
"Ga ...."
Suara lirih Nara semakin tercekat manakala melihat lelaki itu terbujur lemah tanpa daya, dengan mata tertutup rapat seolah enggan untuk membukanya kembali walau hanya sekejap saja.
Untuk yang kedua kalinya Yoga berada di ruangan tersebut, kembali tak sadarkan diri di atas pembaringan dengan kondisi yang lebih parah dari sebelumnya.
Nara berjalan tertatih mendekati tubuh Yoga yang masih dipenuhi peralatan medis. Sampai di sisi pembaringan, air matanya semakin deras mengalir saat mendapati sesuatu yamg sebelumnya tak pernah terlihat olehnya.
Sebuah bekas luka jahitan memanjang di tengah dadanya, saat lelaki itu menjalani operasi beberapa bulan yang lalu, saat dirinya pergi satu bulan lamanya meninggalkan kediamannya dan meninggalkan istri tercintanya.
Memberanikan diri menyentuh dan meraba pada bagian tersebut, jantung Nara spontan berdetak seirama dengan detak jantung Yoga yang terasa melalui tangannya yang masih berada di atas dada lelaki itu.
"Ga, mengapa kamu sembunyikan semua ini dariku? Mengapa?"
Nara tak peduli lagj isakannya yang semakin keras terdengar. Jika bisa pun, dia ingin tangisannya kali ini akan membangunkan Yoga kembali dan membuat suaminya tetap bersama dirinya.
Menatap bekas luka jahitan itu, hati Nara tersayat-sayat semakin perih dan pilu. Pantas saja Yoga tidak pernah sekali pun membuka baju atau berganti pakaian di luar kamar mandi.
Dia memang sengaja menyembunyikan dan selalu menutupinya dengan pakaian yang dikenakannya, agar Nara dan orang lain tidak akan pernah melihat dan mengetahui apa yang terjadi padanya.
Nara mendekatkan wajahnya ke bagian dada Yoga lalu menciumnya dengan lembut dan sepenuh hati, disertai dengan derai air mata yang jatuh membasahi tubuh suaminya.
"Jika tangisan ini bisa membuatmu sadar dan kembali padaku, maka aku akan terus menangis demi dirimu. Dan jika ciumanku ini bisa membuat jantungmu berdegup lebih kencang dan mengembalikan fungsi normalnya, maka aku pun akan terus memberikan ciumanku untukmu, Ga."
"Aku mohon, bangunlah. Buka matamu dan lihatlah aku di sini yang akan selalu ada untukmu, bersamamu dan mendampingimu selamanya, Ga!"
Nara merebahkan kepalanya di atas dada Yoga. Dada yang selama ini selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman saat bersandar dan bermanja pada lelaki itu.
Sekarang, sebelah pipinya bersentuhan langsung dengan kulit di permukaan dada bidang suaminya yang ditumbuhi bulu halus tipis-tipis yang hampir tak terlihat jika dia tidak memperhatikannya dengan seksama.
__ADS_1
"Ga, apa yang kamu inginkan dariku? Apa yang kamu mau dariku? Katakan padaku dan aku akan melakukannya untukmu, apa pun itu! Tapi aku mohon, bangunlah. Kembalilah karena aku dan Raga membutuhkanmu dan sangat menyayangimu ...."
Nara terus merebahkan wajahnya di dada Yoga dan meletakkan tangan di atas dada kirinya, merasakan satu persatu denyutan yang terdengar teratur di dalamnya dan berharap jantung tersebut akan terus melaksanakan tugasnya tanpa henti.
"Kamu ingat, Ga. Kita mempunyai banyak impian yang harus kita wujudkan bersama. Bukankah kamu ingin kita berdua hidup bahagia selamanya?"
"Kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat Raga anak kita. Dia membutuhkanmu, Ga. Dia membutuhkan sosok ayah yang akan selalu menjadi panutannya dan mendidiknya menjadi lelaki hebat sama seperti dirimu."
Nara terus berbicara seolah Yoga mendengarnya dan memang seperti itulah harapannya. Yoga akan mendengar semua ucapannya dan akan membuka mata kembali untuk dirinya.
"Sekarang aku sudah tahu semuanya, Ga. Kamu tidak perlu lagi menyembunyikan apa pun dariku. Bukankah sudah seharusnya sepasang suami istri itu saling jujur dan terbuka dalam hal apa pun? Ayo kita lakukan itu mulai sekarang, Ga!"
