CINTA NARA

CINTA NARA
74 BERTEMU RAGA


__ADS_3

Mobil yang membawa Yoga dan Nara pulang sudah sampai di halaman luas kediaman lelaki yang baru saja keluar dari rumah sakit itu.


Melihat ada banyak mobil yang terparkir di halaman lebih dari biasanya, Yoga menoleh ke arah Nara sebelum mereka turun.


"Ada acara apa, Ra?" tanyanya.


Nara hanya tersenyum simpul sambil menatap suaminya penuh rahasia.


"Sebentar lagi kamu juga akan tahu. Ayo, kita keluar!"


Yoga membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu diikuti Nara setelahnya. Bergandengan tangan mereka berjalan menuju pintu utama yang terbuka lebar.


Selangkah melewati pintu, Yoga tertegun melihat banyak orang di dalam ruang tamu yang sudah digelari karpet untuk duduk di bawah bersama-sama.


Di antara yang ada di sana, dia melihat Bapak, Ibu dan Indra adik Nara yang kebetulan pulang dari luar kota. Selain itu ada pula Tante Arum beserta ketiga anaknya, lalu ada Dokter Danu, Ardi dan Bunga, juga Beno dan seluruh penjaga dan pekerja di kediamannya.


Bersama mereka juga hadir beberapa anak yatim dari salah satu Panti Asuhan di mana Yoga menjadi donatur tetapnya. Semua yang hadir terlihat bahagia menyambut kepulangan Yoga dalam keadaan sehat setelah mengalami kecelakaan tiga minggu yang lalu.


Yoga kembali menoleh ke arah Nara yang sudah siap dengan penjelasannya.


"Maaf, aku yang mengundang mereka untuk melakukan doa bersama atas kesembuhan dan kepulanganmu. Kamu tidak marah, kan?" tanya Nara di akhir kalimatnya.


Dia yang menyiapkan semua ini sejak Dokter Danu kemarin menyampaikan jika suaminya sudah bisa pulang hari ini.


Yoga menggeleng dan tersenyum, membuat semua orang yang ada di sana takjub karena yang mereka tahu selama ini Yoga adalah lelaki dingin yang tidak pernah menampakkan senyumannya.


"Terima kasih atas perhatianmu, Ra."


Tanpa peduli sekitar Yoga mendekap bahu istrinya lalu mencium kepalanya dengan mesra.


"Ehhem ...!" Ardi menggoda sahabat kecilnya yang terlihat sangat bahagia sore ini.


Wajah Nara seketika memerah menahan malu karena perhatian yang ditunjukkan suaminya di hadapan banyak orang.


"Temuilah mereka. Semuanya sudah menunggu sejak tadi."


Yoga menuruti kata-kata istrinya. Dia melepaskan dekapannya lalu berjalan menghampiri para tamu yang merupakan orang-orang terdekatnya semua.


Tanpa sepengetahuan Yoga yang sedang menyapa mereka, diam-diam Nara pergi ke kamar mereka untuk mengambil bayi mungil mereka.


Usai menyapa seluruh tamunya, Yoga baru menyadari jika Nara sudah tidak ada di sampingnya. Dia juga terlihat gelisah karena sedari awal kedatangannya tadi, belum menemukan yang dicarinya.

__ADS_1


Sepasang matanya terus mencari-cari istrinya dan juga sosok lain yang belum dilihatnya sejak pertama kali datang tadi.


"Diakah yang kamu cari?"


Nara muncul dari dalam dengan menggendong bayinya. Seketika Yoga mematung di tempatnya berdiri.


Tatapannya beralih ke arah dalam di mana istrinya melangkah pelan dengan kedua tangannya mendekap anak mereka yang masih tertidur pulas.


Semakin mendekat, hati Yoga mulai dipenuhi getaran yang mendebarkan dadanya secara bersamaan. Pandangannya terkunci pada sosok mungil yang tenang berada dalam dekapan istrinya.


Nara berhenti tepat di hadapan Yoga yang mulai berkaca-kaca memandangi buah hati mereka untuk pertama kalinya.


"Anakku ...."


Suara Yoga tercekat menahan haru bahagianya. Tanpa sadar tangan kanannya terulur ke wajah sang bayi dan menyentuh pipi bulat kemerahan itu dengan gemetar.


"Kau ingin menggendongnya?" tanya Nara dan Yoga masih terdiam tanpa mengalihkan pandangannya sama-sekali.


"Aku akan membantumu."


