CINTA NARA

CINTA NARA
3.83. AKHIR SEBUAH KISAH


__ADS_3

Tiga bulan berlalu ....


Setelah menjalani perawatan intensif yang penuh perjuangan dan tekat untuk sembuh, Yoga pulang ke rumah dan kembali berkumpul bersama Nara dan kedua putra kesayangan mereka.


"Alhamdulillah, sekarang kita berempat bisa tinggal bersama lagi, Mas. Aku sangat bahagia!" Nara tak bisa menyembunyikan rasa harunya, hingga saat mereka berdua tiba di kamar, wanita itu langsung memeluk Yoga dan meneteskan ar mata di dalam dekapan suaminya.


Yoga yang sudah bisa berjalan dan berdiri sendiri, segera membalas pelukan sang istri dengan lebih erat. Sama halnya dengan Nara, mata lelaki itu pun mulai berkaca-kaca karena dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga di dalam kalbu.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengungkapkan perasaan bahagia ini. Semuanya karena dirimu dan kesabaranmu. Ketulusan cintamu benar-benar aku rasakan dan menjadi kekuatan terbesarku untuk kembali bangkit dan melawan keterpurukanku." Suara lelaki itu bergetar hingga akhirnya terisak tanpa bisa menahannya lagi.


Pelukan keduanya semakin erat satu sama lain. Tak ada yang ingin mengakhiri. Nara tersenyum di antara tangisannya. Senyum kelegaan setelah sekian lama mereka hanya berkonsentrasi memikirkan kesembuhan Yoga.


Setiap hari wanita berhati lembut namun kuat tersebut bolak-balik mengurusi suami dan anak-anaknya yang harus tinggal berjauhan. Tak sekalipun dia mengeluh apalagi menampakkan kesedihannya. Dia menjalani dengan lapang hati, penuh ketulusan dan keikhlasan.


Kadang kala dia menginap bersama Yoga, saat sang suami berada dalam kondisi yang lemah dan butuh untuk terus didampingi. Hanya Nara yang bisa menguatkan Yoga. Lelaki itu hanya ingin terus ditemani dan dilayani oleh istri tercintanya.


Selain kondisi fisiknya yang cukup parah, Yoga juga mengalami guncangan batin yang membuatnya rendah diri sebab merasa tidak lagi sama seperti dulu. Hanya Nara yang bisa membuatnya tegar dan perlahan kembali berbesar hati menerima kenyataan yang ada dengan ikhlas.


"Sungguh aku sangat takut kehilangan dirimu, Sayang. Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup jika tanpa ada kamu di sampingku." Tanpa melepaskan pelukannya, Yoga mengulangi pernyataan serupa yang setiap saat selalu dia ucapkan pada Nara.


"Aku bukan Yoga yang dulu lagi. Bahkan aku sendiri tidak percaya diri dengan kondisiku sekarang." Yoga tak pernah usai meratapi keadaannya. Bukannya tidak ikhlas, tapi dia merasa tidak pantas lagi untuk Nara.


Kebakaran yang dialaminya meninggalkan bekas luka yang tak bisa hilang selamanya. Sebagian besar kulit di tubuh dan tepian wajahnya menjadi belang dengan kulit baru yang berwarna tak sama dengan warna kulitmya semula.


Nara melepaskan pelukan dan membiarkan Yoga tetap memeluknya. Kedua tangannya berpindah ke wajah lelaki berwajah muram tersebut.


"Bagiku kamu tidak pernah berubah, Mas. Kamu masih tetap Yoga Mahendra yang aku cintai dan akan selalu aku cintai selamanya. Kamu adalah satu-satunya lelaki yang membuatku merasakan kebahagiaan tanpa henti. Hanya kamu yang memiliki cinta dan kasih sayang terbaik untuk kami, istri dan anak-anak kamu."


