CINTA NARA

CINTA NARA
Perjodohan Angga


__ADS_3

Di kota Bengkulu, Angga merasa sepi dan sendiri. Hidupnya terasa hampa. Kekasih nun jauh di sana, dan ... sakit. Sementara saat ini kedua orang tuanya selalu mendesak agar ia segera menikah. Pernikahan secepatnya.


Bukan tanpa alasan. Ayah Angga ingin anaknya menikah di segerakan. Hal ini dikarenakan sang ibu yang sering sakit - sakitan.


"Angga mana pacarmu ? sudahlah tinggalkan saja ia. Penyakit leukimia itu jarang ada yang sembuh. Ayah dan ibumu berniat menjodohkanmu dengan seseorang. Cepat atau lambat kamu pasti akan di tinggalkannya, " ayah memberi nasehat pada hari di mana ibu ketika itu boleh pulang setelah hampir satu minggu dirawat.


Angga pada saat itu tidak memberi jawaban. Ia hanya tersenyum saja mendengar ucapan ayah di kala itu.


Sekarang sudah hampir satu bulan setelah ibu kembali pulih. Ayah menagih janji itu kembali.


Di sabtu sore yang cerah, pukul empat sore. Angga juga tidak mengetahuinya. Ibu terlihat sibuk menyiapkan makanan yang sudah di pesannya sedari siang. Dan yang terakhir ayah membawa 10 porsi ayam bakar yang baru saja dibelinya.


Angga dan adiknya Dion disuruh ibu untuk merapikan rumah. Angga dan Dion di buat heran oleh ayah dan ibu yang tampak sibuk menanti kedatangan seseorang.


Dion adalah adik Angga yang usianya terpaut 5 tahun di bawah Angga. Dan ia masih kuliah di universitas negeri di Bengkulu ( UNIV). Angga sangat menyayangi adik satu - satunya itu. Mereka berdua saling mendukung satu sama lain.


Rasa penasaran Angga dan Dion terjawab sudah setelah ayah menyuruh mereka berdua untuk berbenah diri.


"Ayo, buruan mandi. Nanti ada tamu yang akan datang, " tegas ayah pada kedua anaknya yang sudah dewasa.


Ayah masih saja sama, masih seperti dulu. Masih menganggap kedua anaknya masih kecil. Semua yang dilakukannya hanya perintah. Tidak boleh dibantah.


Ayah sudah di telpon oleh seseorang. Ia tampak tersenyum sumringah selesai menerima telpon itu. Ia kemudian duduk manis sambil sibuk dengan ponselnya di teras rumahnya.


Sebuah mobil bermerk honda, mobilio putih mendarat mulus di depan rumah Angga.


Pengendara mobil di ikuti istri dan anaknya turun di depan rumah Angga.


"Assalamualaikum Pak Bambang, " sapa hangat sang pengendara mobil dari luar pagar.


"Waalaikum salam Pak Agung, " ucap Pak Bambang sambil membuka gembok pagar rumahnya.

__ADS_1


"Ayo, silahkan masuk di rumah kami, " sapa hangat Pak Bambamg selaku tuan rumah.


Kemudian Pak Bambang pun mempersilahkan tamunya masuk ke ruang tamu. Setelah tamu - tamunya duduk di atas sofa di ruang tamu. Pak Bambang setengah berteriak memanggil istrinya. "Bu ... , ini tamunya sudah datang. "


Istri Pak Bambang tergopoh - gopoh keluar dari arah belakang menuju asal suara yang memanggilnya.


"Oh, kamu sudah tiba ya Nov, " sapa hangat istri Pak Bambang sambil bersalaman dan cipika cipiki pada istri Pak Agung dan anaknya Tiara. Sedangkan dengan Pak Agung hanya bersalaman saja.


Istri Pak Bambang duduk bersama para tamunya. Pak Agung sebagai tamu memulai percakapannya.


"Maaf, kedatangan kami mendadak kemari. Besok kami akan pulang ke Palembang. Sebelum pulang mampir ke rumah saudara. Masih ingatkah kamu Bambang tentang perjodohan anak kita, " ungkap Pak Agung serius.


"Masih ingatlah aku Pak Agung. Perjodohan yang telah di atur oleh almarhum Nenek kita di kala itu. Nenek berpesan agar kedua keluarga dapat dipersatukan kembali.


Penyatuan dua keluarga yang dulu sempat terjadi keributan karena harta gono gini. Dan sekarang biar tanah warisan nenek yang bersengketa di satukan oleh ikatan perkawinan. Kami ihklas tanah sengketa itu yang luasnya 2 hektar menjadi milik anak kita yang akan mengarungi bahtera rumah tangga.


Sebelum lanjut pembicaraannya, istri Pak Bambang masuk kedalam dan kembali lagi dengan menyuguhkan es sirup rasa melon dan bakwan goreng yang tadi baru saja digorengnya. Ia hanya membawa satu piring bakwan. Karena di meja tamu sudah ada beberapa toples berisi kue - kue kering.


Anak perempuan yang di jodohkan itu bernama Tiara. Gadis cantik asal Palembang itu tersipu malu saat orang - orang membicarakan perjodohannya dengan anak Pak Bambang.


Ia terpaksa ikut kedua orang tuanya yang sengaja berkunjung ke kota Bengkulu. Pak Agung bukan sekedar bersilahturahmi dengan sanak saudara yang di sana tapi ia memang sengaja ingin melihat bagaimana perkembangan agen perusahaan bis yang ia miliki di kota Bengkulu yang ia tunjuk Pak Bambang sebagai pimpinan di Bengkulu.