Lalu dengan gerakan pelan dan hati-hati Nara memindahkan sang bayi ke tangan Yoga yang sudah siap mendekapnya dengan erat dan membawanya dekat ke tubuhnya.


Semuanya terdiam, menyaksikan Yoga yang sudah mendekap hangat bayi mungilnya untuk pertama kali. Suasana haru semakin terasa dengan wajah-wajah bahagia yang di antaranya mulai menitikkan air mata.


Nara sudah berpindah ke sampingnya, sama-sama memperhatikan buah hati mereka yang masih tertidur pulas. Hanya sesekali menggeliat pelan menggerakkan wajah dan tubuhnya yang sengaja Nara buka bedongannya agar Yoga bisa melihat keseluruhan tubuh sang putra.


Yoga mengangguk dan mencium lembut kening sang bayi dengan hati yang menghangat.


"Hari ini genap dua puluh satu hari kelahirannya. Tepat bersamaan dengan kepulanganmu, aku sengaja mengadakan syukuran kecil sekaligus aqiqah untuk anak kita."


Yoga menatap Nara yang juga menatapnya dengan senyuman yang menggetarkan hati lelaki itu. Hanya anggukan kepala yang bisa dilakukannya, sebab bibirnya masih sulit untuk berucap karena suka citanya yang begitu mendalam.


"Sambut kelahirannya dengan suara adzanmu, agar dia selalu terjaga dalam imannya dan terus mengingat suara sang ayah yang sangat menyayanginya bahkan sejak dia masih berada di dalam kandungan ibunya."


Yoga pun mulai melantunkan adzan di telinga kanan sang putra dan diakhiri dengan iqamah di telinga kirinya. Air mata sudah membasahi wajahnya yang memerah penuh haru dan bahagia.


Terdengar ucapan syukur dari semua yang menyaksikan momen bersejarah tersebut.


Nara mengusap air mata suaminya dengan jemari tangannya sementara wajahnya sendiri pun masih basah oleh tangisan.


Yoga menciumi wajah putranya dengan penuh semangat. Semua bagian tak luput dari ciuman-ciuman kecilnya membuat sang bayi kembali menggeliat dan perlahan membuka mata bulatnya.

__ADS_1


Yoga terkesima, jantungnya berdetak keras mengawali pandangan pertama mereka. Pandangan pertama antara seorang ayah dan sang bayi, yang membuatnya jatuh cinta seketika pada sosok mungil nan menggemaskan tersebut.


Bayi mungil itu, meskipun baru bisa menangkap bayangan di sekitarnya, namun tatapan matanya seolah tertuju nyata pada sang ayah yang tengah menggendong dan memandanginya tanpa henti.


Tangan kecilnya yang terbungkus sarung tangan bayi lucu itu terus bergerak-gerak seolah ingin menyapa ayah dan ibu di hadapannya, hingga tangannya menyentuh wajah sang ayahnya yang menimangnya.


Nara dengan cepat segera membuka sarung tangan bayinya agar tangan mungil itu bersentuhan langsung dengan kulit wajah sang ayah yang terus menatap takjub ke arah putra kesayangannya.


Seluruh tubuh Yoga menghangat seketika begitu wajahnya mendapatkan sentuhan dari tangan bayi mungilnya. Sentuhan pertama ayah dan anak yang menggetarkan hatinya dan akan terus diingatnya sepanjang hidup.


"Sebelum kita mulai acara doa bersamanya, ada baiknya Pak Yoga memberikan nama untuk putra kalian."


Suara ustad yang berdiri tak jauh dari mereka, membuat Yoga dan Nara saling berpandangan.


"Berikan nama untuk anak kita. Aku sengaja menunggumu sembuh agar kamu sendiri yang akan memilihkan nama terbaik untuknya."


Yoga kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Nara. Ditatapnya istri dan anaknya bergantian dengan rasa cinta yang begitu mendalam.


Sejenak lelaki itu terdiam dan memejamkan mata, setelah itu kembali menatap lembut sang bayi dengan sebuah panggilan baru.


"Raga. Nara dan Yoga."


Nara terkesiap mendengar jawaban Yoga yang sudah menatapnya dengan mesra. Sama seperti Yoga, hatinya menghangat, hanyut dalam rasa bahagia yang begitu menyelimuti jiwanya.


"Raga?"


Nara masih memaku tatapannya membalas tatapan mata Yoga yang tengah mengangguk kepadanya.


"Raga Putra Mahendra."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2