"Tubuh kita, wajah kita dan semua yang kita miliki bisa saja berubah seiring waktu dan keadaan. Namun tidak dengan hati kita, cinta kita dan seluruh perasaan yang kita miliki."


Nara tersenyum menatap Yoga yang masih menampakkan kesedihan dan air mata. Perlahan jemarinya menghapus sisa tangisan yang masih membasahi wajah yang telah berbeda tersebut.


"Aku mencintaimu karena ini, Mas!" Kemudian tangan kanannya menyentuh lembut dada yang selalu memberinya ketenangan dan kenyamanan tersebut.


"Hatimu. Cintamu berawal dari sini. Maka di sini pula aku menemukan apa yang aku cari dalam hidupku. Ketulusan yang ada di hatimu yang membuatku merasakan hal yang sama denganmu, yaitu cinta. Cinta sejati kita."


Yoga semakin terharu mendengar penuturan sang istri yang begitu lembut dan penuh kejujuran. Meskipun dia merasa takut kehilangan, tapi hatinya tak pernah meragukan ketulusan cinta Nara.


"Selama hatimu masih aku miliki, maka tak akan ada lagi hal lain yang sanggup membawaku pergi darimu. Hati kita telah terikat erat, tak akan pernah lepas dan melepaskan. Karena di dalam hatimu dan hatiku ada satu cinta yang telah mengubah aku dan kamu menjadi kita."


Nara melanjutkan ucapannya. Dia terus meyakinkan Yoga bahwa apa pun keadaannya, wanita itu tidak akan pernah meninggalkan lelaki yang sangat dicintainya tersebut.


Tak kuasa menahan kebahagiaannya, Yoga menarik pelan tubuh wanita yang telah memberinya dua buah hati tersebut. Tanpa kata dia mendekap Nara sangat erat.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu!" bisik Yoga kemudian di telinga Nara, lalu diciumnya kepala yang masih tertutup hijab tersebut. Sangat lama hingga mata sembabnya kembali dipenuhi oleh genangan air mata.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Hanya kamu selamanya!" Nara menjawab tanpa keraguan sedikit pun. Hanya satu nama yang selalu terukir indah di lubuk sanubarinya. Nama yang telah menjadi kebanggaannya dan anak-anak. Nama yang selalu terucap dalam setiap sujudnya, memohon segala kebaikan dan kebahagiaan untuk sang imam.


Setelah memuaskan diri dalam pelukan yang saling menghangatkan dan menenangkan, Yoga dan Nara merenggangkan pelukan tanpa slaing melepaskan.


Pandangan mereka beradu disertai pijar cinta yang penuh kerinduan. Menatap netra teduh Yoga yang memaku tatapannya ke arah Nara dalam diam, ada yang mulai bergejolak di hati wanita lembut tersebut.


Sama halnya dengan sang suami, pandangan Nara pun terkunci hanya ke arah Yoga. Dia menatapnya lekat-lekat diiringi desiran halus yang mulai menyisiri rongga dada.


"Sayang ... aku merindukanmu," lirih Yoga masih dengan keraguan yang menyelimuti perasaannya. Dia takut sang istri akan menolak keinginannya.


"Mas ... aku juga sangat merindukanmu." Nara menjawab dengan suara tertahan. Bibirnya terkatup rapat seketika saat jemari Yoga sudah menyentuh lembut benda mungil nan ranum miliknya tersebut.


Ujung jemari itu perlahan bergerak, menyapu seluruh permukaan bibr tipis berwarna alami merah muda tersebut. Nara memejamkan mata, merasakan sensasi indah yang sudah lama tak dirasakannya. Hatinya bergetar seperti saat pertama kali jatuh cinta pada lelaki di hadapannya saat ini.


Melihat Nara yang sudah memejamkan mata lebih dulu, Yoga tak bisa lagi menahannya. Dia semakin maju dan kembali mendekap erat tubuh Nara. Sementara itu, kedua wajah mereka semakin tak berjarak. Hembusan napas saling menerpa dan menghangatkan wajah keduanya yang telah memerah.