Nara membiarkan air matanya terus keluar dengan deras dan mengalir membasahi seluruh bagian dada Yoga hingga jatuh lutuh ke sisi tubuh suaminya.
"Mulai sekarang aku akan selalu jujur dan tidak akan menyembunyikan apa pun lagi darimu, Ga. Aku akan mengakui semua perasaanku, aku tidak akan mengingkarinya lagi, aku akan jujur mengatakannya kepadamu."
"Tapi kamu harus bangun dulu, agar kamu bisa melihat dan mendengarnya langsung saat aku mengungkapkan kebenaran akan perasaanku padamu, Ga."
Setelah mengetahui semuanya dari Ardi, Nara sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menyerahkan seluruh hati dan hidupnya pada Yoga. Dia akan menjadi istri yang seutuhnya untuk suaminya. Dia akan menerima dan mendampingi Yoga seumur hidupnya.
"Ya Allah, aku mohon kabulkanlah doa dan permohonan hamba kali ini. Sembuhkan Yoga, Ya Allah. Sembuhkan suami hamba. Berilah dia kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang selama ini dia harapkan."
"Hamba berjanji akan mewujudkan harapannya. Hamba akan membahagiakannya dan selalu ada bersamanya. Kabulkanlah, ya Allah. Kabulkanlah ...."
Hari kembali berganti dan waktu terus berputar. Jam, menit dan detik terus bergulir sesuai porosnya. Dokter Danu dan Ardi masih berusaha untuk mencari pendonor yang cocok untuk Yoga.
Tak peduli ke mana pun dan berapa pun biayanya, mereka tidak pernah patah semangat untuk terus mencari dalam pacuan waktu yang terus berlomba dengan mereka.
Di dalam ruangannya, Yoga pun bertarung dengan maut, mempertaruhkan nyawanya dan berusaha melawan kepasrahannya yang semula sempat terlintas dalam pikirannya.
__ADS_1
Namun saat kemarin dalam lemahnya kesadaran dirinya, dia sempat mendengar beberapa ucapan Nara yang membuatnya kembali menggenggam asa untuk bisa kembali pada keluarga kecilnya, bersama istri tercinta dan buah hati kesayangan mereka.
Hari ini adalah hari ketiga di mana Yoga terus berjuang untuk tetap bertahan dalam sisa waktu yang entah sampai kapan masih dimilikinya untuk tetap berikhtiar dalam upaya mencapai kesembuhannya.
Seperti hari sebelumnya, pagi ini Nara sudah kembali ke rumah sakit untuk menemani Yoga di ruangannya. Untuk sementara waktu, Raga dia titipkan pada keluarganya yang dimintanya tinggal di kediaman Yoga, sehingga Ibu bisa ditemani Bibi Asih dan asisten rumah tangga yang lainnya untuk bergantian menjaga bayi mungilnya yang sudah mulai aktif dan lebih sering terjaga.
"Aku sudah di sini lagi, Ga. Ayo, bangunlah. Buka matamu dan lihat aku yang sudah sangat merindukanmu."
Nara selalu mencium tangan Yoga dan juga keningnya, setiap kali dia datang dan hendak pulang kembali. Menatap rindu pada wajah tampan yang kini selalu membayanginya setiap saat, wanita itu mencoba untuk tersenyum di tengah gundah yang dirasakannya di dalam hati.
Pandangannya sesekali tertuju pada dada sang suami, hanya untuk memastikan jika di sana masih ada tanda kehidupan ynag ditunjukkan Yoga lewat denyut jantung dan nafas spontannya.
Hatinya selalu was-was, takut waktu yang tidak pernah ditunggu itu akan tiba, membawa Yoga pergi dan tidak akan pernah kembali lagi bersamanya.
"Aku rindu pelukan hangatmu. Aku rindu dekapan mesramu. Aku rindu ciuman lembutmu yang selalu membuat hatiku bergetar dan bahagia."
Nara memeluk Yoga, merebahkan kepalanya di dada sang suami, lalu memejamkan mata dan khusyuk memanjatkan doa dan permohonan untuk keajaiban yang diharapkannya.
"Bangunlah, Ga. Bangun dan peluk aku." Nara berucap dengan mata yang masih terpejam rapat.
Tanpa disadarinya, ada gerakan lemah dari tangan kanan Yoga, yang kemudian terangkat pelan-pelan lalu memeluk dan mengusapi punggung Nara dengan lembut. Setelah itu, terdengar suara lirih yang sangat dirindukannya.
"Aku mencintaimu, Sayang ...."
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis...ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