
Ardi memberikan kejutan untuk Alya. Saat menjemputnya di pagi hari, lelaki itu membawa serta Aura bersamanya. Bayi cantik nan menggemaskan tersebut tampak riang saat duduk menggunakan seperangkat kursi bayi yang didesain khusus untuk dipakai di dalam mobil.
Hari ini adalah hari terakhir ayah dan anak itu berada di kota tempat Alya menetap sekarang. Besok pagi mereka sudah harus kembali ke kota kelahiran Ardi. Kota yang penuh kenangan kisah indah lelaki itu bersama wanita cinta pertamanya, Alya.
"Semoga kamu tidak rewel setelah kita pulang besok ya, Sayang. Kita harus berpisah dulu dengan Bubumu karena Ayah harus kembali bekerja. Tapi jika kamu merindukannya, kita masih bisa bertemu dengannya melalui panggilan video."
Ardi terus mengajak putri kecilnya berbicara, meski hanya ditanggapi Aura dengan tawa riang tanpa beban sambil bermain dengan boneka kelinci kesayangannya, pemberisn wanita cinta pertama Ayahnya.
Tanpa terasa mobil yang dikemudikan Ardi sudah sampai di halaman rumah Alya, seperti semalam. Setelah mematikan mesin mobil, dokter duda itu melepaskan tali pengaman yang melindungj tubuh mungil putrinya, lalu mengambil Aura dan menggendongnya keluar dari mobil.
"Kita menjemput Bubu dulu, setelah itu kita akan pergi bertiga." Ardi mencium kening putrinya yang terus tertawa renyah menatap Ayahnya yang wajahnya juga terlihat segar dan bersemangat.
Sampai di depan pintu, Ardi mengetuk pelan sambil menimang Aura yang tidak bisa diam dan tangannya terus bermain di wajahnya.
Diucapkannya salam sedikit keras agar suaranya sampai ke dalam. Balasan dari dalam pun terdengar bersamaan dengan pintu yang dibuka lebar.
Alya berdiri di ambang pintu dengan sepasang mata yang semakin bersinar tatkala melihat Ardi menggendong Aura yang langsung memanggilnya dengan suara khas bayi.
"Bu-bu ... aaaa ... Bu-bu ...."
Tanpa meminta izin lebih dulu, Alya mengulurkan tangannya dan mengajak Aura bersamanya. Ardi membiarkan saja putri kecilnya berpindah ke dalam dekapan Alya dengan celoteh riang gembiranya.
Mendengar ada suara bayi, Papa dan Mama keluar dan menghampiri ketiganya. Dengan segera Ardi menyapa dan menyalami kedua orangtua Alya. Tak lupa wanita yang dipanggil Bubu itu membimbing tangan Aura untuk melakukan hal yang sama seperti Ayahnya.
"Pa, Ma, ini Aura putrinya Ardi." Sambil terus menimangnya, Alya membiarkan Aura terlihat oleh kedua orangtuanya.
Karena sebelumnya sudah mengetahui cerita tentang Ardi dari Alya, Papa dan Mama terlihat bahagia melihat Aura yang ceria di dalam dekapan putri semata wayang mereka. Keduanya juga bersikap terbuka dan menyapa Aura dengan senang hati.
Beberapa saat kemudian Ardi bersama Alya yang menggendong Aura pamit untuk berangkat ke rumah sakit. Alya memangku Aura duduk bersamanya di samping Ardi yang dengan perhatian melindungi kepalanya saat akan masuk ke mobil.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Ardi terus memperhatikan dua orang yang disayanginya yang terus berinteraksi dengan ceria di sebelahnya.
"Aku tahu kamu pasti ingin bertemu dengan Aura. Lagipula, beosk pagi kami sudah harus kembali pulang, jadi hari ini aku ingin kita menghabiskan waktu bertiga." Ardi membuka suara sambil menatap haru kedekatan Alya dengan putri kecilnya.
Ada sedikit perubahan di wajah Alya saat mendengar ucapan Ardi. Besok pagi mereka akan pergi dan itu artinya dia akan merasa sepi dan sendiri lagi. Ardi melihat mendung yang tampak di wajah Alya tersebut, meskipun dia tetap menimang Aura dengan senyuman yang sama.
