangi istrinya, agar wanita itu leluasa melakukan tugas utamanya sebagai seorang ibu terhadap sang buah hati.
Setelah menyelimuti Raga dan menutup kain kelambu di atas tempat tidur kecil itu, Nara kembali dan berbaring di samping suaminya.
"Kemarilah, Ra." Yoga merentangkan kedua tangannya agar Nara merapat kepadanya.
Rasa rindu yang dirasakannya pada sang suami, membuat Nara langsung menggeser tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di dada lelaki itu, bersamaan dengan tangan Yoga yang memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
Satu ciuman mendarat lembut di kening Nara, terasa hingga ke dalam sanubari. Nara tersenyum di dalam pelukan Yoga yang menghangatkannya.
"Aku rindu saat-saat seperti ini bersamamu."
Yoga membelai kepala sang istri berulang kali dan sesekali turun hingga ke punggungnya. Nara menggeliat pelan merasakan tubuh belakangnya tersentuh oleh lelaki itu.
"Ra ...." Panggilan lembut Yoga membuat Nara mengangkat kepalanya ke atas, menatap suaminya yang sudah lebih dulu menatapnya.
Pandangan mereka bertemu, beradu begitu dalam dan saling mengunci. Tak ada suara, hanya saling memandang dan saling mengartikan apa yang tersembunyi di balik tatapan mereka satu sama lain.
Debaran di hati mereka semakin menjadi. Perasaan mereka sama-sama menginginkan. Saling merindu membuat mereka larut dalam pelepasan yang begitu nyata ingin mereka lakukan.
Yoga mengubah posisi mereka. Sekarang dia berada di atas tubuh Nara yang telentang di bawahnya. Saling menatap tanpa sekat, saling memandang penuh hasrat.
Menopang tubuhnya dengan tangan kiri, tangan kanan Yoga menyentuh wajah sang istri dan mulai menelusuri setiap bagiannya dengan ujung jemarinya.
Nara memejamkan mata, tak kuasa membalas tatapan lembut sang suami yang menggetarkan hatinya sedemikian indah.
Jemari Yoga menari di permukaan wajah istrinya, menyentuh satu per satu bagiannya lalu menciumnya secara berurutan. Nara pasrah, hanya bisa menerima dan merasakan semuanya tanpa ingin membuka mata.
Kening, pipi dan dagu, Yoga menyentuh dan menciumnya dengan sangat lembut. Kemudian kelopak mata, hidung dan ... bibir.
Yoga menyentuh bibir tipis Nara dengan ujung jemarinya. Berlama-lama bermain di sana dengan pandangan menginginkan yang tak bisa ditahannya lagi.
Sementara itu Nara yang tak berani membuka mata karena sentuhan Yoga yang telah sampai di bibirnya, membuatnya turut hilang kendali. Sama seperti Yoga, dia pun menginginkannya.
Yoga menepikan jemarinya dari bibir sang istri yang sangat menggodanya. Bukan karena nafsu, namun lebih ke bentuk kasih sayang yang tulus ingin disampaikannya melalui ciuman lembutmya yang penuh cinta.
Memejamkan matanya kemudian, Yoga membawa bibirnya untuk menyentuh bibir Mata yang telah siap menyambut di bawahnya.
"Heh ... hheh ... hehh ...."
Nara langsung membuka matanya dengan cepat, begitu mendengar bayinya bersuara. Dilihatnya Yoga pun sudah membuka mata dengan pandangan kaget dan gugup.
Nara mendorong pelan tubuh sang suami yang masih berada tepat di atasnya, lalu dia bergeser dan mengangkat tubuhnya. Yoga mengikutinya, duduk di samping Nara dengan nafas memburu.
"Heh ... hheh ... hehh ...."
Raga kembali bersuara lirih dengan teratur, menandakan ketidaknyamanan.
Nara segera turun dan melihat sang bayi. Dibukanya kelambu dan selimut yang sudah tersingkap oleh tendangan kaki mungil anaknya, lalu diperiksanya popok yang dipakai Raga.
"Apakah dia haus lagi?"
Yoga sudah menyusul di belakangnya, ingin tahu mengapa bayi mereka tiba-tiba menangis pelan.
__ADS_1
Nara menggeleng seraya mengangkat Raga dan memindahkannya di meja berkasur tipis di samping tempat tidurnya.
"Popoknya sudah penuh. Karenanya dia merasa tidak nyaman dan terbangun."
Dengan cekatan Nara melepaskan celana dan popok Raga lalu memasukkan popoknya ke dalam kantong plastik kecil yang sudah tersedia, baru kemudian dibuangnya ke kotak sampah di bawah meja.
Membersihkan bagian bawah Raga yang lembab dengan tisu bayi, lalu memasangkan popok yang baru dengan cepat dan rapi, Nara kemudian memakaikan lagi celana tidurmya.
Tanpa harus ditimang, bayi itu sudab terlelap kembali dengan wajah damai. Yoga takjub melihat pemandangan luar biasa di hadapannya.
Nara segera mengembalikan Raga ke kotak tempat tidurnya. Diselimutinya dengan rapi lalu dicium keningnya diiringi senyuman kasih seorang ibu. Yoga mengikutinya, memberikan ciuman untuk bayinya dengan perasaan bahagia.
Setelah menutup kelambu dan merapikan peralatan di atas meja bayi, Nara berbalik untuk kembali ke tempat tidur.
Namun tangan Yoga lebih dulu menahan tangannya hingga tubuhnya berbalik dan berhadapan dengan sang suami. Kedua tangan Nara tertahan di dada Yoga hingga terasa olehnya debaran di dalam dada lelaki itu.
Getaran-getaran indah kembali terasa di hati mereka, saling menyapa dengan tatapan mata yang kembali menyatu dalam diam.
"Ra ...."
Tangan kiri Yoga sudah berpindah ke pinggang Nara, sementara tangan kanannya terangkat ke atas, menepikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.
"Bolehkah aku memintanya ....?"
Pandangan Yoga seketika turun, beralih ke bibir Nara yang terus menggodanya, membuat Nara salah tingkah dan semakin gugup.
Tanpa berpikir lagi Nara mengangguk dengan pandangan yang ikut turun ke arah bibir Yoga yang tiba-tiba membuat hatinya turut berdebar-debar.
Nafas mereka mulai tertahan, saat wajah Yoga semakin maju mendekati wajah Nara, lalu memangkas habis jarak di antara mereka.
Dalam detik yang sama mereka memejamkan mata, dan ....
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.