CINTA NARA

CINTA NARA
3.16. MASIH ADA WAKTU


__ADS_3

"Maaf ... maafkan aku, aku tidak sengaja."


Ardi melepaskan tangannya dari belakang kepala Alya diikuti Alya yang menunduk dan segera merapikan kembali hijabnya. Hatinya masih saja dipenuhi getaran indah yang membuatnya salah tingkah.


Ardi mundur agar tangan Aura tidak lagi meraih sesuatu di tubuh Alya yang bisa menimbulkan kejadian tidak terduga seperti tadi.


Yoga yang sudah turun dengan membawa Gana dalam dekapannya tersenyum menyaksikan sikap Ardi dan Alya yang sama-sama tidak tenang dan menjaga jarak.


Tanpa rasa bersalah Yoga berjalan begitu saja melewati keduanya bersama Aura, menuju ruang tamu untuk duduk sambil menjaga Gana yang masih terlelap.


"Kamu temani saja Pak Yoga, Di. Biar aku yang menemani Aura bermain bersama Raga dan Nara."


Alya mengambil Aura dari gendongan Ardi dan segera mengajaknya duduk bermain lagi di atas karpet.


Ardi mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan dirinya yang masih merasakan debaran keras di dalam dada.


"Astaghfirullahaladzim ...!!" Mengingat refleks tangannya yang menyentuh kepala Alya tadi, Ardi merasa bersalah dan semakin gelisah.


"Semoga dia tidak marah padaku dan menghindariku setelah ini."


Melangkah dari depan kamar menuju ruang tamu, Ardi kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Sengaja dia duduk menghadap ke arah dalam, agar bisa memantau Aura dan ... memperhatikan Alya diam-diam.


"Siapa yang kau lihat di sana?" tanya Yoga yang duduk di bagian samping sehingga leluasa memperhatikan sekelilingnya.


"Yang pasti bukan istrimu," jawab Ardi asal membuat Yoga menahan tawanya dalam hati. Pandangannya tidak beralih dari seseorang yang duduk bersama Nara mendampingi Raga dan Aura bermain.


"Mengapa sekarang aku sangat menyukai pemandangan seperti ini? Saat putri kecilku dengan riang bermain bersama dengannya ...."


"Dia sangat menyayangi Aura, bukan?" ujar Yoga yang tahu ke mana arah pandangan sahabat kecilnya.


"Ya, aku tahu itu." Ardi masih terus memaku tatapannya pada sosok Alya yang sangat penyayang dan tulus pada putrinya.


"Bagaimana denganmu?" Yoga memancing lagi.


"Apa?"


"Apa kamu juga menyayanginya? Kamu masih mencintainya seperti dulu?" cecar Yoga sambil memperhatikan roman muka Ardi yang mulai berbinar bahagia, tak lagi seperti saat kedatangannya dua hari yang lalu yang masih diliputi sisa-sisa kesedihan.


"Jangan tanyakan perasaanku karena semua itu sudah tidak berarti apa-apa lagi sekarang." Sorot mata dokter duda itu meredup seolah ada kesedihan baru yang kembali dirasakannya.


.

__ADS_1


"Mengapa tidak berarti lagi jika kesempatan itu masih ada?"


Kali ini Ardi menoleh ke samping dan kembali menatap tajam ke arah Yoga.


"Jangan memulainya lagi, Ga. Seharian ini kamu hanya mengatakan kalimat-kalimat tidak berguna."


"Berapa lama lagi kamu di sini?" tanya Yoga serius kali ini.


"Aku mengambil cuti di klinik selama satu minggu."


Sambil terus memperhatikan Gana yang masih pulas, Yoga berbicara dengan tatapan tajam dan penuh makna.


"Kalau begitu, masih ada waktu empat hari selama kamu di sini, jika kamu ingin mengetahui semua hal tentang Dokter Alya. Setelah itu, keputusan sepenuhnya ada di tanganmu."


Ardi semakin curiga sekarang. Dia yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Yoga yang selama ini tidak diketahuinya sama sekali.


"Apakah ini ada hubungannya denganku?" Ardi mencoba menelisik secara perlahan.


"Tergantung padamu sendiri. Jika kamu masih ingin mengejar cinta dan masa depanmu, maka kamu harus secepatnya mencari tahu. Atau selamanya kamu akan dirundung penyesalan karena terlambat mengambil sikap dan mengabaikan pesan terakhir dari Bunga!"


