CINTA NARA

CINTA NARA
2.14. KESEDIHAN YANG SAMA


__ADS_3

"Jangan .... Jangan sentuh aku ...."


Yoga menatap sedih ke arah istrinya yang masih tak sadarkan diri. Sesekali terdengar rintihannya, seolah terbawa situasi saat dirinya masih disekap oleh Marcell.


"Aku ... milik ... suamiku ...."


Yoga terharu mendengarkan ucapan lirih Nara di luar kesadarannya. Betapa dia dicintai oleh istrinya sedemikian tulus, sehingga Nara terus berusaha untuk mempertahankan kehormatannya meskipun dia harus berjuang dan melawan seorang diri.


Menurut dokter kandungan, harusnya pengaruh obat anestesinya sudah hilang sedari tadi. Tetapi karena syok yang dialaminya, kondisi Nara masih tetap lemah seperti sebelumnya.


"Kamu hanya milikku, Sayang. Dan aku hanya akan menjadi milikmu." Yoga menjawab ucapan Nara meskipun dia tahu, Nara belum bisa mendengarnya.


Diciumnya kening sang istri dengan lembut, diusapi kepalanya sembari merapikan helaian rambut yang menutupi paras cantik bidadari kesayangannya.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Yoga sudah meminta Pak Budi pulang dan berpesan agar besok pagi membawa Raga untuk bertemu Nara.


Yoga semakin sedih mengingat sang buah hati yang malam ini harus tidur sendiri tanpa kedua orangtuanya.


"Cepatlah bangun, Sayang. Cepatlah sembuh agar kita bertiga bisa tidur bersama lagi di kamar kita."


Baru saja Yoga hendak merebahkan kepalanya di tepi pembaringan, tiba-tiba dia dikejutkan dengan pergerakan pelan dari tangan Nara yang masih terus digenggamnya.


Rasa kantuknya hilang seketika begitu melihat sang istri mulai membuka mata dan menatap ke arahnya. Bibir Yoga menampakkan senyuman lebar seiring ucapan syukur yang dilafalkannya dengan wajah bahagia.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Sayang."


Yoga berdiri dan mendekati Nara dengan kepala yang ditundukkan untuk mencium kening istrinya sekali lagi.


"Mas ..., aku di mana? Aku ... takut ...."


Wajah Nara masih terlihat pucat, ditambah lagi dengan gurat ketakutan yang tampak jelas disertai tatapan kosong kedua matanya yang mulai menerawang, mengingat kejadian demi kejadian yang masih bisa diingatnya.


Dengan cepat Yoga menurunkan tubuhnya, memeluk Nara yang masih terlihat ketakutan.


"Jangan takut lagi. Ada aku di sini bersamamu, Sayang." Yoga berbisik lembut di telinga sang istri, mencoba menenangkannya dengan terus merengkuh tubuh yang masih terbaring lemah tersebut.


Dirasakannya jantung Nara yang semula bergedup kencang, kini mulai mereda dengan detakan yang lebih lambat dan teratur.


Tak berselang lama kemudian, lelaki itu juga merasakan kedua tangan Nara mulai menyentuh punggungnya, memeluknya pelan-pelan, hingga pelukan itu semakin erat disertai isakan yang mulai terdengar oleh Yoga.


Diselipkannya satu tangan ke belakang untuk menopang dan mengusapi kepala sang istri, kemudian dibiarkannya wanita itu melepaskan tangisan di balik bahunya.

__ADS_1


"Mengingat kejadian penyekapannya saja, dia sudah sesedih ini. Bagaimana aku harus menyampaikan kabar tentang kehamilannya yang telah berakhir?"


Yoga gamang, tak tahu harus mengambil sikap seperti apa lagi untuk memberitahu Nara tentang keguguran yang dialaminya.


"Kamu adalah wanita yang kuat, Sayang. Terima kasih sudah berjuang mempertahankan kehormatan dan harga dirimu. Terima kasih atas pengorbananmu untuk menjaga kesucian cinta kita. Kamu luar biasa, kamu yang terbaik, Sayang!"


Yoga tersenyum di tengah getir yang dirasakan di hatinya. Dia memutuskan untuk membiarkan malam ini berlalu lebih dulu, hingga esok hari saat kondisi Nara sudah lebih baik, barulah dia akan memberitahu sang istri tentang kegugurannya.


