
Usai menemui kedua orangtua Alya, Ardi mengajak pujaan hatinya makan siang bertiga bersama Aura kesayangan mereka.
Raut bahagia terpancar jelas di wajah Ardi. Hatinya merasa lega sebab telah mengikat wanita yang dia cintai untuk menjadi miliknya. Meski tidak dalam waktu dekat, setidaknya dia akan lebih tenang menjalani hubungan jarak jauh dengan Alya.
Dengan adanya ikatan yang lebih pasti, dia juga merasa lebih bertanggung jawab untuk mendampingi Alya dalam pemulihan trauma masa lalunya. Karena bagaimanapun juga, dia juga merasa bersalah atas perpisahan mereka di masa lalu.
Seperti halnya orangtua Alya, ada penyesalan di hatinya karena melepaskan wanita itu pada orang yang salah. Kenyataannya, bukan bahagia yang didapatkan Alya, melainkan duka lara dan luka yang terus membelitnya sepanjang masa pernikahan.
Tidak hanya luka batin semata, melainkan luka secara fisik yang terus dialaminya akibat dari perlakuan Riko yang penuh amarah dan selalu membabi buta dalam meluapkan emosi kepadanya.
Lelaki itu menoleh ke samping, saat mobil berhenti di persimpangan lampu merah. Dilihatnya Alya tengah melepaskan botol susu dari mulut mungil Aura, sementara sang putri sudah memejamkan mata.
Merasa diperhatikan, Alya menatap Ardi sekilas lalu kembali menunduk dengan wajah yang mulai merona. Dia menyamankan posisi Aura dalam pangkuannya, agar tidurnya lebih tenang dan nyenyak.
"Ada apa?" tanyanya singkat sambil berpaling dan menatap ke arah luar. Hatinya sudah berdebar tak menentu, membayangkan tatapan lembut Ardi kepadanya.
Ardi tersenyum melihat Alya yang salah tingkah dan terus menghindari pandangannya. Ada yang membuncah indah di hatinya, serasa remaja yang tengah berduaan bersama sang kekasih hati.
"Aku suka melihat wajahmu yang sedang merona seperti itu. Dari dulu sampai sekarang kamu tidak berubah, Al. Selalu menggemaskan setiap kali aku berlama-lama menatapmu."
Ardi mulai berani jujur mengungkapkan perasaannya. Dia berharap keterbukaan sikapnya ini akan membuat Alya membuka hatinya untuk melakukan hal yang sama.
Senyuman kecil terbit menghiasi wajah bersemburat merah itu. Alya merasa tersanjung kendati ucapan itu bukan sebuah pujian. Dia bahagia mendengar ungkapan lelaki itu untuk dirinya.
"Sering-seringlah tersenyum untukku, Alya. Aku juga ingin melihat dan merasakan senyuman terindah darimu."
Lagi-lagi ucapan Ardi membyat Alya semakin tersipu. Hari ini dia benar-benar bahagia. Ada yang terasa lepas dari hatinya, seperti beban yang sekian lama menghimpit perasaannya.
Dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya, Ardi melajukan lagi mobilnya. Mobil berwarna putih yang akan selalu menjadi saksi kebersamaannya bersama Alya, setiap kali dia mengunjungi wanita itu.
__ADS_1
"Apa kamu punya tempat makan khusus atau tempat lainnya yang kamu sukai dan sering kamu datangi, Al?" Ardi ingin mengetahui satu per satu kebiasaan dan kesukaan Alya saat ini. Mungkin saja selama mereka berpisah, ada yang berubah dan belum diketahui olehnya.
Sayangnya Alya hanya menjawab dengan gelengan kepala disertai raut wajah yang mendadak berubah menjadi mendung.
"Maaf, Al. Maaf jika pertanyaanku menyinggung perasaanmu. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih lagi." Ardi segera meminta maaf dan urung membahasnya lebih lanjut. Namun Alya justru berkisah tentang sesuatu yang membuatnya terusik perih.
"Aku tidak punya waktu untuk menikmati semua itu. Tidak pula sempat memikirkannya. Hari-hariku hanya terisi dengan tekanan dan kekerasan."