Tanpa menunggu lagi, Yoga melabuhkan ciuman pertama di bibir Nara, setelah sekian lama tidak melakukannya. Nara menyambut dengan segera, tanpa ragu dan membuang semua rasa malu. Kerinduannya telanjur memuncak tanpa ingin menundanya lagi.


Setelah memuaskan hasrat awal mereka dalam waktu yang cukup lama, mereka menyudahi dengan senyum bahagia di wajah yang semakin memerah. Pandangan mereka kian sayu dipenuhi kilat gairah, tanda hasrat yang belum ingin mereda.


Tanpa diduga, pintu kamar terbuka dan muncullah bocah kecil yang selalu mengganggu kegiatan intim Yoga dan Nara.


Raga berlari cepat menghampiri sang ayah yang selama ini hanya bisa dilihatnya melalui panggilan video. Sementara di ambang pintu, Mbak Indah menggendong Gana dengan wajah serba salah karena tidak bisa mencegah Raga masuk ke kamar orangtuanya.


Sontak keduanya melepaskan pelukan dan saling menjauh. Yoga menyambut putra pertamanya dengan pelukan sayang penuh kerinduan. Nara pun segera mendekati Mbak Indah dan mengambil alih putra keduanya.


Setelah Mbak Indah pergi, Nara menutup pintu. Berempat mereka berkumpul di dalam kamar yang selalu penuh kehangatan dan kebahagiaan tersebut. Suasana yang selalu Yoga rindukan selama tiga bulan ini.


Bergantian dengan Raga, kini Yoga menimang Gana dengan wajah cerah dan penuh tawa riang. Dia mengikuti tingkah polah bayi yang sudah berusia satu tahun tersebut.


Sang ayah kemudian mengajak kedua putra kesayangannya bermain bersama di atas tempat tidur. Mereka bercanda dan tertawa bersama penuh kebahagiaan.


Dari tepian tempat tidur, Nara memperhatikan ketiga orang yang paling berharga dalam hidupnya. Suami dan kedua putranya.


Senyum bahagia merekah indah di bibir manis wanita yang selalu penuh kelembutan tersebut. Sepasang mata beningnya turut memancarkan sinar kebahagiaan yang disertai rasa haru yang menyeruak menyelimuti segenap hati dan jiwanya.


Alhamdulillah ...! Terima kasih atas semua kebahagiaan ini, ya Allah. Tak henti-hentinya hamba bersyukur atas semua karunia terindah yang Engkau berikan dalam hidup hamba. Suami yang sangat mencintai dan menyayangi hamba, juga anak-anak yang lucu dan menggemaskan.


Limpahkanlah selalu kesehatan, kebahagiaan dan segala kebaikan kepada keluarga kecil hamba. Izinkan kami selalu bersama, saling menjaga, merawat dan melindungi satu sama lain dengan cinta dan kasih sayang terindah yang Engkau anugerahkan kepada kami.


Aamiin ya rabbal aalamiin ...!

__ADS_1


.


.


S E L E S A I


.


.


Masih ada beberapa bonus kisah di sini. Tetap favoritkan dan tunggu kisah tersimpan yang belum terungkapkan sebelumnya...πŸ‘πŸ™


Cek spoiler cover untuk kisah baru berikutnya di bawah ini...πŸ‘‡πŸ₯° Dari judulnya sudah tahu 'kan cerita tersebut akan berkisah tentang siapa...?!😍😘


Insyaallah setelah proses revisi naskah untuk penerbitan buku cetak CINTA NARA selesai, kami akan segera memulai cerita cinta terindah Raga & Aura. Mohon doanya selalu, terima kasih...πŸ™πŸ’œ


.


.


.


Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana πŸ™πŸ’œ


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


__ADS_1


__ADS_2