CINTA NARA

CINTA NARA
2.28. MEMBATASI DIRI


__ADS_3

"Akhirnya kamu pulang, Mas. Aku sangat merindukanmu."


Nara memeluk erat tubuh yang telah dirindukannya selama dua minggu ini. Senyum di bibirnya mengembang sempurna saat merasakan Yoga pun membalas pelukannya semakin erat tanpa sekat.


Kesibukan yang sangat padat membuat Yoga membatalkan kepulangannya minggu lalu sehingga mereka tidak bisa bertemu setengah bulan lamanya.


"Aku lebih merindukanmu, Sayang. Terlalu merindukanmu!"


Yoga mencium puncak kepala istrinya dengan penuh cinta hingga Nara juga membalasnya dengan semakin bermanja di dalam pelukan suaminya.


"Aku mandi dulu, nanti kita lanjutkan lagi pelukan rindunya." Yoga hendak merenggangkan pelukan mereka tapi ditahan oleh Nara yang tidak mau melepaskan suaminya.


"Tunggu sebentar lagi, Mas. Aku masih ingin seperti ini."


Nara ingin melampiaskan kerinduannya sepuas hati dan Yoga tak bisa menolaknya. Lelaki iti hanya tersenyum bahagia melihat tingkah manja istri kesayangannya.


"Lama tak bertemu mengapa kamu semakin manja dan menggemaskan, Sayang. Tapi aku menyukainya ...."


Yoga mengacak-acak rambut Nara dengan gemas, lalu membelai dan merapikannya lagi disertai ciuman-ciuman sayang di kepalanya.


Nara terus tersenyum dalam pelukan sang suami tercinta. Dia merasa sangat nyaman setiap kali bermanja di dada bidang Yoga yang selalu menenangkan jiwa.


Selain itu di sana dia pun selalu mengucap syukur atas kesempatan hidup kedua yang dimiliki suaminya, sehingga mereka bertiga masih bisa terus bersama dan menikmati kebahagiaan.


Setelah cukup lama berpelukan erat, Nara mulai menarik tubuhnya dan menatap Yoga yang sudah lebih dulu menatapnya.


"Sudah puas memeluk suamimu, humm ...?" Lelaki itu mencium keningnya.


"Belum, Mas." Nara menjawab singkat dengan wajah merona dan senyum dikulum. Yoga ikut tersenyum mendengar pengakuan polos istrinya.


"Mau lagi?"


Nara menggeleng dan sedikit berjinjit untuk mencium kedua pipi suaminya.


"Nanti saja, Mas. Sekarang mandilah dulu. Aku akan menyiapkan masakan untuk makan malam kita nanti."


Yoga patuh dan segera menuju ke kamar mandi sementara Nara menyiapkan pakaian ganti untuknya di atas tempat tidur lalu keluar dari kamar untuk memasak.


Raga sedang pergi jalan-jalan sore bersama kakek dan neneknya, sedangkan Indra sang calon pengantin sedang menemui penyelenggara acara guna memastikan persiapan akhir untuk hari yang paling penting dan bersejarah dalam hidupnya nanti.


Sebagai awalannya di dapur, Nara memasak sayur berkuah segar untuk Raga lengkap dengan lauk bergizi sesuai takaran untuk anak seusianya.


"Perlu bantuan?" Wangi tubuh segar Yoga sehabis mandi menyeruak beradu dengan aroma harum masakan Nara untuk sang putra.

__ADS_1


Lelaki itu memeluk istrinya dari belakang dan bermanja di bahu Nara sembari memperhatikan gerakan lincah kedua tangan istrinya yang tengah sibuk memasak.


Sesekali diciuminya pipi ranum sang istri, lalu berpindah ke bahunya yang sedikit terbuka karena wanita itu mengenakan dress rumahan yang longgar.


Nara mengangkat bahunya karena merasa geli dengan sentuhan-sentuhan kecil yang diberikan suaminya.


"Mas ... katanya mau bantuin?" Ucapan Nara berhasil menghentikan sentuhan bibir Yoga di bahunya dan melepaskan pelukan yang semula menempel erat di punggungnya.


"Apa yang bisa kubantu, Sayang?"


"Tolong pindahkan sayur untuk Raga di mangkok itu, Mas." Nara menunjukkan satu mangkok yang sudah disiapkannya di atas meja dapur.


Karena sudah mulai terbiasa melakukan kegiatan dapur, dengan cekatan Yoga melaksanakan apa yang diminta sang istri.


Setelah tertuang semua di dalam mangkok, dia mencicipi kuahnya dengan sendok makan. Wajahnya terlihat serius saat merasakannya.


"Mmm ..., sepertinya ada yang kurang." Yoga meletakkan sendoknya dan menatap Nara.