Kali ini, entah mengapa Alya berani mengutarakan sekelumit perasaan di hatinya. Seolah ada kekuatan yang mendorongnya untuk membuka diri dan mulai berterus terang kepada Ardi.
"Satu-satunya hal yang masih bisa kunikmati dan kujadikan hiburan adalah pekerjaanku. Waktu bekerjaku adalah waktu terbaikku untuk melupakan semua hal buruk yang terus aku alami."
Ardi semakin merasa miris dan mulai membayangkan kehidupan seperti apa yang harus Alya jalani selama ini. Hatinya kembali melemah, membuatnya tak bisa menahan diri lagi.
Dengan pikiran yang terus berkecamuk dan tidak tenang, Ardi berusaha agar secepatnya sampai di tempat yang ingin ditujunya. Sebuah tempat makan yang disarankan oleh Yoga dan telah diberikan petunjuk arah sebelumnya.
Sambil membawa tas perlengkapan putrinya, Ardi mengajak Alya masuk ke dalam area yang cukup luas tersebut. Oleh seorang pramusaji, mereka diantar menuju sebuah gubuk bambu yang masih kosong di bagian samping.
Gubuk tersebut berbentuk persegi dengan konsep lesehan sederhana. Lantainya ditinggikan dan dilapisi karpet sederhana untuk duduk bersantai dan menikmati hamparan taman berumput di sekitarnya.
Dengan cekatan Ardi menyiapkan selimut Aura dan sebuah bantal kecil sebagai alas tidur untuk putrinya. Setelah siap, Alya segera membaringkan Aura yang terus terlelap di atasnya.
Ardi memesan beberapa menu makan siang untuk dirinya dan Alya. Setelah memastikan seluruh pesanan, pramusaji pun pamit dan berlalu meninggalkan mereka.
Alya duduk bersandar pada dinding bambu di belakangnya, sambil terus menjaga Aura. Ardi menyusul duduk di samping wanita keibuan itu. Pandangannya mulai terpaku menatap wajah ayu nan anggun yang telah membuat perasaannya sesak dan penuh haru.
"Al, aku senang kamu mau berbagi denganku. Aku tahu ini akan sangat berat dan sulit bagimu, karena kamu harus mengingat lagi masa kelam itu. Tapi yakinlah bahwa dengan tidak lagi memendamnya sendiri, dirimu akan merasa jauh lebih baik dan lebih tenang."
Alya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Wanita itu sedang menata hati, untuk kembali berkisah tentang kehidupannya selama ini.
__ADS_1
"Aku masih berusaha untuk menyembuhkan diriku sendiri, Di. Terima kasih atas pengertian dan kesediaanmu untuk menungguku. Aku sangat menghargai itu."
Kali ini Alya memberanikan diri menoleh ke samping dan membalas tatapan Ardi yang tak lepas memandangnya sedari tadi. Sebuah senyuman kecil, samar terlihat di kedua sudut bibirnya yang tertarik ke arah luar.
"Aku rindu melihat senyumanmu, Al. Kamu tahu aku sangat menyukai senyuman terindah darimu. Kini aku ingin memiliki senyuman itu lagi. Senyuman yang dulu hanya kamu tujukan untuk diriku."
Alya merasakan seluruh tubuhnya menghangat dan dipenuhi desiran halus. Dia terharu mendengar ucapan tulus lelaki di sampingnya. Ardi mengucapkan semua itu dengan lirih dan penuh harap, membuat sepasang mata indah Alya berkaca-kaca dan menatapnya lebih dalam.
Tak berbeda dengan Alya, Ardi pun merasakan dadanya terus berdebar dan penuh gejolak. Ada hasrat yang menggebu, namun tetap ditahannya demi menghormati wanita yang dicintainya sepenuh hati.
Melihatmu yang lemah dan penuh lara seperti ini, ingin rasanya aku memeluk dan menenangkanmu di dalam dekapanku, Al. Akan kupastikan kamu selalu nyaman dan bahagia selama bersamaku.
"Aku ingin menghapus dukamu. Aku ingin membuang kesedihanmu. Aku ingin melihat senyum dan tawamu yang selalu ceria. Aku ingin kamu yang dulu. Aku rindu ... aku rindu semua itu, Al."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1