Bis antar kota, Bis eksekutif dengan fasilitas yang nyaman bagi penumpang. Memiliki AC, toilet, tempat sanggahan kaki bagi penumpang Bis.


Bis yang memiliki banyak trayek perjalanan. Salah satu diantara Bengkulu - Palembang, Bengkulu - Jakarta, Bengkulu - Bandung. Dan ... pemilik bis itu adalah Pak Agung.


Suatu kehormatan bagi Pak Bambang bisa di kunjungi Pak Agung, bos besar pemilik bis - bis eksekutif itu.


Sebelum obrolan berlanjut. Istri Pak Bambang kembali ke belakang. Ia membawa kue yang tertata rapi di piring besar. Dan ... di belakangnya ada dua anak lelakinya yang terlihat agak kikuk saat berhadapan dengan tamu yang ada di rumahnya.


Istri Pak Bambang dan kedua anaknya duduk di sofa bergabung bersama para tamunya. Angga dan Dion duduk di sofa panjang mengapit ayahnya. Kemudian Pak Bambang memperkenalkan kedua anaknya.

__ADS_1


"Ini yang baju kemeja biru. Ia anak saya yang pertama. Namanya Angga ia usianya 27 tahun. Kerja sebagai ASN di pemda Bengkulu. Baru menyelesaikan S2 nya di Jakarta tahun ini, " ucapnya bangga sambil melihat ke arah Angga.


Diperkenalkan sedemikian rupa membuat Angga menjadi kikuk dibuatnya. Ia hanya tersenyum saja saat ayah dengan bangga memperkenalkannya.


Tiara sebenarnya tak ingin ikut Ayahnya ke Bengkulu. Tapi ayah memaksanya untuk ikut. Ia dari awal tak menyetujui rencana perjodohan ini. Tapi ia tak bisa berbuat apa - apa. Di desak untuk menikah sesegera mungkin. Sedangkan saat ini ia sendiri tak punya calon yang dapat di ajukan pada ayahnya.


Kesan pertama saat melihat Angga pertama kali. Tiara merasa gugup, ternyata Angga memiliki wajah yang mirip dengan kekasihnya Pacar pertamanya yang telah meninggal dunia. Meninggal setelah kejadian tragis yang menimpanya. Kejadian itu terjadi saat Tiara duduk di bangku kuliah. Ia menyaksikan sendiri kepergian Rama dihadapannya. Kecelakaan motor yang membuat dirinya luka patah kaki sebelah kirinya, dan terpaksa di pasang Pen di dalam tulang kakinya. Sedangkan Rama meninggal di tempat kejadian.


Kemudian Pak Bambang memperkenalkan anak keduanya.


"Ini anak saya yang kedua. Namanya Dion, ia terpaut 5 tahun usia dengan kakaknya. Ia masih kuliah semester akhir di Universitas Bengkulu. Badannya memang lebih besar dari kakaknya, " ucap Pak Bambang sambil menepuk bahu Dion yang duduk di sampingnya.


Setelah Pak Bambang memperkenalkan kedua anaknya. Kini giliran Pak Agung yang memperkenalkan anak gadisnya.


" Ini Tiara. Anak perempuan saya satu - satunya. Ia bungsu dari 3 bersaudara. Kakak - kakaknya sudah pada menikah. Tinggal ia seorang yang sampai saat ini belum menemukan pasangan hidupnya. Usianya 28 tahun, ia seorang dokter yang bekerja di rumah sakit swasta di kota Palembang, " balas Pak Agung.


"Kami sekeluarga senang bisa menjamu keluarga Pak Agung di bumi Rafflesia ini. Semoga kami bisa mengunjungi keluarga Pak Agung di kota Palembang dalam waktu dekat ini, " ucap Pak Bambang.


"Perihal perjodohan ini. Apakah nak Angga sudah di beritahu sebelumnya, " tanya Pak Agung.


"Hal ini sudah saya sampaikan pada anak saya Pak Agung. Bagaimana Angga ? " tanya Ayah mempertegas ucapannya.


Disodor pertanyaan yang tiba - tiba begitu. Membuat Angga harus menjawabnya.


"Sa- ya pada dasarnya setuju saja. Tergantung Tiaranya mau menerima saya apa tidak, " jawabnya merendah berharap Tiara akan menolak perjodohan ini.


Ditantang begitu oleh Angga. Tiara pun angkat bicara. "Papa ... yang akan menjalani biduk rumah tangga adalah kami. Jadi sebaiknya kita mengenal satu sama lain dulu sebelum memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, " ucap Tiara pelan tapi tegas.


Sikap Tiara yang demikian membuat Angga takjub. Seorang perempuan yang berani mengambil sikap. Tidak bisa di anggap sepele.


Obrolan pun berhenti saat senja tiba. Kedua keluarga di buat terkesima mendengar suara muadzin menyerukan panggilan untuk sholat. Suaranya berkumandang merdu di semesta bumi Rafflesia. Suaranya menyejukan insan manusia untuk segera menunaikan panggilan untuk sholat. Bersimpuh pada sang penguasa alam semesta.

__ADS_1


Saat adzan berkumandang. Terselip doa Angga agar perjodohan ini tidak akan berlanjut. Ia masih mengharapkan Dina, semoga Dina cepat sembuh. Ia masih setia dengan janjinya. Akan menjaga cintanya pada Dina. Ia hanya mengiyakan saja permintaan ayahnya. Tak ingin membuat ayahnya malu.


Janji yang teucap, pantang untuk di ingkari. Angga berharap cinta pertamanya akan bersanding dengannya suatu hari nanti , Dina ... tetaplah hidup. "Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku, " ucap Angga pada diri sendiri.


__ADS_2