"Masak sih, Mas? Tadi aku cicipi sudah pas, tidak ada yang kurang."


Nara menoleh karena penasaran. Dia meletakkan pisau yang baru digunakannya untuk mengupas bumbu dapur, lalu mendekati Yoga dan mencicipinya lagi.


"Ini sudah pas, Mas." Nara hendak berbalik tapi tubuh Yoga menghalanginya.


"Menurutku masih ada yang kurang ...."


"Kurang manis. Karena manisnya tertinggal di sini ...," ucap Yoga setelah menyudahi ciuman singkat mereka.


Ujung jemari tangannya membersihkan bibir basah Nara, membuat wajah wanita kesayangannya memerah seketika.


Lelaki itu tersenyum puas setelah berhasil mencuri ciuman dan membuat istrinya menjadi salah tingkah.


Nara mencubit pinggang Yoga lalu meninggalkannya dan kembali melanjutkan kegiatan masak-memasaknya dengan hati berdebar bahagia.


Yoga mengabaikan rasa sakit akibat cubitan cinta dari istrinya. Hatinya telanjur bahagia karena bisa menikmati kebersamaan sore yang indah bersama Nara, setelah mereka berpisah cukup lama.


Dia kembali berdiri di samping sang istri, membantu mempersiapkan menu makan malam untuk seluruh keluarga.


"Apa undangan untuk rekan-rekan bisnismu di sana sudah mereka terima semua, Mas?"


Yoga memang mengundang kolega bisnis barunya untuk menghadiri pernikahan adik iparnya tersebut karena Indra juga menjadi bagian dari Mahen Land.


"Sudah, Sayang. Dan mereka menyatakan kesediaannya untuk hadir, sekaligus ingin berkunjung ke perusahaan kita."

__ADS_1


"Untuk tempat menginap mereka, sudah siap?" tanya Nara sambil memasukkan potongan lauk ke dalam penggorengan.


"Beno sudah mengurus dan menyiapkan semuanya, Sayang. Kita fokus saja pada persiapan seluruh keluarga kita."


Yoga menunggui lauk yang tengah digoreng agar Nara bisa leluasa menyiapkan sayuran yang belum matang. Keduanya bekerjasama di dapur sembari berbagi cerita seputar kejadian selama mereka berpisah sebelumnya.


Sementara itu, malam harinya di kota yang berbeda, Ardi dan peserta seminar yang lain tengah menikmati makan malam mereka di restoran hotel.


Lagi-lagi tanpa sengaja dia bertemu dengan Alya yang baru datang dari kamarnya bersama beberapa dokter wanita.


Saat sama-sama menunggu giliran untuk mengambil makanan, Ardi menghilangkan kecanggungan mereka dengan mengajak wanita itu berbincang lagi.


"Kamu di sini sampai acara penutupan, Al?" tanya Ardi yang berdiri di belakang Alya.


"Tidak, Di. Tugasku hanya menggantikan pimpinanku untuk memberikan kuliah umum tadi. Besok aku sudah pulang."


Alya merasa tidak nyaman berada di dekat Ardi mengingat jika lelaki itu sudah menjadi suami wanita lain. Sebisa mungkin dia mencoba untuk menjaga jarak dengan mantan kekasih yang sebenarnya dia rindukan dan masih dicintainya.


"Bisakah sebelum pulang, aku meminta waktumu sebentar untuk berbicara berdua?" pinta Ardi yang menyimpan keraguan akan sesuatu hal yang sepertinya sengaja disembunyikan oleh Alya. Dia ingin menanyakannya langsung pada wanita itu.


Meskipun di dalam hatinya merasa bahagia akan permintaan Ardi, namun Alya tetap teguh dengan keputusannya untuk membatasi diri dari lelaki itu.


"Maaf, Di. Malam ini aku masih harus menyelesaikan laporanku. Dan untuk esok hari, usai acara pagi aku harus segera pulang karena keluargaku sudah menunggu di rumah."


Ardi terlihat kecewa dengan penolakan Alya. Namun dia tidak bisa memaksa karena dirinya tidak ada hak lagi atas wanita masa lalunya itu.


Usai memilih dan mengambil menu makan malamnya, Alya pamit meninggalkan Ardi lebih dulu dan bergabung bersama para dokter wanita yang berkumpul dalam satu meja makan.


"Maafkan aku, Di. Aku hanya tidak ingin pertemuan kita memunculkan perasaan lama di antara kita. Kisah kita hanyalah sebuah kenangan masa lalu."


"Masa lalu yang terindah, yang tidak akan pernah bisa aku lupakan dan aku tepikan dari hatiku. Karena aku masih mencintaimu, sama seperti dulu dan mungkin akan selamamya demikian."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2