Mendengar nama istrinya disebut, pandangan Ardi mulai menerawang dan mengingat kembali pesan terakhir dari Bunga yang keseluruhannya berhubungan dengan Alya.


"Apakah dirimu juga sudah mengetahui sesuatu itu, Sayang? Karena itukah kamu bersikukuh dengan pesan terakhirmu itu?"


Ardi menatap Yoga tidak mengerti. Sebenarnya hatinya masih bimbang dan belum yakin dengan perasaannya.


Dia takut hanya terjebak perasaan masa lalu tanpa keyakinan untuk menjalaninya di masa depan. Dia takut yang dirasakannya hanya sebuah kekaguman, bukan lagi rasa cinta seperti dulu.


"Tapi mengapa hatiku mulai berdebar-debar setiap kali dekat dengannya? Dan mengapa getaran indah itu kembali hadir setiap kali kami bersua?"


Yoga memperhatikan petunjuk waktu yang terlihat pada layar ponsel miliknya yang diletakkannya di atas meja.


"Sebentar lagi dia akan berangkat ke rumah sakit. Antarkan dia dan mulailah usahamu untuk mencari tahu, tanpa dia mengetahuinya."


Dan benar saja, tak lama setelah Yoga mengatakannya, Alya terlihat mulai membenahi penampilannya dan bersiap dengan memegang tasnya.


Nara meminta tolong Mbak Indah untuk ikut menemaninya menjaga Raga dan Aura, sementara Alya sudah memeluk dan menciumi Aura untuk berpamitan.


Seketika hatinya kembali bergetar saat melihat kedekatan dan kasih sayang Alya untuk putri kecilnya. Mulai ada rasa tak rela jika dia harus kehilangan momen indah tersebut di kemudian hari.


"Aku belum tahu apa yang akan aku putuskan nantinya, tapi aku tidak akan melepaskan kesempatan untuk mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan Alya dariku."

__ADS_1


Bersamaan dengan Alya berdiri dan mundur menjauh dari Aura yang sudah dihalangi oleh Nara, Ardi bangkit dari duduknya dan menunggu Alya menghampiri mereka di ruang tamu.


"Pak Yoga, saya pamit dulu. Sudah waktunya untuk kembali ke rumah sakit. Di, maaf aku tinggalkan Aura dulu. Semoga dia tidak rewel nanti malam."


Alya sudah menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Yoga membalasnya dengan anggukan kepala karena dia memangku Gana, tapi tidak dengan Ardi.


"Bolehkah aku mengantarmu, Al?" Lelaki itu berdiri dan tetap meminta ijin lebih dulu meskipun dia tahu Alya pasti akan menolaknya.


"Tidak perlu repot-repot, Di. Baru saja aku sudah memesan taksi daring. Lagipula kasihan Aura kalau kamu tinggalkan."


Seperti dugaan Ardi, Alya menolak tawarannya. Tapi dokter duda itu tetap memaksa dengan segera meminjam kunci mobil Yoga untuk mengantarkan wanita masa lalunya.


"Biarkan sopir taksi menyelesaikan perjalanannya sesuai pesanan. Tetapi aku yang akan mengantarkanmu sampai di rumah sakit."


Pak Budi datang dan menyerahkan kunci mobil kepada Ardi, lalu kembali ke depan untuk membukakan pagar depan.


"Ra, aku titip Aura dulu." Ardi mendapatkan balasan ibu jari tangan Nara yang sedang menghalangi Aura agar tidak melihat kepergian Alya dan ayahnya.


"Ga, aku pergi dulu." Tanpa menunggu balasan dari Yoga yang diam saja, Ardi berjalan keluar diikuti Alya yang mau tau mau menuruti permintaan lelaki itu.


Di dalam mobil, Ardi membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Yoga.


"Jangan sia-siakan kesempatan yang ada kali ini. Ikuti kata hatimu dan lakukan yang terbaik."


Ardi tidak membalas dan menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu mulai melajukan mobil dengan hati yang kembali bertalu-talu tak menentu.


Dia justru memberanikan diri untuk melontarkan pertanyaan kepada Alya yang duduk terdiam di sampingnya.


"Al, mengapa kamu tidak pernah terlihat bersama suamimu?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2