"Jujur saja, sebenarnya aku merasa berat untuk meninggalkan kamu, Al. Apalagi bertepatan dengan kebebasan lelaki itu. Tapi ...." Tiba-tiba Alya memotong cepat dengan suara lirih dan bergetar.
"Aku tidak apa-apa. Bukankah semalam kamu mengatakan jika semua akan baik-baik saja? Maka aku juga percaya, aku pasti akan baik-baik saja."
Alya berusaha untuk menguatkan perasaan, walau ada yang mengganjal dan membuat hatinya tidak bisa tenang. Sesak sudah mendesak di dadanya, ada yang ingin tumpah namun tetap coba ditahannya dengan melepaskan senyuman sambil mendekap Aura yang mulai mengantuk dan bermanja padanya.
Ardi mengambilkan botol susu yang sudah disiapkan di sampingnya dan memberikan pada Alya untuk diminumkan pada putri kecilnya.
"Maafkan aku, Alya. Aku tidak bermaksud membuatmu kembali bersedih. Aku ingin tetap di sini untuk menemanimu dan meyakinkanmu. Tapi masih ada tanggung jawab lain yang harus aku penuhi di sana."
Alya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan sendunya dari bayi mungil di dalam dekapannya. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa kendati hatinya sangat berat untuk berpisah dengan mereka berdua.
"Bolehkan aku bertanya satu hal padamu, Al? Dan tolong jawablah dengan jujur untukku."
Ardi menatap wajah lembut Alya lama-lama, saat mobil berhenti di persimpangan jalan karena lampu lalu-lintas menyala merah.
Semoga aku tidak salah lihat. Semoga benar kesedihan di wajahmu itu karena akan berpisah denganku dan Aura. Semoga kamu mau mengakuinya, Al ....
Alya hanya mengangguk dan menunggu apa yang akan ditanyakan oleh lelaki di sampingnya. Lelaki yang kembali hadir dan mencoba untuk membuka pintu hatinya.
"Bisakah kamu menungguku kembali? Bisakah kamu menjaga hatimu hanya untukku? Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi. Aku tidak ingin ada lelaki lain yang mendekatimu dan menyentuh hatimu selain aku."
Hati Alya terasa penuh getaran yang membuat seluruh tubuhnya menghangat dan mulai terguncang. Wanita berhati rapuh itu tak bisa lagi menahan kesedihannya. Dia menangis dan menumpahkan air mata yang semula masih tertahan di kedua pelupuknya.
__ADS_1
Beruntung Aura sudah tertidur di pangkuan Alya setelah menghabiskan susunya, sehingga tidak mengganggu pembicaraan serius di antara Ayahnya dan wanita yang dipanggilnya Bubu itu.
Tangan Ardi refleks ingin menyentuh wajah wanita terkasihnya, namun kesadarannya kembali pulih dan menahan kelancangannya. Ditariknya tangan yang sudah terulur hampir menyentuh wajah basah itu.
Dia mengambil tisu yang tersedia di dalam mobil dan diserahkan pada Alya agar disekanya sendiri. Alya menerimanya dan segera membersihkan wajahnya sembari menenangkan diri untuk tidak menangis lagi.
"Aku tahu, di sini ada lelaki lain yang juga menunggumu sama sepertiku. Dia menjaga dan melindungimu dengan sangat baik. Dia juga yang selalu ada untuk kamu selama ini. Jujur, aku takut hatimu berpaling kepadanya, Al."
Ardi teringat pada Rendy, dokter tulang yang selama ini selalu bersama Alya dan setia menemani ke mana pun wanita itu pergi. Dia masih ingat, kedatangan Alya saat dulu dia mengunjungi Bunga hingga sang istri tiada, lelaki itu juga ada di sana dan terus mendampingi Alya.
"Dia hanya teman baikku. Tidak lebih."
Entah mengapa Alya ingin segera menegaskan hal itu di hadapan Ardi. Dia tidak ingin Ardi berpikiran salah lebih jauh lagi. Dia tidak ingin Ardi meragukan perasaannya selama ini. Dia ingin Ardi percaya kepadanya.
"Aku ... aku menjaga hatiku hanya untuk satu lelaki yang aku sayangi."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.