.


.


.


"Mas, tolong antarkan aku ke kamar mandi."


Menjelang subuh Nara terbangun lebih dulu. Dia membangunkan suaminya karena ingin pergi ke kamar mandi.


Satu panggilan lirih dari istrinya langsung membangunkan Yoga dari tidurnya di atas kursi di samping pembaringan.


"Sebentar, Sayang. Aku ambil dulu kantong infusnya."


"Mas, kok perutku rasanya agak aneh? Aku juga seperti sedang memakai pembalut. Apa kemarin sore aku haid, ya?"


Serbuan pertanyaan Nara membuat Yoga bungkam tanpa berani menjelaskannya langsung pada istrinya. Dia memilih diam sampai Nara meyelesaikan urusan kamar mandinya.


Nara sudah kembali duduk di atas pembaringan dengan kasur bagian atas yang sedikit ditegakkan oleh Yoga untuk menyamankannya bersandar.


"Mas, kok diam saja? Kamu tahu kalau aku haid?" tanya Nara masih dengan suara lirihnya.


Yoga menatap wajah Nara yang terlihat lebih segar setelah mencuci mukanya. Ada rasa tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya pada wanita itu, tapi tetap harus dilakukannya agar Nara lebih cepat menerima kenyataan tersebut dan tidak berlarut-larut meratapi rasa kehilangannya nanti.


Yoga menggeleng pelan lalu memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan dirinya sebelum bercerita.


"Kamu tidak haid, Sayang. Itu bukan darah haid, tapi ... tapi itu adalah darah nifas."


Yoga menatap Nara yang terlihat masih bingung dengan jawabannya. Dia sendiri pun masih ragu harus memulai dari mana untuk menjelaskan semuanya.


"Kapan terakhir kali kamu mendapatkan haidmu?"


Nara mencoba mengingatnya dan terkejut sendiri setelah menyadari jika dirinya sudah melewatkan masa haid yang harusnya datang dua minggu yang lalu.

__ADS_1


"Jadi ... jadi aku hamil, Mas? Tapi, darah ini ...." Wajahnya tertunduk menatap bagian bawah tubuhnya dengan perasaan yang mulai tidak nyaman.


"Ya, kamu hamil, Sayang. Tapi kamu mengalami keguguran sehingga Dokter harus melakukan tindakan kuretase untuk membersihkan rahimmu."


Yoga menggenggam tangan Nara dengan erat dan mengusapi punggung tangannya dengan lembut.


Sementara Nara yang mulai memahami semuanya, berubah murung dengan air mata yang sudah mengalir begitu saja membasahi wajahnya yang semula telah terlihat segar, menjadi suram kembali.


Dia menarik tangannya yang digenggam Yoga lalu bersama tangan satunya diletakkan di atas perut yang tengah menjadi pusat perhatiannya. Yoga membiarkan Nara menangis terisak sembari mengelus-elus perutnya.


Tak tahan melihat kesedihan yang tengah mendera batin istrinya, Yoga merengkuh tubuh Nara dan didekapnya dengan penuh kasih.


Serta-merta Nara melingkarkan kedua tangannya pada tubuh sang suami yang berdiri di sampingnya dan menumpahkan seluruh tangisan yang semula masih ditahannya.


Akhirnya, mereka berdua menyatu dalam kesedihan yang sama, rasa kehilangan yang sama yang tidak pernah terpikirkan sama sekali sebelumnya.


"Maafkan aku, Sayang. Karena aku yang tak bisa menjagamu dengan baik, semua ini harus terjadi dan membuat kita kehilangan calon anak kedua kita."


Yoga menciumi puncak kepala Nara dengan perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya, meskipun bukan dirinya yang menjadi penyebab semua ini terjadi.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Mas. Semua ini adalah kehendak Allah dan sudah menjadi takdir kita."


Tak disangka Nara justru menenangkan Yoga dengan ucapan yang disampaikannya dari dalam pelukan sang suami.


"Kita harus ikhlas menerima semua ini. Kita juga harus percaya bahwa Allah pasti sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah nantinya dan tentunya yang terbaik untuk kita, untuk keluarga kecil kita."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2