CINTA NARA

CINTA NARA
2.86. TAK INGIN KEHILANGAN


__ADS_3

Satu bulan berlalu, kini Alya sudah bisa berjalan normal tanpa alat bantu sama sekali, meskipun pergerakannya masih terbatas dan harus dilakukan dengan hati-hati.


Selama itu pula, hampir setiap hari Rendy selalu menemaninya dengan setia, walaupun hanya melakukan kegiatan rutin pulang dan pergi dari rumah sakit ke klinik dan sebaliknya.


Sesekali diajaknya Alya makan siang di kantin, bersama beberapa rekan seprofesi mereka di rumah sakit yang sama. Mereka menghabiskan waktu istirahat dengan bercengkerama hangat seputar obrolan ringan sehari-hari.


Kegiatan rutin yang sederhana itu nyatanya justru membuat Alya teringat kembali akan kedekatannya dengan Rendy, sebelum dia mulai menjaga jarak setelah dua kali menolak lamaran dari dokter tulang tersebut.


Perhatian dan kasih sayang yang selalu ditunjukkan apa-adanya oleh lelaki bersahaja itu, membuat Alya selalu mengagumi sikap lelaki itu, meskipun tak pernah bisa menyentuh hatinya hingga detik ini.


"Maafkan aku yang masih belum bisa membuka hatiku untukmu, Ren. Sejujurnya aku mulai berharap akan kebersamaan kita, tapi entah mengapa hatiku masih sulit untuk menerima kehadiranmu."


Alya memperhatikan Rendy yang tengah menikmati makan siang di hadapannya, sementara dia sudah lebih dulu makan sebelum dokter tulang itu menyusulnya.


Rendy baru saja selesai melakukan operasi pada salah satu pasiennya, sehingga Alya yang hendak diantarkannya ke klinik memilih untuk menunggu sambil makan siang lebih dulu di kantin rumah sakit.


"Kalau kamu lelah, tidak perlu mengantarkan aku, Ren. Aku bisa memesan taksi daring saja, agar kamu bisa beristirahat dulu di sini."


Raut wajah Rendy memang terlihat kelelahan usai melakukan tindakan operasi yang memakan waktu cukup lama.


Namun demi wanita yang sangat dicintainya, dia mengabaikan rasa lelahnya dan tetap ingin mengantarkan Alya pergi ke klinik.


Lelaki itu menggelengkan kepala sembari menyelesaikan suapan terakhirnya. Setelah itu dia menghabiskan air putih yang ada dan menutup acara makan siangnya dengan menatap wajah ayu Alya yang buru-buru mengalihkan pandangannya saat bersitatap dengan mata teduh sang dokter tulang.


"Aku baik-baik saja, Al. Ini sudah biasa bagiku. Seperti halnya dirimu juga."


Alya menghabiskan minumannya dan beranjak dari kursi hendak membayar pesanan makan siang mereka. Tapi dengan gerakan refleks, tangan Rendy terulur ke depan dan menahan langkah Alya sehingga wanita itu berhenti untuk menghindari sentuhan tangan lelaki itu di tubuhnya.


"Maaf, maafkan aku." Rendy berdiri dan menarik tangannya kembali.


"Kamu tunggulah di sini. Biar aku yang pergi ke kasir."


Tanpa menunggu jawaban Alya, Rendy sudah berjalan cepat menuju bagian kasir dan membayar pesanan mereka berdua.


Alya hanya bisa tersenyum dan terus berdiri menunggunya di ujung meja. Dia kembali memperhatikan lelaki itu dari kejauhan. Saat itulah Rendy menoleh ke belakang dan memergoki tatapan mata Alya ke arahnya.

__ADS_1


Dokter bersahaja itu tersenyum membuat Alya salah tingkah dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menahan senyuman di bibirnya.


"Teruslah tersenyum seperti itu, Al. Berbahagialah meski mungkin bukan aku yang menjadi alasan dari senyuman bahagia yang terbit di wajah ayumu."


.


.


.


Ardi terjaga dari mimpinya di siang hari. Dia tertidur di ruangan pribadinya di belakang ruang pemeriksaan, saat tengah menunggu jadwal operasi berikutnya.


"Astaghfirullah ...!! Semoga semua itu hanya bunga tidur semata dan tidak akan pernah menjadi nyata!" gumamnya lirih masih dalam keadaan terpaku dan penuh kekhawatiran.


Masih dengan nafas tersengal-sengal, Ardi mengusap wajahnya yang berpeluh. Bergegas dia pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajah kusutnya, lalu duduk dan meneguk segelas air putih yang tersedia di atas meja sampai tandas.


"Ya Allah, lindungilah kami semua dan satukanlah selalu keluargaku dalam kebahagiaan. Aamiin ...!!"


Setelah memanjatkan doa dengan khusyuk, diambilnya ponsel yang semula diletakkannya di atas meja lalu segera menghubungi istrinya dengan panggilan video.


Terlihat olehnya sang istri meletakkan ponsel di atas meja lalu wanita itu duduk menghadap ke arah kamera dengan memangku Aura yang tengah asyik menghabiskan biskuit bayi di tangannya.


"Aku baik-baik saja, Mas. Kami berdua baru saja bangun tidur. Tadi Aura kelelahan bermain sehingga tidur siangnya sangat nyenyak."


Pelan-pelan perasaan Ardi kembali tenang setelah melihat sendiri keadaan istri dan putri kecilnya. Bayi itu mulai diberikan camilan dan makanan pendamping ASI oleh sang bunda karena usianya sudah melewati enam bulan.


"Syukurlah. Tadi perasaanku tidak enak, Sayang. Oleh karena itu aku segera menghubungimu."


Ardi sesekali menimang sang putri, membuat bayi berlesung pipi itu terkekeh dan ingin meraih layar ponsel Bunga yang memperlihatkan wajah sang ayah.


"Jangan terlalu banyak pikiran, Mas. Beristirahatlah selagi ada waktu dan singkirkan semua pikiran buruk yang mengganggumu. Kami di sini selalu mendoakanmu."


Ardi mengangguk dan mengiyakan pesan sang istri. Akhir-akhir ini kliniknya lebih ramai dari hari biasanya. Bahkan jadwal operasi pun cukup padat sehingga Ardi lebih sering menghabiskan waktu di klinik dari pada di rumah bersama keluarga kecilnya.


Tanggung jawab yang besar untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan penuh kasih sayang sebagaimana slogan kliniknya, harus selalu diutamakan oleh dirinya beserta semua dokter dan karyawan yang bekerja di sana, demi memberikan kepuasan bagi seluruh pasien dan keluarga pasien.

__ADS_1


"Maafkan aku jika akhir-akhir ini tidak mempunyai cukup waktu untuk kalian berdua. Di lain kesempatan, aku akan menebusnya dan memberikan seluruh waktuku untuk kalian berdua, hanya kita bertiga."


Bunga tersenyum sambil menyusui sang putri yang merengek kehausan, lalu menatap kembali ke layar ponselnya.


"Aku hanya ingin kamu selalu sehat dan bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabmu dengan baik, Mas. Doaku akan selalu menyertai setiap langkahmu dan kerja kerasmu untuk keluarga kita."


Ardi menatap wajah wanita terkasih yang telah dinikahinya dua tahun silam dan telah memberinya seorang bayi mungil secantik dirinya.


"Aku mencintaimu, Bungaku. Tetaplah bersamaku dan selalu menjadi penyemangat dalam hidupku."


Sepasang mata lelaki itu telah berkaca-kaca dengan hati yang diliputi keharuan. Sungguh dia tak ingin merasakan kehilangan lagi. Apalagi jika harus kehilangan wanita sebaik Bunga yang kini telah dimilikinya.


Diingatnya betapa sulit perjuangan yang dia lakukan untuk meluluhkan hati perawat kesayangannya tersebut, hingga akhirnya wanita sederhana itu bersedia menjadi kekasih hatinya dan pendamping hidupnya saat ini.


Bunga adalah satu-satunya wanita yang berhasil menyentuh hatinya kembali setelah beberapa tahun dia dirundung kesedihan lantaran perpisahannya dengan Alya.


Hari-harinya kembali berwarna cerah setelah sekian lama hanya diselimuti kabut kelam dan duka mendalam akibat kandasnya kisah cinta terindahnya di masa lalu.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Aku akan selalu bersamamu, mendampingimu dan melayanimu dengan seluruh hatiku dan segenap jiwaku. Kita akan selalu bersama hingga takdir Allah saja yang akan memisahkan kita berdua."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2